Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang di Sudut Meja
Lonceng kuningan di atas pintu kaca restoran berdenting halus saat dorongan tangan Damien membuka daun pintu. Aroma rempah bakar dan saus karamel gurih seketika menyambut hidungnya, namun ekspresi wajah Damien tak bergeming sedikit pun. Tetap dingin, kaku, dan sarat akan kendali diri yang dipaksakan.
Di meja kayu panjang dekat jendela besar, Clyrine baru saja membuka buku menu bersama Adrian. Tawa kecil masih menggantung di bibir gadis itu saat sebuah bayangan jangkung tiba-tiba menutupi cahaya matahari yang menyinari mejanya.
Clyrine mendongak, dan seketika senyumnya lenyap tak bersisa.
Damien berdiri menjulang tepat di samping meja mereka. Kemeja hitamnya yang terbalut jas abu-abu gelap tampak begitu mencolok di antara keramaian restoran kasual itu. Sorot matanya yang gelap menghujam lurus ke arah Clyrine selama satu detik penuh, sebelum beralih ke pemuda di seberangnya dengan raut wajah yang mendadak berubah santai—sebuah topeng formal yang dirancang begitu rapi.
"Kebetulan ketemu di sini," suara bariton Damien terdengar tenang, seolah ia baru saja melintas tanpa sengaja dan bukan membuntuti mereka sejauh lima kilometer dari gerbang sekolah. "Boleh gabung?"
Adrian mengerutkan kening samar. Pemuda itu mendongak menatap Damien dari atas ke bawah, menangkap aura intimidasi dan wibawa dewasa yang jelas bukan seumuran dengan murid SMA pada umumnya. "Eh... maaf, Mas ini siapa ya?"
Sebelum Clyrine sempat menyela atau melontarkan pengusiran, Damien sudah terlebih dahulu mengulurkan tangan kanannya dengan sopan namun sarat dominasi.
"Gue Damien. Teman kakaknya, Alaric," ucap Damien datar, lalu menambahkan poin penting berikutnya tanpa keraguan sedikit pun, "sekaligus guru privat Clyrine."
Mendengar kata Alaric dan status guru privat, raut curiga Adrian seketika sirna, berganti senyuman ramah khas dirinya. Sebagai teman masa kecil keluarga Rexander, nama Alaric tentu sangat familier di telinganya.
Adrian menjabat tangan kokoh Damien dengan mantap. "Oh! Teman Kak Alaric! Gue Adrian Vaughan, baru pindah ke Rexanswood hari ini. Kalau gitu gabung aja, Kak! Meja ini luas kok buat bertiga."
Sialan lo, Adrian! batin Clyrine berteriak frustrasi.
Clyrine mengepalkan jemarinya di bawah meja, menatap Adrian dengan pelototan tajam penuh kekesalan. Bisa-bisanya teman masa kecilnya itu begitu polos mempersilakan serigala berbulu domba duduk di satu meja tanpa membaca situasi sama sekali!
Damien tidak membuang kesempatan. Dengan gerakan tenang dan tanpa ragu, ia menarik kursi kosong tepat di sebelah Clyrine, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sana. Jarak di antara mereka mendadak begitu dekat hingga aroma khas kayu manis dari jaket Damien kembali menyusup lembut ke indra penciuman Clyrine—mengingatkannya pada momen kehangatan di perpustakaan semalam.
Namun rasa kecewa akibat insiden pagi tadi masih membentengi hati gadis itu.
Clyrine memundurkan kursinya beberapa senti, membuang muka menghadap jendela, dan sengaja menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia memutuskan untuk memperlakukan pria di sampingnya itu layaknya makhluk tak kasat mata.
Pelayan restoran datang menghampiri untuk mencatat pesanan.
"Gue pesan iga bakar madu porsi besar satu sama es teh manis," ujar Adrian ceria, lalu menoleh ke Clyrine. "Lo masih suka yang pedas manis kayak dulu kan, Cly? Gue pesenin yang itu ya?"
Clyrine menoleh menatap Adrian dengan binar mata yang sengaja dibuat semringah. "Iya, Ian! Lo emang paling paham selera gue dari dulu. Tambah kentang gorengnya juga ya satu porsi."
"Beres," tawa Adrian.
Pelayan beralih menatap Damien. "Untuk Masnya, pesan apa?"
"Kopi hitam tanpa gula saja," jawab Damien singkat dan dingin. Pandangannya tidak lepas dari profil samping wajah Clyrine yang sedari tadi enggan menatapnya.
Begitu pelayan undur diri, keheningan canggung sempat menggantung di meja itu. Damien berdeham pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah gadis di sebelahnya.
"Clyrine," panggil Damien dengan nada rendah yang sarat akan upaya membuka percakapan. "Materi tata negara yang kita bahas semalam keluar semua di lembar ujian tadi?"
Pertanyaan itu jelas merupakan jembatan perdamaian. Damien ingin mencairkan ketegangan dan menunjukkan bahwa ia peduli pada pencapaian gadis itu.
Namun Clyrine hanya mendengus tipis melalui hidung. Gadis itu bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah Damien.
Alih-alih menjawab sang tutor, Clyrine justru mencondongkan tubuhnya ke depan menatap Adrian yang sedang memainkan sedotan.
"Eh, Ian! Ceritain dong gimana kehidupan lo di Paris kemarin!" seru Clyrine dengan nada riang yang terdengar agak dilebih-lebihkan. "Beneran cewek-cewek di sana modis banget kayak yang di majalah? Lo di sana sempat punya pacar bule nggak?"
Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. "Boro-boro punya pacar bule, Cly! Bokap gue disiplinnya minta ampun. Tapi soal tempat nongkrongnya sih emang asyik parah. Di dekat sekolah gue yang lama ada kafe cokelat enak banget, tiap pulang sekolah gue sering nongkrong di sana sama anak-anak."
"Serius?! Enak banget gila!" sahut Clyrine antusias, menumpukan kedua tangannya di atas meja seraya mendengarkan cerita Adrian dengan mata berbinar-binar. "Kapan-kapan lo harus bawa oleh-oleh cokelatnya ke kelas buat gue!"
"Udah gue siapin satu kotak di rumah, besok gue bawain khusus buat lo," balas Adrian mengedipkan sebelah matanya jahil.
Di samping Clyrine, rahang Damien mengetat hebat.
Diabaikan secara total seperti ini adalah pengalaman baru bagi seorang Damien Vance. Selama ini, ke mana pun ia melangkah, orang-orang selalu berebut mencari perhatiannya, mendengarkan setiap instruksinya, atau menatapnya dengan penuh rasa segan. Namun di meja ini, Clyrine memperlakukannya seperti pajangan kayu yang membisu.
Damien melirik tangan Clyrine yang terletak bebas di atas meja, hanya berjarak beberapa jengkal dari tangannya sendiri. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menarik tangan itu, membawanya keluar dari restoran ini, dan menuntut jawaban atas sikap dinginnya. Namun keberadaan Adrian di depan mereka memaksanya untuk menahan diri dalam batas sopan santun yang ketat.
"Clyrine," panggil Damien sekali lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih berat dan tegas, menyiratkan wibawa seorang mentor yang menuntut atensi. "Minum dulu air lo. Muka lo pucat."
Lagi-lagi, Clyrine bersikap seolah suara bariton itu hanyalah dengung nyamuk di udara.
Gadis itu justru meraih mangkuk kerupuk di tengah meja dan mengulurkannya ke arah Adrian. "Nih, Ian, makan kerupuknya dulu. Makanan kita agak lama kayaknya."
"Wih, makasih Cly," ujar Adrian menerima mangkuk itu, lalu melirik canggung ke arah Damien yang duduk membeku dengan tatapan menusuk. Adrian yang mulai merasakan keanehan atmosfer di antara keduanya mencoba menengahi. "Eh... Kak Damien mau kerupuknya juga?"
"Nggak," tolak Damien datar dan singkat.
Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu kembali menatap Clyrine. "Oh iya, Cly... tadi waktu di kelas, si Claire tuh kenapa sih? Pas gue tolak ajakan duduknya, mukanya langsung kayak mau nelan orang hidup-hidup."
Mendengar nama Claire, tawa renyah Clyrine seketika meledak. "Hahaha! Lo nggak tahu aja, dia tuh terbiasa jadi pusat perhatian. Sekali ada murid pindahan keren yang nolak dia mentah-mentah demi duduk di pojokan sama gue, harga dirinya langsung anjlok ke tanah!"
"Pantesan seisi kelas pada nahan ketawa tadi," Adrian ikut terkekeh geli. Keduanya kembali larut dalam obrolan masa kecil dan gosip sekolah, saling melempar lelucon yang membuat Clyrine sesekali memukul meja karena terbahak-bahak.
Di sisi lain meja, Damien hanya duduk mematung dengan cangkir kopi hitam yang baru saja disajikan pelayan. Jemarinya yang memegang cangkir mencengkeram porselen putih itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Manik mata gelapnya tak pernah lepas dari senyuman lepas Clyrine—sebuah senyuman manis yang seharian ini mati-matian gadis itu sembunyikan darinya, namun dengan begitu mudahnya ia berikan kepada pemuda lain.
Kopi hitam di cangkirnya terasa pahit di lidah Damien, namun rasa panas dan dongkol yang membakar rongga dadanya terasa jauh lebih pekat daripada kepahitan kafein tersebut.