Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kehidupan yang Menyebalkan
Sinar matahari yang terik membakar aspal stasiun kereta Kota Jinhai.
Jiang Ming melangkah keluar dari stasiun dengan membawa sebuah tas ransel besar yang terlihat sangat lusuh.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kakinya terasa begitu berat, sama sekali tidak mencerminkan semangat seorang pemuda yang baru saja bebas.
Hari ini adalah hari pertamanya kembali ke masyarakat sipil setelah menyelesaikan masa wajib militernya selama dua tahun.
'Akhirnya selesai juga kewajibanku di militer,' batin Jiang Ming sambil menghela napas panjang.
Namun, tidak ada senyum kelegaan di wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.
Kenyataannya, bukannya merasa lega setelah bebas dari rutinitas militer yang keras, dia justru merasa dadanya semakin sesak.
Dia tahu betul bahwa dia baru saja melangkah keluar dari satu neraka untuk masuk ke neraka yang jauh lebih menyebalkan.
Neraka itu bernama kehidupan nyata.
Jiang Ming bukanlah anak dari keluarga kaya raya yang sudah disiapkan sebuah perusahaan oleh orang tuanya.
Dia tidak mempunyai koneksi dengan orang dalam, tidak punya teman pejabat, dan jelas tidak punya spesifikasi pekerjaan yang bagus.
Latar belakang pendidikannya hanyalah lulusan sekolah menengah atas biasa.
Setelah keluar dari militer hari ini, hal pertama yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan dan uang untuk makan.
Dia mulai memikirkan masa depannya yang terlihat sangat suram.
Teman-teman seusianya pasti sudah mulai mencari pekerjaan di perusahaan besar atau sedang sibuk mempersiapkan karier profesional mereka.
Sementara dirinya? Dia tidak memiliki satu hal pun yang bisa dibanggakan untuk ditulis di dalam surat lamaran kerja.
'Bahkan untuk melamar menjadi kasir minimarket pun aku mungkin akan kalah saing dengan anak kuliahan,' keluh Jiang Ming dalam hati.
Wushhh!
Angin panas berhembus menerpa wajahnya, seolah ikut mengejek nasib buruknya hari ini.
Jiang Ming mengusap keringat di dahinya lalu berjalan menuju halte bus terdekat.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dengan bus yang berdesakan, dia akhirnya tiba di sebuah lingkungan kumuh di pinggiran kota.
Ini adalah kawasan rumah kontrakan murah yang hanya dihuni oleh para pekerja kasar dan orang-orang pinggiran.
"Hei, Jiang Ming! Kau sudah pulang rupanya?" seru seorang wanita paruh baya dari seberang jalan.
Jiang Ming menoleh dan melihat seorang wanita gemuk yang sedang memegang sapu lidi.
Itu adalah Bibi Wang, pemilik kontrakan kecil tempat Jiang Ming menyewa sebuah kamar sempit.
"Iya, Bibi Wang. Aku baru saja sampai hari ini," jawab Jiang Ming sambil memaksakan sebuah senyuman sopan.
"Baguslah kalau kau pulang dalam keadaan hidup." Bibi Wang melipat tangannya di dada dengan tatapan meremehkan.
"Terima kasih atas perhatiannya, Bibi."
"Jangan senang dulu, anak muda. Sewa kamarmu sudah menunggak satu setengah bulan. Kapan kau mau bayar, hah?" tembak Bibi Wang tanpa basa-basi sedikit pun.
Jiang Ming menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Tolong beri aku waktu beberapa hari, Bibi. Aku pasti akan segera mencari pekerjaan," ucap Jiang Ming dengan nada memelas.
"Alasan saja kau ini! Anak muda zaman sekarang memang bisanya cuma memberikan janji-janji palsu!" omel Bibi Wang dengan suara melengking.
Cih!
Bibi Wang meludah sembarangan ke tanah tepat di dekat sepatu Jiang Ming.
"Pokoknya aku hanya akan memberimu waktu tiga hari. Kalau masih tidak ada uang sewa, langsung angkat kaki dari tempatku!" ancam wanita gemuk itu dengan galak.
Jiang Ming hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa berani membantah.
"Satu lagi, keran air di kamarmu itu bocor terus. Cepat perbaiki sendiri, aku tidak mau tagihan airku membengkak gara-gara kau!" tambah Bibi Wang sebelum berbalik pergi.
'Baru juga sampai di rumah, sudah ditagih utang dan disuruh jadi tukang ledeng,' batinnya merana.
Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar kontrakannya yang berada di ujung lorong gelap.
Kriet...
Pintu kayu yang sudah lapuk itu berbunyi nyaring saat dia mendorongnya terbuka.
Udara pengap dan bau debu langsung menyambut penciumannya.
Ruangan itu sangat kecil, hanya muat untuk satu kasur lipat tipis, sebuah lemari plastik usang, dan satu meja kecil.
Jiang Ming melemparkan tas ranselnya ke sudut ruangan lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur.
Bruk!
Tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi otaknya terus bekerja keras memikirkan nasibnya.
Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit yang sudah terkelupas pinggirannya.
Jiang Ming menghitung lembaran uang lusuh di dalamnya satu per satu.
"Dua puluh... empat puluh... lima puluh... totalnya hanya tinggal tujuh puluh yuan," gumam Jiang Ming dengan suara serak.
Tujuh puluh yuan bahkan tidak akan cukup untuk bertahan hidup selama tiga hari di kota sebesar Jinhai ini.
Belum lagi dia harus membayar sewa kamar yang menunggak sebesar lima ratus yuan.
Kondisi keluarganya juga membuat beban di pundak Jiang Ming terasa semakin berat.
Trrrtt! Trrrtt!
Ponsel bututnya yang layarnya sudah retak tiba-tiba bergetar hebat di atas meja.
Jiang Ming mengambil ponsel itu dan melihat nama 'Adik Kecil Lin' muncul di layar.
"Halo, Xiaolin? Ada apa menelpon Kakak siang-siang begini?" jawab Jiang Ming melembutkan suaranya.
"Kak Ming! Kakak sudah sampai di Jinhai? Bagaimana perjalanan pulangnya?" tanya Jiang Lin, adik perempuan satu-satunya dengan nada riang.
"Lancar kok, tidak ada masalah sama sekali. Kakak baru saja sampai di kamar kontrakan dan sedang istirahat," bohong Jiang Ming dengan lancar.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat mengkhawatirkan Kakak sejak kemarin."
"Tidak perlu khawatir. Kakak kan laki-laki kuat," balas Jiang Ming mencoba terdengar setegar mungkin.
Terdengar hembusan napas ragu dari seberang telepon.
"Kak... bulan depan aku harus membayar sisa uang semesteran kampus," ucap Jiang Lin dengan nada pelan dan penuh rasa bersalah.
Hati Jiang Ming seketika terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
Sejak kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Jiang Ming adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.
"Berapa yang kamu butuhkan untuk semester ini?" tanya Jiang Ming pelan.
"Tiga ribu yuan, Kak. Maaf ya Kak, aku selalu menyusahkanmu terus-menerus," isak Jiang Lin menahan tangisnya.
"Hei, kenapa kamu menangis? Menyekolahkanmu itu sudah menjadi tanggung jawab Kakak," hibur Jiang Ming cepat.
"Tapi Kakak kan baru saja keluar dari militer hari ini. Kakak pasti belum punya pekerjaan dan uang, kan?"
"Siapa yang bilang begitu? Salah satu teman Kakak sudah menawarkan pekerjaan yang sangat bagus di perusahaannya." Jiang Ming kembali merangkai kebohongan demi menenangkan adiknya.
"Benarkah, Kak? Syukurlah kalau begitu!" Suara Jiang Lin kembali terdengar ceria.
"Iya, jadi kamu fokus belajar saja yang rajin. Nanti uangnya pasti akan Kakak transfer minggu depan."
"Terima kasih, Kak Ming! Kamu memang kakak yang paling hebat di dunia!"