Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Menjelang Fajar di Gerbang Selatan
Udara malam di atas permukaan air rawa Kota Rawa Tersembunyi terasa begitu berat dan lembap, membawa serta aroma lumpur tua dan bau amis dari vegetasi liar yang membusuk di dasar perairan. Di dalam kamar privat lantai tiga Paviliun Kuali Hitam, lampu minyak kecil yang menerangi ruangan berkedip-kedip liar akibat hembusan angin malam yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu.
Gu Yan-Zhi berdiri di dekat jendela, menatap ke arah gelapnya cakrawala selatan tempat garis batas hutan bakau bertemu dengan langit kelam tanpa bintang. Pesan kilat yang dibawa oleh kurir Tuan Mo beberapa saat lalu mengonfirmasi bahwa Feng Lie dan pasukan elit Sekte Langit Berkobar telah bergerak lebih cepat dari perkiraan. Keunggulan waktu yang tadinya mereka miliki kini menyusut drastis, mengubah situasi menjadi sebuah perlombaan senyap antara kecepatan melarikan diri dan kesiapan menghadapi konfrontasi langsung.
Gu Chen berdiri beberapa langkah di belakang tuan mudanya, merapikan tali pengikat tas perbekalan dan memastikan tongkat besi tempa miliknya berada dalam jangkauan tangan terbaik. Sementara itu, Gu Ruoxi sedang memasukkan botol-botol giok terakhir berisi Pil Pembersih Meridian sisa ke dalam kantong penyimpanan spasial kecil yang diberikan oleh Tuan Mo sebagai bonus kerja sama.
Di bahu Gu Yan-Zhi, Hu Yijie meregangkan tubuh kecilnya, mencium aroma angin malam dengan hidungnya yang basah sebelum mendesis pelan melalui telepati.
Tuan... fluktuasi energi dari arah timur laut mulai menunjukkan tanda-tanda kepekatan elemen api yang agresif. Burung-burung badai api milik sekte itu terbang rendah di atas kanopi hutan. Mereka melacak jejak energi kita menggunakan teknik pencarian spiritual tingkat tinggi, ucap Hu Yijie memperingatkan.
Gu Yan-Zhi mengangguk pelan, menanggapi laporan mental dari hewan mitos tersebut dengan ekspresi yang tetap tenang tanpa sedikit pun kepanikan. "Mereka memang menggunakan metode pelacakan darah yang agresif. Sekte Langit Berkobar tidak pernah membiarkan mangsa mereka lolos begitu saja jika sudah mencium aroma artefak kuno."
Ia berbalik, menghadapi Gu Chen dan Gu Ruoxi dengan tatapan tajam dan penuh wibawa.
"Kita tidak akan menunggu sampai mereka mengepung penginapan ini," perintah Gu Yan-Zhi tegas. "Kita bergerak sekarang, sebelum fajar menyingsing. Tuan Mo telah menyiapkan jalur air rahasia melalui dermaga belakang yang terhubung langsung dengan kanal rawa luar kota. Jalur itu akan membawa kita keluar tanpa terdeteksi oleh pos penjagaan utama."
Gu Chen mengangguk mantap tanpa ragu. "Mari kita berangkat, Tuan muda. Aku akan memimpin jalan di depan."
Beberapa menit kemudian, kelompok kecil tersebut bergerak senyap melalui koridor belakang Paviliun Kuali Hitam yang menurun langsung menuju pelataran dermaga air rawa privat. Di sana, sebuah perahu kayu datar berukuran sedang yang dilengkapi dengan tiang layar tersembunyi telah menanti. Seorang pengayuh perahu bayaran kepercayaan Tuan Mo berdiri membungkuk hormat menyambut kedatangan mereka.
"Tuan Muda Gu, silakan naik cepat. Perahu ini sudah dilapisi dengan jimat penyamaran energi agar fluktuasi Qi Anda tidak terdeteksi oleh sensor burung pencari di udara," bisik pengayuh perahu itu dengan suara tercekat karena gugup menghadapi ketegangan situasi.
Gu Yan-Zhi mengangguk singkat. Ia membantu Gu Ruoxi naik ke atas perahu, disusul oleh Gu Chen yang membawa seluruh perbekalan, sementara Hu Yijie melompat ringan dan mengambil posisi di haluan perahu. Gu Yan-Zhi melangkah naik paling akhir, memastikan tidak ada jejak fisik yang tertinggal di atas dermaga kayu tersebut.
Syuuush...
Perahu kayu itu meluncur perlahan membelah air rawa yang gelap dan tenang, meninggalkan riak-riak kecil yang langsung menyatu kembali dengan kabut malam. Pengayuh perahu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mendayung secara senyap, menyusuri lorong-lorong air sempit yang diapit oleh akar-akar gantung pohon bakau raksasa.
Selama hampir satu jam perjalanan air yang menegangkan itu, suasana terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara desiran angin malam dan dengkuran serangga rawa. Namun, ketenangan tersebut tidak bertahan selamanya.
Tiba-tiba, dari arah langit di atas kanopi hutan bakau sebelah timur, terdengar suara kepakan sayap raksasa yang memecah udara disertai deru angin panas yang membakar dedaunan.
Fwhuuu... bum!
Sebuah bola api besar melesat turun dari angkasa, menghantam area hutan tidak jauh dari jalur kanal air yang sedang mereka lalui, memicu ledakan dahsyat yang menerangi malam kelam menjadi kemerahan.
Gu Ruoxi terpekik tertahan, menutup mulutnya dengan tangan untuk meredam suaranya sendiri, sementara Gu Chen langsung bersiap dengan tongkat besinya.
Dari atas kobaran api tersebut, siluet bayangan tiga ekor burung berukuran raksasa dengan bulu menyala-nyala—Burung Badai Api—tampak melayang berputar-putar di udara. Di atas punggung burung terdepan, berdiri tegak sesosok pemuda berjubah merah menyala dengan sulaman benang emas berlogo matahari terik. Wajahnya tajam, arogan, dan memancarkan tingkat kultivasi yang sangat tinggi di tahap Pemusatan Qi Tingkat Delapan.
Ia adalah Feng Lie, tetua muda sekaligus murid jenius dari Sekte Langit Berkobar.
"Ha-ha-ha! Gu Yan-Zhi, buronan rendahan dari Klan Gu! Kau pikir dengan bersembunyi di dalam comberan rawa ini, jejak busukmu bisa lepas dari pencarianku?!" suara Feng Lie menggema keras di seluruh penjuru rawa, memantul di antara pepohonan bakau dengan tekanan spiritual yang begitu berat hingga membuat air di kanal bergetar hebat.
Pengayuh perahu yang mengemudikan kendaraan mereka mendadak pucat pasi, terjatuh lemas di lantai perahu karena tidak sanggup menahan tekanan aura tingkat delapan tersebut.
Gu Yan-Zhi melangkah maju ke haluan perahu. Ia menepis pengaruh tekanan spiritual itu dengan mudah berkat aliran energi Kitab Pembalik Langit di Dantiannya. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sosok Feng Lie yang melayang di atas burung raksasa di udara.
"Sekte Langit Berkobar memang tidak pernah kekurangan anjing-anjing arogan yang suka menggonggong di tempat tinggi," jawab Gu Yan-Zhi dengan suara tenang namun bernada dingin yang mencengangkan.
Feng Lie menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah pemuda berjubah hitam di atas perahu kecil di bawah sana. Senyuman kejam tersungging di bibirnya. "Bocah sombong! Serahkan kotak warisan pusaka Jenderal Langit sekarang juga, dan aku akan membiarkanmu mati tanpa rasa sakit di dasar rawa ini!"
Pertarungan sengit di batas wilayah rawa selatan resmi dimulai. Di bawah langit senja yang bersiap menyambut fajar, sang Jenderal Langit bersiap menguji batas kemampuannya menghadapi amukan salah satu pendekar terkuat dari wilayah tengah Benua Dewa.