Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Waktu mengalir seperti air bah di musim penghujan bagi divisi pemasaran Aetheris Games. Satu minggu penuh telah berlalu sejak insiden kemeja luntur seharga ratusan juta itu terjadi.

Kehidupan Alesia Fiore kini tidak lagi mengenal kata santai. Setiap detik yang berdetak di jam dinding kantor terasa seperti hitungan mundur menuju hari penghakiman.

Meskipun seluruh tim pemasaran telah berjanji untuk pasang badan dan membantu menggodok ide iklan digital yang baru, Alesia memiliki prinsip yang keras kepala.

Ia adalah gadis yang mandiri. Ia sadar betul kesalahan fatal menumpahkan kopi dan merusak kemeja sutra mahal itu adalah murni akibat kecerobohannya sendiri.

Baginya, menyeret teman-teman kerja yang sudah baik kepadanya ke dalam masalah pribadinya adalah hal yang sangat tabu.

Sore itu, jam digital di dinding kantor menunjukkan pukul 18.00. Suara alarm tanda jam pulang kerja berbunyi singkat.

"Al, proposal bagian segmentasi pasar untuk game fantasi baru kita sudah aku rapikan, ya. Aku simpan di shared folder," ujar Min-ji sambil menyampirkan tas selempangnya ke bahu. Ia menatap Alesia dengan pandangan khawatir.

"Kamu benar-benar tidak mau ditemani malam ini? Aku bisa membatalkan janji makan malamku dengan pacarku kalau kamu mau."

Alesia mendongak dari layar monitornya, memaksakan sebuah senyuman manis yang terlihat sedikit dipaksakan karena rasa lelah yang mulai menumpuk.

"Nggak usah, Min-ji sayang. Pulanglah, jangan buat kekasihmu menunggu. Semua data mentah dari kamu sudah sangat lengkap kok. Aku tinggal menyusunnya ke dalam format presentasi utama saja. Ini tidak akan lama."

Hana ikut mendekat ke kubikel Alesia, melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendesah berat.

"Kamu selalu bilang begitu sejak awal minggu ini, Fiore. Tapi keesokan paginya, aku selalu mendapati kamu sudah duduk di kursi ini dengan baju yang sama atau kantung mata yang makin tebal. Jangan keras kepala, Al. Kita ini tim."

"Aku tahu kita tim, Hana," jawab Alesia lembut, menepuk pelan tangan Hana yang bersandar di sekat kubikel.

"Justru karena kita tim, aku tidak mau performa harian kalian terganggu hanya karena harus menemaniku begadang demi urusan pribadiku dengan Pak Dante. Tolong biarkan aku menyelesaikan bagian ini sendiri, ya? Aku janji jam delapan malam aku sudah pulang."

Hana dan Min-ji saling berpandangan lemas. Mereka tahu betul, jika Alesia sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, tidak ada satu pun orang di divisi ini yang bisa mengubah keputusannya.

"Ya sudah. Tapi ingat janji kamu, ya! Jam delapan malam harus sudah keluar dari gedung ini. Kalau tidak, aku akan menelepon satpam lantai dasar untuk mengusirmu!" ancam Hana pura-pura galak, yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Alesia.

Satu per satu lampu di kubikel lain mulai padam seiring dengan melangkahnya para karyawan menuju lift pulang.

Hingga akhirnya, keheningan total menyergap lantai 35. Hanya menyisakan satu sudut kubikel di bagian pojok dekat jendela besar yang masih memancarkan cahaya lampu neon putih. Di sanalah Alesia berada, bergelut dengan tumpukan berkas, papan ketik, dan cangkir kopi ketiganya hari itu.

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, melesat jauh dari janji yang diucapkan Alesia kepada sahabatnya.

Di lantai teratas, pintu lift eksekutif berdenting pelan. Dante Luca Alessio melangkah keluar bersama Rey. Pria itu baru saja menyelesaikan pertemuan makan malam bisnis yang melelahkan dengan salah satu investor asing dari Jepang.

Mantel hitam panjangnya tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya sibuk memijat pangkal hidungnya yang berdenyut ringan.

"Rey, pastikan dokumen revisi kontrak dari investor tadi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea besok pagi pukul sembilan," perintah Dante, suaranya terdengar berat dan serak karena kelelahan.

"Baik, Pak Dante. Saya akan langsung menyuruh divisi hukum menyelesaikannya pagi-pagi sekali," jawab Rey cekatan sambil mencatat di tablet digitalnya.

Saat mereka berdua berjalan melewati koridor penghubung menuju ruang kerja utama, langkah kaki Dante mendadak melambat.

Jalur lift eksekutif mengharuskan mereka melewati balkon lantai tengah yang langsung menghadap ke arah kubikel terbuka di lantai 35 melalui dinding kaca transparan yang besar.

Dante menghentikan langkahnya tepat di depan kaca tersebut. Matanya yang abu-abu tajam menyipit. Di bawah sana, di tengah kegelapan ruangan kantor yang luas, ada satu titik lampu yang masih menyala terang.

Seorang gadis berambut ikat kuda tampak sedang duduk membungkuk di depan monitor, sesekali mengetuk-ngetukan pulpen ke dagunya dengan wajah frustrasi.

"Fiore... dia belum pulang?" gumam Dante, lebih kepada dirinya sendiri.

Rey ikut menghentikan langkahnya dan menatap ke arah yang sama dengan pandangan bosnya. Sebuah senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di wajah Rey.

"Ah, Nona Alesia. Menurut laporan absensi dari sistem keamanan gedung, minggu ini dia selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor, Pak. Biasanya dia baru keluar sekitar pukul sebelas malam."

Dante terdiam. Dadanya mendadak terasa sedikit bergemuruh oleh perasaan asing yang aneh.

"Kenapa dia bodoh sekali? Anggota divisinya yang lain ke mana? Kenapa mereka membiarkan seorang admin tingkat bawah mengerjakan proyek ini sendirian?" tanya Dante dengan nada ketus, meski sebenarnya ada rasa penasaran yang besar di balik pertanyaannya.

"Sebenarnya tidak begitu, Pak," sahut Rey, mencoba meluruskan.

Hubungannya yang dekat dengan Dante sebagai saudara angkat membuatnya tidak canggung untuk berbicara santai jika situasi sedang berdua saja.

"Hari Selasa lalu, saya tidak sengaja melihat seluruh anggota divisi pemasaran berkumpul di kubikel Nona Alesia sampai jam tujuh malam. Mereka membawakan makanan, membantu menyusun data, dan tertawa bersama untuk menghibur Nona Alesia. Mereka sangat kompak."

Rey menjeda kalimatnya sejenak, melirik ekspresi Dante yang masih tampak datar namun menyimak dengan serius.

"Tetapi tampaknya Nona Alesia sengaja menolak bantuan lembur dari mereka. Dia selalu memaksa teman-temannya untuk pulang tepat waktu agar tidak merepotkan mereka. Sifatnya memang sangat mandiri... dan dia sangat disayangi oleh rekan-rekan kerjanya di sini karena kepribadiannya yang selalu mengutamakan orang lain."

Dante tidak menyahut. Ia kembali melemparkan pandangannya ke bawah, menatap lurus ke arah tubuh kecil Alesia yang kini tampak sedang mengucek matanya yang lelah, lalu meregangkan kedua tangannya ke udara sebelum kembali mengetik dengan gencar.

Selama hidupnya, Dante selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatinya karena uang, kekuasaan, atau rasa takut.

Di dunia bisnisnya yang kejam, konsep 'dicintai secara tulus oleh rekan kerja' adalah hal yang fiktif dan tidak ada gunanya.

Namun, melihat bagaimana seorang Alesia Fiore gadis ceroboh yang serba kekurangan bisa memancarkan aura positif yang menyatukan satu divisi penuh untuk mendukungnya, membuat ketertarikan aneh mulai tumbuh di benak Dante.

Ada letupan kecil di sudut hatinya yang terdalam. Sebuah ketertarikan asing pada kepribadian gadis itu yang belum pernah ia temukan pada wanita mana pun di lingkaran sosial kelas atasnya.

"Sifat mandiri yang bodoh," ketus Dante akhirnya, memecah keheningan.

Ia membalikkan badannya dengan cepat dan kembali berjalan menuju ruangannya.

"Ayo pergi, Rey. Jangan buang waktu memperhatikan karyawan yang tidak tahu cara mengelola waktu kerja dengan efisien."

Rey hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum penuh arti. Ia tahu betul, jika Dante sudah mulai banyak berkomentar tentang seorang karyawan, itu artinya karyawan tersebut sudah berhasil menyita perhatian sang CEO dingin itu sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!