Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hak Hok Tiga Jam

Kedua gadis itu akhirnya berlutut di depan televisi. Dengan modal nekat, Kenya menekan tombol bulat di mesin hitam tersebut hingga lampu indikatornya menyala biru, diikuti dengan layar televisi yang mendadak menampilkan menu-menu game yang ramai.

"Wah, nyala!" seru Silva girang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Kenya mengambil dua buah stik PS (controller) dari atas meja, lalu menyerahkan salah satunya kepada Silva.

Benda itu terasa asing di tangan Silva—penuh dengan tombol-tombol berbentuk segitiga, kotak, lingkaran, dan silang, serta dua buah tuas bulat di bagian tengah.

"Kita main game apa nih? Ini tulisannya... FIFA? Game bola kaki?" tanya Kenya membaca deretan gambar di layar.

"Boleh, pilih yang itu aja! Kan Apin juga suka main bola," sahut Silva antusias.

Setelah menekan tombol secara acak, mereka berhasil masuk ke dalam game. Di layar TV, tampak dua tim sepak bola digital sudah berdiri di tengah lapangan hijau yang megah.

"Kenya, ini mulainya gimana? Kok orang-orangnya diam aja?" tanya Silva bingung, jempolnya mulai menekan semua tombol stik dengan acak.

"Sebentar, sebentar! Coba tekan tombol hijau yang bentuknya segitiga!" titah Kenya yang tidak kalah bingung. "Eh, bukan! Coba tekan tombol silang!"

Pip! Pertandingan dimulai.

"Aaa! Kenya, orang baju merahnya lari mengejar aku!" teriak Silva panik saat karakter pemainnya didekati oleh lawan.

Karena panik, Silva mulai menekan seluruh tombol di stiknya secara brutal dengan kedua jempolnya (button mashing).

"Tendang, Silva! Tendang bolanya ke gawang!" seru Kenya ikut heboh, padahal dia sendiri tidak tahu tombol mana yang berfungsi untuk menendang.

Kenya ikut menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri seolah tubuhnya ikut berlari di dalam TV.

"Gimana cara nendangnya?! Ini orangnya malah muter-muter terus di pojokan!" balas Silva bingung bercampur kesal karena karakternya malah melakukan gerakan berputar tidak jelas di tepi lapangan, lalu bolanya direbut dengan mudah oleh musuh.

"Oper ke gue! Eh, bukan, maksudnya pencet tombol kotak! Eh, lingkaran!" perintah Kenya tumpang tindih.

Bukannya menendang bola ke gawang, akibat tombol yang ditekan asal-asalan, karakter pemain milik Silva justru mendadak melakukan tekel keras dari belakang hingga pemain lawan jatuh tersungkur.

PRIIIIIT!

Layar TV mendadak menampilkan animasi wasit berlari sambil mengacungkan sebuah kartu berwarna merah menyala.

"Yah, Silva! Lo dikasih kartu merah! Orang lo diusir keluar lapangan!" pekik Kenya setelah membaca tulisan di layar.

"Hah? Kok diusir? Memangnya aku salah apa? Aku kan cuma pencet tombol ini!" protes Silva polos sambil mengerucutkan bibirnya, menatap stik PS di tangannya dengan pandangan bermusuhan.

"Tahu nih gamenya pilih kasih! Masa baru main sebentar sudah diusir," sahut Kenya ikut membela sahabatnya.

wajah Silva tampak bad mood alias BT berat. "Enggak seru ah game bola kaki ini. Aku enggak mau main ini lagi. Ganti yang lain, Kenya!"

"Bentar, kita cari game lain yang enggak ada wasit galaknya," kata Kenya sambil menekan tombol kembali ke menu utama.

Jarinya menggulir deretan gambar hingga berhenti pada sebuah logo motor balap yang keren. "Ini aja, Sil! Game Moto GP. Game balap motor. Di sini kita cuma perlu balapan sampai garis finis, enggak bakal ada kartu-kartuan!"

Mendengar kata balapan, semangat Silva yang sempat merosot langsung kembali berkobar. "Oke! Pilih yang itu!"

Setelah melewati layar pemuatan yang cukup lama, dua pembalap dengan wearpack warna-warni sudah bersiap di garis start.

Deru suara mesin motor dari pengeras suara TV membuat markas terasa makin ramai.

"Caranya sama kan? Tinggal pencet-pencet aja?" tanya Silva, bersiap dengan jempolnya.

"Iya, gas terus jangan kasih kendor!" seru Kenya.

Tiiiit... Tiiiit... GREEN! Balapan dimulai.

"Aaaaa! Kenya, kok motorku jalannya miring?!" pekik Silva sedetik setelah balapan dimulai. Bukannya melaju lurus di trek aspal, motor karakter Silva justru langsung melesat ke pinggir lapangan, menabrak pembatas rumput, dan pembalapnya langsung terbang jatuh berguling-guling.

"Rem, Silva! Rem! Jangan digas terus kalau di tikungan!" teriak Kenya heboh. Namun, nasib Kenya tidak jauh lebih baik.

Motor miliknya justru berjalan zig-zag tidak keruan di tengah jalan sebelum akhirnya menabrak motor pembalap lain dari belakang dan ikut terjatuh dengan sukses.

"Pencet tombol apa buat ngerem?! Ini motorku abis jatuh malah nabrak tembok lagi! Aduh, jatuh lagi!" Silva mulai berteriak frustrasi.

Karena tidak paham fungsi tombol analor (tuas bulat), setiap kali motornya kembali berdiri, Silva langsung menekan tombol gas secara brutal yang membuat motornya melesat tanpa kendali dan menabrak apa saja yang ada di depannya.

Layar TV bergantian menampilkan karakter Silva dan Kenya yang jatuh, menabrak pembatas jalan, terbang ke udara, dan masuk ke area kerikil. Bukannya balapan, mereka justru seperti sedang membuat kompetisi "siapa yang paling sering jatuh dari motor".

"Kenya, ini capek banget! Tanganku sampai pegal!" keluh Silva, namun jempolnya tetap menekan tombol stik dengan sisa-sisa tenaga.

"Sama! Ini beloknya keras banget, badan gue sampai ikut miring-miring!" balas Kenya yang posisi duduknya sudah bergeser jauh dari sofa karena saking hebohnya menggerakkan seluruh tubuh demi membelokkan motor digitalnya.

Saking fokusnya berteriak, tertawa, dan panik di depan layar TV, energi kedua gadis itu terkuras habis.        Setelah melewati tiga putaran yang penuh dengan kecelakaan konyol, balapan akhirnya selesai dengan posisi mereka berada di peringkat paling buncit.

"Hah... aku nyerah," gumam Silva. Ia meletakkan stik PS-nya ke lantai dengan lemas. Rasa lelah setelah kepanikan di mall tadi ditambah energi yang habis karena heboh bermain game mendadak menyerang tubuhnya secara bersamaan.

"Gue juga... pusing lihat layarnya muter-muter terus," sahut Kenya yang langsung menjatuhkan punggungnya ke karpet bulu yang empuk di bawah meja TV.

Silva ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Kenya. Rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang matanya.

Pendingin ruangan (AC) markas yang sejuk ditambah karpet yang sangat nyaman membuat mata Silva terasa semakin berat.

"Kenya... aku ngantuk," bisik Silva lirih.

"Mmm... tidur aja, Sil..." jawab Kenya yang suaranya sudah terdengar timbul tenggelam karena sudah setengah tidak sadar.

Tidak butuh waktu lama, kedua gadis yang kelelahan setelah seharian bertingkah acak itu akhirnya terlelap begitu saja di atas lantai karpet markas.

Silva tidur dengan posisi menyamping sambil memeluk salah satu bantal sofa kecil, sementara Kenya tidur telentang dengan lengan yang menutupi matanya, meninggalkan stik PS mereka yang masih menyala di samping tubuh mereka.

Malam semakin larut.

Hingga Pintu belakang markas terbuka. Baffin, Novel, Kaisan, Cyriel, dan Archard melangkah masuk dengan napas memburu dan tubuh yang penuh peluh setelah menyelesaikan sesi latihan mereka yang melelahkan.

Namun, langkah mereka serempak terhenti begitu melihat pemandangan di ruang tengah."Buset. Gini toh bentukannya kalau cewek tidur," celetuk Kaisan langsung, menatap tidak percaya ke arah karpet di bawah meja TV.

Di sana, Silva dan Kenya sudah terlelap dengan posisi yang sudah tidak berbentuk—tumpang tindih, dengan kaki Silva yang entah bagaimana bisa menyilang di atas perut Kenya.

Novel ikut melongokkan kepalanya, lalu menyeringai ngawur. "Kelihatannya capek banget. Kayak habis dibuat hak hok tiga jam."

Plak!

"Emang Lo pernah lihat cewek yang habis digoyang hah?!" sahut Cyriel tajam sambil menggeplak kepala belakang Novel seperti biasa.

"Enggak, sih," ujar Novel sambil mengaduh pelan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kaisan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Novel. Pandangannya kemudian turun ke lantai. "Mereka capek habis main PS kayaknya," kata Kaisan setelah matanya menangkap stik PS yang tergeletak berantakan dengan lampu indikator yang masih berkedip malas.

"Terus mereka enggak pulang nih? Masa mau nginep di sini?" tanya Cyriel sambil menjatuhkan pantatnya ke atas sofa, ikut meluruskan kakinya yang pegal.

"Silva pulang lah, kan ada Baffin," sahut Novel santai, menunjuk ke arah Baffin yang saat ini sudah menyandarkan tubuh jangkungnya di sofa seberang dengan mata terpejam kelelahan setelah seharian dipaksa senam jantung di mall.

"Kenya juga harusnya pulang. Kan ada Kaisan," timpal Cyriel lagi.

Kaisan langsung menoleh cepat dengan kening berkerut. "Emang gue siapanya?"

"Ya kan Lo yang paling kenal sama keluarganya," balas Novel.

Malas meladeni teman-temannya, Kaisan beranjak berdiri lalu melangkah ke arah pintu depan markas untuk memeriksa situasi luar.

Begitu pintu kaca yang tertutup gorden besar itu terbuka, matanya menangkap siluet sebuah mobil mewah yang terparkir di bawah pohon, dengan seorang pria paruh baya yang sedang duduk merokok di dekat kap mobil.

"Pak? Oh... sopirnya Kenya, ya?" panggil Kaisan memastikan.

Pria yang raut wajahnya tampak sudah mengantuk itu menoleh, lalu buru-buru mematikan rokoknya dan mengangguk sopan. "Iya, Mas. Mana Non Kenya-nya, ya?"

"Tidur di dalam, Pak. Bentar, ya... biar digendong ke mobil," jawab Kaisan ramah.

Kaisan kembali menutup pintu lalu berjalan masuk menghampiri teman-temannya dengan ekspresi memerintah. "Gendong gih. Tuh, di luar sudah ada sopirnya nungguin."

"Lo lah yang gendong, San," ujar Novel menolak mentah-mentah. "Barangkali orangtuanya langsung ngasih lampu hijau malam ini juga."

"Gue gak pengen Kenya!" Sentak Kaisan. Ia memang tidak tertarik dengan gadis yang galak.

"Ya udah gendong aja. Lo gendong juga orang tuanya gak tahu. Gak akan ada lampu hijau lampu hijauan. Kan cuman ke mobil" tambah Novel.

"Capek gue. Enggak kuat, habis latihan," tolak Kaisan sambil melambaikan tangannya di udara, benar-benar menyerah.

Tatapannya kemudian beralih ke samping. "Lo, Riel."

Kaisan menatap Cyriel yang saat ini juga tampak lemas tak bertenaga, bersandar di sofa sambil memejamkan mata. Cyriel hanya mengangkat satu jempolnya malas sebagai tanda menolak.

Di tengah perdebatan tidak bermutu itu, tiba-tiba atmosfer ruangan mendadak hening.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Archard—yang sejak tadi hanya diam duduk di dekat Baffin—tiba-tiba bangkit berdiri.

Dengan langkah tegap dan ekspresi wajahnya yang selalu dingin tak tersentuh, ia berjalan mendekati karpet.

Archard membungkuk pelan, menyisipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Kenya dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur gadis itu, lalu dalam satu gerakan mantap langsung menggendong Kenya ala bridal style.

Novel, Kaisan, dan Cyriel seketika melongo kompak, menatap punggung tegap Archard yang berjalan santai membawa Kenya keluar menuju mobil seolah beban di tangannya itu seringan kapas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!