Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 14
"Aku hanya tidak mau menyakiti hati kamu... Sekarang aku kembali, Kevin... Apa kamu mencintai Dilara?"
Pertanyaan tajam dari Asha menggantung kaku di udara kamar yang dingin. Kevin membeku, matanya menatap Asha dengan binar hampa yang dipenuhi pergolakan batin. Rasa bersalah, kebingungan, dan penyesalan yang membuat dadanya terasa terimpit.
"Mencintainya?" bisik Kevin parau, jemarinya meremas rambutnya sendiri.
"Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang kurasakan, Asha... Tapi satu hal yang pasti, hatiku hancur saat melihat Dilara melangkah pergi. Dapur sepi, rumah ini hampa, dan aku sadar betapa jahatnya aku pada wanita yang selama ini selalu sabar mendampingiku."
Asha tersentak, pelupuk matanya seketika menggenang oleh air mata. "Kev... Kamu bicara apa sih?! Kamu bilang kamu mencintaiku! Kamu bilang ingin memulai lembaran baru denganku! Kenapa setelah dia pergi, kamu justru seperti ini?"
Suara Asha mulai bergetar, air matanya menetes membasahi pipi. Ia melangkah mendekat dan menggenggam erat kedua tangan Kevin.
"Aku kembali untukmu, Kev... Aku menahan semua rasa sakit ini demi kamu. Apa setahun bersamanya bisa menghapus semua kenangan dan rasa cinta kita bertahun-tahun?"
Melihat air mata Asha yang menetes, pertahanan Kevin goyah sejenak. Ia tidak bisa dipungkiri pernah sangat menyayangi wanita di hadapannya ini. Kevin mendesah berat, usapannya lembut saat menyapu air mata di pipi Asha dengan ibu jarinya, walau matanya tak lagi memancarkan binar cinta seperti dulu.
"Maafkan aku, Asha... Tolong jangan menangis," tutur Kevin dengan suara yang melunak, meski raut wajahnya menyuarakan keputusasaan yang mendalam.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Keputusanku semalam terlalu terburu-buru... Aku mengambil keputusan saat emosiku sedang tidak stabil."
"Lalu aku harus bagaimana, Kev?" tangis Asha pecah, ia menyandarkan keningnya di dada Kevin.
"Kamu mau membuangku begitu saja setelah aku melepaskan segalanya untuk kembali padamu?"
Kevin memeluk bahu Asha pelan, menepuk punggungnya untuk menenangkan, meski tatapannya terlempar hampa menatap sudut kamar yang gelap.
"Aku butuh waktu, Asha. Kita berdua butuh waktu. Untuk saat ini... tolong biarkan aku sendiri dulu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Dilara dan orang tuaku secara baik-baik. Aku tidak bisa melangkah ke masa depan kalau masa laluku berantakan seperti ini."
Asha mendongak dengan mata sembab, menatap Kevin yang kini tampak begitu asing baginya. Meski Kevin tidak mengusirnya dengan kasar, penolakan halus dan rasa canggung yang membentang di antara mereka terasa jauh lebih menyakitkan.
"Baik... kalau itu mau kamu," bisik Asha pasrah, menyapu sisa air matanya sembari menurunkan tangannya dari dada Kevin.
"Aku akan pulang malam ini. Tapi tolong ingat, Kev... aku akan selalu ada di sini menunggumu."
Dengan langkah berat, Asha menyambar tas mewahnya lalu berjalan keluar kamar. Kevin hanya berdiri terpaku, menatap punggung Asha yang menghilang di balik pintu, menyisakan penyesalan mendalam yang kian berakar di dadanya.
Keesokan paginya, suasana berbeda terasa di rumah mewah bergaya minimalis tempat Dilara bekerja. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruang bermain anak. Suara tawa mungil memecah kesunyian rumah elit tersebut.
Dilara terlihat sedang duduk bersimpuh di atas karpet busa, memperagakan dongeng menggunakan boneka tangan berbentuk kera dan singa. Elang duduk melipat kaki di depannya, tertawa riang sampai matanya menyipit.
"Terus, Si Kera bilang apa, Mbak Dilara?" tanya Elang penuh rasa ingin tahu, melompat kecil sembari memegang lengan baju Dilara.
"Si Kera bilang..." Dilara mengubah suaranya menjadi agak serak bernada lucu,
"...'Singa, kalau kamu mau temenan sama aku, kamu tidak boleh teriak-teriak lagi, ya! Nanti tenggorokanmu gatal!'"
Elang tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk pahanya. Rasa hangat memenuhi dada Dilara melihat binar bahagia di wajah polos anak itu. Luka memar di bahu kirinya masih terasa agak berdenyut, namun kepuasan karena berhasil menyentuh hati Elang membuat rasa sakit itu menguap begitu saja.
Tiba-tiba, bayangan tegap berdiri di ambang pintu yang terbuka. Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam rapi, lengkap dengan jam tangan mewahnya. Wajahnya tetap datar, namun matanya yang tajam memindai interaksi hangat di depan matanya dengan cermat.
"Om Elian!" panggil Elang riang, berdiri dan memamerkan boneka tangannya.
"Lihat! Mbak Dilara bisa suara monyet!"
Elian berdeham pelan, menutupi rasa terkejutnya melihat perkembangan pesat keponakannya hanya dalam satu malam. Pria itu melirik Dilara yang bergegas berdiri anggun sembari merapikan letak jilbab kremnya.
"Bagaimana semalam? Apakah dia tantrum lagi?" tanya Elian dingin, menatap Dilara lurus-lurus.
"Tidak, Pak Elian," jawab Dilara santun.
"Setelah membaca buku dari Bapak, saya mencoba metode pendekatan yang lebih tenang saat Elang terbangun jam tiga pagi tadi. Dia hanya merindukan suasana hangat, jadi saya bacakan buku cerita sampai dia tertidur lagi."
Elian tertegun sejenak. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memindai raut wajah Dilara yang tampak sedikit pucat namun tetap memancarkan keanggunan. Matanya lalu tak sengaja tertangkap oleh gerakan kecil Dilara yang refleks mengelus bahu kirinya.
"Bahu kamu masih sakit?" tanya Elian mendadak, membuat suasana menjadi agak hening.
Dilara tersentak pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Hanya sedikit pegal, Pak. Bukan masalah besar."
"Aku tidak suka pekerja di rumah ini memaksakan diri," potong Elian tegas, melangkah mendekati meja dan meletakkan sebuah kantong kertas kecil berisi salep khusus dan beberapa plester medis import.
"Saya minta asisten saya membelinya tadi pagi. Pakai itu. Saya tidak mau Elang kehilangan pengasuhnya cuma karena bahumu infeksi."
Dilara menatap kantong kertas itu, lalu beralih pada Elian. Meskipun kalimat pria itu terdengar kaku dan penuh gengsi, Dilara tahu betul ada rasa kepedulian yang tersimpan rapi di balik sikap dinginnya.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak," tutur Dilara tulus.
Elian berdeham keras, memalingkan wajahnya sembari membenarkan letak dasinya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
"Hari ini saya dan Papa ada rapat penting sampai sore. Mama sedang pergi ke acara yayasan. Jika ada masalah dengan Elang... atau jika ada orang asing dari masa lalumu yang berani datang kemari..."
Elian menatap mata Dilara dengan sorot mata protektif yang begitu tajam.
"...langsung hubungi saya. Penjaga di depan sudah saya beri instruksi ketat untuk tidak meloloskan siapa pun tanpa izin saya."
Dilara mengangguk perlahan. "Baik, Pak Elian. Terima kasih."
Elian berlutut sejenak, mengusap kepala Elang dengan lembut. "Om berangkat kerja dulu. Menurut sama Mbak Dilara, mengerti?"
"Siap, Om Elian!" seru Elang memberi hormat penuh semangat.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛