Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Adrian mengawasi setiap gerakannya dengan mata elang. "Dua puluh kali kunyahan. Bagus. Sekarang minum teh."
"Apakah ini benar-benar hidup yang kau inginkan, Tuan Duke?" gumam Kayna, menatap cangkirnya. "Mengawasi calon istrimu makan seperti mengawasi narapidana?"
Adrian tidak menjawab segera. Ia menatap Kayna, lalu menatap cangkir teh di tangan wanita itu.
"Aku tidak ingin kau mati, Kayla," ucap Adrian akhirnya, suaranya begitu pelan hingga Kayna hampir tidak mendengarnya. "Bahkan jika aku membencimu... aku tidak ingin darahmu ada di tanganku."
Kayna menelan ludahnya. Kata-kata itu terdengar tulus. Terlalu tulus untuk seorang Duke yang seharusnya hanya peduli pada reputasi.
Ada yang salah dengan pria ini, atau... ada yang salah dengan caraku memandangnya?
"Roti habis," ucap Kayna datar, memutus keheningan. "Boleh aku minta dagingnya? Aku janji akan mengunyahnya tiga puluh kali."
Adrian menghela napas, ujung bibirnya berkedut seolah ia sedang berusaha keras untuk tidak tersenyum, atau mungkin untuk tidak membenturkan kepalanya ke meja. "Makan saja, Kayla. Makan saja."
***
Setelah insiden roti panggang, suasana di kamar batu pualam itu berubah menjadi canggung yang luar biasa.
Adrian kini duduk di sebuah kursi di sudut ruangan, pura-pura membaca laporan keuangan dari wilayah utaranya. Tapi Kayna tahu, pria itu tidak benar-benar membaca. Matanya yang sesekali melirik ke arahnya membuktikan bahwa Duke Adrian sedang menjalankan fungsi ganda sebagai pejabat negara dan pengawas bunuh diri.
Kayna sendiri sedang berbaring di dipan kecilnya, menatap langit-langit dan merencanakan opsi berikutnya.
Menggigit lidah sendiri sampai putus? Terlalu sakit dan butuh waktu lama. Menahan napas sampai pingsan? Adrian pasti akan meniupkan udara ke mulutku seperti memberi napas pada ikan mati. Menjijikkan.
Tepat saat Kayna sedang mempertimbangkan apakah ia bisa mati dengan cara menelan ludahnya sendiri berulang-ulang hingga tersedak, pintu kamar berderit terbuka.
Adrian langsung berdiri, tangannya refleks bergerak ke arah pinggangnya, meski ia tidak membawa pedang ke dalam kamar. "Siapa yang mengizinkan..."
"Adrian..."
Suara lembut dan bergetar itu memotong ucapan Adrian. Di ambang pintu berdiri Freya. Gadis yatim piatu itu mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat semakin rapuh. Lengan kanannya yang diperban didekap erat di dada, dan matanya sembab, seolah ia telah menangis berjam-jam.
Di belakangnya, dua penjaga tampak canggung dan bersalah. "M-maaf, Tuan Duke. Nona Freya berkata dia harus meminta maaf pada Nona Kayla secara langsung. Dia... dia mengancam akan pingsan di depan pintu jika kami tidak membukakan."
Adrian memijat pelipisnya. "Masuk. Dan kalian, tutup pintunya. Jangan biarkan siapa pun masuk."
Freya melangkah masuk dengan langkah gontai, sesekali meringis kesakitan. Ia menatap Kayna yang masih berbaring di dipan, lalu menatap Adrian, dan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Adrian, tolong jangan marah pada Kayla," isak Freya, suaranya terdengar sangat menyedihkan. "Aku tahu dia tidak sengaja mendorongku. Mungkin dia hanya... mungkin dia hanya merasa cemburu karena aku dekat denganmu. Aku memaafkannya. Sungguh."
Kayna menghela napas dalam hati. Ah. Skrip aslinya. Di titik ini, Kayla yang asli akan meledak karena marah, berteriak bahwa Freya adalah pelacur murahan yang memanipulasi Adrian, lalu mencoba menyerang Freya lagi. Dan Adrian akan semakin membencinya.
Kayna duduk, menatap Freya dengan tatapan datar. "Kau selesai?"
Freya terkesiap, seolah tamparan keras baru saja menghantam wajahnya. "A-apa? Kayla... aku datang ke sini untuk memaafkanmu. Aku berusaha menjadi orang yang lebih baik meskipun kau mencoba membunuhku..."
"Kau tidak memaafkanku, kau hanya sedang melakukan pertunjukan," potong Kayna santai. Ia turun dari dipan dan berjalan mendekati Freya.
..gagal terus🤣