Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal

     Ardana pergi tepat jam setengah dua siang, sepertinya ia memang akan memenuhi janji dengan orang yang berada di dalam telpon kemarin. Nayra baru keluar kamar mandi saat Ardana pergi. Langkahnya terlihat tergesa seperti pertemuan dan urusannya dnegan orang itu penting sekali.

     Nayra tidak menyusul, lagipula halal bihalal dirinya bersama teman-teman alumni Unikom akan segera dimulai.

     Tiba-tiba ponselnya berdering, di sana nama Nepa tertera.

     "Nay, kamu belum berangkat, kan? Aku lupa, kemarin nggak kasih tahu kalau halal bihalal kita ada dress codenya lho."

     "Aduh...gimana dong, padahal aku udah nyiapin baju, Nep. Aku punya warna favorit hijau sage dan kuning," balas Nayra.

     "Wah...kebetulan dong, dress codenya warna kuning, pokoknya yang bernuansa kuning deh," balas Nepa.

     Nayra sumringah, dia senang ternyata dress code yang dikatakan Nepa, tidak jauh dari warna favoritnya selama ini. Alhasil baju oneset yang pernah ia beli di toko online dua minggu yang lalu itu, akan ia pakai sekarang.

    "Kira-kira bagus nggak ya?" gumamnya bertanya sendiri.

     "Oh ya Nay." Suara Nepa ternyata masih ada dalam saluran telpon. Nayra sampai terkejut, dia tidak sadar kalau sejak tadi Nepa terlupakan akibat ia terlalu senang karena dress code yang akan dipakai halal bihalal hari ini menggunakan salah satu warna favoritnya.

     "Ya Nep?"

     "Berhubung kamu sudah menikah, jangan lupa dandanannya masih harus sama kayak dulu saat masih mahasiswi. Kali aja kalau udah nikah, dandananmu berubah style jadi kayak emak-emak."

     Nayra tertawa kecil. Sejak menikah, ia memang jarang berdandan seperti dulu saat masih kuliah. Dulu blush on dan perona mata juga cela mata wajib ia pakai. Stylenya ngiblat kekorea-koreaan, maklum anak muda yang sedang hits-hitsnya demam K-pop. Dandanan ala-ala Korea saat itu memang paling Nayra gemari.

     Kini, di rumah, Nayra cukup memakai pelembab serta bedak saja dan lipbalm untuk menutupi bibirnya agar tidak pecah-pecah. Kalau ia berdandan menor ala emak-emak seklipun, Nayra yakin Ardana tidak akan mau meliriknya.

     "Ih...Nepa...ya nggak dong. Aku masih suka dandanan kayak korea-korea lho. Hanya karena setelah menikah aku jarang keluar, jadi aku nggak pernah lagi gunakan alat tempur make-up ala Koreaku di rumah."

     "Ya udah, buruan dandannya lho. Kita-kita sedang on the way ke Aoka. Oh ya, kamu mau aku jemput atau datang sendiri saja?" Nepa.

     "Aku datang sendiri saja. Aku pakai motor listrik kok."

     "Ok, aku tunggu." Nepa mengakhiri sambungan telponnya.

     Kini Nayra harus segera bersiap, sebab sebentar lagi jam dua akan tiba.

     Nayra masih ingat dandanan yang dulu sering ia tampilkan. Beberapa saat kemudian, diapun sudah menjelma bak seorang artis Korea versi hijaber. Pakaian one set berwarna kuning yang melekat di tubuhnya, dilengkapi kardigan berwarna kuning seulas itu, semakin memancarkan kecantikannya yang selama ini ia sembunyikan di dalam rumah itu.

     Sebelum berangkat, Nayra melengkapi tampilannya. Tas selempang berwarna krem dan heels lima senti yang senada dengan warna tas selempang, kini melekat di tubuhnya. Setelah itu, ia segera bergegas menuju motor listrik yang sudah siap ia pakai di depan rumah.

     "Akhirnya Nay, kamu sampai juga." Nepa menyambut kedatangan Nayra dengan suka cita, disusul yang lain. Mereka sama-sama histeris saat Nayra datang. Begitupun Nayra, diapun histeris karena sejak menikah hampir kehidupannya ia habiskan hanya di rumah saja.

     "Nay, kangen banget. Lama kita tidak berjumpa," seru Gladis teman Nepa yang lain sembari cium pipi kanan dan kiri Nepa. Teman-teman Nepa yang lain sudah berdatangan, lelaki dan perempuan. Mereka saling memuji dan masih sama seperti dulu. Hanya status saja yang membedakan, Nayra dan hanya beberapa teman sudah menjadi istri. Sementara Nepa dan sebagian yang lain masih single.

     "Wah...kamu cantik banget, Nay. Kenapa nggak ajak sekalian suami kamu. Itu Repa juga bawa suami," ucap Nepa sambil melirik ke arah Repa teman mereka yang lain.

     "Kebetulan suami aku sibuk Nep. Jadi, nggak bisa ikut serta dalam halal bihalal ini." Nayra memberi alasan. Padahal di dalam hatinya berkata bahwa suaminya sibuk bertemu dengan orang lain yang ditelpon semalam.

     "Oh, ya, sudah. Nggak apa-apa kalau nggak bisa. Ayo, sebaiknya kita mulai mengikuti acara." Nepa mengajak Nayra menduduki salah satu meja yang sudah disediakan di sana.

     Halal bihalal alumni Unikom itu dimulai, diawali sambutan salah satu teman sesama alumni, kemudian acara dilanjutkan dengan makan-makan dengan suasana yang hangat.

     Keseruan di acara halal bihalal itu tercipta. Suasana kekeluargaan semakin terasa saat sesama alumni satu sama lain saling melempar pertanyaan pada sesama temannya. Pertanyaan itu dilemparkan melalui sebuah kotak yang di dalamnya ada kertas pertanyaan. Kotak itu akan dioper sambil diiringi suara musik. Saat musik itu berhenti, maka kotak itupun harus berhenti dioper.

     Sudah beberapa kali putaran terlewati, Nayra belum mendapat giliran. Namun entah putaran yang keberapa, musik tiba-tiba berhenti saat kotak pertanyaan itu tiba di tangan Nayra.

     Nayra sedikit tersentak. Namun, ia buru-buru membuka kotak itu dan membaca pertanyaan di dalamnya.

     "Jawab statusmu saat ini apa, dan apakah saat ini kamu sangat bahagia?"

     Pertanyaan itu sungguh membuat Nayra sangat kaget, ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan kedua.

     "Jawab, jawab, jawab...." Semua teman-teman Nayra riuh dengan mata menatap ke arahnya.

     Nayra kikuk, ia bingung harus menjawab apa.

     "Nay, kamu tinggal jawab saja. Kalau kamu tidak bahagia kenapa, dan kalau bahagia kenapa juga?" desak Nepa memaksa. Lengannya mendorong-dorong lengan Nayra supaya segera memberikan jawaban.

     Akhirnya Nayra menjawab dengan sangat meyakinkan. "Status aku saat ini seorang istri. Aku sangat bahagia, karena kami saling mencintai. Walaupun kami belum diberi momongan," jawabnya penuh kebohongan. Namun, semua itu membuat semua teman-temannya di sana riuh kembali, percaya dan memuji Nayra.

     "Selamat ya Nay, semoga kamu segera diberi momongan. Tentu saja kebahagiaan itu pasti akan berlipat ganda," sela Nepa.

     "Sebentar, ya. Sepertinya itu kakak aku, deh." Nepa berjingkat dari kursinya, lalu bergegas menuju seseorang yang barusan dia bilang adalah kakaknya.

     Nepa kembali ke kursinya beberapa saat kemudian. "Tadi, kakak aku habis pulang dari terapi. Mampir sejenak ke Aoka," ujarnya tanpa ditanya.

     Tepat jam lima sore, acara halal bihalal itu selesai. Motor Nayra sudah tiba di depan rumah. Ia sedikit terkejut, sebab mobil Ardana sudah berada di dalam halaman rumah.

     Nayra membuka pintu itu pelan-pelan, baru saja ia akan mengucap salam, tiba-tiba suara bariton dengan berat menyapa Nayra. "Baru pulang kamu?"

NB: Hai teman-teman Readers, catatan ya buat teman-teman:

- Watak Nayra memang lemah lembut, tapi tegar. Di sini saya membangun sikap maupun watak Nayra memang seperti itu. Kenapa Nayra tidak melawan atau keras? Ah, jadi malas baca? Karena Nayra wataknya memang lembut, dan bukan pemberontak. Tapi, poin yang paling penting adalah "Lemah tapi mematikan". Silahkan kalian ikuti kisahnya, dan kalian akan menemukan poin itu di bab-bab berikutnya.

     Jadi, saya mohon, jangan mundur dulu ya teman, please. Saya bukan sekedar menjajakan hiburan, akan tetapi akan ada nilai plusnya. Di kisah ini bersabarlah saya buat karakter Nayra seperti itu. Di lain kesempatan saya juga bakal membuat karya yang ceweknya keras. Percayalah, kisah ini atau karya ini, tidak melulu menonjolkan sisi lemah perempuan yang dijodohkan kemudian tidak dicintai. Namun, akan ada buah dari kesabaran, dan penyesalan yang dipetik.

     Pokoknya, saya mohon jangan kabur dulu. Maksimal 80 bab untuk memenuhi permintaan pihak No vel Toon, untuk karya yang ikutan lomba. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰

Jangan lupa dukungannya.....🤞🤞

     

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

sabarr ya nayra ,pernikahan karena di jodoh kan ngk semua buruk ,tapi ...mungkin di sini nasib mu kurang baik punya suami pilihan org tua yg ngk cinta pada mu ,sabar ya nay ,jika kmu sdh ngk betah juga sdh capek dgn semua perlakuan suamu letnan mu yg durjana lebih baik pergi jauh dri nya ,dan cari kebahagiaan mu ssndiri

2026-03-28

3

Ade Chubi

Ade Chubi

kebanyakan readers kalo tokoh utama nya di khianati suami nya ,readers suka langsung nyuruh minta cerai 😁walopun gak dapet apa apa

2026-08-27

1

Yuliana Tunru

Yuliana Tunru

ayo nay selidiki semua perselingkuhan arda jika mmg sdh tak ada yg nisa diselamatkan cerai z lah jgn niarkan dirimu cm dianhhap pajangan cari bahagoamu qalaupun dgn melepas arda

2026-03-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2 Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3 Bab 3 Belahan Jiwa
4 Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5 Bab 5 Sebuah Perjodohan
6 Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7 Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8 Bab 8 Kecewa Nayra
9 Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10 Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11 Bab 11 Pergi Jauh
12 Bab 12 Tekad Iblis
13 Bab 13 Nayra Demam
14 Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15 Bab 15 Bu Karina Datang
16 Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17 Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18 Bab 18 Sembuh
19 Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20 Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21 Bab 21 Bukan Prioritas
22 Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23 Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24 Bab 24 Tidak Punya Empati
25 Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26 Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27 Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28 Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29 Bab 29 Buku Diary Nayra
30 Bab 30 Pencarian Ardana
31 Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32 Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33 Bab 33 Sebuah Petunjuk
34 Bab 34 Kota Makassar
35 Bab 35 Sebuah Artikel
36 Bab 36 Status Dalam KTP
37 Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38 Bab 38 Dilema dan Simalakama
39 Bab 39 Mengundurkan Diri
40 Bab 40 Dikejar Deadline
41 Bab 41 Garis Dua
42 Bab 42 Nayra Berterus Terang
43 Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44 Bab 44 Semua Kontak Hilang
45 Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46 Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47 Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48 Bab 48 Masih Belum Ketemu
49 Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50 Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51 Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52 Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53 Bab 53 Kegundahan
54 Bab 54 Tamu Tak Terduga
55 Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56 Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57 Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58 Bab 58 Dia Putrimu
59 Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60 Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61 Bab 61 Seperti Orang Asing
62 Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63 Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64 Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65 Bab 65 Mendekatkan Anara
66 Bab 66 Rumah Impian
67 Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68 Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69 Bab 69 Saling Memaafkan
70 Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71 Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72 Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73 Bab 73 Rencana Dua Besan
74 Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75 Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76 Bab 76 Sisa Semalam
77 Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78 Bab 78 Alasan
79 Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80 Bab 80 Bertemu Tama
81 Bab 81 Dinner Romantis
82 Bab 82 Dendam Tiana
83 Bab 83 Gebet Tama
84 Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85 Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86 Bab 86 Penjelasan Setyadi
87 Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88 Bab 88 Penolakan Tiana
89 Bab 89 Dimabuk Cinta
90 Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91 Bab 91 Bertemu Nepa
92 Bab 92 Tidak Akan Bosan
93 Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94 Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95 Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2
Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3
Bab 3 Belahan Jiwa
4
Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5
Bab 5 Sebuah Perjodohan
6
Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7
Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8
Bab 8 Kecewa Nayra
9
Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10
Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11
Bab 11 Pergi Jauh
12
Bab 12 Tekad Iblis
13
Bab 13 Nayra Demam
14
Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15
Bab 15 Bu Karina Datang
16
Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17
Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18
Bab 18 Sembuh
19
Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20
Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21
Bab 21 Bukan Prioritas
22
Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23
Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24
Bab 24 Tidak Punya Empati
25
Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26
Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27
Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28
Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29
Bab 29 Buku Diary Nayra
30
Bab 30 Pencarian Ardana
31
Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32
Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33
Bab 33 Sebuah Petunjuk
34
Bab 34 Kota Makassar
35
Bab 35 Sebuah Artikel
36
Bab 36 Status Dalam KTP
37
Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38
Bab 38 Dilema dan Simalakama
39
Bab 39 Mengundurkan Diri
40
Bab 40 Dikejar Deadline
41
Bab 41 Garis Dua
42
Bab 42 Nayra Berterus Terang
43
Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44
Bab 44 Semua Kontak Hilang
45
Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46
Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47
Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48
Bab 48 Masih Belum Ketemu
49
Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50
Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51
Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52
Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53
Bab 53 Kegundahan
54
Bab 54 Tamu Tak Terduga
55
Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56
Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57
Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58
Bab 58 Dia Putrimu
59
Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60
Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61
Bab 61 Seperti Orang Asing
62
Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63
Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64
Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65
Bab 65 Mendekatkan Anara
66
Bab 66 Rumah Impian
67
Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68
Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69
Bab 69 Saling Memaafkan
70
Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71
Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72
Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73
Bab 73 Rencana Dua Besan
74
Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75
Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76
Bab 76 Sisa Semalam
77
Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78
Bab 78 Alasan
79
Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80
Bab 80 Bertemu Tama
81
Bab 81 Dinner Romantis
82
Bab 82 Dendam Tiana
83
Bab 83 Gebet Tama
84
Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85
Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86
Bab 86 Penjelasan Setyadi
87
Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88
Bab 88 Penolakan Tiana
89
Bab 89 Dimabuk Cinta
90
Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91
Bab 91 Bertemu Nepa
92
Bab 92 Tidak Akan Bosan
93
Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94
Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95
Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!