Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana di ruang makan kediaman keluarga Xander terasa begitu kaku dan dingin, seperti biasanya. Adrian duduk di meja makan yang luas itu bersama Helena dan David. Tidak ada perbincangan hangat; hanya denting halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen memecah heningnya malam.

​Hingga akhirnya, suara berat David memecah keheningan tersebut.

​David meletakkan alat makannya perlahan, lalu menatap Adrian. "Adrian, di mana Moreno? Kenapa dia tidak ikut makan malam lagi?"

​Adrian menghentikan gerakannya sejenak sebelum menjawab datar, "Moreno sudah dua minggu tidak pulang ke rumah, Papi."

​Kening David seketika berkerut dalam. "Tidak pulang? Lalu selama ini dia tinggal di mana?"

​Belum sempat Adrian merespons, Helena menyela dengan nada suara yang diusahakan sehalus mungkin. "Mungkin Moreno tinggal di apartemen keluarga, Mas. Anak itu kan sejak kembali ke Indonesia memang lebih suka berada di sana dibanding di rumah."

​David bergumam pelan, mencerna ucapan istrinya. Tatapannya kembali tertuju pada anak laki-lakinya. "Apa dia masih rajin masuk kuliah?"

​"Masih. Moreno masih sering kelihatan di kampus," sahut Adrian singkat.

​David mengangguk-angguk kecil, lalu memberi perintah tegas. "Beritahu Moreno untuk sesekali pulang ke rumah ini. Bagaimanapun juga, dia adalah calon penerus Xander."

​Mendengar penekanan kata penerus dari mulut David, Helena dan Adrian sempat saling berpandangan selama sepersekian detik. Ada ketegangan terselubung yang berkilat di mata mereka. Namun, Adrian dengan cepat menguasai ekspresinya kembali.

​"Baik, Papi. Nanti Adrian sampaikan ke Moreno," jawab Adrian patuh.

Moreno memeras pelan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat, lalu mulai menyeka tubuh Luna dengan telaten. Jemarinya yang terbungkus kain basah itu menelusuri dahi Luna yang panas, meluncur turun ke leher, hingga menyentuh area dada gadis itu.

​Saat menyeka lekukan dada Luna yang padat dan berisi, pergerakan tangan Moreno sempat terhenti beberapa kali. Tenggorokannya naik-turun menelan ludah yang terasa berat.

​"Sialan..." umpat Moreno pelan dengan suara serak yang ditahannya. Matanya tak sanggup mengalihkan pandangan dari keindahan di depan matanya.

​Ia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas kasar demi mengontrol gairahnya yang mendadak meletup.

​"Untung aja lo lagi sakit," bisik Moreno tepat di samping telinga gadis itu dengan nada rendah. "Kalau nggak... udah habis lo gue makan malam ini juga."

​Setelah selesai menyeka, Moreno mengambil kaus ganti dan membantu memakaikannya ke tubuh Luna .

​Di balik matanya yang terpejam, Luna yang berada di antara alam sadar dan tidak sebenarnya menyadari semua perlakuan pria itu. Di luar dugaan, perhatian-perhatian kecil yang diberikan Moreno malam ini berhasil menghadirkan kehangatan tipis yang merambat halus di dasar hatinya.

​"Gue udah bikin makan malam," ucap Moreno datar seraya merapikan rambut Luna. "Lo mau makan dulu?"

​Luna menggeleng pelan kepalanya terasa terlalu berat. "Enggak... kepala gue pening banget," bisiknya menolak.

​Moreno mendengus pelan, namun ia tidak memaksa. Pria itu berdiri dan melangkah keluar kamar menuju dapur untuk mengambil kotak obat. Dengan gerakan cekatan, ia memilih obat penurun demam, lalu kembali ke dalam kamar membawa segelas air putih.

​"Nih.. minum obat dulu," perintah Moreno tegas.

​Moreno menyuapkan tablet obat itu ke mulutnya, lalu membantunya meneguk air minum. "Sekarang tidur lagi."

​Luna kembali merebahkan tubuhnya ke kasur. Namun, sebelum matanya benar-benar tertutup rapat, ia sempat menggumamkan kalimat lirih, "Makasih... Ren."

​Moreno terkekeh dingin menanggapi ucapan itu. "Jangan salah paham. Gue cuma enggak mau tawanan gue keburu mati sebelum sempat gue apa-apain."

​Mendengar ucapan tajam yang dibungkus nada arogan itu, bibir Luna hanya mengukir senyum kecut.

"Brengsek lo, Ren. Umpat Luna nyaris tidak terdengar, ia pun memejamkan matanya dan membiarkan efek obat membawanya kembali terlelap.

Setelah memastikan Luna tertidur, Moreno beranjak berdiri dan melangkah keluar dari kamar. Ia kembali ke area dapur. Perutnya yang sedari tadi menahan lapar kini sudah keroncongan hebat. Tanpa buang waktu, pria itu segera menyantap makanan hasil olahannya sendiri di meja makan.

​Selesai dengan ritual makan malamnya, Moreno merapikan piring kotor lalu melangkah kembali ke kamar tempat Luna berbaring.

​Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengulurkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh gadis itu. Suhu badannya sudah jauh menurun, tidak sepanas tadi. Rona pucat di wajah Luna pun perlahan menghilang, berganti dengan warna alami kulitnya yang segar meski napasnya masih belum teratur.

​Entah dorongan dari mana, bukannya kembali ke kamarnya sendiri, Moreno justru perlahan membaringkan tubuhnya di samping Luna.

​Moreno memiringkan posisi duduknya, menopang kepala dengan satu tangan seraya menatap wajah Luna dengan lekat.

​"Ternyata lo bisa keliatan sejinak ini kalau lagi tidur..." gumam Moreno lirih dengan suara rendah.

​Ia memperhatikan setiap detail dari paras gadis di hadapannya. Mulai dari bulu matanya yang lentik dan lebat, bentuk hidungnya yang mungil namun bangir, hingga pandangannya tertahan di bibir Luna yang mungil tetapi bervolume alami.

​Tanpa sadar, jemari Moreno terulur. Ibu jarinya mengusap lembut permukaan bibir Luna yang terasa halus. Seketika senyum tipis terbit di bibir pria yang biasanya selalu bersikap dingin dan arogan itu.

​Namun, hanya bertahan beberapa detik sebelum Moreno tersentak. Sadar bahwa dirinya mulai terhanyut dan goyah oleh pesona gadis yang seharusnya hanya ia jadikan tawanan, Moreno langsung menarik kembali tangannya dengan cepat.

​"Fuck..." umpat Moreno pelan pada dirinya sendiri, mengusap wajahnya dengan gusar. "Mikir apaan sih gue?"

Adrian tampak duduk sendirian di balkon kamarnya. Di atas meja kecil di sampingnya, secangkir kopi panas yang masih mengepulkan asap tipis menemani keheningan malam.

​Namun, pikiran Adrian jauh dari kata tenang. Perkataan ayahnya saat makan malam tadi—tentang Moreno yang merupakan calon penerus Xander—terus terngiang-ngiang dan berputar berulang kali di kepalanya, membakar amarah yang terendap di dasar hatinya.

​Tanpa sadar, jemari Adrian mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"​Kenapa anak itu harus dibawa pulang ke keluarga Xander? Kenapa Papi enggak biarin dia tetap tinggal di Rusia bersama keluarga ibunya saja?! bisik Adrian dalam hati, sarat akan rasa iri dan penolakan yang mendalam.

​Brrrr... Brrrr...

​Getaran ponsel di atas meja seketika membuyarkan lamunan kelam Adrian. Ia segera meraih ponselnya dan menggeser layar untuk menerima panggilan dari informan yang ia tugaskan.

​"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Adrian cepat.

​"Gue dapet info baru, Bos," suara dari seberang telepon terdengar melaporkan. "Luna memang sempat pulang ke rumah keluarga Damaris. Tapi anehnya, sekarang dia udah enggak ada lagi di sana. Enggak ada yang tahu pasti di mana dia tinggal sekarang."

​Dahi Adrian berkerut makin dalam. "Enggak ada di rumahnya juga?"

​"Iya, keberadaannya benar-benar bersih. Orang-orang di sekitar rumahnya juga enggak tahu dia pergi ke mana."

​Adrian menghembuskan napas berat. "Terus cari tahu. Jangan berhenti sampai lo dapet petunjuk sekecil apa pun tentang Luna."

​"Siap, Bos. Nanti langsung gue kabari kalau ada update."

​Panggilan pun terputus. Adrian menurunkan ponselnya perlahan, lalu kembali melemparkan pandangannya menerawang ke arah kegelapan malam.

"​Apa yang sebenarnya terjadi sama lo, Luna...? Lo sembunyi di mana? batin Adrian dipenuhi tanda tanya besar yang kian menyiksa rasa penasarannya.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!