"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Khilaf!?
Tiga tahun lalu, Annisa begitu buta oleh cinta hingga tega melukai perasaan ayahnya, mengabaikan nasihat pria yang sudah membesarkannya dengan kasih sayang, dan memilih pergi demi pria pengkhianat. Kini, setelah matanya terbuka lebar, prioritas hidup Annisa adalah menebus kesalahan itu. Ia ingin memperbaiki hubungan keluarga yang pernah merenggang, membuktikan pada ayahnya bahwa putri tunggal Al Ghazali mampu mengelola dan membesarkan Vantara Group hingga ke puncak kejayaan.
Soal asmara? Annisa sudah menutup rapat pintu itu dan menguncinya dari dalam.
"Mas Fandi," panggil Annisa tenang, menutup dokumen di mejanya. "Soal rapat bersama dewan direksi sore nanti jam empat, apakah Papa akan hadir?"
"Pak Yusuf mengonfirmasi akan hadir lewat sambungan video dari Bali," jawab Fandi. "Beliau sangat puas dengan laporan kinerja minggu pertama kamu, Annisa. Beliau bahkan bilang ke saya bahwa liburannya di Bali terasa sangat tenang karena tahu Vantara Land dipegang oleh orang yang tepat."
Mendengar hal itu, sepasang mata bening Annisa berkaca-kaca halus. Ada kehangatan luar biasa yang merayapi dadanya. Senyuman tulus terukir di bibirnya.
"Nisa cuma gak mau membuat Papa kecewa untuk kedua kalinya, Mas Fandi," ucap Annisa pelan, suaranya terdengar sangat jujur dan emosional. "Dulu Nisa sudah cukup keras kepala dan bikin Papa sedih. Sekarang, seluruh fokus Nisa cuma buat Papa dan membesarkan Vantara Group."
Fandi menatap Annisa dengan tatapan mata yang amat dalam. Sebagai pria yang juga telah banyak makan asam garam kehidupan dan mengalami keretakan rumah tangga sendiri, Fandi bisa merasakan ketulusan dan keteguhan di dalam jiwa Annisa. Fandi sangat menghargai batasan dan fokus hidup wanita muda di hadapannya ini.
"Pak Yusuf sangat beruntung punya putri sepertimu, Annisa," ucap Fandi dengan suara berat dan hangat. "Dan sebagai mitra bisnismu, saya akan memastikan proyek ini berjalan sukses tanpa ada satu pun gangguan yang bisa mencoreng nama besar Vantara maupun Prasetyo."
"Terima kasih banyak, Mas Fandi," sahut Annisa mantap.
***
Sementara itu, di sebuah sudut lorong yang gelap di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana tampak sangat tegang.
Rian berdiri mematung di samping pengacaranya, Pak Hendra. Rian mengenakan rompi tahanan berwarna oranye tebal dengan nomor dada tercetak jelas. Kedua tangannya terikat borgol besi yang dingin. Wajahnya yang biasa perlente kini kusam, kumal, dan ditumbuhi janggut kasar yang tak terurus.
Di depannya, berdiri Pak Danu—pengacara eksekutif kepercayaan keluarga Al Ghazali. Pak Danu berdiri dengan angkuh, memegang sebuah map dokumen berwarna merah tua.
"Pak Rian," sapa Pak Danu dingin tanpa ada sedikit pun senyuman. "Saya datang membawa berkas tambahan atas perintah langsung dari Komisaris Utama Vantara Land, Mbak Annisa Septiani."
Rian mendongak terhuyung-huyung, sepasang matanya yang merah dan cekung menatap Pak Danu dengan binar keputusasaan yang sangat memilukan.
"Pak Danu," bisik Rian dengan suara parau yang gemetaran. "Nisa ... Nisa ada di mana, Pak? Tolong izinkan saya bicara sama istri saya.
... tolong, Pak."
Pak Danu terkekeh sinis, menyilangkan tangannya di depan dada. "Istri? Saudara Rian, masa sanggah untuk berkas cerai telah lewat tanpa ada pembelaan yang sah dari pihak Anda. Minggu depan, Pengadilan Agama Jakarta Selatan akan menggelar sidang ikrar talak dan putusan perceraian secara in absentia."
Jleb!
Dada Rian serasa dihantam godam raksasa. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"N-nggak ... saya gak mau cerai sama Nisa!" jerit Rian dengan suara tercekik, mencoba merangkak maju namun ditahan oleh dua orang petugas tahanan. "Saya masih suami sah Nisa! Saya mencintai Nisa, Pak Danu! Saya cuma khilaf! Tolong sampaikan sama Nisa, saya siap sujud di kaki Nisa kalau Nisa mau Maafin saya!"
Pak Danu menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan yang amat merendahkan.
"Khilaf?" bisik Pak Danu dengan nada menyengat. "Saudara Rian, saat Anda menikmati makanan mewah di restoran Jepang bersama selingkuhan Anda, saat Anda membelikan gelang berlian puluhan juta menggunakan uang kantor, dan saat Anda biarkan ibu dan adik Anda membentak Mbak Annisa di rumah ... apakah saat itu Anda ingat bahwa Anda mencintai beliau?"
Rian membeku. Air mata penyesalan yang begitu dingin dan asin merembes deras membasahi pipinya yang kotor.
"Mbak Annisa saat ini sedang fokus memimpin megaproyek Vantara Land bersama Bapak Fandi Prasetyo dari Prasetyo Group," lanjut Pak Danu tanpa ampun, menaburkan garam di atas luka Rian yang menganga. "Beliau tidak punya waktu satu detik pun untuk mendengarkan ratapan dari seorang narapidana korupsi seperti Anda."
Pak Danu menyodorkan salinan berkas penambahan pasal tindak pidana pencucian uang ke tangan Pak Hendra, pengacara Rian.
"Sidang perdana kasus penggelapan dana dua koma tiga miliar rupiah Anda akan resmi digelar hari Selasa depan. Siapkan mental Anda, Pak Rian," ucap Pak Danu dingin.
Pak Danu membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan lorong tahanan dengan langkah kaki yang mantap.
Rian terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin. Kepala pria itu terkulai pasrah, dadanya naik turun oleh isakan tangis histeris yang tak bersuara.
Di balik dinding penjara yang tebal, Rian akhirnya menyadari kenyataan yang paling menyiksa jiwanya: Annisa Septiani tidak pernah membencinya dengan emosi yang meledak-ledak. Annisa justru sudah berada di tahap yang jauh lebih mengerikan—Annisa telah sepenuhnya melupakan dan menghapus keberadaan Rian dari hidupnya, melangkah maju menuju puncak kejayaan yang tak akan pernah bisa dijangkau oleh Rian lagi seumur hidupnya.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu