Bab 3 Belahan Jiwa

     Kain hasil rajutan tangan Nayra tergantung cantik di dinding. Digantung dengan hanger yang dikaitkan ke atas paku. Ia menatapnya lama. Betapa ia mengagumi hasil karyanya sendiri. Seorang bocah perempuan tersenyum memegang sekuntum bunga dahlia kesukaan Nayra.

     "Kapan kamu hadir, Nak? Mama sudah ingin ditemani kamu, untuk menemani Mama menyulam, menulis atau sekedar mencurahkan isi hati Mama?" gumamnya bertanya pada gambar wajah bocah perempuan yang berhasil ia gambarkan dari hasil kolaborasi beberapa benang rajutannya.

     Bocah dalam kain rajutan itu seperti tersenyum, ia seakan berkata 'sabar Mama, aku sedang berjalan menuju Mama'.

     Lamunan Nayra buyar begitu saja, ia buru-buru mengucap istighfar. Nayra sadar, ia sudah terlalu jauh. Mengajaknya bicara gambar dalam rajutan itu, sudah salah. Ia seperti mulai terobsesi dan merasa jenuh harus menunggu dua garis merah itu muncul di alat tes kehamilan.

     "Ya Allah, maafkan hamba," ucapnya lirih sembari menyeka air mata yang mulai turun.

     "Kapan rahim ini ditumbuhi janin? Jangan sampai perempuan yang bernama Tiana itu merebut hati Mas Arda. Seandainya aku sudah hamil, mungkin saja Mas Arda akan berubah sikap. Aku yakin, Mas Arda akan menghangat. Sebab dia sudah beberapa kali mempertanyakan kehamilanku."

     "Kapan dong rahim kamu hamil?" ulangnya lagi mempertanyakan pertanyaan yang sama pada rahim yang saat ini diusapnya. Air mata Nayra kembali menetes. Ia tidak sanggup menahan perasaan sedih karena harus menunggu kapan ia akan hamil.

     "Ting."

     Notifikasi pesan WA berdering, Nayra segera meraih ponselnya lalu membuka aplikasi hijau itu.

     Pesan dari Nepa tertera di sana.

     "Nay, besok sore ada halal bihalal alumni Unikom, kamu datang ya. Dekat kok di kafe sebelah Aoka."

     Nayra berpikir sejenak, lalu ia mulai membalas pesan dari Nepa salah satu teman terdekatnya sejak SMP.

     "Aku nggak janji, ya, Nep. Kalau ada izin dari suami, aku pasti datang. Tapi kalau nggak, jangan ditungguin ya."

     "Ok. Ajak saja suami kamu sekalian. Banyak kok yang bawa pasangannya." Nepa membalas.

     "Baiklah, kita lihat saja besok, ya."

     Balasan terakhir itu menjadi penutup pesan WA antara Nayra dan Nepa. Nayra meletakkan ponselnya di atas meja. Nayra kembali dengan kesibukannya. Kini ia mulai menulis, menulis sebuah kisah yang persis dengan apa yang dirasakan saat ini.

     Bahkan dari hobby menulis itu, Nayra sudah berhasil menerbitkan buku. Namun hanya dicetak untuk pribadi saja, tidak untuk disebarluaskan.

     Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Nayra bangkit. Sebelum meninggalkan ruangan yang ia beri nama Sanggar Mini, yang luasnya kurang lebih 4x4 itu, ia kembali menatap gambar di dalam kain hasil rajutannya tadi. Gambar bocah perempuan yang tersenyum padanya dengan sekuntum bunga dahlia di tangan. Tanpa sadar, tangannya kembali merayapi perut rampingnya, yang entah kapan akan ditumbuhi janin.

***

     Malam mulai merayap, jam di dinding sudah menyentuh angka sepuluh. Nayra gelisah, sebab suaminya masih belum pulang. Tidak ada pesan apa-apa dari Ardana seperti saat di hari anniversary yang ketiga. Berhubung Nayra belum bisa memejamkan mata, ia kembali keluar kamar, menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Di sana ia membuka gorden sedikit, mengintip siapa tahu suaminya sudah menunjukkan tanda-tanda pulang.

     Lima menit kemudian, suara deru mobil Ardana mulai terdengar. Benar saja, itu mobil Ardana. Ia menuruni mobil, lalu membuka pagar rumah, tidak lupa tangan kanannya memegang ponsel yang ia tempelkan di daun telinga kanan.

     Nayra saat itu bingung, apakah ia harus menyambutnya atau tidak? Sementara Ardana selalu membawa kunci rumah sendiri dan selalu berpesan kalau pintu cukup dikunci saja lalu kuncinya harus dicabut dari lubang kunci. Nayra mematuhi semua perintah Nayra. Dan saat ini, dia sedang bingung. Apa yang harus dia lakukan?

     Namun, ketika tubuh Ardana sudah berada di depan pintu, Nayra segera menjauh lalu buru-buru menuju kamar. Di sana ia membaringkan tubuh, pura-pura tertidur pulas. Bahkan napasnya sejenak ia atur, supaya benar-benar seperti orang tidur.

     "Krietttt...."

     Suara pintu kamar terdengar dibuka, derap langkah kaki Ardana mulai mendekat.

     Ardana berdiri menatap tubuh yang terbaring di atas ranjang. Nayra terlihat sudah tertidur pulas di sana. Sementara itu, ponsel Ardana masih menyala.

     "Gimana, tadi hasilnya sudah bagus belum?" Ardana berbicara dalam telpon.

     "Lumayan, Mas. Tapi, kenapa tadi Mas Arda tidak bisa menemui aku?" sambut suara di ujung telpon sana. Meski tidak diloudspeaker, tapi Nayra mampu mendengarnya.

     "Tiana, Mas tadi ada juga pasien di klinik Sesko. Ada calon penerbang yang mesti di cek kesiapan psikologis dan mentalnya. Besok ketemu, ya. Mumpung Mas week end," balasnya mesra.

     "Ok deh Mas, aku tunggu."

     "Baik belahan jiwa. Sampai jumpa besok." Ardana mengakhiri percakapannya di dalam telpon. Kemudian ia melangkah menuju ruang ganti untuk membuka seragamnya di sana. Seharian ini, ia sungguh lelah dengan pekerjaan, banyak siswa calon penerbang yang dievaluasi psikologis.

     Nayra yang sejak tadi hanya pura-pura tidur, menangis dalam diam ketika ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ardana di telpon pada seseorang. "Belahan jiwa?". Sementara dirinya, sepertinya hanya dianggap bayangan yang numpang tinggal di rumah ini oleh Ardana.

     Sakitttt sekali, hati Nayra benar-benar sakit. Tapi, ia mencoba menahan semua. Dia tetap berpura-pura tertidur pulas.

     Lima belas menit kemudian, Ardana mulai menaiki ranjang. Ia mendekat, lalu meraih bahu Nayra. Wajahnya sedikit menunduk, mengintip wajah Nayra yang diduganya pulas. Hati Ardana tiba-tiba berdesir hebat, ketika melihat wajah Nayra terlihat sangat sedih. Ia seakan baru melihat kesedihan di wajah Nayra.

     Ardana kembali ke posisi semula, ia membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.

     Keesokan harinya. Sikap Nayra berusaha biasa, ia menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya. Kebetulan hari ini Ardana juga libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Nayra selalu bersemangat jika akhir pekan, melayani Ardana dengan pelayanan terbaiknya, meskipun Ardana tetap bersikap dingin dan datar.

     "Mas, nanti siang sekitar jam dua, Nay ada acara halal bihalal bersama teman alumni kampus, Mas Arda bisa temani Nay, tidak?" tanya Nayra sesaat setelah mereka menyudahi sarapan pagi.

     "Apa, halal bihalal? Jam dua? Aku sepertinya tidak bisa, aku ada janji dengan salah satu pasien di RSAU."

     "Bukannya, Mas Arda libur?" Nayra masih menyimpan penasaran, padahal ia sudah tahu jawaban apa yang akan Ardana berikan.

     "Iya, tapi aku terlanjur ada janji. Kamu pergi halal bihalal saja sendiri. Aku tidak akan sempat untuk menemani kamu. Lagian, tumben-tumbenan kamu ada acara seperti itu di luar rumah, biasanya juga tidak?" balas Ardana.

     "Oh, ya, sudah kalau Mas Arda tidak bisa. Berarti nanti Nay boleh pergi, Mas?" tanyanya meyakinkan.

     "Kan sudah aku bilang, pergi saja. Di mana acaranya?"

     "Dekat, Mas. Di samping Aoka," sahut Nayra dengan wajah menunduk, ia kecewa ternyata Ardana lebih memilih pergi dengan orang yang berada di dalam percakapan telponnya.

     "Apalagi dekat. Buat apa harus ditemani aku?" dengusnya sambil berlalu.

     Nayra tercenung sedih. Ajakannya tidak berarti apa-apa dibanding ajakan dari seseorang yang disebut Ardana 'belahan jiwa'.

Jangan lupa dukungan dan ingat, bagi pembaca baru maupun lama yang belum follow Author, silahkan follow ya. Selamat membaca.

Bagaimana di bab 3 Nayra sudah sangat menyedihkan belum ya?

Terpopuler

Comments

Ayudya

Ayudya

oh ayolah nay jangan bodoh jadi wanita lebih baik tinggalkan tu laki yg ga punya perasaan ke kamu.jangan mau jadi pecundang cinta tuk laki yg ga bisa jaga perasaan kamu.emosi aku jadinya😡😡😡😡

2026-03-28

1

Nar Sih

Nar Sih

sedihhh😭😭kakk bikin nayra pergi aja kak dri suami durjana nya yg kata nya dr psikolog yg suka bantu pasien depresi tpi gk bisa nyembuhin dirinya sendiri🤣🤣

2026-03-28

1

Alfianti Shidqiyyah

Alfianti Shidqiyyah

lumayan menyesakkan dada thor...
tpi jangan di bikin lemah ya nairanya... udah bosen karakter lemah di tv juga...🙏

2026-03-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2 Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3 Bab 3 Belahan Jiwa
4 Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5 Bab 5 Sebuah Perjodohan
6 Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7 Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8 Bab 8 Kecewa Nayra
9 Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10 Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11 Bab 11 Pergi Jauh
12 Bab 12 Tekad Iblis
13 Bab 13 Nayra Demam
14 Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15 Bab 15 Bu Karina Datang
16 Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17 Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18 Bab 18 Sembuh
19 Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20 Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21 Bab 21 Bukan Prioritas
22 Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23 Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24 Bab 24 Tidak Punya Empati
25 Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26 Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27 Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28 Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29 Bab 29 Buku Diary Nayra
30 Bab 30 Pencarian Ardana
31 Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32 Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33 Bab 33 Sebuah Petunjuk
34 Bab 34 Kota Makassar
35 Bab 35 Sebuah Artikel
36 Bab 36 Status Dalam KTP
37 Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38 Bab 38 Dilema dan Simalakama
39 Bab 39 Mengundurkan Diri
40 Bab 40 Dikejar Deadline
41 Bab 41 Garis Dua
42 Bab 42 Nayra Berterus Terang
43 Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44 Bab 44 Semua Kontak Hilang
45 Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46 Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47 Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48 Bab 48 Masih Belum Ketemu
49 Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50 Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51 Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52 Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53 Bab 53 Kegundahan
54 Bab 54 Tamu Tak Terduga
55 Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56 Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57 Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58 Bab 58 Dia Putrimu
59 Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60 Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61 Bab 61 Seperti Orang Asing
62 Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63 Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64 Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65 Bab 65 Mendekatkan Anara
66 Bab 66 Rumah Impian
67 Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68 Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69 Bab 69 Saling Memaafkan
70 Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71 Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72 Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73 Bab 73 Rencana Dua Besan
74 Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75 Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76 Bab 76 Sisa Semalam
77 Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78 Bab 78 Alasan
79 Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80 Bab 80 Bertemu Tama
81 Bab 81 Dinner Romantis
82 Bab 82 Dendam Tiana
83 Bab 83 Gebet Tama
84 Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85 Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86 Bab 86 Penjelasan Setyadi
87 Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88 Bab 88 Penolakan Tiana
89 Bab 89 Dimabuk Cinta
90 Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91 Bab 91 Bertemu Nepa
92 Bab 92 Tidak Akan Bosan
93 Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94 Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95 Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1 Tiga Tahun Seakan Tidak Berbekas
2
Bab 2 Wangi Parfum Wanita
3
Bab 3 Belahan Jiwa
4
Bab 4 Sebuah Pertanyaan di Acara Halal Bihalal
5
Bab 5 Sebuah Perjodohan
6
Bab 6 Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Nayra
7
Bab 7 Semua Perbincangan Itu Didengar Nayra
8
Bab 8 Kecewa Nayra
9
Bab 9 Sebuah Ancaman Untuk Ardana
10
Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
11
Bab 11 Pergi Jauh
12
Bab 12 Tekad Iblis
13
Bab 13 Nayra Demam
14
Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
15
Bab 15 Bu Karina Datang
16
Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
17
Bab 17 Igauan Nayra, Ancaman Bu Karina
18
Bab 18 Sembuh
19
Bab 19 Lagi-lagi Tiana Ngamuk
20
Bab 20 Kekhawatiran Nepa
21
Bab 21 Bukan Prioritas
22
Bab 22 Nayra Menepati Janjinya
23
Bab 23 Tiana Kakaknya Nepa?
24
Bab 24 Tidak Punya Empati
25
Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
26
Bab 26 Permintaan Tiana (Direvisi)
27
Bab 27 Hal Yang Tak Biasa
28
Bab 28 Benar-benar Pergi/ Kuretisasi Tiana Ketahuan
29
Bab 29 Buku Diary Nayra
30
Bab 30 Pencarian Ardana
31
Bab 31 Kejutan Ulang Tahun Bu Karina
32
Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga
33
Bab 33 Sebuah Petunjuk
34
Bab 34 Kota Makassar
35
Bab 35 Sebuah Artikel
36
Bab 36 Status Dalam KTP
37
Bab 37 Berkas Pengajuan Gugatan Cerai
38
Bab 38 Dilema dan Simalakama
39
Bab 39 Mengundurkan Diri
40
Bab 40 Dikejar Deadline
41
Bab 41 Garis Dua
42
Bab 42 Nayra Berterus Terang
43
Bab 43 Cobaan Apa Lagi?
44
Bab 44 Semua Kontak Hilang
45
Bab 45 Meet And Great Beranda Makassar
46
Bab 46 Kembali Setelah 30 Hari
47
Bab 47 Pecarian Pulau Sumatera
48
Bab 48 Masih Belum Ketemu
49
Bab 49 Sebuah Bunga Tidur Tentang Ardana
50
Bab 50 Ancaman Desersi Dan Sakitnya Sang Mama
51
Bab 51 Kekosongan Yang Semakin Hampa
52
Bab 52 Cerita Tentang Ardana
53
Bab 53 Kegundahan
54
Bab 54 Tamu Tak Terduga
55
Bab 55 Pertemuan Keluarga dan Penjelasan Nayra
56
Bab 56 Ketegangan Yang Terurai
57
Bab 57 Mendatangi Rumah Mertua
58
Bab 58 Dia Putrimu
59
Bab 59 Akan Aku Perjuangkan Kembali
60
Bab 60 Maafkan Aku, Beri Aku Kesempatan Sekali Lagi
61
Bab 61 Seperti Orang Asing
62
Bab 62 Senyum Sang Mama Yang Kembali
63
Bab 63 Tidak Mau Terlihat Malu
64
Bab 64 Membangun Rumah Kecil dan Kopi Untuk Papa
65
Bab 65 Mendekatkan Anara
66
Bab 66 Rumah Impian
67
Bab 67 Antar Makan Malam Untuk Papa
68
Bab 68 Aku Benci Ardana Yang Dulu
69
Bab 69 Saling Memaafkan
70
Bab 70 Pindah Rumah dan Kalimat Cinta
71
Bab 71 Sarapan Pagi Pertama di Rumah Baru
72
Bab 72 Percikan Api Kesalahpahaman
73
Bab 73 Rencana Dua Besan
74
Bab 74 Komen Pembaca dan Haters
75
Bab 75 Marah Mengundang Gelora
76
Bab 76 Sisa Semalam
77
Bab 77 Seperti Pengantin Baru
78
Bab 78 Alasan
79
Bab 79 Kehangatan Malam dan Rasa Cemburu
80
Bab 80 Bertemu Tama
81
Bab 81 Dinner Romantis
82
Bab 82 Dendam Tiana
83
Bab 83 Gebet Tama
84
Bab 84 Kebahagiaan Dua Keluarga
85
Bab 85 Menemui Kapten Pilot Setyadi
86
Bab 86 Penjelasan Setyadi
87
Bab 87 Janji dan Kesungguhan Setyadi
88
Bab 88 Penolakan Tiana
89
Bab 89 Dimabuk Cinta
90
Bab 90 Kehangatan di Kota Hujan
91
Bab 91 Bertemu Nepa
92
Bab 92 Tidak Akan Bosan
93
Bab 93 Masih Terkenang Masa Lalu
94
Bab 94 Kehamilan yang Tidak Diduga (tamat)
95
Karya Baru; Judul : Jadi Ibu Tiri dari Anak Sang Kapten Dingin, Karena Hutang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!