Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu Dan Roti Salah Alamat 32.
Suara bel istirahat pertama berdentang, memicu gemuruh serentak dari ratusan kursi yang bergeser di lantai keramik SMA Wijaya.
Dalam sekejap, koridor dipenuhi lautan seragam putih-abu-abu.
Namun, Galang tidak menuju kantin. Langkah kakinya membawa cowok itu melewati gerbang sekolah yang sedikit terbuka, menyeberangi jalan aspal yang mulai panas oleh terik pukul sepuluh, menuju minimarket ber-AC di seberang jalan.
Galang berdiri di depan rak roti dengan kening berkerut. Tangannya yang biasanya cekatan saat memegang gitar atau menyetir motor, kini ragu-ragu menggantung di udara.
Matanya memindai barisan plastik kemasan sebelum akhirnya mengambil sebungkus roti sobek rasa cokelat.
Di dekat kulkas minuman, ia mengambil satu kotak susu rasa stroberi. Sebelum akhirnya ia menuju kasir untuk membayar barang yang di belinya.
Galang kembali ke area kelas dua belas C yang mulai sepi karena sebagian besar penghuninya bermigrasi ke kantin. Ia melangkah masuk ke dalam kelas. Matanya langsung tertuju pada meja di baris lima pojok kelas. Tempat duduk Livy.
Gadis itu tidak ada di sana, kemungkinan sedang ke kantin. Galang berjalan mendekat, merasakan debaran aneh yang asing di dadanya. Dengan gerakan cepat—seolah takut tertangkap basah oleh koridor yang mulai sepi—ia meletakkan sebungkus roti sobek cokelat dan kotak susu stroberi yang masih terasa dingin di atas meja kayu Livy.
Galang sempat menatap barang-barang itu selama beberapa detik, memastikan posisinya rapi, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar dengan helaan napas panjang.
Namun, Galang tidak langsung pergi jauh. Ia berdiri di balik pilar koridor, beberapa meter dari pintu kelas, berpura-pura memainkan ponselnya padahal matanya terus melirik ke dalam ruangan melalui jendela kaca.
Tak lama, Livy muncul dari tikungan koridor. Rambutnya yang biasanya dikuncir kuda agak berantakan, dan langkah kakinya tidak seceria biasanya.
Saat Livy melangkah masuk ke kelas dan mendekati mejanya, langkahnya terhenti. Ia menatap roti sobek dan susu stroberi itu dengan kening berkerut. Tidak ada surat, tidak ada nama. Namun, di kelas itu, semua orang tahu susu stroberi adalah obsesi Livy pada zaman menjadi seorang cegil.
Tepat saat Livy sedang memandangi roti dan susu tersebut. Rayhan datang ke kelas —yang baru saja kembali dari koperasi sambil mengipas-ngipas lehernya yang berkeringat.
"Gerah banget gila, kantin antrenya kayak mau bansos," keluh Rayhan sambil mengempaskan tubuhnya di kursi sebelah Livy. Matanya langsung tertuju pada benda di atas meja Livy. "Kamu habis dari minimarket Liv? Kenapa gak ngajak saya?."
"Engga, susu sama roti ini tiba-tiba ada di atas meja saya" Jawab Livy seraya memandangi susu kotak yang mulai mengembun, meneteskan air dingin ke permukaan meja.
"Tiba-tiba diatas meja?" Rayhan mengerutkan kening. "Siapa yang ngasih? Galang?"
Livy menarik napas panjang sebentar, sebelum ia menjawab. "Enggak tahu" Dengan gerakan yang sengaja dibuat santai, ia menggeser roti dan susu kotak itu ke arah Rayhan.
"Ambil aja nih buat kamu. Saya lagi ga pengen yang manis-manis," kata Livy, suaranya terdengar datar, kehilangan nada melengking manja yang biasanya selalu ia pakai jika sedang membahas hal-hal yang ia sukai.
Rayhan mengerjapkan mata, terkejut. "Serius? Ini kan susu stroberi kesukaan kamu dari kecil, Liv? Biasanya kamu bakal ngamuk kalau ada yang nyentuh barang stroberi kamu."
"Saya bilang ambil ya ambil, Ray. Berisik deh, kalau ga mau biar saya buang ke tempat sampah depan," sahut Livy agak ketus, menyembunyikan getar kecewa di hatinya yang entah bersumber dari mana.
"Yaudah iya sini saya ambil." kata Rayhan cepat-cepat. Tanpa pikir panjang, Rayhan langsung menusukkan sedotan plastik ke kotak susu tersebut dan meminumnya hingga separuh, lalu merobek bungkus roti sobek cokelat itu dengan lahap.
Di balik pilar koridor, tangan Galang yang berada di dalam saku celana perlahan mengepal keras. Rahangnya mengeras seketika.
Hatinya yang sudah terbakar kini semakin terbakar jika Livy sudah berada di dekat Rayhan.
Melihat bagaimana dengan mudahnya Livy memberikan perhatian pertamanya kepada cowok lain, di depan matanya sendiri.
Livy yang biasanya mengejarnya tanpa lelah, hari ini membuang pemberiannya seolah itu adalah sampah yang tidak berharga.
Galang berbalik, melangkah pergi dengan hentakan kaki yang berat dan penuh amarah yang tertahan, meninggalkan koridor kelas dua belas yang perlahan makin ramai.
......................
...****************...
Tbc,