Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:511.1k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MULAI TUMBUH

Nico tertegun sejenak, dan mengedip-ngedip kan matanya tidak percaya.

Seumur hidupnya melayani Kaisar Zane, baru kali ini beliau menanyakan hal yang berbau wanita.

"M-maksud Anda... Lady Aura, Yang Mulia?" bisik Nico hati-hati, takut salah bicara dan berujung kepalanya dipenggal.

Kaisar Zane tidak menjawab, tapi kilatan di mata hitamnya sudah cukup menjadi jawaban pasti bagi Nico.

Nico menyunggingkan senyum tipis, mencoba menahan tawa kecilnya agar tidak ketahuan.

"Tentu saja tidak ada, Yang Mulia," jawab Nico sejujurnya.

"Seluruh wanita bangsawan di kekaisaran ini pasti akan berlutut dan bersujud jika Anda menawarkan posisi Permaisuri," lanjut Nico penuh penekanan.

Kaisar Zane mendengus sinis, menyilangkan kedua tangannya di atas meja.

"Gadis itu terlalu angkuh," cibir Kaisar Zane dingin.

"Dia pikir dia bisa membereskan semua musuhnya sendirian tanpa bantuan dari takhta," lanjut sang Kaisar, walau di balik kata-kata dinginnya itu, ada rasa kagum yang amat besar.

Nico memberanikan diri maju satu langkah, menatap sang Kaisar yang biasanya tidak pernah peduli pada siapa pun.

"Tapi bukankah itu alasan Anda memilih Lady Aura, Yang Mulia?" pancing Nico pelan.

"Lady Aura tidak mengincar harta atau kekuasaan Anda seperti wanita lain, beliau punya harga diri yang sangat tinggi," lanjut Nico menjelaskan.

Kaisar Zane diam membisu, tatapannya melayang menatap cangkir teh di sudut meja yang sudah dingin.

Pria yang sudah berusia tiga puluh lima tahun itu menghela napas panjang.

Selama ini, seluruh wanita yang mendekatinya selalu memandangnya dengan tatapan takut, tunduk, atau penuh dengan rasa haus akan harta kekuasaan.

Tapi Aura beda.

Gadis berusia dua puluh tahun itu menatapnya lurus-lurus, menantang nya tanpa rasa takut, dan bahkan tidak ragu mengancam akan menusuknya jika dia bertindak lancang.

Tatapan mata tajam yang berani itu justru berhasil menembus benteng yang selama puluhan tahun menyelimuti hati sang Kaisar.

"Dia bilang... aku pria tua yang tidak beretika," ucap Kaisar Zane mendadak, membuat Nico hampir tersedak ludahnya sendiri.

"A-apa, Yang Mulia?!" seru Nico kaget setengah mati.

"Gadis itu tidak mengucapkannya secara langsung, tapi raut wajahnya sangat jelas mengatakan hal itu saat di dalam kereta kuda tadi," ucap Kaisar Zane datar, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Nico menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang penguasa dingin yang mendadak tampak seperti remaja jatuh cinta.

"Sepertinya Lady Aura benar-benar berhasil membuat Anda tidak bisa tidur malam ini, Yang Mulia," goda Nico berani.

Kaisar Zane langsung melayangkan tatapan tajam membunuhnya ke arah Nico.

"Jaga mulutmu, Nico," ancam Kaisar Zane dingin.

Kaisar Zane berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan pelan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman istana.

Pria itu meraba dadanya sendiri yang mendadak berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya setiap kali membayangkan wajah cantik dan tatapan galak milik Aura.

"Sombong, keras kepala, dan berbahaya..." gumam Kaisar Zane rendah dengan nada suara yang perlahan-lahan melembut.

"Tapi aku menyukainya," batin sang Kaisar tersenyum tipis, menyadari bahwa hatinya yang sekeras batu kini mulai luluh oleh seorang gadis yang baru saja menolak tawaran mewahnya.

Kaisar Zane masih berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap hamparan bunga mawar di sana, bayangan wajah Aura yang marah dan menatapnya dengan tatapan tajam mendadak melintas lagi di kepalanya.

"Cantik dan berbahaya, persis seperti bunga mawar," batin Kaisar Zane, tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.

"Ehem!"

Pria itu berdeham pelan, mencoba menutupi senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya.

"Nico," panggil Kaisar Zane, suaranya kembali datar dan dingin seperti biasa.

Nico yang tadinya sibuk merapikan dokumen di meja kerja kaisar, langsung menegakkan tubuhnya.

"Saya, Yang Mulia?" sahut Nico sigap.

"Siapkan hadiah untuk dikirim ke kediaman Duke Luminar," perintah Kaisar Zane santai tanpa menoleh.

Nico menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut mendengar perintah mendadak dari majikannya itu.

"Hadiah, Yang Mulia? Atas ucapan terima kasih karena Lady Aura sudah bersedia datang ke istana?" tanya Nico memastikan.

"Atau hadiah seserahan lamaran dari Anda?" tanya Nico lagi.

Kaisar Zane berbalik badan, menatap tajam pada Nico.

"M-maaf Yang Mulia," ucap Nico, gugup, meratapi mulutnya yang tidak bisa di kontrol.

"Kirimkan perhiasan batu permata biru dan beberapa kain sutra terbaik dari gudang kerajaan," ucap Kaisar Zane, berjalan pelan mendekati meja kerjanya.

Nico menahan tawa kecilnya, mengerti betul alasan di balik hadiah-hadiah mahal tersebut.

"Batu permata biru yang senada dengan warna gaun yang dipakai Lady Aura tadi pagi, Yang Mulia?" goda Nico dengan senyum jahil di bibirnya.

Kaisar Zane kembali melayangkan tatapan mata yang sangat tajam ke arah Nico, membuat pria kepercayaan itu langsung mematikan senyumnya seketika.

"Jangan banyak bertanya, Nico, lakukan saja perintahku," tegas Kaisar Zane dingin.

"B-baik, Yang Mulia! Maafkan saya!" jawab Nico cepat-cepat membungkuk hormat, takut kena amuk sang Kaisar yang biasanya sangat kaku itu.

Kaisar Zane kembali duduk di kursi kebesarannya, menopang dagu dengan satu tangan sembari mengetukkan jemarinya di atas meja.

"Satu hal lagi," ucap Kaisar Zane sebelum Nico sempat keluar dari ruangan.

"Ada hal lain, Yang Mulia?" tanya Nico menghentikan langkahnya di dekat pintu, berbalik ragu.

"Sampaikan pesan singkat padanya saat menyerahkan hadiah itu," ucap Kaisar Zane dengan nada suara yang amat rendah.

"Pesan apa, Yang Mulia?" tanya Nico memiringkan kepalanya, penasaran.

"Katakan padanya... gaun biru yang dia pakai hari ini sangat cocok untuk calon Permaisuriku," ucap Kaisar Zane tanpa beban sedikit pun.

Nico membelalakkan matanya, hampir saja rahangnya jatuh ke lantai mendengar ucapan yang begitu percaya diri dari sang penguasa.

"Y-Yang Mulia... apakah Anda yakin? Lady Aura pasti akan makin marah kalau mendengar kalimat itu," cicit Nico takut-takut.

Kaisar Zane terkekeh pelan, tawa renyah yang sangat langka keluar dari bibirnya.

"Biarkan saja dia marah," jawab Kaisar Zane santai.

"Melihatnya emosi dan menatapku dengan mata galaknya itu jauh lebih menarik daripada melihat para wanita lain yang terus-menerus merunduk ketakutan di hadapanku," lanjut sang Kaisar tersenyum tipis.

Nico menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, ternyata Kaisar dingin yang diagungkan seluruh kekaisaran ini kalau sudah mulai tertarik pada seorang wanita, tingkahnya bisa gila ini.

"Baik, Yang Mulia, pesan akan saya sampaikan pada Lady Aura, beserta dengan hadiah nya," ucap Nico membungkuk dalam, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan senyum-senyum sendiri.

"Saya Permisi Yang Mulia."

Kaisar Zane kembali menyandarkan punggungnya di kursi empuknya, menatap langit-langit ruang kerja.

"Aura Luminar..." gumam Kaisar Zane pelan, menyebut nama gadis itu dengan nada yang perlahan-lahan melembut.

"Kita lihat seberapa lama kamu bisa menolakku," batin Kaisar Zane dengan kilatan percaya diri di mata hitamnya yang menawan.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!