Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

melody diatas luka

Awal bulan yang paling ditakuti itu akhirnya tiba juga tanpa bisa ditahan. Di sebuah halaman rumah yang luas di sudut desa, janur kuning melengkung tinggi, melambai lambat ditiup angin seolah ikut menyaksikan sebuah kepasrahan.

Sebuah panggung besar bertuliskan nama Ningsih dan Joni berdiri megah di tengah-tengah halaman, lengkap dengan dentuman bas dari pelantang suara musik organ tunggal yang memekakkan telinga. Getaran speaker besarnya bahkan terasa hingga ke dada setiap orang yang lewat.

Pesta pernikahan tersebut digelar luar biasa besar-besaran, sebuah penanda kasta yang khas bagi hajatan keluarga orang terpandang di desa.

Di sudut area prasmanan yang dipenuhi aroma gulai dan rendang, Budi sama sekali tidak memedulikan kemewahan dekorasi kain satin yang menjuntai atau tatapan miring dari beberapa tetangga yang berbisik-bisik di dekatnya. Dengan kemeja batik andalannya yang sudah disetrika rapi, ia sibuk menyendok nasi dan mengambil lauk pauk ke piringnya hingga menggunung tinggi.

Setelah perutnya kenyang terisi penuh, ia langsung melesat ke depan panggung utama, ikut berbaur dengan kerumunan pemuda desa lainnya. Tubuhnya bergoyang heboh mengikuti ritme cepat lagu dangdut yang sedang berdendang riuh.

"Yang kawin orang, yang enak orang, yang penting aku makan!" seru Budi setengah berteriak pada temannya di tengah riuhnya musik.

Suaranya hampir tenggelam oleh lengkingan vokal penyanyi panggung.

Baginya, urusan patah hati adalah urusan Salman. Tugasnya hari ini hanya memastikan perutnya kenyang dan menghormati undangan sebagai warga desa yang baik, tanpa perlu ikut-ikutan larut dalam kesedihan sahabatnya.

Sementara itu, kontras dengan keriuhan di bawah, di atas panggung pelaminan yang dihiasi dekorasi rangkaian bunga-bunga segar beraroma harum, Ningsih duduk kaku. Kebaya pengantin yang anggun melekat indah di tubuhnya, berhiaskan payet yang berkilauan diterpa lampu sorot.

Namun....

sepasang tatapan matanya sama sekali tidak memancarkan binar kebahagiaan seorang mempelai wanita. Tatapannya kosong, menyapu kerumunan tamu undangan di bawah sana tanpa benar-benar melihat mereka.

Ketika pandangannya tidak sengaja menangkap sosok Budi yang sedang asyik berjoget tanpa beban di dekat panggung, jantung Ningsih mendadak berdesir ngilu.

Rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dadanya.

Ingatannya langsung terbang lurus menembus jarak, tertuju pada satu nama yang paling ia rindukan selama ini.

Dia di mana...?

Kok gak kelihatan sama sekali?

tanya Ningsih dalam hati, merujuk pada Karsa—lelaki sebatang kara yang membawa pergi separuh jiwanya ke kota besar.

Dada Ningsih terasa sesak hingga membuatnya sulit bernapas, menyadari bahwa di hari paling penting dalam hidupnya ini, sosok yang ia harapkan hadir justru berada ratusan kilometer jauhnya, tak terjangkau oleh tangannya yang kini terikat cincin pernikahan.

Joni yang duduk tepat di sebelah Ningsih tentu saja menyadari perubahan sikap istrinya yang mendadak dingin dan kaku. Ia melirik sekilas dari sudut matanya, melihat bagaimana tatapan mata Ningsih terus menerawang kosong ke depan dan mengabaikan beberapa kerabat dekat yang datang menyalami serta memberikan ucapan selamat di atas pelaminan.

Meskipun di luar Joni tetap memasang senyum lebar nan ramah sembari sibuk menyapa dan menjabat tangan para tamu undangan penting yang bergantian naik, dadanya bergejolak panas. Hatinya seperti dibakar oleh rasa cemburu yang luar biasa dan harga diri sebagai seorang pria yang terluka dalam. Sebagai orang desa yang mengenal masa lalu istrinya, ia tahu betul siapa nama pria yang sedang dipikirkan oleh wanita di sebelahnya itu.

Awas kamu Ningsih.

Lihat saja nanti, desis Joni dengan senyum palsu yang masih terkembang di wajahnya, menjaga wibawanya di depan para tamu.

Malam ini gak bakal aku ampuni kamu,

lanjutnya berjanji dalam hati dengan penuh kilatan amarah yang tertahan, siap meledak begitu pesta megah ini usai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!