Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda di Atas Kain Sutra
Denting cangkir porselen mahal di restoran privat ini terdengar begitu nyaring, bersahutan dengan tawa artifisial yang memuakkan. Helena memaksakan punggungnya tetap tegak lurus. Bertahun-tahun terlatih sebagai model internasional membuatnya tahu persis bagaimana cara mempertahankan topeng keanggunan bahkan saat dikelilingi empat teman sosialitanya yang mulai bertingkah seperti burung nazar kelaparan.
Acara minum teh rutin ini sudah jelas. Ini bukan arisan biasa, melainkan ajang interogasi berkedok basa-basi manis beracun.
"Aduh, Jeng Helena, pesta pernikahan Evan kemarin benar-benar megah sekali! Dekorasi kristal gantungnya itu lho, dengar-dengar dipesan langsung dari Italia, ya?"
Satu ujian lolos dari wanita paruh baya dengan bros berlian besar yang norak di dadanya. Matanya berbinar, sarat akan merasa ingin tahu yang murahan.
"Betul banget! Kolega suamiku yang taipan dari Singapura saja sampai bela-belaan datang naik jet pribadi." Teman di sebelahnya mencondongkan tubuh ke depan meja marmer, melempar senyuman tajam yang membuat Helena tidak nyaman.
Suara wanita itu mendadak turun menjadi bisikan konspiratif. "Tapi, Jeng... gosip yang beredar itu beneran? Menantu barumu itu... katanya bukan dari kalangan kita, ya? Beneran anak bengkel? Bukan cuma rumor, kan?"
Pertanyaan sialan. Suasana di meja makan privat itu mendadak membeku.
Helena mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa malu membakar tengkuknya. Bagaimana bisa keluarga Wirasena diseret dalam gosip murahan seperti ini? Belum sempat ia merangkai jawaban untuk menyelamatkan muka, Ratna—si lidah paling pedas di kelompok mereka—malah tertawa renyah, menutup mulutnya dengan kipas tangan.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, Helena," sahut Ratna dengan nada menggoda yang membuat pipi Helena memanas. "Aku bingung banget sih. Evan itu kan The Golden Boy kita. Tampan, kaya raya, CEO muda paling ditakuti. Biasanya cowok selevel dia nikahnya sama putri diplomat, heiress bank swasta, atau minimal anak konglomerat properti. Kok bisa-bisanya dia mau sama... montir? Kena sihir hitam apa gimana?"
Kurang ajar. Kalimat Ratna rasanya persis seperti tamparan halus yang mendarat telak di wajah Helena. Mereka sedang menghakiminya. Menertawakannya karena dianggap gagal menjaga standar kelas atas keluarga. Teman-temannya kini saling bertukar pandang dengan senyum geli yang kaku.
"Iya nih, Jeng," timpal Veronica, memasang wajah sok prihatin yang justru terasa jauh lebih menyakitkan. "Kasihan banget sih Evan. Masa depan dia bisa suram kalau istrinya tidak bisa membantu networking bisnis. Bayangkan saja, nanti kalau ada gala dinner, Evan harus menjelaskan ke rekan bisnis Jepang atau Eropa bahwa istrinya dulu biasa ganti oli mobil. Malu-maluin banget kan Citra Wirasena Group? Apa Kakek Baskara sudah mulai pikun sampai memilih gadis dari jalanan untuk dinikahkan dengan cucu kesayangannya?"
Dada Helena rasanya sesak luar biasa, seperti dihantam batu besar. Jari-jarinya meremas tali tas di pangkuannya hingga kulit tas mahal itu sedikit menekuk. Gila. Mereka benar-benar menganggap menantunya sebagai noda menjijikkan di atas kain sutra kemewahan Wirasena. Statusnya sebagai nyonya besar rasanya runtuh seketika hanya karena seorang gadis kelas pekerja.
Tapi, emosinya tidak boleh meledak di sini. Tidak di depan para wanita bermuka dua ini. Helena membenarkan letak syal sutranya dengan satu gerakan lambat yang sangat anggun. Ia membalas tatapan mereka dengan senyum paling tenang, meski sudut bibirnya berkedut menahan amarah.
"Ah, kalian ini terlalu banyak mendengar gosip dari akun-akun sampah di luar sana," suara Helena mengalun halus, namun sedingin es. Matanya menyipit, menatap lurus ke dalam manik mata Ratna dan Veronica secara bergantian.
"Bagi keluarga Wirasena, status sosial ekonomi itu urusan nomor sekian. Yang paling kami cari adalah kejujuran dan ketangguhan karakter. Kakek Baskara sendiri yang memilihnya karena tahu dia gadis yang tulus. Bukan tipe wanita sosialita bermuka dua yang hanya tahu cara menghabiskan limit kartu kredit suaminya atau pamer hasil operasi plastik demi terlihat 'setara'."
Skakmat. Kalimat terakhir itu sengaja ia tekan, menghantam telak Ratna dan Veronica yang memang terkenal sering merengek meminta jatah operasi plastik pada suami masing-masing.
Ruangan privat itu mendadak hening total. Wajah Ratna dan Veronica memerah padam, senyum palsu mereka lenyap tanpa sisa. Helena tahu ia memenangkan pertempuran verbal ini, tetapi rasa dongkol di dadanya tidak serta-merta hilang. Setelah pulang ke mansion nanti, ia bersumpah akan menguliti gadis bengkel itu. Aira tidak boleh menjadi alasan dirinya dikucilkan dari pergaulan elit itu.
***
Sementara itu, di belahan dunia yang berbeda, area dapur utama mansion terasa jauh lebih manusiawi.
Aira benar-benar sudah tidak tahan lagi. Mengurung diri di dalam kamar yang dingin seharian bisa membuat otaknya waras menjadi gila. Maka di sinilah dia sekarang. Berdiri di depan kompor dengan kaus oblong putih polos dan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan. Bau harum kuah sup iga sapi yang mendidih terasa jauh lebih bersahabat dihidungnya ketimbang aroma pengharum ruangan mahal di paviliun timur.
Jari-jarinya yang biasa memegang kunci sok kini bergerak cekatan, mencincang sayuran di atas talenan dengan ritme yang konstan.
"Nona Aira, duh... jangan repot-repot, Nona. Ini kan tugas kami semua," Bi Sumi, kepala pelayan dapur, datang mendekat dengan wajah panik.
Aira terkekeh, menyeka anak rambut di dahinya dengan punggung tangan yang bersih. "Aduh, Bi Sumi, santai aja kali. Panggil Aira aja beneran, jangan pakai Nona segala. Berasa aneh di kuping saya. Lagian kalau saya cuma duduk diam di kamar, otot saya bisa kaku semua kayak robot sebelah."
Robot sebelah. Julukan spontan itu membuat para pelayan perempuan yang sedang mencuci piring dan memotong daging langsung saling lirik. Tawa kecil mereka serentak pecah, meramaikan dapur yang biasanya sepi. Mereka semua langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Nona Aira berani banget ya nyebut Tuan Muda Evan robot," bisik seorang pelayan muda, wajahnya usil penuh minat. "Tapi memang benar sih, Non. Tuan Muda Evan itu kalau jalan di lorong paviliun mukanya kaku bener. Kami yang mau menyapa saja sering keburu merinding duluan!"
"Nah, bener! Jangankan kalian," Bi Sumi ikut mencondongkan tubuh, binar matanya mendadak jenaka. "Pernah suatu kali Tuan Muda Evan mau minta kopi hitam tanpa gula. Pas saya antar, beliau cuma menatap laptopnya terus bilang 'Taruh' pakai suara yang dingin bener. Saya sampai mikir, ini Tuan Muda beneran manusia apa kulkas berjalan yang dikasih nyawa ya?"
Tawa Aira lepas begitu saja mendengar gosip lucu seputar suaminya. Ternyata bukan cuma dia yang menganggap pria itu aneh. Sifatnya yang apa adanya dan tidak bermuka dua langsung membuat para pelayan di dapur ini merasa nyaman.
"Tenang saja, Bi. Nanti kalau kulkas berjalan itu kambuh kaku-kakunya, biar saya gedor pakai kunci inggris biar sistemnya normal lagi!" canda Aira, yang langsung disambut tawa riuh seisi dapur.
Namun, tawa itu mendadak terputus, hancur berkeping-keping.
Tak. Tak. Tak.
Suara ketukan langkah kaki yang kaku dan berwibawa terdengar mendekati dari arah koridor luar. Ritme langkah itu terasa seperti hitungan mundur menjelang hukuman mati. Para pelayan langsung membisu, buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam.
Aira menoleh ke arah ambang pintu. Sosok wanita paruh baya dengan gaun desainer mahal berdiri tegak di sana. Mami Helena sudah kembali. Sisa kemarahan dari restoran tadi masih tercetak jelas di wajahnya yang menegang kaku. Matanya menyipit tajam, menatap Aira yang sedang tertawa bersama para pelayan dengan pandangan jijik yang tak ditutupi.
"Aira Dhea Ananta," suara Helena mengalun rendah, dingin, dan penuh penekanan yang menusuk.
Ruangan dapur mendadak terasa mencekam. Sendok sayur di tangan Bi Sumi bahkan hampir terlepas karena gemetar ketakutan.
"Ikut saya ke ruang kerja sekarang juga. Ada hal serius yang harus kita bicarakan mengenai posisimu di rumah ini. Dan tentang... batasan-batasan yang perlu kamu pahami agar tidak mempermalukan nama Wirasena." Helena melirik celemek dapur yang agak kotor di tubuh Aira dengan cibiran tipis.
Aira menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan pisau dapurnya perlahan ke atas talenan. Setelah menyeka tangannya dengan kain lap, ia menegakkan bahu dan menatap lurus ke arah ibu mertuanya. Tidak ada ketakutan, tidak ada rasa minder sedikit pun di matanya.
Datang juga akhirnya. Aira tahu persis, badai yang sesungguhnya di rumah ini baru saja dimulai.