Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENGUNG ANCAMAN DI ATAS PARKET

Keheningan di dalam kabin SUV dinas militer itu terasa kian menghimpit, bertolak belakang dengan deru mesin yang konstan dan ketukan konstan titik-titik air hujan di atas atap baja.

Di atas pangkuan Gibran, tubuh Ziva gemetar pelan.

Setiap kali bibir tebal pria itu menuntut lebih banyak pasokan napasnya, Ziva merasa seolah-olah batas antara benci dan kerinduan teramat tipis—begitu kabur hingga meremukkan seluruh logika yang tersisa di dalam kepalanya.

Gibran akhirnya perlahan mengurai ciuman panas itu, membiarkan dahi mereka saling bertumpu dalam jarak yang teramat dekat.

Helaan napas pria itu yang terasa memburu berhembus membasahi kulit pipi Ziva yang merona merah.

Jemari kekar Gibran, yang biasa memegang komando dan memutar kemudi operasi militer, kini begitu lembut menyapu helai-helai rambut basah yang menempel di dahi gadis itu.

"Kamu tidak bisa berbohong pada tubuhmu sendiri, Ziva," bisik Gibran rendah, suaranya bergetar oleh kepuasan yang kelam dan dominasi mutlak.

"Kamu membenci saya dengan seluruh pikiranmu, tetapi dadamu berdetak hanya untuk saya.

Selalu seperti itu sejak tiga tahun lalu."

Ziva memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap binar mata hitam di hadapannya yang selalu berhasil melumpuhkan daya tahannya.

Air mata yang sempat tertahan kini menetes, jatuh tepat di atas tanda pangkat bintang tiga emas yang tersemat kaku di bahu kemeja dinas Gibran.

"Om cuma memanfaatkan celah ini untuk memuaskan ego Om yang terluka," ucap Ziva parau, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa.

"Om hancur karena pernikahan Om sendiri, lalu Om datang ke sini untuk menghancurkan hidup aku dan Aris?

Om jahat, Gibran...

Om benar-benar jahat."

Mendengar nama kecilnya terlontar tanpa embel-embel "Om" dari bibir Ziva, sudut bibir Gibran justru terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman datar yang teramat misterius.

Pria itu menangkup dagu Ziva, memaksa gadis itu untuk kembali menatap lurus ke dalam matanya yang penuh ancaman terselubung.

"Kalau menjadi jahat adalah satu-satunya cara untuk memelukmu kembali tanpa ada dinding penghalang... maka saya akan menjadi iblis paling buruk di dalam hidupmu," jawab Gibran tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Aris akan berangkat ke Eropa Timur dalam waktu dua minggu.

Tugas itu sudah ditandatangani oleh markas besar pagi tadi.

Selama dia di sana, kamu akan pindah dari apartemenmu."

Ziva membeku seketika.

Bola matanya membelalak lebar menatap wajah dingin pria tegap itu.

"Apa maksud Om?!

Aku nggak akan pernah mau pindah ke mana pun!"

"Kamu akan pindah ke rumah dinas baru saya di kawasan Dharmawangsa," ujar Gibran dengan nada santai, seolah-olah ia sedang mendiktekan perintah harian kepada prajurit bawahannya.

"Tempat itu jauh lebih privat, lebih aman, dan tentu saja... tidak ada jejak keponakan saya di sana."

"Aku menolak!" jerit Ziva tertahan, tangannya kembali mendorong dada tegap Gibran.

"Aku bukan barang simpanan Om!

Aku punya pekerjaan, aku punya kehidupan, dan aku punya Aris!"

Gibran mengabaikan rontaan fisik Ziva dengan sangat mudah.

Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Ziva, memberikan bisikan dingin yang seketika membuat seluruh aliran darah di tubuh gadis itu membeku kaku.

"Kamu boleh menolak, Ziva.

Tapi ingat satu hal... karier Aris di BUMN baru saja dimulai, dan nama besar keluarga Mahendra yang menopangnya berada di bawah kendali saya.

Satu panggilan telepon dari saya ke jajaran komisi pengawas bisa membatalkan seluruh proyeknya, atau bahkan melemparkannya ke kasus hukum yang tidak pernah ia lakukan.

Apakah kamu tega melihat pria tulus yang selalu membanggakanmu itu hancur secara mengenaskan hanya karena keegoisanmu untuk menolak saya?"

Napas Ziva merosot tajam.

"Om... Om mengancam keselamatan Aris?"

"Saya tidak mengancam, Ziva.

Saya hanya membeberkan fakta tentang sejauh mana kekuasaan yang saya miliki bisa bergerak," potong Gibran datar.

Pria itu mengelus tengkuk Ziva dengan perlahan, memberikan sentuhan yang terasa bagaikan usapan pemicu senjata api.

"Pilihan ada di tanganmu.

Menuruti kemauan saya dan membiarkan Aris terbang ke Eropa dengan karier yang cemerlang...

atau menolak saya, lalu menyaksikan Aris hancur lebur di tangan pamannya sendiri sebelum ia sempat menyematkan cincin di jarimu."

Ziva menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga rasa asin darah terasa di ujung lidahnya.

Air mata mengalir deras tanpa terbendung lagi, membasahi wajahnya yang kini sepucat kertas putih.

Di dalam cengkeraman kekuasaan Letnan Jenderal Gibran Mahendra, ia tahu betul bahwa dirinya tidak pernah diberikan opsi untuk menang.

Pria ini telah mengunci seluruh jalan keluarnya, menjebaknya dalam labirin dosa yang tak bertepi.

"Kamu... benar-benar monster," cicit Ziva dengan suara yang pecah oleh keputusasaan mendalam.

"Saya tahu," bisik Gibran lembut, lalu mencium dahi Ziva secara lama dan dalam sebuah ciuman yang terasa seperti stempel kepemilikan mutlak di atas dahi sang tawanan.

"Sekarang, hapus air matamu.

Mobil ini sebentar lagi sampai di pelataran parkir apartemenmu.

Saya tidak ingin melihat calon pengantin keponakan saya tampak menyedihkan saat turun dari kendaraan militer."

Gibran memindahkan tubuh Ziva kembali ke jok di sampingnya dengan sangat pelan dan hati-hati, merapikan kemeja dan mantel gadis itu yang sempat tersingkap akibat pergulatan emosi di antara mereka.

Pria itu lalu mengetuk kaca pembatas depan dua kali.

Panel kaca kedap suara itu perlahan bergeser turun.

Ajudan di balik kemudi melirik singkat melalui kaca spion dalam sebelum kembali fokus menatap jalanan kompleks apartemen Ziva yang basah.

"Izin, Jenderal.

Kita sudah sampai di lobi utama," lapor sang ajudan dengan nada formal dan datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di kabin belakang selama perjalanan.

Ziva tidak membuang waktu.

Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menyambar tas tangannya, membuka pintu SUV besar itu, dan melangkah keluar tanpa sudi menoleh sedikit pun ke belakang.

Hawa dingin angin malam dan sisa terpaan air hujan langsung menyapu wajahnya yang basah oleh air mata.

Dari dalam kabin belakang yang remang-remang, Gibran memperhatikan langkah kaki Ziva yang tergesa-gesa melintasi pintu kaca lobi apartemen.

Pria itu menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata rapat-rapat sembari menghela napas panjang yang sarat akan dahaga kepemilikan yang belum tuntas.

"Jenderal, apakah kita langsung kembali ke Mabes atau ke rumah Dharmawangsa?" tanya sang ajudan pelan.

Gibran membuka matanya kembali.

Pendar hitam tajam berkilat di balik kelopak matanya yang tegas.

"Ke Dharmawangsa," jawab Gibran dingin.

"Siapkan seluruh berkas pemindahan pengawasan dan pastikan rumah itu sudah siap sepenuhnya dalam waktu sepuluh hari.

Sang pemilik rumah sebenarnya... akan segera datang untuk menetap di sana."

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!