Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.Perubahan sikap

Pagi yang cerah menyapa kediaman Danuartha. Cahaya keemasan menembus tirai tipis kamar tidur utama, membiaskan sinar hangat di atas ranjang berukuran king size.

Aira terbangun perlahan, merasakan sesuatu yang berat melingkari pinggangnya. Saat ia membuka mata dan menyesuaikan diri dengan cahaya pagi, dadanya mendadak berdesir hebat.

Wajah tampan Arka berada sangat dekat dengannya—hanya berjarak beberapa sentimeter. Pria berusia 39 tahun itu masih tertidur lelap, dengan satu lengan kokoh melingkar erat di pinggang Aira, menarik tubuh gadis itu merapat tanpa jarak ke dalam dekapannya.

Aira menahan napasnya sejenak, memandangi raut wajah Arka yang begitu tenang saat tidur.

Garis-garis ketegangan yang biasanya menghiasi dahinya di kantor kini menguap sepenuhnya. Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, serta deru napas hangatnya yang teratur menyentuh kening Aira, membuat jantung Aira berdegup liar.

Dengan jemari yang gemetar halus, Aira memberanikan diri menyentuh rahang Arka, mengusap pelan kulit pria itu.

Tiba-tiba, kelopak mata Arka terbuka perlahan. Iris mata hitamnya yang pekat dan dalam langsung terkunci pada pandangan mata Aira. Bukannya terkejut, Arka justru menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan di bibirnya—sebuah senyuman pagi yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia bisnis.

"Selamat pagi, Nyonya Danuartha," sapa Arka dengan suara bangun tidur yang amat berat, serak, dan memabukkan.

Wajah Aira seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga. Ia mencoba menarik tangannya kembali, tetapi Arka lebih cepat. Pria itu menangkap jemari halus Aira, membawanya ke bibirnya, dan meletakkan sebuah kecupan hangat di sana tanpa melepaskan pandangan matanya.

"M-mas Arka... sudah pagi," bisik Aira canggung, menundukkan pandangannya karena malu.

"Aira harus siapkan sarapan buat Mas Arka dan Elano..."

"Biarkan Bi Inah yang siapkan pagi ini," kata Arka penuh nada posesif yang manja. Lengan Arka yang melingkari pinggang Aira justru makin mempererat cengkeramannya, menarik tubuh Aira hingga dada mereka benar-benar menempel rapat.

Arka membenamkan wajahnya di leher Aira, menghirup aroma harum tubuh gadis itu seraya mengecupi garis lehernya dengan lembut.

"Mas... gatal," pekik Aira pelan sambil tertawa kecil, berusaha bergeser meski tenaganya tak sebanding dengan dekapan erat Arka.

"Tinggallah seperti ini sepuluh menit lagi," gumam Arka di ceruk leher Aira, hembusan napas hangatnya membuat seluruh saraf Aira meremang hebat.

"Saya masih mau memeluk istri saya."

Perubahan sikap Arka yang mendadak menjadi begitu manja dan penuh sentuhan fisik (skinship) benar-benar membuat Aira kewalahan. Pria yang selama ini dikenal dingin bagaikan gunung es dan sangat menjaga jarak, kini berubah menjadi sosok suami yang begitu hangat, penuh kasih sayang, dan enggan melepaskan dirinya walau sekejap.

Setelah beberapa menit berlalu dalam kehangatan yang memabukkan, Arka perlahan mendongak, menatap bibir Aira yang sedikit terbuka. Tanpa memberikan waktu bagi Aira untuk berpikir, Arka mendaratkan ciuman lembut namun sarat akan rasa kepemilikan di bibir Aira. Ciuman pagi itu terasa begitu manis dan lambat, menyalurkan seluruh gelombang rasa cinta yang selama bertahun-tahun terpendam di dalam dada sang duda anak satu itu.

Ketika Arka melepaskan ciumannya, Aira tersengal pelan dengan mata berbinar haru. Arka mengusap bibir Aira dengan ibu jarinya yang hangat, lalu mengecup kening gadis itu dengan sangat lama.

"Ayo bangun," bisik Arka seraya tersenyum lembut. "Kasihan Elano kalau menunggu Papanya terlalu lama."

Suasana di meja makan pagi itu terasa sangat jauh berbeda dari biasanya. Jika dulu Arka selalu duduk tegap sambil membaca dokumen di tablet kerjanya dengan aura kaku, pagi ini pria itu duduk santai di samping Aira.

Elano yang duduk di seberang mereka tampak sibuk mengunyah roti panggang cokelatnya. Bocah itu sesekali melirik Papanya dengan dahi berkerut heran.

Bagaimana tidak heran? Sepanjang sarapan berlangsung, tangan kiri Arka tidak pernah lepas dari Aira. Tangan besarnya menggenggam jemari Aira di atas pangkuan, atau sesekali terangkat untuk mengusap punggung Aira dan merapikan helai rambut Aira yang terurai.

"Papa kok pegang-pegang tangan Mama Aira terus dari tadi?" tanya Elano polos dengan mulut berisi roti.

"Papa nggak mau makan rotinya?"

Aira yang sedang mengoles selai pada roti panggang seketika tersedak saliva sendiri.

Wajahnya merona merah hebat. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Arka under table, tetapi Arka justru menggenggamnya makin erat dengan raut wajah yang tampak sangat santai tanpa dosa.

Arka menatap putranya tenang, lalu menyesap kopi hitamnya. "Papa cuma mau dekat sama Mama. Memangnya tidak boleh?"

"Boleh sih..." gumam Elano sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi Elano juga mau dipeluk Papa!"

Arka terkekeh pelan—suara tawa renyah yang membuat Bi Inah yang sedang merapikan dapur tersenyum haru dari kejauhan.

Arka mengulurkan tangan kanannya, mengusap kepala Elano dengan penuh kasih sayang.

"Nanti sore kita main bertiga di taman belakang, oke?"

"Huraaa! Asyik!" seru Elano kegirangan.

Setelah sarapan selesai dan Elano sudah bersiap naik ke mobil bersama supir untuk berangkat sekolah, Aira menuntun Arka menuju pintu depan untuk mengantar pria itu berangkat ke kantor pusat.

Di teras depan yang sepi, Arka menghentikan langkahnya.

Pria berusia 39 tahun itu berbalik menghadapi Aira. Jas hitamnya yang mahal sudah terpasang rapi, membuat penampilannya tampak sangat gagah dan berwibawa. Namun, tatapan matanya saat menatap Aira tetap memancarkan kehangatan yang amat intens.

Aira merapikan letak dasi Arka dengan jemarinya yang halus.

"Mas Arka hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan siang. Kalau capek, istirahat sebentar."

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aira, menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya di teras rumah. Aira tersentak pelan, refleks menyandarkan dadanya di tubuh Arka.

"Mas... ini di luar, nanti dilihat pak supir dan pengawal," bisik Aira canggung, melirik dua pengawal yang berdiri tegap di dekat mobil.

"Biarkan saja. Mereka tahu siapa bos mereka dan siapa ratu di rumah ini," balas Arka santai. Arka menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di dahi Aira, menatap mata cokelat yang jernih itu dari jarak beberapa sentimeter saja.

"Saya pasti akan merindukanmu sepanjang hari di kantor," gumam Arka dengan nada suara serak yang begitu romantic.

Jantung Aira berdebar liar bagai genderang perang. Kalimat-kalimat manis dan perlakuan posesif dari pria matang ini selalu berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan dirinya. Aira tersenyum manis, membalas pelukan Arka dengan melingkarkan tangannya di bahu pria itu.

"Aira juga pasti kangen Mas Arka," bisik Aira jujur.

Arka mengecup bibir Aira singkat namun dalam, lalu mengecup kedua kelopak mata Aira bergantian sebelum akhirnya melepaskan dekapannya dengan enggan.

"Saya berangkat sekarang. Jika ada apa-apa, langsung telepon saya."

"Iya, Mas," sahut Aira seraya melambaikan tangan saat Arka melangkah masuk ke dalam mobil mewahnya.

Siang harinya di kantor pusat Danuartha Group.

Raymond melangkah masuk ke dalam ruang kerja direksi utama membawa setumpuk laporan bulanan. Asisten pribadi kepercayaan Arka itu mendadak menghentikan langkahnya di depan meja kerja bos besarnya.

Arka sedang duduk di kursi kulitnya, memegang pulpen mahal. Namun, bukannya fokus membaca dokumen bisnis yang biasanya ia selesaikan dengan cepat, Arka justru tampak sedang menatap layar ponselnya seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat hangat.

Di layar ponsel itu, terpasang foto Aira dan Elano yang sedang tertawa bersama di taman rumah—foto yang dikirimkan Aira satu jam lalu.

Raymond menelan ludah, mengusap tenggorokannya yang terasa kering. Selama tujuh tahun bekerja menjadi asisten pribadi Arka Danuartha, ini adalah pertama kalinya Raymond melihat sang bos tersenyum sendirian di depan layar ponsel bagaikan seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

"Ehem... Pak Arka," panggil Raymond sopan untuk memecahkan lamunan bosnya.

Arka seketika mematikan layar ponselnya dan kembali memasang raut wajah datar yang dingin, meski binar bahagia di matanya tidak bisa ditutupi. "Ada apa, Raymond?"

"Ini laporan mengenai tindak lanjut hukum atas kasus Nyonya Dania dan Tuan Kertarajasa," terang Raymond, menyerahkan map dokumen.

"Sesuai perintah Anda kemarin malam, tim pengacara telah membekukan seluruh akses fasilitas perusahaan untuk Nyonya Dania, dan dewan komisaris telah menyetujui pencabutan hak suara beliau dalam keputusan investasi mendatang."

Arka menerima dokumen itu, memeriksanya secara singkat dengan ketegasan yang mutlak. "Bagus. Pastikan Dania tidak memiliki celah sedikit pun untuk mendekati Aira atau Elano lagi. Jika dia nekat, langsung seret ke ranah pidana."

"Baik, Pak Arka. Lalu... untuk jadwal rapat sore ini dengan investor dari Singapura—"

"Ajukan jadi jam dua siang," potong Arka cepat, merapikan dokumen di mejanya.

Raymond menaikkan sebelah alisnya heran. "Diubah jam dua siang, Pak? Biasanya Anda lebih suka rapat investasi di jam empat sore agar bisa meneliti berkas lebih lama."

Arka berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu melirik Raymond dengan pandangan yang mantap. "Saya ingin pulang sebelum jam lima sore. Istri saya menunggu di rumah."

Raymond terpaku sejenak, lalu menyunggingkan senyum mengerti. "Baik, Pak Arka. Segera saya jadwalkan ulang."

Sore hari pukul lima tepat, mobil Arka sudah membelah jalanan menuju kediaman Danuartha.

Begitu pintu depan rumah dibuka, suara tawa riang Elano dan Aira terdengar dari arah taman belakang. Arka melepaskan jasnya, menyerahkannya pada Bi Inah yang menyambutnya di lorong, lalu melangkah lebar menuju taman belakang tanpa menunda waktu.

Di atas rumput hijau yang sejuk, Aira sedang duduk bersimpuh sambil membantu Elano menyusun ranting-ranting kecil untuk membuat rumah-rumahan mainan. Rambut cokelat Aira yang dikuncir asal-asalan serta gaun santai rumahan yang dikenakannya membuat gadis itu tampak begitu manis dan memesona di mata Arka.

"Mama Aira, ranting yang ini kurang panjang!" seru Elano antusias.

"Pakai yang ini saja ya, Mas Elano—"

Sebelum Aira menyelesaikan kalimatnya, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkari dadanya dari belakang. Arka mendudukkan dirinya di atas rumput tepat di belakang Aira, menarik tubuh kecil gadis itu bersandar sepenuhnya di dada bidangnya.

Aira tersentak kaget, tetapi begitu aroma kayu cendana yang familiar menyeruak, ia tersenyum pasrah dan membiarkan Arka memeluknya dari belakang.

"Mas Arka... sudah pulang?" tanya Aira lembut, menengadah menatap wajah Arka yang berada tepat di atas bahunya.

"Sudah," jawab Arka singkat, membenamkan dagunya di bahu Aira. Jemari besarnya bertaut erat dengan jemari Aira di atas pangkuan. Arka mengecup pipi Aira yang hangat dengan sangat tulus.

"Saya merindukanmu seharian ini."

Elano yang melihat Papanya datang langsung melompat gembira. "Papa sudah pulang! Ayo Papa ikut bikin rumah ranting sama Elano dan Mama!"

Arka terkekeh pelan, masih tidak melepaskan dekapannya pada pinggang Aira. "Ayo. Tapi Papa mau pangku Mama Aira begini ya."

"Ih, Papa bucin banget sama Mama Aira!" celoteh Elano polos, menirukan istilah yang pernah ia dengar dari televisi.

Aira seketika tertawa geli dengan wajah memerah malu, sementara Arka justru makin mempererat dekapannya di tubuh Aira, mengecup ceruk leher istrinya berulang kali tanpa peduli.

Di bawah langit sore yang berwarna jingga keemasan, kehangatan cinta dan gelombang kasih sayang yang melimpah menyelimuti keluarga kecil itu.

Arka Danuartha—pria yang dulu begitu dingin, kaku, dan kesepian—kini telah menemukan rumah sejati dan kebahagiaan mutlaknya di dalam dekapan erat Aira, sang istri yang amat dicintainya.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!