Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas

     Lettu Sus Ardana, S.Psi., Psikolog, berdiri tegap di depan kaca, merapikan kerah seragam lorengnya untuk yang terakhir. Punggungnya yang lebar, memberi kesan betapa gagah dan tampannya pria itu. Seragam loreng yang kini melekat di tubuhnya, mengkilap terkena pantulan cahaya lampu, di langit-langit kamar. Menandakan begitu rapi dan licin seragamnya bak kaca tanpa goresan.

     Nayra berdiri di belakangnya, memegang salah satu sepatu lars yang baru saja selesai ia semir sampai mengkilap, sembari menatap punggung itu lalu mengukir senyum bangga dan penuh cinta. Sikap seperti itu yang sering Nayra perlihatkan, ketika melihat suaminya sudah siap dengan seragam kerjanya.

     Sepatu lars itu ia letakkan di lantai dengan hati-hati, lalu ia mendekat dan perlahan memeluk Ardana penuh kelembutan dan kerinduan.

     "Mas Ardana...." bisiknya lembut, berharap pelukan itu mendapat balasan.

     Ardana meraih pelan lengan kanan Nayra, lalu melepaskannya pelan juga. "Nayra, seragamku bisa kusut, dong," tegurnya sembari memutar tubuhnya perlahan.

     Nayra buru-buru menjauhkan kedua tangannya dari Ardana, ia seperti baru sadar kalau suaminya memang sangat ingin terlihat perfect dengan penampilannya. Terlebih dengan seragam yang kini melekat di tubuhnya.

     "Oh, maaf. Nay lupa."

     "Jangan dibiasakan," tegurnya lagi dingin, sembari meraih sepatu lars atau sepatu PDL yang sudah disemir mengkilap oleh Nayra.

     Ardana selesai menggunakan sepatu PDL nya, ia dengan cepat membalikkan badan menuju pintu kamar, diikuti Nayra. Tiba di pintu depan, Nayra segera meraih tangan Ardana seperti biasa. Meskipun Ardana selalu terlihat enggan Nayra melakukan itu.

     "Mas...."

     "Tidak perlu ada kejutan apa-apa, aku tidak suka. Lagipula aku pastikan pulang larut malam. Jadi, kamu tidak perlu menunggu. Ada pasien gangguan mental yang perlu aku tangani sore nanti di RSAU," ujarnya menyambar kalimat yang tadinya mau Nayra ucapkan.

     Nayra terpaku, matanya tertunduk ke bawah, wajahnya mendadak murung seketika. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Tapi, nanti bisa dipastikan akan pulang jam berapa?"

     "Aku tidak tahu. Ya sudah, aku harus segera berangkat," ujarnya lalu bergegas menuju mobilnya.

     Tanpa aba-aba atau kode apapun, Ardana pergi begitu saja, membawa mobilnya membelah jalanan kota menuju kesatuan di SeskoAU.

     Nayra menatap kepergian mobil berwarna navy itu dengan kecewa. Kecewa yang entah keberapa kali, ia pun tidak sempat menghitungnya.

     Helaan napas dalam terdengar, Nayra menutup kembali pintu depan itu perlahan.

     "Non Nayra, tamannya bisa saya bersihkan sekarang, kan?" Tiba-tiba sebuah suara perempuan paruh baya terdengar, menahan langkah kaki Nayra.

     "Bi Mimin? Boleh Bi, lagian tamannya sudah banyak ditumbuhi rumput liar. Taman belakang saja dulu, Bi," balas Nayra dengan sikap ramah.

     Bi Mimin merupakan ART paruh waktu, yang dibutuhkan sewaktu-waktu saja. Atau setiap dua minggu sekali diperbantukan di rumah ini untuk membantu Nayra membersihkan rumah. Sedangkan memasak dan mencuci pakaian serta menyetrika baju, Nayralah yang melakukan. Termasuk seragam loreng milik Ardana tadi.

     "Baik, Non." Bi Mimin segera bergegas menuju samping kanan rumah, menuju taman belakang.

     Nayra kembali melanjutkan langkahnya, ia menaiki tangga menuju kamarnya.

     Nayra termenung di bibir ranjang, hari ini adalah tepat tiga tahun usia pernikahannya bersama Ardana. Dulu, satu dan dua tahun usia pernikahan, Nayra selalu memberikan kejutan anniversary terhadap Ardana. Membuat kue anniversary berkarakter cinta dengan lilin berwarna pink di atasnya, kemudian menyiapkan makan malam romantis atau candle light dinner berdua.

     Namun, di kedua anniversary itu, sikap Ardana sama saja. Sama sekali tidak memperlihatkan bahagia. Ia tidak suka dengan surprise yang dianggapnya hanya buang-buang waktu dan tenaga. Nayra pikir, Ardana memang bukan tipe suami romantis, ia tidak suka merayakan moment penting, seperti ulang tahun pernikahan. Dia menganggapnya terlalu lebay.

     Dan tahun ini, tahun ketiga pernikahan mereka. Tidak ada lagi kejutan itu, yang biasa Nayra lakukan.

     "Aku tidak butuh kejutan seperti itu, hanya buang waktu dan duit. Mending kalau kamu beri aku kejutan, kehamilan misalnya," cetus Ardana tahun lalu dengan wajah tetap tidak berubah, dingin.

     Hati Nayra tercubit, entah yang keberapa kalinya Ardana membahas tentang kehamilan yang tidak kunjung datang. Padahal baik dirinya dan Ardana dinyatakan sehat.

     "Bagaimana bisa kehamilan itu cepat terjadi, kalau hubungan saja kami jarang?" curhatnya suatu kali di sebuah buku diary. Nayra tidak pernah bercerita mengenai masalah rumah tangganya pada siapapun, termasuk pada kedua orang tua maupun kakaknya. Baginya pantang bercerita urusan rumah tangga, toh yang menjalankan adalah mereka berdua.

     Siang berganti senja, saat Bi Mimin berpamitan karena pekerjaannya sudah purna. Taman belakang dan depan sudah dibersihkannya dari rumput liar.

     "Non Nayra, Bi Mimin pulang dulu. Terimakasih makanannya," ucap Bi Mimin berpamitan dengan bahagia, terlebih di tangannya selain memegang uang ia juga memegang kantong kresek berisi makanan dari Nayra.

     Malam pun datang. Tepat jam sembilan malam, Nayra yang belum bisa memejamkan mata, menuruni ranjang. Ia bergegas menuju dapur karena kehausan. Nayra tidak sedang menunggu Ardana, sesuai pesan pria itu.

     Setelah rasa haus itu hilang, sebelum tubuhnya berbalik menuju ruang tengah, Nayra mendengar deru halus mobil milik suaminya di halaman depan. Nayra terkejut, tadinya ia berpikir Ardana akan pulang lebih larut, tapi nyatanya tidak. Langkah Nayra memelan, bahkan ia sengaja membiarkan agar Ardana sampai lebih dulu di ruang tengah.

     Suara Ardana terdengar, seperti sedang menerima sebuah panggilan.

     Nayra berjalan mendekati tangga. Untuk menuju tangga, ia melewati ruang makan dan tengah. Saat suara Ardana semakin jelas di ruang tamu, tiba-tiba Nayra tergelitik penasaran, ingin menguping apa yang suaminya katakan.

     "Besok bisa berjumpa lagi di jam istirahat. Mas istirahat dulu, ya. Bye Tiana," ujarnya, mengakhiri sambungan telpon itu dengan bahagia. Kemudian ponsel yang sudah Ardana jauhkan dari telinganya itu, ia tatap dalam-dalam dengan senyum yang merekah di bibirnya.

     "Tiana...." desahnya penuh kerinduan.

     Nayra menutup mulutnya kuat-kuat, dadanya bergemuruh hebat dan jantungnya berdetak kencang, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.

     Baginya, kalimat yang suaminya ucapkan pada sosok Tiana itu seperti tidak biasa. Sementara ia, selama ini belum pernah mendapat perlakuan manis dari Ardana. Jangankan senyuman, sapaan lembut saja belum pernah.

     "Siapakah Tiana?" gumamnya lirih, bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan sangat sedih.

     "Nayra, kamu di sini? Kan sudah aku bilang tidak perlu menunggu aku pulang. Kamu ini keras kepala," ucap Ardana tiba-tiba.

     Nayra sempat kaget, karena ia tidak sadar kalau Ardana sudah berada di ruang tengah. Ardana berlalu begitu saja setelah ia menyapa Nayra barusan. Tidak ada sikap manis apapun yang dilakukan Ardana, kecuali dingin.

     Hari ulang tahun pernikahan yang ketiga ini, sepertinya tidak berbekas sama sekali bagi Ardana. Dia bahkan melewati Nayra begitu saja.

NB: Hai...selamat datang di karya baru saya. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa belum selesai kisah Syafira dan Haraz, sudah bikin karya baru?

Saya jawab, ya: "Kisah Syafira akan tetap saya upload sampai retensi benar-benar tercapai, sementara di statistik per bab 20, Noveltoon dengan cepat sudah menampilkan retensi karya saya dengan jumlah 0,57. Jauh dari kata terjangkau, harusnya 0,65. Selisihnya banyak banget, sehingga saya pesimis karya itu bakal lolos bab 20 terbaik.

     Seandainya dalam tiga hari ke depan retensi masih jeblok, maka saya menyerah. Karena jujur saja, karya saya akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan reward, meskipun kalian masih setia membaca.

     Sebagai penulis yang pembaca dan pengikutnya masih minim kaya saya, sedih melihat ini. Bukan saya tidak mau bertanggung jawab pada kalian sebagai pembaca, tapi saya sebagai penulis butuh penghargaan dari Noveltoon. Bisa sih saya lanjutkan kisah itu sampai 80 bab, tapi jujur saja, saya hanya akan buang-buang kuota begitu saja. Terlebih kuota IM3, saat ini sangat mahal. Ya Allah, sampai segitunya saya curhat.

Tapi tenang, karya Syafira kalau masih belum tercapai retensi juga, maka insya Allah akan saya pindahkan ke akun saya yang lain, tapi menunggu satu bulan, baru saya up kembali di akun saya yang satunya lagi. Mohon pengertian kalian. Saya hanya seorang penulis yang masih minim pembaca, yang berharap karya saya ini dihargai Noveltoon.

Tolong, dukung karya baru saya, ya. 🙏🙏🙏🙏😢😢😢😢

Terpopuler

Comments

Deera__

Deera__

emang suamimu itu gendeng dan aneh bin idiot Nay. jadi gk ush dimasukin ke hati. Cukup sekarang btasi diri. jangan berharap lebih. berharaplah dan serahkan semua pada Allah. ku jamin hidupmu tenang dan bahagia.

2026-08-14

2

Lisa Icha

Lisa Icha

ini di pertengahan tahun 2026 aku mungkin yg terakhir baca karyamu Thor.Jalan ceritanya mudah difahami semangat berkarya

2026-07-13

1

Nok Denok

Nok Denok

mampir Thor,, kayaknya bagus nih, tp letak paragraf awalannya sedikit mengganggu

2026-08-17

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2 Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3 Bab 3 Belahan Jiwa
4 Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5 Bab 5 Sebuah Perjodohan
6 Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7 Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8 Bab 8 Kecewa Nayra
9 Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10 Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11 Bab 11 Pergi Jauh
12 Bab 12 Tekad Iblis
13 Bab 13 Nayra Demam
14 Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15 Bab 15 Bu Karina Datang
16 Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17 Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18 Bab 18 Sembuh
19 Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20 Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21 Bab 21 Bukan Prioritas
22 Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23 Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24 Bab 24 Tidak Punya Empati
25 Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26 Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27 Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28 Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29 Bab 29 Buku Diary Nayra
30 Bab 30 Pencarian Ardana
31 Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32 Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33 Bab 33 Sebuah Petunjuk
34 Bab 34 Kota Makassar
35 Bab 35 Sebuah Artikel
36 Bab 36 Status Dalam KTP
37 Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38 Bab 38 Dilema dan Simalakama
39 Bab 39 Mengundurkan Diri
40 Bab 40 Dikejar Deadline
41 Bab 41 Garis Dua
42 Bab 42 Nayra Berterus Terang
43 Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44 Bab 44 Semua Kontak Hilang
45 Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46 Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47 Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48 Bab 48 Masih Belum Ketemu
49 Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50 Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51 Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52 Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53 Bab 53 Kegundahan
54 Bab 54 Tamu Tak Terduga
55 Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56 Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57 Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58 Bab 58 Dia Putrimu
59 Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60 Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61 Bab 61 Seperti Orang Asing
62 Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63 Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64 Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65 Bab 65 Mendekatkan Anara
66 Bab 66 Rumah Impian
67 Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68 Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69 Bab 69 Saling Memaafkan
70 Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71 Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72 Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73 Bab 73 Rencana Dua Besan
74 Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75 Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76 Bab 76 Sisa Semalam
77 Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78 Bab 78 Alasan
79 Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80 Bab 80 Bertemu Tama
81 Bab 81 Dinner Romantis
82 Bab 82 Dendam Tiana
83 Bab 83 Gebet Tama
84 Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85 Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86 Bab 86 Penjelasan Setyadi
87 Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88 Bab 88 Penolakan Tiana
89 Bab 89 Dimabuk Cinta
90 Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91 Bab 91 Bertemu Nepa
92 Bab 92 Tidak Akan Bosan
93 Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94 Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95 Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2
Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3
Bab 3 Belahan Jiwa
4
Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5
Bab 5 Sebuah Perjodohan
6
Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7
Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8
Bab 8 Kecewa Nayra
9
Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10
Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11
Bab 11 Pergi Jauh
12
Bab 12 Tekad Iblis
13
Bab 13 Nayra Demam
14
Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15
Bab 15 Bu Karina Datang
16
Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17
Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18
Bab 18 Sembuh
19
Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20
Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21
Bab 21 Bukan Prioritas
22
Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23
Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24
Bab 24 Tidak Punya Empati
25
Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26
Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27
Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28
Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29
Bab 29 Buku Diary Nayra
30
Bab 30 Pencarian Ardana
31
Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32
Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33
Bab 33 Sebuah Petunjuk
34
Bab 34 Kota Makassar
35
Bab 35 Sebuah Artikel
36
Bab 36 Status Dalam KTP
37
Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38
Bab 38 Dilema dan Simalakama
39
Bab 39 Mengundurkan Diri
40
Bab 40 Dikejar Deadline
41
Bab 41 Garis Dua
42
Bab 42 Nayra Berterus Terang
43
Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44
Bab 44 Semua Kontak Hilang
45
Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46
Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47
Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48
Bab 48 Masih Belum Ketemu
49
Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50
Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51
Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52
Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53
Bab 53 Kegundahan
54
Bab 54 Tamu Tak Terduga
55
Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56
Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57
Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58
Bab 58 Dia Putrimu
59
Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60
Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61
Bab 61 Seperti Orang Asing
62
Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63
Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64
Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65
Bab 65 Mendekatkan Anara
66
Bab 66 Rumah Impian
67
Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68
Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69
Bab 69 Saling Memaafkan
70
Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71
Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72
Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73
Bab 73 Rencana Dua Besan
74
Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75
Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76
Bab 76 Sisa Semalam
77
Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78
Bab 78 Alasan
79
Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80
Bab 80 Bertemu Tama
81
Bab 81 Dinner Romantis
82
Bab 82 Dendam Tiana
83
Bab 83 Gebet Tama
84
Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85
Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86
Bab 86 Penjelasan Setyadi
87
Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88
Bab 88 Penolakan Tiana
89
Bab 89 Dimabuk Cinta
90
Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91
Bab 91 Bertemu Nepa
92
Bab 92 Tidak Akan Bosan
93
Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94
Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95
Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!