Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Tanda Tangan yang Mengubah Segalanya

Ponsel Dila terus berdering.

Nama Fadil terpampang jelas di layar.

Dila hanya mampu menatapnya.

Jarinya menggantung beberapa sentimeter di atas tombol hijau.

Di hadapannya, Azam tetap duduk tenang. Lelaki itu tidak memaksa, bahkan tidak bertanya siapa yang menelepon.

Namun tatapan Azam seolah mengatakan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan Dila.

Akhirnya Dila mengangkat telepon.

“Halo, Mas?”

Suara Fadil terdengar dari seberang.

“Kamu di mana?”

Dila terdiam sesaat.

“Di luar.”

“Di luar mana?”

“Ketemu teman.”

Fadil tidak langsung menjawab.

“Teman?”

“Iya.”

“Teman perempuan?”

Dila menggigit bibir.

“Kenapa memangnya?”

“Enggak apa-apa. Aku cuma khawatir.”

Suara Fadil terdengar lelah.

Dila memejamkan mata.

Justru perhatian sederhana itu membuat hatinya semakin berat.

“Aku sebentar lagi pulang.”

“Jangan terlalu malam.”

“Iya.”

“Dila…”

“Hmm?”

“Aku sayang kamu.”

Dila menelan ludah.

“Iya, Mas.”

“Pulang baik-baik.”

Telepon terputus.

Dila masih memegang ponselnya beberapa detik.

Azam akhirnya berkata,

“Suamimu?”

Dila mengangguk.

“Ya.”

“Dia terdengar sangat menyayangimu.”

Dila menatap Azam.

“Memang.”

“Lalu kenapa kamu masih di sini?”

Pertanyaan itu membuat Dila terdiam.

“Karena saya ingin menyelamatkan keluarga saya.”

Azam mengangguk pelan.

“Jawaban yang jujur.”

Dila menarik napas panjang.

“Sekarang jelaskan semuanya.”

Azam membuka map hitam yang tadi ia letakkan di atas meja.

“Baik.”

Ia menggeser sebuah dokumen ke hadapan Dila.

“Kontrak ini berlangsung selama enam bulan.”

Dila membaca halaman pertama.

“Pembayaran dua puluh juta setiap bulan.”

“Benar.”

“Dibayar di awal bulan?”

“Setelah kewajiban bulan tersebut selesai.”

Dila mengangkat wajah.

“Kewajiban?”

Azam menunjuk bagian tertentu dalam dokumen.

“Kamu akan mendampingi saya dalam beberapa kegiatan. Pertemuan bisnis, acara keluarga, perjalanan tertentu jika diperlukan, dan menjadi orang kepercayaan saya.”

“Kalau soal hubungan pribadi?”

Azam menatapnya.

“Kamu tidak akan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”

Dila sedikit mengernyit.

“Lalu kenapa ada klausul tentang batas hubungan pribadi?”

“Karena saya tidak ingin terjadi kesalahpahaman.”

Azam menyandarkan tubuhnya.

“Saya tahu situasimu. Saya tahu kamu sudah menikah. Saya tidak ingin membuatmu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendakmu.”

Dila menatapnya lama.

Jawaban itu justru membuat semuanya terasa semakin aneh.

“Kalau begitu, kenapa bayarannya sebesar ini?”

“Karena pekerjaanmu bukan pekerjaan biasa.”

“Masih ada sesuatu yang Anda sembunyikan.”

Azam tersenyum tipis.

“Benar.”

Dila semakin tegang.

“Dan Anda tidak mau menjelaskannya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena kalau saya menjelaskannya sekarang, kamu mungkin tidak akan menandatangani kontrak.”

Dila langsung berdiri.

“Kalau begitu saya tidak mau.”

Azam tidak menahan.

“Silakan.”

Dila berjalan dua langkah.

Kemudian berhenti.

Dua puluh juta.

Angka itu kembali terbayang.

Tiga juta utang warung.

Kontrakan yang hampir jatuh tempo.

Tagihan listrik.

Kebutuhan rumah.

Dan wajah Fadil yang setiap hari berusaha terlihat kuat.

Dila menutup mata.

“Berapa uang muka yang saya dapat?”

Azam terdiam sesaat.

“Sepuluh juta.”

Dila menoleh.

“Sekarang?”

“Setelah kontrak ditandatangani.”

Dila kembali duduk.

Tangannya gemetar ketika mengambil pulpen.

Azam memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Dila membaca setiap halaman sekali lagi.

Ia memastikan tidak ada ancaman, kekerasan, atau paksaan.

Kemudian ia sampai pada halaman terakhir.

Pihak Kedua: Dila.

Ia menatap namanya sendiri.

Tangan Dila semakin gemetar.

“Kalau saya tanda tangan…”

“Kontrak berlaku mulai malam ini.”

“Dan setelah enam bulan?”

“Kamu bebas.”

“Tidak ada kewajiban lagi?”

“Tidak ada.”

Dila mengangguk.

Ia mengambil napas panjang.

Kemudian ujung pulpen menyentuh kertas.

Coret.

Namanya tertulis.

Dila.

Sebuah tanda tangan sederhana.

Namun di dalam hatinya, ia merasa baru saja membuka pintu menuju kehidupan yang sama sekali berbeda.

Azam mengambil kontrak tersebut.

“Selamat datang.”

Dila menatapnya.

“Jangan bilang seperti itu.”

Azam mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Saya bukan bagian dari dunia Anda.”

“Belum.”

Jawaban itu membuat Dila terdiam.

---

Beberapa menit kemudian, ponsel Dila menerima notifikasi.

Saldo rekening bertambah Rp10.000.000.

Dila menatap layar.

Sepuluh juta.

Uang yang selama ini terasa begitu jauh kini benar-benar ada di rekeningnya.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena sadar bahwa uang tersebut datang bersama sebuah keputusan besar.

Azam berdiri.

“Pulanglah.”

Dila memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Besok saya harus melakukan apa?”

“Besok pagi seseorang akan datang menjemputmu.”

“Siapa?”

“Namanya Laras.”

“Dia siapa?”

“Asisten saya.”

Dila mengangguk.

“Jam berapa?”

“Jam sembilan.”

Dila berdiri.

Sebelum pergi, ia menatap Azam.

“Saya masih ingin tahu satu hal.”

“Tanyakan.”

“Dari mana Anda mendapatkan foto masa kecil saya?”

Tatapan Azam berubah.

“Belum waktunya.”

“Kenapa semua jawaban Anda seperti itu?”

“Karena ada beberapa kebenaran yang akan lebih aman jika diketahui pada waktunya.”

Dila semakin penasaran.

“Apakah Anda mengenal keluarga saya?”

Azam diam.

Diamnya sudah menjadi jawaban.

Dila menatapnya tajam.

“Kenal?”

“Pulanglah, Dila.”

“Pak Azam—”

“Besok kamu akan mendapatkan jawabannya.”

Dila tidak punya pilihan selain pergi.

---

Malam semakin larut ketika Dila tiba di rumah.

Lampu ruang tengah masih menyala.

Fadil duduk sendirian di sofa.

Dila berhenti di depan pintu.

“Mas belum tidur?”

Fadil menoleh.

“Belum.”

“Kok belum?”

“Nunggu kamu.”

Dila tersenyum kecil.

“Kan sudah bilang jangan menunggu.”

Fadil berdiri.

Ia memperhatikan wajah istrinya.

“Kamu kelihatan berbeda.”

Dila langsung gugup.

“Berbeda bagaimana?”

“Entahlah.”

Fadil mendekat.

“Kamu seperti sedang menyimpan sesuatu.”

Jantung Dila berdegup keras.

“Enggak ada.”

Fadil menatap matanya.

“Dila.”

“Ya?”

“Kalau ada masalah, cerita sama aku.”

Dila hampir menangis.

Ia ingin menceritakan semuanya.

Tetapi kontrak itu mengharuskannya merahasiakan pekerjaannya.

Akhirnya Dila hanya berkata,

“Aku dapat pekerjaan.”

Fadil terkejut.

“Serius?”

Dila mengangguk.

“Mulai besok.”

“Kerja di mana?”

Dila terdiam.

“Sebagai pendamping pribadi.”

Fadil mengernyitkan dahi.

“Pendamping?”

“Iya.”

“Perusahaan apa?”

Dila menunduk.

“Belum sempat tanya detail.”

Fadil menghela napas.

“Kalau pekerjaannya baik dan kamu nyaman, aku dukung.”

Dila menatap suaminya.

“Mas nggak marah?”

“Kenapa harus marah?”

“Karena aku bekerja dengan orang lain.”

Fadil tersenyum.

“Dila, aku tahu kita sedang kesulitan.”

Ia menggenggam tangan istrinya.

“Kalau kamu bisa membantu keluarga, aku justru berterima kasih.”

Air mata Dila jatuh.

Fadil mengusap pipinya.

“Kenapa menangis?”

“Bahagia.”

“Lebay.”

Dila tertawa kecil sambil menangis.

Fadil kemudian memeluknya.

Pelukan itu sederhana.

Hangat.

Dan justru karena sederhana, Dila merasa semakin bersalah.

Dalam pelukan suaminya, pikirannya terus teringat pada kontrak yang baru saja ia tanda tangani.

---

Pagi berikutnya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Dila.

Fadil yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.

Seorang perempuan turun dari mobil.

Penampilannya rapi. Rambut panjangnya diikat, mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam.

“Bu Dila?”

Dila keluar.

“Iya.”

“Saya Laras.”

Dila mengangguk.

“Saya asisten Pak Azam.”

Laras tersenyum sopan.

“Mulai hari ini saya yang akan membantu Ibu selama bekerja.”

Fadil muncul di belakang Dila.

“Pagi.”

Laras membungkuk sedikit.

“Pagi, Pak.”

Fadil memandang mobil tersebut.

Kemudian menatap Dila.

“Bos kamu orang kaya?”

Dila tersenyum gugup.

“Sepertinya.”

Fadil tertawa kecil.

“Wah, baru kerja sudah dijemput mobil bagus.”

Dila hanya tersenyum.

Laras melihat interaksi mereka.

Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang sulit dijelaskan.

Seolah ia mengetahui lebih banyak daripada yang dikatakannya.

“Bu Dila, kita harus berangkat.”

Dila mengangguk.

“Sebentar.”

Ia kembali masuk dan mengambil tas.

Sebelum keluar, ia memeluk Fadil.

“Jaga diri.”

Fadil tersenyum.

“Kamu juga.”

“Kalau ada apa-apa telepon aku.”

“Iya.”

Dila kemudian masuk ke mobil.

Saat kendaraan mulai bergerak, ia melihat Fadil semakin jauh melalui kaca.

Senyumnya perlahan menghilang.

---

“Suami Ibu sangat menyayangi Ibu.”

Suara Laras memecah keheningan.

Dila menatapnya melalui kaca depan.

“Iya.”

“Kalau boleh saya bertanya…”

“Silakan.”

“Apakah dia tahu pekerjaan Ibu?”

Dila menggeleng.

“Tidak sepenuhnya.”

Laras diam.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Dila merasa ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu.

“Laras.”

“Ya?”

“Pak Azam sebenarnya siapa?”

Laras tersenyum tipis.

“Banyak orang bertanya hal yang sama.”

“Dan jawabannya?”

“Tidak ada yang benar-benar mengenal beliau.”

Dila menatap keluar jendela.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah gedung besar.

Dila mendongak.

Gedung itu begitu megah.

Di bagian depan tertulis:

WIRATAMA GROUP

Dila terkejut.

“Ini perusahaan Pak Azam?”

Laras mengangguk.

“Ya.”

Dila menatap gedung tersebut.

Ia baru menyadari bahwa lelaki yang kemarin menawarinya pekerjaan ternyata bukan sekadar orang kaya.

Azam adalah pemilik salah satu perusahaan besar di kota itu.

Namun keterkejutan Dila belum selesai.

Begitu memasuki lobi, beberapa karyawan langsung menunduk hormat ketika Laras lewat.

Kemudian mereka melihat Dila.

Tatapan mereka berubah.

Berbisik.

Saling pandang.

Dila merasa tidak nyaman.

“Ada apa?” tanyanya.

Laras tetap berjalan.

“Nanti Ibu akan tahu.”

“Kenapa mereka melihat saya seperti itu?”

Laras berhenti di depan lift.

“Karena tidak semua orang tahu alasan Pak Azam membawa seseorang dari luar ke dalam kehidupannya.”

Pintu lift terbuka.

Dila masuk.

Sebelum pintu tertutup, seorang perempuan muda berlari mendekat.

“Laras!”

Laras menoleh.

Perempuan itu bernama Sekar.

Ia menatap Dila dari ujung kepala hingga kaki.

“Dia siapa?”

Laras menjawab tenang.

“Orang yang mulai hari ini bekerja bersama Pak Azam.”

Sekar terdiam.

Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya.

“Menarik.”

Pintu lift tertutup.

Dila menatap angka lantai yang terus naik.

Entah kenapa, sejak menginjakkan kaki di gedung itu, firasat buruk mulai memenuhi hatinya.

Ia belum tahu bahwa keputusan menandatangani kontrak kemarin bukan hanya akan mengubah kondisi ekonominya.

Keputusan itu akan menyeretnya ke dalam sebuah rahasia lama…

Dan tanpa Dila sadari, Fadil bukan satu-satunya orang yang akan terluka oleh rahasia tersebut...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!