Indonesia
NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Mata-mata

Lantai bawah tanah RSUD Bina Husada malam itu terasa begitu sepi. Dengung mesin pendingin udara dan desis lembut dari pipa hidroponik dinding menghiasi keheningan koridor utama.

Namun, di balik keheningan yang tampaknya biasa saja itu, sebuah jaring laba-laba raksasa telah terbentang tanpa disadari oleh siapa pun.

Kedatangan jasad Dian Pertiwi ke Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ) beberapa jam lalu tidak hanya menarik perhatian petugas forensik. Di lorong-lorong rumah sakit, Nusantara Utama Group telah menanamkan 'akar-akar' senyap mereka.

Di sudut lorong lantai satu, seorang pria berseragam perawat berdiri membelakangi kamera pengawas, dan pura-pura sibuk memeriksa lembaran rekam medis di atas papan klip.

Jarinya yang berada di bawah papan klip menekan tombol pada earpiece nirkabel berukuran mikro yang tersembunyi di balik masker bedahnya.

"Target terkonfirmasi," bisik pria itu dengan nada suara datar tanpa intonasi. "Iptu Farhan membawa pemulasara bernama Arya ke ruang jenazah tempat jasad Dian Pertiwi berada."

Melalui jaringan komunikasi terenkripsi, sebuah suara dingin membalas dari seberang saluran. "Pastikan mereka tidak membawa keluar bukti apa pun dari tempat itu. Arya adalah saksi kunci yang membahayakan. Selesaikan dengan senyap. Jangan buat kegaduhan di area umum."

"Diterima. Tim dua dan tiga sudah bersiap di area tangga darurat dan akses lift tengah," jawab 'perawat' itu.

Tidak jauh dari sana, di area ruang tunggu poliklinik, seorang pria paruh baya berpakaian lusuh duduk bersandar di kursi besi, tampak seperti pasien yang sedang menahan sakit dada.

Namun, di balik tatapannya yang sayu, matanya mengamati setiap pergerakan yang keluar dan masuk dari pintu akses bawah tanah.

Di lorong lain, seorang pria bersnelli putih yang mengenakan stetoskop melangkah santai, seraya menyapa beberapa perawat jaga dengan ramah.

Tak ada yang curiga bahwa di balik jas laboratorium itu tersembunyi sebuah pisau belati lipat bermaterial titanium yang tak akan terdeteksi oleh pemindai logam biasa.

Mereka bergerak bagaikan bayangan. Rumah sakit bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan sebuah arena perburuan terselubung.

Di dalam ruang pemulasaraan yang dingin, Iptu Farhan baru saja mengamankan kertas lipat bening berisi kode akses loker arsip lantai tiga ke dalam saku dalam jaket kulitnya. Ia menatap Arya yang sedang membasuh tangannya di wastafel stenlis.

Rasa takut di mata Arya memang telah memudar, berganti menjadi tekad yang dingin. Namun, Farhan tahu betul: tekad saja tidak cukup untuk menjaga seseorang tetap bernyawa saat berhadapan dengan pembunuh profesional.

Farhan melangkah menuju pintu kaca kedap udara IKKJ. Saat tangannya hendak menekan gagang pintu, mata tajam sang penyidik menangkap sesuatu yang tidak biasa pada pantulan kaca cermin di samping lorong.

Seorang perawat pria berjalan melintas di depan lorong bawah tanah. Perawat itu melangkah dengan postur tubuh yang terlalu tegap, pundaknya terkunci, berat badannya bertumpu pada bagian depan kaki, persis seperti cara berjalan personel militer atau terlatih.

Lebih dari itu, perawat tersebut tidak mengenakan tanda pengenal resmi RSUD di dadanya.

Farhan menyempitkan matanya. Naluri kepolisiannya yang telah terasah selama belasan tahun di divisi reserse kriminil mendadak membunyikan alarm bahaya di dalam kepalanya.

"Arya, jangan bergerak dulu," bisik Farhan dengan nada yang sangat rendah namun sarat perintah.

Arya mematikan keran air, lalu menoleh dengan heran. "Ada apa, Pak Farhan?"

Farhan tidak langsung menjawab. Ia bergeser sedikit, lalu mengintip melalui celah tirai jendela kaca IKKJ. Di lorong luar, ia melihat pria bersnelli dokter tadi sedang berdiri di depan papan petunjuk arah, namun pandangannya berulang kali melirik ke arah pintu keluar IKKJ.

Di sudut lain, pria yang menyamar sebagai perawat tampak mengetuk-ngetuk jarinya di paha dengan ritme yang teraturz sebuah penanda ketegangan yang tersembunyi.

"Mereka sudah ada di sini," batin Farhan. "Mereka mengepung gedung ini sejak jasad Dian dibawa masuk."

"Kita dipantau," ujar Farhan seraya membalikkan badan menghadap Arya. "Rumah sakit ini sudah disusupi. Ada setidaknya dua sampai tiga orang yang menyamar di luar lorong ini."

Tubuh Arya menegang sejenak. Namun kali ini, ia tidak panik seperti sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam, dan mengendalikan napasnya. "Orang-orang Nusantara Utama Group?"

"Siapa lagi?" jawab Farhan dingin. Ia memeriksa sarung pistol Glock 17 yang terselip di balik pinggang jaketnya. "Mereka tahu kamu ada di dalam sini, dan mereka tahu kita memegang kunci jawaban kasus ini. Mereka memilih bergerak di dalam rumah sakit karena menganggap kita akan lengah."

"Lalu bagaimana kita ke lantai tiga, Pak? Lewat tangga darurat?" tanya Arya.

"Tidak. Tangga darurat adalah tempat ideal untuk jebakan dan penyergapan," tegas Farhan. "Kita gunakan lift utama. Di area lift ada kamera pengawas dan lalu lintas orang yang bisa membatasi pergerakan senjata api mereka. Tapi kita harus bergerak cepat sebelum mereka menyadari kalau kita tahu keberadaan mereka."

Farhan merogoh ponselnya, berniat menghubungi markas kepolisian resor untuk meminta personel bantuan. Namun, begitu ia melihat layar ponselnya, indikator sinyal menunjukkan angka nol, sebuah jammer sinyal portabel berdaya jangkau pendek tampaknya telah diaktifkan di area lorong bawah tanah tersebut.

"Ck" Farhan mendecak kesal. "Sinyal diputus. Kita benar-benar sendiri sekarang. Tetap di dekatku, Arya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menjauh dari punggungku."

Arya mengangguk mantap. "Siap, Pak."

Mereka berdua keluar dari ruang IKKJ dengan langkah yang disengaja tampak tenang. Farhan berjalan di depan, sambil pura-pura menatap layar ponselnya seolah sedang mencari sinyal, sementara Arya mengikutinya dari belakang dengan tangan merapat di dalam saku jaketnya.

Pria bersnelli dokter yang berdiri di dekat papan petunjuk arah langsung menoleh saat mendengar langkah kaki mereka. Lewat sudut matanya, Farhan melihat dokter palsu itu menyentuh telinganya, guna memberikan sinyal sandi kepada rekannya yang menyamar sebagai perawat.

Farhan terus melangkah lurus menuju pintu lift penumpang di koridor tengah. Sementara Arya bisa merasakan ketegangan yang begitu pekat menekan udaranya.

Setiap kali mereka melewati seseorang berseragam rumah sakit, bulu kuduk Arya berdiri. Ia menyadari betapa rapinya penyamaran para penjahat ini, mereka berbaur sempurna dengan lingkungan medis yang sibuk.

Akhirnya mereka tiba di depan pintu lift, dan Farhan pun langsung memencet tombol panah ke atas.

TING!

Lampu indikator lift menyala dan menunjukkan angka 'B1'. Pintu besi lift pun perlahan bergeser terbuka. Ruang lift di hadapan mereka kosong melompong, diterangi cahaya lampu neon putih yang agak redup.

"Masuk," perintah Farhan singkat.

Arya melangkah masuk terlebih dahulu, dengan mengambil posisi di sudut belakang kanan lift. Farhan menyusul masuk, dan berputar menghadap ke arah pintu.

Saat Farhan hendak memencet tombol angka '3', dua sosok tubuh dengan cepat menyusul melangkah masuk ke dalam ruang lift sebelum pintu sempat tertutup.

Mereka adalah pria bersnelli dokter dan pria berseragam perawat yang tadi dipantau oleh Farhan.

Pintu lift perlahan bergeser menutup, dan...

KLAK.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!