Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Jangan sembarangan nuduh kamu!" Bantah Sera tegas.
Diam-diam memberi kode kepada Dion untuk segera menutupi tubuh kakaknya agar tidak terlihat.
Dion mengerti maksud itu, dan dengan sigap langsung menutup kembali tubuh Sarah dengan selimut.
"Kau bilang aku sembarangan bicara?!" seru Bianca dengan nada tinggi. "Lihatlah dirimu! Jelas-jelas kau bersama seorang laki-laki di dalam satu ruangan! Kau bilang kau tidak selingkuh? Apa kau pikir aku sebodoh itu? Akan aku laporkan semua ini pada suamimu!"
Bianca berbalik dan berlari hendak mengambil ponselnya untuk menelepon Adrian.
Namun Sera tidak membiarkannya. Dia segera mengejar dari belakang, mengeluarkan suntik penenang dari saku bajunya, dan tanpa ragu menyuntikkannya tepat ke bahu Bianca.
"Argh!" Ringis Bianca.
Perlahan, pandangan Bianca mulai mengabur. Kakinya melemah, dan sesaat kemudian tubuhnya jatuh terjerembap ke lantai — pingsan tak sadarkan diri.
"Cari penyakit!" Umpat Sera.
Sera sama sekali tidak peduli melihat tubuh Bianca yang tergeletak. Dia segera berbalik kembali ke kamar.
"Cepat, Dion! Kita harus segera membawa Kakak keluar dari sini!"
"Tapi bagaimana dengan wanita yang tadi itu? Dia sempat melihat kita…"
"Kau tidak perlu khawatir. Biar aku yang menangani soal itu."
"Baiklah." Dion segera mengangkat tubuh Sarah dengan hati-hati, lalu bergegas keluar dari kamar menuju mobilnya.
Membaringkan Sarah dengan pelan di kursi belakang, memastikan posisinya nyaman.
"Kau tidak ikut, Sera?" tanya Dion usai menyimpan tubuh tak berdaya Sarah.
Sera menggeleng, tangannya terulur memegang pergelangan tangan pria dihadapannya.
"Aku tidak bisa ikut, Dion. Soalnya Tuan Sean memaksaku untuk ikut ke acara makan malam. Kalau sampai aku tidak datang, dia bisa curiga. Aku mohon… Tolong jaga Kakakku baik-baik. Aku nggak punya siapa-siapa lagi untuk minta tolong. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kuandalkan di sini. Jadi kumohon, tolong aku ya, Dion. Usahakan Kakakku selamat, bagaimanapun caranya. Aku mohon padamu."
"Nggak usah memohon seperti itu, Sera. kayak orang lain aja. Aku itu sudah seperti keluargamu. Kamu nggak perlu sampai segitunya memohon ke aku," ujar Dion lembut sembari mengusap pucuk kepala Sera. "Kamu jaga diri ya."
Sera mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Hati-hati kamu di jalan."
"Kamu juga hati-hati di sini."
Dion masuk mobil dan melaju membawa Sarah pergi.
Sera sama sekali tidak menyadari sepasang mata sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan.
Sean ternyata berdiri di pinggir pagar, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia melihat jelas betapa akrabnya interaksi pria itu dengan istrinya.
"Cari tahu siapa pria itu. Selidiki semuanya," titah Sean pada Max yang berdiri di belakangnya.
"Baik, Tuan."
Sera berlari masuk kembali ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak.
Sementara Sean dan Max langsung pergi sebelum Sera menemui mereka.
Sera yang sudah bersiap, terpaksa memanggil layanan ojek daring untuk menyusul mereka — mana mungkin dia berani memakai mobil mewah yang terparkir di garasi? Dia takut Sean akan marah dan menganggapnya lancang. Jadi, satu-satunya cara adalah memanggil ojek daring.
_____
"Paman, mana Kakak Ipar?" tanya Raisa saat melihat Sean masuk hanya berdua dengan Max.
"Di belakang." jawab Sean singkat, lalu mengambil tempat duduknya.
"Max, duduklah dan makan bersama." Lanjutnya.
"Terima kasih, Tuan. Tidak usah, saya berdiri di sini saja," tolak Max sopan.
"Duduklah, Max. Kau pun belum makan, kan?"
"Baik, terima kasih, Tuan." Max akhirnya mengambil tempat duduk di ujung meja.
Mereka duduk di meja bundar yang luas, dikhususkan untuk rombongan besar. Tempat itu berada di area VIP restoran di lantai atas — bukan ruangan tertutup, melainkan area terbuka yang lebih eksklusif.
Di sana masih ada beberapa meja tamu lain. Dari atas, pemandangan kota di bawah terlihat jelas dan indah.
Para pelayan berdatangan menata hidangan di meja bundar itu. Semua makanan sudah tertata rapi, namun sosok yang ditunggu belum juga muncul.
"Paman, kok Sarah belum datang juga sih?" Raisa kembali bertanya, terlihat tidak sabar.
Entah apa lagi rencana wanita picik itu.
"Benar itu, Sean. Ke mana menantu keponakan kesayanganmu itu?" tanya Rika dengan nada menyindir, kesal karena Sean terlalu sering membela Sera.
"Sebentar lagi dia datang," jawab Sean tenang.
"Palingan juga dia nggak akan datang. Orang itu cara berpakaiannya norak begitu, malu-maluin juga kalau datang," ujar Rika meremehkan.
Namun Sean hanya diam, tidak peduli dengan ocehan kakaknya itu.
Martha dan Alena saling bertukar senyum puas. Mereka berpikir Sarah pasti tidak akan berani datang.
"Aku sudah lapar nih, Paman. Aku makan duluan deh. Lagipula Kakak Ipar belum tentu datang," keluh Raisa sambil bersiap mengambil alat makan.
"Maaf, aku terlambat."
Tiba-tiba suara itu terdengar jelas dari arah pintu masuk.
Mereka semua serentak menoleh, seketika ruangan itu hening. Semua orang yang ada di meja tertegun mematung melihat kedatangan Sera.
Adrian yang saat itu sedang memegang sendok, terperangah hingga sendok ditangannya terlepas dan jatuh berdenting di piringnya.
Ting!
Matanya tak berkedip menatap sosok yang baru saja masuk.
Ternyata, Sera berdiri di sana dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya.
Gaun midi berwarna hijau sage jatuh halus di tubuhnya, sopan namun menonjolkan keanggunan yang tak pernah mereka sadari sebelumnya.
Rambut ikalnya yang biasa sering dikuncir, kali ini dibiarkan terurai lembut bergelombang alami, jatuh menyentuh bahu.
Wajahnya tampak bersih dan segar, tanpa riasan tebal, namun cukup untuk membuatnya bersinar. Sepatu tumit rendah berwarna krem dan anting kecil satu butir melengkapi penampilannya — sederhana, elegan, namun memikat.