Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kerja Tim
Suara jeritan terdengar dari lantai dua.
“TOLOOONG!”
Ruby yang sedang berjalan di antara rak-rak toko langsung berhenti. Dia menoleh kepada Jack, Mohan, Glen, dan Kety.
“Kalian dengar?”
Jack mengangguk. Tangannya mengerat pada tombak besi yang digenggamnya. “Dari lantai dua.”
Ruby menatap tangga darurat yang berada di ujung lorong. “Kita naik.”
Mohan menghela napas. “Kalau ada zombie di atas?” Mereka baru saja selesai makan di depan Mall itu, dan melihat pergerakan dari dalam.
Ruby mengangkat pedangnya. “Makanya kita harus hati-hati.”
"Baik. Ayo kita naik!"
Mereka bergerak bersama, Ruby berada di depan, Jack menjaga sisi kanan. Mohan dan Glen berada di belakang Ruby, sementara Kety menjaga bagian paling belakang.
Mereka baru beberapa langkah menaiki tangga ketika suara geraman terdengar.
GRRRAAAHH....
Ruby mengangkat tangan. Semua langsung berhenti. Dua zombie muncul dari balik pintu lantai dua.
Ruby berbisik. “Dua.”
Jack menjawab pelan. “Aku ambil yang kanan.” kalau cuman satu, itu hanya hal sepele baginya.
“Baik.”
Zombie pertama berjalan mendekat saat melihat kemunculan mereka. Ruby maju dan menebaskan pedangnya.
Slash.....
Zombie itu jatuh. Pada saat yang sama, Jack menusukkan tombaknya ke zombie lainnya.
DUK!
Zombie tersebut tersungkur. Namun dari lorong terdengar suara geraman lain. Mohan melihat ke depan. “Bukan cuma dua.”
Beberapa zombie mulai keluar dari toko-toko. Mereka bersembunyi di tempat gelap.
Glen menggenggam tongkat besinya. “Mereka datang! Sial, Kenapa mereka suka berkelompok sih?" umpatnya.
GRRRAAAHH.....
GRRRAAAHH.....
Ruby berdiri di depan mereka. “Jangan berpencar!”
Gerombolan zombie menyerbu. Tangan mereka menjulur kedepan seoalah siap menangkap mangsa.
Ruby bergerak cepat, menebas zombie yang mendekat dari depan. Jack menggunakan tombaknya untuk menjaga jarak.
Setiap kali satu zombie mencoba mendekat, ujung tombaknya menghentikan gerakan mereka. Mohan mengayunkan tongkat besinya.
Clas... Jleb.... krek.... krak....
Glen menghantam zombie lain dari samping.
“Ruby, sebelah kiri!”
Ruby segera berbalik. Satu zombie hampir mencengkeram lengannya. Ruby menghindar dan menebas.
Slasss.....
“Terima kasih!”
“Jangan lengah!” teriak Glen. Meski Ruby sangat hebat, tapi terkadang dia kurang fokus jika sudah mulai kelelahan.
Di belakang mereka, Kety menghadapi dua zombie yang mencoba menerobos. Dia mengangkat palu besi panjangnya. "Matilah...."
BRAK!
Palu menghantam salah satu zombie hingga tersungkur. Zombie lainnya mencoba menyerang. Kety mundur setengah langkah lalu mengayunkan palunya kembali.
DUAK!
Kety menoleh. “Ruby! Jalur belakang aman!” ucapnya tapi masih tetap bersikap waspada.
Ruby mengangguk. “Bagus!”
Mereka terus bergerak maju. Setelah beberapa menit, lorong akhirnya kembali sunyi.
Ruby menatap sekeliling. “Berhenti dulu.”
Semua menarik napas. Mohan menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Kalau setiap lantai begini, aku bisa mati kelelahan sebelum dimakan zombie.”
Glen menatapnya. “Jangan bicara soal dimakan.”
“Kenapa?”
“Karena aku sedang berusaha tidak membayangkannya.”
Kety hampir tertawa. Namun suara ketukan dari balik pintu sebuah toko membuat mereka kembali serius.
TOK... TOK... TOK...
Ruby mengangkat pedangnya. “Diam.”
Semua mendengarkan. Kemudian terdengar suara seorang wanita dari dalam.
“Apakah... kalian manusia?” suara dari dari dalam pelan dan penuh rasa takut.
Ruby mendekati pintu. “Ya.”
Suara itu terdengar lega. “Tolong kami!” Kami sudah berada disini dari kemarin.
Ruby menoleh kepada Jack.“Kita buka.”
Jack mengangguk. Mohan dan Glen bersiap di sisi pintu. Sedangkan Kety menjaga lorong.
Ruby memberi aba-aba. “Sekarang!”
Pintu dibuka. Beberapa orang langsung berdesakan keluar. Seorang wanita memeluk anak kecil erat-erat.
Di belakangnya ada beberapa orang dewasa yang wajahnya terlihat pucat dan kelelahan.
“Kalian dari mana?” tanya seorang pria dengan tatapan waspada.
“Kami sedang mencari penyintas, yang membutuhkan pertolongan” jawab Ruby.
Pria itu menatap senjata mereka. “Kalian... akan membawa kami keluar?” tanyanya penuh harap.
Ruby mengangguk. “Kami bantu sebisa mungkin, tapi kalian semua harus bekerja sama, ikuti perintah.”
"Baik! Baik! Kami semua menurut asal bisa keluar dari sini!" ucapnya penuh dengan penyesalan.
Dia yang mengajak rombongannya masuk mall untuk mencari perbekalan, saat masuk terlihat sangat sepi, tapi siapa sangka lantai dua zombie-zombienya bermunculan dari lorong yang gelap.
Jumlah mereka sangat sedikit, dan tidak bisa melawan segerombolan zombie, jadi memilih untuk bersembunyi di salah satu ruangan.
Tiba-tiba terdengar geraman dari ujung lorong. Semua penyintas panik.
GRRRAAAHH.....
GRRRAAAHH.....
“Zombie!”
“Tenang!” seru Ruby. Dia berdiri di depan para penyintas. “Jangan berlari sendiri. Tetap bersama kami.!"
Jack memposisikan tombaknya. “Mereka datang dari kanan.”
Mohan menggenggam tongkat besinya. “Aku dan Glen jaga sisi kanan.”
Glen mengangguk. “Kety, kau jaga belakang.”
“Siap.” balas Kety dengan palu besinya yang sudah berlumuran darah.
Ruby menatap para penyintas. “Ketika kami membuka jalan, kalian ikuti aku. Jangan berhenti.”
Seorang anak kecil mulai menangis. Tubuhnya gemetar, meski sudah sering melihatnya, tapi tetap saja menakutkan.
Ruby berlutut sebentar di hadapannya. “Jangan takut. Kita akan keluar dari sini bersama-sama.”
"Emm...!" gadis kecil itu mengangguk.
Ruby berdiri kembali. Tatapannya berubah tegas. “Sekarang!”
Para zombie menyerbu.
Ruby maju paling depan. Pedangnya bergerak cepat, membuka jalan. Jack menusukkan tombaknya untuk menghentikan zombie yang mencoba mendekat dari samping.
Mohan dan Glen bertarung berdampingan, saling menutupi celah. Kety berjalan mundur sambil mengayunkan palu besinya untuk memastikan tidak ada zombie yang berhasil mencapai para penyintas.
“Jalan terus!” teriak Jack.
“Jangan berhenti!” tambah Glen.
Para penyintas berlari mengikuti Ruby. Seorang pria hampir terjatuh. Mohan segera menarik lengannya.
“Ayo!”
“Terima kasih!”
“Jangan berterima kasih dulu. Kita belum sampai!”
Ruby melihat pintu keluar di ujung lorong. “Di sana!”
Harapan mulai terlihat di wajah para penyintas. Namun sebelum mereka mencapai pintu, tiga zombie muncul dari samping.
Ruby langsung menghadang. Jack berdiri di sebelahnya. Mohan dan Glen mengambil posisi. Kety memutar palunya. Tidak ada yang mundur.
Ruby menatap anggota timnya. “Kita selesaikan bersama.”
Jack tersenyum tipis. “Seperti biasa.” Mereka sudah bekerja sama melawan zombie, jadi hanya dengan kalimat seperti itu mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Mohan mengangkat tongkat besinya. “Bersama.”
Glen mengangguk. “Jangan sampai ada yang tertinggal.”
Kety menggenggam palunya lebih erat. “Lindungi para penyintas.”
Ruby mengangkat pedangnya.“Serang!”
Kelima orang itu maju bersamaan. Mereka bukan pahlawan dengan kekuatan luar biasa, mereka hanya manusia biasa.
Tetapi selama mereka tetap bersama, mereka masih memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.
Dan malam itu, di tengah mall yang dipenuhi mayat hidup, mereka tidak hanya bertarung untuk diri mereka sendiri.
Mereka bertarung untuk menyelamatkan manusia yang masih hidup.
Mereka membasmi gerombolan zombie dengan nafas memburu. Berkat kerja sama tim yang kompak, membuat mereka dengan mudah menghabisi makhluk jelek itu.
Setelah berhasil keluar dari Mall, Ruby mengajak para penyintas untuk mencari tempat yang aman.
"Ini minumlah..!"
Para penyintas tertegun, air kemas botol ternyata masih ada. Padahal mereka sudah mencari ke seluruh tempat, tapi yang terlihat hanya bekas botolnya saja.
"Terima kasih..! Terima kasih sudah menyelamatkan kami...!"
"Bukan masalah.. Jadi kemana tujuan kalian?"
"Kami... Kami juga tidak tahu.. Kami terus berjalan tanpa arah!!
"Benar! Pangkalan Pemerintah saja sudah mulai kehabisan stok makanan mereka. Katanya saat ini, sedang membuat kebun kaca, hanya itulah harapan mereka..!"
"Semuanya sudah habis! Tapi aku dengar, ada satu pangkalan yang masih memiliki banyak persedian, mereka bersedia nampung dan memberi kami makan!"
"Hmm.. Tapi pangkalan itu mengharuskan kita membunuh zombie sebagai imbalannya!"
Jantung Ruby berdebar kencang, akhirnya si Pemeran Utama wanita mulai menampakkan diri...
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka