Indonesia
NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:916.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina

     "Cepat datang, kami menunggu kalian." Suara Bu Karina kembali mengaung di daun telinganya, mendesak. Membuat Ardana semakin dilanda bingung.

     "Memangnya kejutan apa, Ma? Katakan saja. Nayra sepertinya malas untuk keluar. Dia sedang di ruangan favoritnya." Ardana membuat alasan.

    "Tidak bisa, pokoknya sekarang Mama tungguin. Kalian jangan buat orang-orang yang sudah menunggu kecewa lho."

     Bersamaan dengan itu bunyi klik terdengar, pertanda Bu Karina langsung menutup panggilan telpon.

     "Ya ampun, aku harus bagaimana? Alasan apa lagi supaya membuat Mama bisa melupakan kedatangan kami?"

     Setengah jam kemudian, panggilan di ponsel Ardana kembali berdering. Nama Mama Karina muncul di layar. Terpaksa Ardana berbohong kalau ia saat ini sedang dalam perjalanan.

     "Arda sedang dalam perjalanan. Mama tunggu saja."

     "Cepat, Mama tidak mau menunggu lebih lama lagi," tegas Mama Karina dalam telpon.

     Dengan langkah gontai, Ardana melangkah menuju mobil, lalu mobil itu melaju menuju kediaman orang tuanya yang jaraknya hanya bisa ditempuh kurang lebih lima belas menit saja.

     Akhirnya mobil Ardana tiba di depan halaman rumah Bu Karina dan Pak Idris. Saat Ardana menuruni mobil, tubuhnya tiba-tiba keringat dingin. Ia mengalami rasa panik yang lumayan hebat.

     "Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku jelaskan saja yang sejujurnya?" gumamnya bertanya di dalam hati.

     "Assalamualaikum."

     Ardana mengucap salam, kakinya mulai menapaki lantai ruang tamu orang tuanya, namun ia seakan tidak menapak. Sementara tatapan kedua orang tuanya dan orang tua Nayra, seperti sedang menatapnya tajam dan siap menerkam.

     "Waalaikumsalam. Akhirnya yang kita tunggu datang juga. Eh...di mana mantu Mama, kenapa dia belakangan? Kamu ini ya, kenapa membiarkan Nayra belakangan? Harusnya kalian jalan barengan, lho," sambut Bu Karina sembari berjalan mendekati Ardana dan melewatinya, bermaksud menyambut Nayra sang menantu.

     "Nay, Sayang, kamu ngapain? Masih di dalam mobil?" heran Bu Karina mencari, sampai tiba di mobil Ardana.

     Ardana terpaku, gelagatnya mengundang penasaran Pak Idris maupun kedua orang tua Nayra, Bu Lila dan Pak Kemal saling lempar tatap. Namun tidak lama, Ardana melangkah dan mendekati kedua mertuanya, meraih tangan mereka lalu menciumnya.

     "Bapak dan Ibu sehat?" sapa Ardana sedikit gugup, mukanya memerah. Tidak bisa dibohongi kalau kini ia sedang mengalami rasa takut yang hebat.

     "Alhamdulilah sehat. Kamu gimana? Pekerjaan kamu lancar-lancar saja?" Pak Kemal balik bertanya sambil menatap Ardana penuh perhatian.

     "Alhamdulillah Arda sehat, Pak, Bu. Pekerjaan juga lancar, hanya akhir-akhir ini memang sangat sibuk, sering jaga malam."

     "Ohhh...." respon Pak Kemal tidak berkepanjangan.

     "Arda, di mana menantuku? Dia tidak ada di mobil?" Bu Karina masuk rumah, dengan wajah yang heran. Matanya menatap Arda lekat, seakan sedang mencari sebuah jawaban yang jujur dari Ardana.

     Ardana terhenyak, kakinya seakan terkunci di lantai yang ia tapaki. Sementara reaksi Pak Idris dan kedua orang tua Nayra, sama terhenyaknya. Mata mereka kompak melihat ke arah luar, mencari dan meyakinkan keberadaan Nayra.

     "Iya, ke mana istrimu? Kalian bukannya berangkat sama-sama, kan? Jangan katakan istrimu datang ke sini dengan menaiki motor listriknya itu. Gimana sih kamu ini?" omel Pak Idris sembari keluar dari rumah.

     "Iya, ih...jangan-jangan Nayra naik motor listrik. Dan kamu biarkan. Dia itu baru saja sembuh dari sakit dua hari yang lalu," ceplos Bu Karina tanpa sadar.

     "Nayra sakit? Kok aku nggak tahu, Jeng?" Bu Lila menatap Bu Karina kaget.

     "Iya, Lila. Anakmu Nayra sempat sakit selama dua hari. Dan dua hari yang lalu dia juga baru sembuh. Aku yang jaga dan rawat dia. Aku sengaja tidak beritahu kamu, karena aku tidak mau merepotkan kamu yang jauh. Selama ada aku, apa yang terjadi pada menantuku, seperti sakit, biar aku yang tangani," jelas Bu Karina terdengar tulus.

     "Ya ampun, Jeng Karin, tulus banget kamu. Aku terimakasih banyak, karena kamu sudah menyayangi anakku sedemikian rupa. Sampai kamu rela menjaga dan merawat anakku saat sakit."

     "Itu bukan masalah Lila. Dia sudah seperti putriku. Aku tidak merasa dia mantuku," balas Bu Karina diimbuhi senyum yang tulus.

     Pak Idris tiba-tiba masuk, wajahnya terlihat merah padam. Hal itu membuat Ardana ketar-ketir. Jantungnya seketika berdebar sangat kencang.

     "Arda, di mana istri kamu, kenapa dia tidak Papa temukan? Kamu biarkan dia menaiki motor listrik? Gimana kalau ada apa-apa? Kamu ini benar-benar tidak perhatian. Keterlaluan!" semprot Pak Idris sudah diliputi emosi.

     Semua mata kini beralih pada Arda yang gemetar dan bingung. Keadaan Arda nyaris bukan seorang tentara yang tangguh seperti biasanya di lapangan. Melihat semua mata menatapnya dan menghakiminya atas ketidakadaan Nayra di mobil, sudah membuat Ardana seakan nyawanya melayang, apalagi jika mereka mendengar Nayra pergi.

     "Arda, di mana Nayra?" sentak Bu Karina marah, diliputi perasaan was-was yang mulai menggelayuti dadanya.

     "A~anu, Ma. Nayra, per~gi," akunya terbata, suaranya bergetar.

     "Pergi? Pergi ke mana? Maksud kamu pergi ke sini pakai motor listrik atau gimana sih? Jelaskan yang tenang, jangan seperti orang takut seperti itu," sentak Pak Idris memperingatkan.

     Ardana mulai mengatur napas, lalu perlahan menguatkan hati untuk bicara yang sejujurnya. Meskipun resiko terpahit akan ia terima saat ini juga.

     "Nak Arda, tolong jelaskan ke mana Nayra pergi, kenapa dia belum sampai?" Pak Kemal menimpali dengan sikap dibuat tenang.

     Ardana seakan mendapat kekuatan, lalu ia menghampiri Pak Kemal dan tiba-tiba bersimpuh. "Pak, maafkan Arda. Nayra...Nayra pergi."

     Pak Kemal terkejut karena Ardana bersimpuh di hadapannya dengan wajah penuh dosa. Begitu juga yang lain, menatapnya keheranan. Selain itu, kalimat yang diucapkan Ardana mulai dicurigai oleh semua.

     "Pergi ke mana maksudnya?" tanya Pak Kemal masih tenang, sembari mengangkat tangan Ardana supaya berdiri kembali.

     "Maafkan Arda, Pak. Nayra pergi. Nayra pergi dari rumah," ulang Ardana lebih lengkap.

     Pak Kemal dan semua saling lempar tatap satu sama lain. Tatapannya kini bukan lagi tatapan ketenangan, melainkan sebuah ketegangan.

     Pak Idris menghampiri Ardan, wajahnya sudah memerah sejak tadi dilengkapi urat-urat wajah yang mulai menegang. "Apa maksudmu? Jelaskan pergi ke mana dia. Pergi karena emosi atau pergi berlibur, jelaskan?" sentaknya.

    Semua tersentak kaget termasuk Pak Kemal yang berada tidak jauh dari Ardana.

     Bu Karina mendekat, tidak kalah emosi. "Katakan? Pergi ke mana, ke mana mantuku kau buat pergi?" Napas Bu Karina sudah turun naik.

     "Nayra...Nayra pergi entah ke mana? Arda sudah mencarinya ke semua biro perjalanan, tapi tidak ditemukan nama Nayra," sahutnya lemah, wajahnya menunduk.

     "Kurang ajar kamu, ini pasti karena kelakuanmu. Kamu yang sudah membuat dia pergi," tuduh Bu Karina sembari melayangkan telapak tangannya di wajah Ardana keras.

     Wajah Ardana terhempas saking kerasnya tamparan sang Mama.

     "Kamu sengaja memberi Mama kejutan di hari ulang tahun Mama? Ini kejutan terburuk sepanjang hidup Mama. Kamu kurang ajar, kamu keterlaluan," umpat Bu Karina lagi seraya melayangkan tangannya untuk yang kedua kali.

     Ardana tidak beranjak, hanya wajahnya yang bergerak karena tamparan Bu Karina. Ia sudah siap dengan semua resiko terpahit yang akan diterimanya. Ia mengaku salah.

     "Jadi, hari ini ulang tahun Mama? Maafkan Arda, Ma. Arda bahkan lupa dan sudah membuat hari ulang tahun Mama menjadi hari terburuk," gumamnya dalam hati penuh sesal.

1
Ade Chubi
kebanyakan readers kalo tokoh utama nya di khianati suami nya ,readers suka langsung nyuruh minta cerai 😁walopun gak dapet apa apa
Lina Zascia Amandia: Iya Kak betul. Gtegetan readersnya kayaknya...
total 1 replies
Boru Angin
lanjut enak cerita nya 👍
Lina Zascia Amandia: Silahkan Kak... 🙏🙏
total 1 replies
Boru Angin
aneh sekali punya suami kayak gitu
irma hidayat
cerita yang bagus
Tatan Utari
Apa ga salah Bandung / Bogor sampai 6 jam
vera tri
kesel liat nay ..terlalu lemah😢
vera tri
tinggali aj nay..ngapain menunggu orang yg tidak mencintai kita😢
Siti Saodah
pasti yng liatin itu si jalang Tiana
Siti Saodah
harusnya si Tama jangan menggangu rumah tangga nayra, meskipun dia dulu menemani nya dan cuma mau ketemu Nara,dia harusnya menghargai Arda
Siti Saodah
cukup Naira,kasian Arda dia sudah berusaha dan membuktikan kalau dia berubah
Siti Saodah
aku sampai nangis Thor di episode ini😭😭
Lina Zascia Amandia: Ya Allah, maafkan saya ya Kak, udah buat Kakak menangis... 😢😢😢🙏🙏
total 1 replies
Siti Saodah
tapi aku yakin kalau misalnya si Arda gak tau Tiana pernah hamil dia bakal tetep nikahi jalang nya itu
Siti Saodah
bodoh kalo kamu berfikir seperti itu nai,kamu rela di sakiti hanya karena punya mertua baik fikirkan kebahagiaan mu nai
Siti Saodah
dasar laki gak punya perasaan istri lagi demam bisa bisa nya di gagahi
Siti Saodah
ya lagian si nayra pengen banget di sentuh,udah tau kaki dingin gitu masih aja bertahan
Nok Denok
kirain cerita Bagus,,ga taunya cerita Oneng,,lebayy
Lina Zascia Amandia: Terimakasih Kakak. Maaf sudah lebay, karena si Onengnya udh ditinggal pergi oleh Bajuri...
total 1 replies
Zheevanya Putri
penulis ny lebay apa" d ksh note apa apa d note udah gitu pake curhat segala..
Lina Zascia Amandia: Hahhaa... maafkan saya yg lebay ya. Ini bentuk protes sy kepada pihak NT Kak. Masa iya nulis lelah2 tidak dpt reward. Maaf juga mental seseorang tdk sama satu sama lain. Mungkin saat kecewa sy bisanya lebay seperti apa yg kakak katakan. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sholawat Nariyah
AUTHOR MEMUAKKAN..
WANITA di jadikan objek perlakuan semena suami
Lina Zascia Amandia: Maaf ini hanya hiburan. Saya tidak bermaksud memberi kesan kalo wanita adalah objek semena2 suami. Kakak baca sampai tamat dong.
total 1 replies
Sholawat Nariyah
MEMUAKKAN, cerita ini cerminan dari diri Author yg menjadi Wanita lemah saat ada laki laki yg menginjak injak harga dirinya
Lina Zascia Amandia: Gak juga Kak, saya hanya memenuhi permintaan PF dengan tema Air Mata Pernikahan. Jangan terlalu menjudge dr tampilan isi tulisan ya Kakak cantik. Ini hanya hiburan, kalau gak sesuai jangan memojokkan penulisnya atau menuduh penulis seperti apa yang ditulisnya. Kalau tuduhan Kakak tdk sesuai, maka akan jadi dosa untuk kakak lho. Tapi berhubung saya gak mau menjadikan tulisan sy ini dosa bagi orang lain, saya maafkan Kakak saat ini juga agar saya gak menuntut Kakak kelak di akhirat. Alhamdulillah nama Kakak Sholawat Nariyah, banyak2 baca sholawat agar dpt syafaat dr Kanjeng Nabi Besar kita Muhammad SAW. Makasih kehadirannya ya Kakak cantik. Selamat dunia akhirat. 🙏🙏🙏
total 1 replies
Nok Denok
mampir Thor,, kayaknya bagus nih, tp letak paragraf awalannya sedikit mengganggu
Lina Zascia Amandia: Wah, makasih byk Kak.... paragraf awal? Ok, saya cek? Ganggunya di mananya, biar sy perbaiki. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!