Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Pengusiran Roh
Bab. 10
# Ritual Pengusiran Roh #
Ino membopong tubuh Sora yang masih meringkuk tidur pulas, mengawasi area sekitar rumah kuno berbilik kayu itu dengan pandangan waspada. Rasanya sungguh janggal. Untuk apa Sora berobat ke tempat seaneh ini? Bukankah seharusnya mereka pergi ke rumah sakit jika gadis itu hanya mengalami perut kembung akibat masuk angin? Lagipula, tadi pagi sebelum sarapan, Sora mengaku sudah membaik setelah semalam dipijat Bi Muna. Sora bahkan melahap habis roti lapis dan segelas susu tanpa sisa, lalu menambahnya dengan seporsi pancake. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda orang sakit.
Apa mungkin ada yang disembunyikan Bi Muna darinya? Mungkin ini bukan sekadar sakit perut biasa. Gelagat Bi Muna yang gugup dan terkikih canggung pun tak luput dari perhatian Ino.
Belum sempat Ino bertanya, datang dua petugas kesehatan berpakaian tradisional membawa tandu. Mereka menyuruh Ino membaringkan Sora di atasnya. Ino menuruti instruksi tersebut tanpa banyak tanya, dalam pikirannya, mereka pasti lebih paham tentang kondisi Sora. Lagipula, jika dilihat-lihat, tempat ini menyerupai balai pengobatan tradisional. Banyak ornamen aneh dan mantra-mantra yang tak sanggup dibaca manusia normal tertempel di setiap pilar teras.
Kedua petugas itu segera menandu Sora menuju paviliun tua. Di sampingnya, Bi Muna berlari-lari kecil mengimbangi langkah cepat para petugas sambil sesekali menggoyang-goyangkan lengan Sora. Ino yang membuntut dari belakang mengamati wajah Bi Muna yang tegang. Wanita paruh baya itu terus berusaha membangunkan nonanya. Sementara Sora yang masih tertidur lelap hanya menjawab dengan dehaman singkat, menggeliat sedikit, lalu melanjutkan tidurnya.
Melihat hal itu, Ino merasa sedikit lega. Sora tidak pingsan karena kesakitan, melainkan memang murni ketiduran seperti bayi yang tidak peduli meski ada hujan, badai, petir, atau halilintar menyambar. Tingkah Sora ini mengingatkannya pada Axcel yang sangat suka tertidur di waktu-waktu rawan, itu adalah ingatan yang hanya membuat Ino menghela napas jengkel.
Ino mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan berdinding kayu tersebut. Di sanalah para petugas membaringkan Sora di sebuah ranjang. Aroma dupa wangi menyeruak mendadak, membuat kepala Ino berdenyut pusing dan dadanya sesak. Ino paling tidak tahan dengan asap rokok atau jenis asap apa pun. Bahkan dulu, ketika Axcel nekat mencoba merokok diam-diam saat SMA, Ino lah yang paling rajin membuang semua rokok itu dan berhasil membuat Axcel ketakutan hingga berhenti total.
Setelah seorang kakek tua datang, kedua petugas berpamitan keluar untuk mengurus pasien lain. Ino mendekati Bi Muna, berbisik ragu bertanya apakah tempat ini benar-benar aman untuk Sora. Tanpa menjawab, Bi Muna justru kembali menghampiri Sora dan mencoba membangunkan Nonanya, tetapi tetap gagal. Dengkuran halus masih terdengar jelas di telinga Ino.
Kakek tua yang kata bi muna bernama giok itu mendekat, lalu bertanya apa keluhan Sora.
"Itu... kata Bibi, perut teman saya ini sakit dari semalam, Kek," sahut Ino.
Bi Muna melengos dan menepuk keningnya sendiri. Gara-gara dirinya, semua jadi salah paham begini! Padahal tujuan mereka ke sini adalah mengobati Ino diam-diam dan mengusir arwah yang menguasai tubuh pemuda itu. Kenapa justru Nonanya yang berakhir menjadi pasien? Bi Muna merutuki kebodohannya sendiri dan sifat 'kebo' Nonanya (tidur pulas seperti kerbau yang tidak peka dengan apapun).
Si Kakek Tua menggulung tembakau yang diambil dari kotaknya, lalu menyalakannya seperti sebatang rokok. Ia menghisap dalam-dalam, menghembuskan asapnya tepat ke arah perut Sora, lalu menyuruh Bi Muna menyingkap sedikit pakaian di bagian perut Nonanya.
Tanpa peringatan, si Kakek menekan perut Sora cukup keras. Reaksi spontan itu berhasil membuat Sora tersentak bangun, berteriak kesakitan, dan langsung mengomel karena perutnya ditekan tanpa perasaan.
Tentu saja erangan Sora membuat darah Ino mendidih. Ino menarik balik bahu si Kakek, lalu mencengkeram kuat kerah baju sang tabib. Kakek giok panik seketika saat tubuhnya terangkat oleh tarikan tangan Ino.
"Kakek tua bangka... Kau apakan temanku, hah?! Cari mati?! Aku bisa mengirim mu ke neraka lebih cepat dari daftar cabut malaikat, kalau berani menyakiti temanku!"
Wajah Ino memerah padam oleh amarah. Suasana ruangan mendadak riuh, suara lantang Ino mengundang murid-murid si Kakek berdatangan ke ruang pengobatan. Tangan Ino sudah terkepal kuat, siap dilayangkan ke wajah si Kakek.
Sora yang baru sadar sepenuhnya langsung melompat turun dari bangsal dan berusaha menenangkan Ino. Ia membujuk pemuda itu dengan suara lembut seraya memberi isyarat pada Bi Muna untuk ikut memegangi lengan Ino. Bahkan suara si Kakek yang mencicit minta ampun sama sekali tak didengar Ino.
"INO! Lihat, aku sudah sembuh total! Perutku sudah tidak sakit lagi! Kakek itu sudah menyembuhkanku! Ayo lepaskan, Inooo..."
Ino menoleh cepat ke arah Sora. Demi meyakinkan Ino, Sora menepuk-nepuk perutnya sendiri secara dramatis.
"Oh... Sudah sembuh, ya? Hehehe... Maaf ya, Kek. Saya keburu emosi gara-gara salah paham."
Ino buru-buru menurunkan Kakek Tabib dan merapikan kembali kerah baju yang sempat ia cengkeram rapat. Kakek giok mengelus dadanya, tidak bermaksud memperpanjang masalah. Ia segera berbalik dari hadapan Ino dan meminta Sora ikut ke ruangannya dengan membawa satu orang wali. Sora meminta Bi Muna menemaninya, sementara Ino diminta menunggu di area luar.
Di dalam ruangan khusus, si Kakek menatap Sora tajam. "Teman priamu itu... punya dua jiwa dalam satu cangkang. Kenapa tidak mendaftarkan namanya tadi? Malah Nona yang berbaring di ranjang pesakitan itu."
Bi Muna dan Sora saling berpandangan dengan mata membelalak. Mereka takjub karena kakek giok bisa mengetahui kondisi Ino tanpa mendengar cerita dari mereka terlebih dahulu.
"Tapi sepertinya ini akan sulit," lanjut si Kakek sambil menggeleng pelan. "Jiwa itu sepertinya sudah ada sejak lama. Akan susah mengusirnya. Ritualnya butuh banyak dana dan tidak bisa cuma sekali. Harus berkesinambungan sampai jiwa anak itu benar-benar bersih."
Sora mengangguk cepat. Ia menyanggupi berapa pun biaya yang diminta si Kakek Tabib, asalkan Axcel bisa kembali hidup normal. Sora rela menghabiskan seluruh tabungannya demi menyelamatkan Ino.
Kakek Tabib tertawa puas, lalu menyuruh Sora membawa Ino ke paviliun barat, tempat para muridnya menyiapkan rincian ritual. Sebelum keluar, Sora mewanti-wanti si Kakek agar proses pengobatan dilakukan secara halus tanpa terang-terangan, mengingat watak Ino yang sangat sensitif dan tak tertebak. Pada intinya, Sora tidak berniat menyakiti arwah yang bersemayam di tubuh Ino, ia hanya ingin mengirimnya kembali ke dunia asalnya dengan tenang.
"Nona, sepertinya Tuan Ino sudah menunggu kita di lobi," ujar Bi Muna saat mereka berjalan keluar. "Oya, kenapa Nona rela menanggung semua biaya pengobatan ini? Padahal Nona bilang baru kemarin lusa kenal dan berteman dengan Tuan Ino."
Sora menghentikan langkahnya, lalu menepuk bahu pengasuhnya itu. Ia mendekat dan berbisik tepat di telinga Bi Muna.
"Ino itu Axcelino Pierce. Penerus tunggal Pierce Group yang selama ini identitasnya disembunyikan. Bibi tahu kaaan...seberapa raksasanya Pierce Group di negara ini? Jadi Bibi paham kaaan....seberapa berharganya seorang Ino?"
Sora kembali melangkah riang dengan senyum mengembang melintasi lorong, meninggalkan Bi Muna yang melongo lebar dengan ekspresi melotot tak percaya. Bi Muna berlari-lari kecil mengejar Nonanya, terus memberondong pertanyaan apakah yang ia dengar barusan nyata atau sekadar ilusi. Selama ini ia hanya mendengar desas-desus dari paparazi tentang penerus Pierce Group di luar negeri sana yang sosoknya misterius bak makhluk mitologi. Dan sekarang... orang itu ada di rumah mereka, makan dan tertawa bersama mereka sejak kemarin lusa?!
"Inoooo! Apa kau bosan?" sapa Sora ceria begitu menemukan keberadaan temannya. "Aku sudah selesai, kok. Habis ini kita ke mall, kita shoppiiiing! Tapi kita bertiga bersihkan aura dulu yuk di paviliun barat."
Ino bangkit dari duduknya dan mengikut langkah Sora serta Bi Muna tanpa rasa curiga sedikit pun. Di paviliun barat, beberapa murid si Kakek sudah duduk bersila mengelilingi puluhan lilin yang menyala. Lagi-lagi, udara rapuh yang bercampur pekatnya residu asap wewangian membuat kepala Ino berdenyut makin berat.
"Sora, berapa lama kita harus di sini?" bisik Ino sambil memegangi pelipisnya. "Aku tidak bisa terlalu lama menghirup aroma asap wangi begini, kepalaku pusing."
Sora yang belum tahu bahwa Ino memang alergi berat pada asap sejak dulu, malah mengira itu adalah reaksi arwah wanita dalam tubuh Ino yang mulai gelisah akibat aroma suci wewangian. Sora tersenyum puas dan mengajak Ino duduk di tengah-tengah aula. Ino menurut, duduk bersila diapit Sora dan Bi Muna. Sora terus menenangkan Ino dengan iming-iming jalan-jalan ke mall serta kebebasan membeli apa saja nanti.
Kakek Tabib masuk disusul empat orang muridnya. Mereka membawa nampan berisi bunga-bunga, air cawan, tombak, payung berwarna emas, dan kain merah. Pemandangan itu sangat mirip dengan panggung sesajen persembahan, yang memang sengaja disiapkan untuk ritual pengusiran arwah.
Dupa mulai dinyalakan. Kemenyan yang mengebul membumbung tinggi membuat Ino kian pusing dan terbatuk-batuk hebat. Kakek Tabib kembali menggulung tembakau dan membakarnya. Ia menghisap kuat-kuat, lalu menyemburkan asapnya tepat ke wajah Ino. Sembari mendekatkan wajahnya hingga jarak beberapa senti di depan Ino, si Kakek merapalkan mantra dengan suara lirih bergumam.
Seketika itu juga, Ino ambruk ke belakang, menimpa tubuh Sora. Perutnya mual hebat, dan dalam hitungan detik, ia memuntahkan seluruh sarapan pagi harinya ke lantai.
"Tenang... Tenang... Ini memang reaksi yang wajar. Ini baru awalan," ujar Kakek giok sok tahu. "Setan dalam tubuhnya tidak tahan dengan mantra yang saya baca!"
Kakek giok menyuruh muridnya mendudukkan kembali Ino yang sudah lemas karena mengeluarkan seluruh "pelangi" isi perutnya. Saat tangan Kakek Tabib memegang kening Ino dan kembali merapalkan mantra, Ino kembali terhuyung dan memuntahkan cairan putih bening. Perutnya sudah benar-benar kosong.
"Inooo... Inooo... Kau masih kuat? Bicara sesuatu, Ino!" Sora makin panik dan ketakutan melihat kondisi temannya.
Dengan sisa tenaga, Ino menggapai lengan Sora, menarik gadis itu mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Mata Sora membelalak seketika mendengar bisikan itu.
Namun sebelum Sora sempat mencerna perkataan Ino, Kakek giok mendadak kembali mendekati mereka. Tanpa permisi, ia meneguk air dari cawan, membacakan mantra sekilat kilat, lalu BRESSS!menyemburkan air itu tepat ke wajah Ino dan Sora.
*HUEEEKKK... HUEEEKKK!*
Kali ini bukan cuma Ino yang mual setengah mati. Bau napas dan racikan air si Kakek yang busuk tiada tara sukses membuat Sora ikut memuntahkan seluruh isi perutnya di tempat.
Melihat kekacauan mengerikan itu, Bi Muna langsung menarik paksa Sora dan Ino berdiri.
"Bener-bener ya! Kakek itu makan bangkai atau bagaimana, sih?!" seru Sora sambil memegangi perutnya yang mulas, wajahnya pucat pasi. "Sudah berapa abad tidak sikat gigi?! Bisa mati keracunan kita di sini! Ayok, Bi... Bawa Ino pulang! Salah tempat berobat kita ini!"
---
Beberapa saat kemudian, Sora dan Ino duduk terkulai lemas di jok belakang taksi online. Ketika sopir menanyakan tujuan, Sora yang tak berdaya menyuruh Bi Muna menyetorkan alamat rumah mereka.
Namun tiba-tiba, Ino yang bersandar lemas membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk ukiran senyum yang asing, dingin, tajam, dan penuh dominasi yang sama sekali berbeda dari Ino beberapa menit lalu.
"Tidak. Aku mau ke mall!" potong suara itu. Nadanya dalam, berat, dan tenang. "Antar kita ke mall Pak."
Sora dan Bi Muna mendadak menegang. Suara itu... bukan suara Ino.
---
Di tempat lain, sebuah ponsel pintar di atas meja marmer mewah bergetar berkali-kali.
*TING! TING! TING!*
Seorang pria berjas hitam meraih ponsel tersebut, membaca notifikasi yang muncul di layar, lalu segera memberitahu pada seorang nyonya besar yang sibuk mengamati layar laptop diruang kerjanya.
"Nyonya, ada notifikasi masuk dari kartu kredit Tuan Axcel. Kartunya baru saja digunakan di Mall Nexus Center," lapor pria itu dengan suara tertahan. "Berapa tim pengawal yang perlu saya bawa untuk mengepung dan menjemput Tuan Axcel, Nyonya?"
⭐⭐⭐⭐⭐
*Aduuuh, bukannya makin bersih, malah ketumpahan 'racun' napas Kakek Tabib! 😭 Tapi tunggu dulu... sosok yang mengambil alih tubuh Ino di dalam taksi itu siapa sebenarnya?! Apakah kepribadian Axcel yang asli sudah bangun, atau justru wujud suara arwah yang asli makin menguasai tubuhnya? Dan bagaimana nasib mereka bertiga kalau tim pengawal Pierce Group sampai menemukan keberadaan mereka di Nexus Center?!*
Kiravers...Penasaran kan sama kekacauan di mall nanti? Jangan lupa lanjut baca bab selanjutnya ya! Spark & love! ✨*