Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Bisikan Luca yang sarat akan dominasi itu mengudara di antara mereka, membuat Ruby terpaku di tempatnya. Hawa dingin dari pendingin ruangan mendadak tak terasa lagi, kalah oleh kehangatan sentuhan jemari Luca yang masih mengusap lembut pipinya.

"Barang... milik Tuan?" bisik Ruby polos, suaranya nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri yang kian tidak karuan.

Luca tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat tatapannya, meneliti reaksi gadis di depannya yang serba salah dan merona hebat. Perlahan, jemarinya berpindah dari pipi Ruby turun melingkari pergelangan tangannya, menggenggamnya rapat namun tidak menyakiti.

"Kamu pikir saya membiarkan kamu tinggal di sini, memberi kamu ruang, dan menghancurkan Kavano hanya demi kesenangan pribadi?" tanya Luca rendah, melangkah satu tapak lebih maju hingga jarak di antara mereka menipis habis. "Kamu milik saya di bawah atap ini, Ruby. Dan saya tidak pernah membiarkan milik saya disentuh—apalagi dirusak—oleh orang lain."

Napas Ruby tertahan di tenggorokan. Perasaan takut yang dulu selalu menyertainya saat berhadapan dengan pria berkuasa kini sirna, berganti menjadi sebuah rasa aman yang membingungkan. Luca memang bersikap protektif dengan cara yang terkesan mengintimidasi, namun di balik itu semua, pria ini telah menjadi benteng kokoh yang melindunginya dari neraka masa lalu.

"Sekarang," ujar Luca seraya melepaskan genggaman tangannya pelan, mengembalikan aura dinginnya yang profesional. "Kembali ke kamar kamu dan istirahat. Drama hari ini sudah selesai."

"Tapi Tuan..." Ruby memberanikan diri menahan langkah Luca yang hendak berbalik. "Bagaimana kalau Kavano tahu saya ada di sini? Bagaimana kalau dia menyerang Tuan?"

Luca menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat meremehkan. Pria itu menoleh sedikit, menatap Ruby dari balik bahunya.

"Biarkan dia mencoba," sahut Luca datar. "Kavano baru saja menyerahkan seluruh kekuatan bisnisnya pada saya. Kalau dia berani melangkah satu inci saja mendekati pintu rumah ini..."

Luca memutar tubuhnya menghadap Ruby sepenuhnya, matanya menyipit tajam. "...saya pastikan dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk melihat matahari besok."

Ancaman dingin itu ditujukan untuk Kavano, tetapi pengaruhnya menjangkau hingga ke balik dada Ruby. Tanpa sadar, Ruby mengangguk pelan. Ada ketenangan aneh yang menyusup ke dalam hatinya—keyakinan bahwa selama ia berada di dalam jangkauan Luca Oliver, tidak akan ada satu pun bahaya yang sanggup menyentuhnya.

Luca melangkah meninggalkan ruang pemantau, berjalan menyusuri koridor panjang mansion nya yang sepi dan dingin. Langkah kakinya terdengar ketus dan berat di atas lantai marmer, berdesir sejajar dengan riak pikiran yang mendadak mengusik benaknya.

Ia memandangi telapak tangannya sendiri. Ibu jarinya masih menyisakan sensasi hangat dari kulit pipi Ruby yang halus dan basah oleh air mata beberapa menit lalu.

*“Barang milik saya...”*

Kata-kata yang ia lontarkan begitu saja di depan Ruby tadi kembali bergema di kepala Luca. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan cermin besar di lorong lantai dua. Ia menatap bayangannya sendiri—pria yang selama puluhan tahun dikenal tak tersentuh, dingin, dan selalu bertindak murni atas dasar kalkulasi untung-rugi bisnis.

Namun, sejak kedatangan gadis itu... kalkulasi yang biasanya presisi di kepalanya perlahan mulai kacau.

Luca mengepalkan tangannya rapat-rapat. Selama ini, menyusupkan Ruby ke dalam mansion nya hanyalah bagian dari rencana matang untuk memancing Kavano Archelio keluar dan menghancurkannya lewat celah hukum kepemilikan aset. Ruby tak lebih dari pion strategis.

Tapi sejak kapan seorang pion mampu membuat seorang Luca Oliver mengubah kebiasaannya?

Ia mengingat bagaimana dirinya yang sibuk mendadak menyempatkan diri mengecek laporan kesehatan Ruby dari Bi Ratna, melonggarkan aturan mansion yang terikat ketat hanya agar gadis itu tidak kebosanan, hingga merasakan dorongan impulsif untuk menghancurkan Kavano saat pria brengsek itu menyebut nama Ruby dengan nada melecehkan di meja perundingan tadi.

"Kamu makin tidak masuk akal, Luca," bisiknya pada bayangan di cermin, suaranya terdengar serak.

Ia bukan lagi sekadar pria dingin yang menyusun strategi dari balik bayangan. Ada dorongan asing yang kuat—sebuah kehendak protektif yang kelam dan mendalam untuk menyimpan Ruby di tempat tersembunyi yang tak tersentuh oleh dunia luar. Pria itu menyadari satu hal yang mulai bergeser di dadanya: kedatangan Ruby bukan hanya telah mengubah peta permainan bisnisnya, tapi secara perlahan telah mengubah dirinya menjadi pria yang tak lagi dikenalnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!