Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 17

...Niat baik itu pasti akan berakhir menenangkan!...

...- Ardanayudha -...

Setelah menuntaskan tujuannya hari ini, Yudha hanya bisa membuang napas lega dengan lengkungan tulus yang terlukis sempurna di raut wajah lelahnya. Berdebat tanpa menghakimi ternyata jauh lebih memudahkan untuk menentukan hasil. Ketimbang mendesak dengan segala cara yang mungkin akan membuat sang lawan semakin menjadi-jadi.

Mengangguk sekilas dengan senyumannya tuk menyapa satpam penjaga pintu parkir yang masih berada di perusahaan. Karena masih ada beberapa karyawan yang ada didalam gedung untuk menyelesaikan tugas mereka, tanpa terlewatkan sedikitpun.

"Yudha?" Seruan dari suara familiar membuat langkah pria itu perlahan terhenti. Melihat kearah seorang wanita yang kini melangkah mendekat dengan senyum tipis yang terukir di wajah lelahnya.

"Kenapa kau menemuinya sendiri? Seharusnya kau meminta bantuan rekan kerja mu. Apa kau tidak mempercayai mereka?" Timpal Sella saat berdiri di hadapan Yudha dengan tampang lelahnya.

Yudha yang mendengar tersenyum kecil, melangkah pelan ke arah di mana anak tangga berada. Diikuti oleh Sella menjajarkan kakinya dengan milik Yudha. "Kau tahu?"

"Manajer baru yang memberitahuku." Tanpa beban, Sella memberi sahutan. Membuang napas sedikit berat, karena pekerjaan hari ini sangat membuat tubuhnya merasa lelah. Jika pun setiap hari Sella merasakan hal itu. Tapi entah kenapa hari ini, benar-benar membuat rasa muak itu muncul di kepalanya.

"Dia melakukan pekerjaannya yang baik. Kejujurannya membuat mereka tidak salah membawanya ke perusahaan ini." Sambung Sella yang kini dengan cepat menghentikan langkah kakinya, menghadapkan tubuhnya pada Yudha. Spontan mengikuti apa yang di lakukan Sella saat ini, sembari mengedipkan kedua matanya sedikit cepat.

"Jika pun mereka akan terus mempertahankan mu. Tapi setidaknya, kau harus berdiskusi lebih dulu dengan mereka." Diam sejenak, ludah getir itu Sella telan. Kepala wanita itu mengangguk kecil, sebelum melanjutkan perkataannya. "Kau tahu? Titik batas kesabaran orang itu ada. Jadi manfaatkanlah apa yang kau genggam saat ini. Terutamakan dirimu. Karena usia-usia seperti kita, itu sulit untuk mendapat pekerjaan. Kita harus mempertahankannya demi uang makan esok hari."

Yudha menerima dengan lapang dada semua kalimat yang menyapa pendengarannya. Yudha tidak akan pernah menolak saran ataupun perhatian kecil dari teman-temannya. Yudha hanya merasa tidak enak dengan mereka yang terus mengorbankan raga mereka hingga lelah, karena tanggung jawabnya.

"Kau bisa menemui mereka. Katakan apa yang kau lakukan, tanpa harus menyembunyikan sedikit saja. Mereka juga tidak akan menyudutkan mu." Terselip sedikit kata penyemangat itu Sella ucapkan dengan lengkungan kecil yang tidak terlihat begitu jelas.

Lagi, Yudha mengangguk tanpa melunturkan senyumannya. Melangkah pergi dari hadapan Sella. Diam, membuang napas gusar, menatap punggung Yudha dengan sorot sendu. "Semoga batinnya baik-baik saja."

Tanpa mereka sadari, sepasang mata milik seorang insan yang kini memilih untuk kembali memutar tumitnya kearah ruang kerja dengan rasa sesak yang entah kenapa menyelimuti dadanya.

Yumna berjalan dengan pandangan kosong. Wajahnya sedikit ditekuk kebawah. Hingga langkahnya terhenti saat sepasang kaki menghalangi jalannya. Membuat Yumna perlahan mengadahkan pandangannya, tepat pada bola mata hitam pekat itu. Menatap Yumna dengan kedua alis sekilas naik ke atas.

"Menyingkirlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu." Pinta Yumna penuh permohonan. Tapi hal itu tidak dipedulikan lawan bicaranya.

"Ada apa dengan wajahmu?" Senyum jahil terselip disetiap kata yang keluar dari mulut Tama. Menyilangkan kedua tangannya didepan dada, wajah tengil itu Tama tunjukkan. Karena menggoda Yumna di saat suasana hati wanita itu tidak baik, adalah sebuah kesempatan bagi Tama untuk mengusir wanita dihadapannya saat ini.

"Bukan urusanmu." Lesu Yumna yang bergerak ke sisi kiri untuk menghindarkan diri dari penipu ulung itu. Tapi dengan napas berat, Yumna mengurungkan niatnya, saat Tama menghalangi jalannya seperti tidak memiliki dosa.

"Benarkah? Tapi wajahmu terlihat seperti baru saja putus cinta. Apa itu benar?" Senyum jahil akan terus Tama tampilkan. Tanpa peduli jika Yumna semakin kesal dan kesal melihat tingkah lakunya seperti anak kecil.

Dengan sangat terpaksa Yumna tersenyum simpul, kepalanya mengangguk sebentar. "Jika kau terus menggodaku seperti ini. Mungkin kau bisa jatuh cinta padaku. Jadi hentikanlah secepat mungkin, karena aku tidak akan membalas perasaan mu."

Tama mangut-mangut, tanpa ada niatan ingin berhenti secepat mungkin. Karena ini begitu sangat disayangkan jika diabaikan. "Jika pun kau tidak membalasnya. Restu seorang ibu yang utama, bukan?" Kedipan sebelah mata dari Tama semakin membuat benak Yuma merasa muak.

Rasanya Yumna ingin menarik rambut Tama yang tidak begitu panjang itu. Tapi hal itu sepertinya tidak akan pernah terjadi. Karena Tama begitu spontan menghindarkan diri saat seseorang menyentuh kepalanya.

"Ibuku tidak akan sudi menerima mu sebagai menantunya. Jadi berhentilah bermimpi, itu sangat menyakitkan." Kalimat terakhir yang Yumna katakan terdengar sedikit tajam di telinga Tama. Dan dengan paksa Yumna mendorong sekuat tenaga tubuh Tama, agar tidak lagi menghalangi jalannya.

Tama terkekeh kecil melihat ke arah Yumna yang masuk ke dalam ruang kerja. Kini Tama membalikkan tubuhnya, disertakan akan hadirnya Sella yang berdiri tidak jauh darinya.

Tidak mendapat balasan dari saudaranya membuat perasaan tidak enak itu datang menghantui pikiran Yumna. Kini dengan cepat berdiri dari duduknya, bergegas melangkah ke arah penyeberangan jalan yang mengharuskan Yumna untuk menunggu sebentar. Karena lampu untuk para pejalan kaki masih berwarna merah.

"Jika dia tidak menyuruhku pulang, aku tidak akan seperti cacing kepanasan seperti ini. Dan kenapa aku merasa gelisah sendiri? Tidak mungkin jika ibu membohongi ku." Monolog Yumna yang telah menyeberangi jalan raya itu.

Kini Yumna terus berjalan ke arah di mana rumahnya berada dengan langkah yang sedikit cepat. Sesekali tangan kanan Yumna menyisir surai panjangnya ke belakang. Hingga tibanya di depan rumah, Yumna menekankan kedua kakinya.

Yumna tidak melihat satu pun teman ibu yang berkunjung kerumah. Itu membuat rasa takut semakin menyelimuti raga Yumna. Tanpa berpikir lagi, Yumna masuk ke rumah dengan cekatan.

Dan saat itu juga kedua mata Yumna membulat. Napasnya tertahan, degup jantungnya pun terdengar sangat kacau. Yumna tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Kekejaman itu kembali terulang, atau itu sering terjadi. Tapi Yumna memilih untuk menutup mata mengabaikannya.

"Apa yang kau lakukan?" Seru Yumna kini berjalan mendekat dengan api amarah yang entah sejak kapan menyala dijiwa Yumna.

Mungkin tidak hanya Yumna yang akan melakukan hal itu, di saat melihat orang tersayangnya mendapat perlakuan kasar dari monster tanpa hati nurani itu.

"Oh Yuman," tanpa rasa bersalah sedikitpun. Pri itu tersenyum senang melihat putrinya yang begitu berani menghalangi niatnya.

Sedangkan Yumna masih diam membantu Malla untuk berdiri, yang mengorbankan punggungnya untuk melindungi ibu dari pukulan pria itu. "Kau tidak apa-apa? Ibu baik-baik saja?" Dua pertanyaan yang di lontarkan Yumna, hanya mendapat anggukan dari mereka sebagai jawaban.

Yumna membuang napas berat, tersenyum miris. Seharusnya Yumna langsung menyadari saat ibunya mengirimnya pesan tadi sore. 'Kenapa hal seperti ini ibu harus menyembunyikannya dari Yumna?' kalimat itu yang ingin sekali Yumna katakan saat ini juga. Tapi Yumna harus mengusir pria tidak tahu diri itu terlebih dahulu.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!