Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangat Nek Lasmi

Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang sama sekali berbeda dari kehidupan Haruna sebelumnya.

Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk mengurus Nek Lasmi, berangkat sekolah dengan pikiran yang terus melayang ke rumah. Lalu pulang untuk kembali menjaga neneknya sambil menyempatkan diri membuat peyek dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dari biasanya.

Jika dulu ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dapur menggoreng adonan demi memenuhi pesanan yang terus membeludak, kini ia hanya mampu membuat beberapa kilogram saja, sekadar cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan biaya obat-obatan Nek Lasmi yang tak sedikit.

Jika dulu isi kepala Haruna dipenuhi wacana tentang kehidupan kampus, bayangan asrama yang akan ia tempati, atau rencana masa depan yang penuh warna. Kini seluruh pikirannya hanya tertuju pada satu hal... bagaimana caranya agar Nek Lasmi bisa sembuh. Bisa kembali berjalan dan berbicara seperti sedia kala, meski jauh di lubuk hatinya. Haruna tahu betul bahwa harapan itu mungkin tak akan pernah benar-benar terwujud sepenuhnya.

Hari ini, seperti yang sudah dijadwalkan sejak awal semester, sekolah mengadakan ujian try out sebagai persiapan menghadapi ujian kelulusan yang semakin dekat.

Sejak pagi buta, Haruna sudah sibuk mempersiapkan segalanya dengan telaten seperti biasa... memandikan Nek Lasmi, menyuapinya sarapan, menyusun jadwal obat yang harus diminum sepanjang hari agar Bu Inah tak kebingungan.

"Nek, hari ini Haruna ujian try out di sekolah. Doain Haruna, ya," ucap Haruna sambil mencium punggung tangan neneknya, merapikan selimut hingga menutupi bahu kurus itu.

Nek Lasmi mengedipkan mata pelan, sudut bibirnya yang masih kaku berusaha membentuk senyum tipis. Tangannya yang lemah mencoba menggenggam jemari Haruna sesaat, seolah menyalurkan restu lewat sentuhan karena kata-kata masih begitu sulit ia ucapkan dengan jelas.

Tak lama, Bu Inah datang sesuai janji, membawa keranjang kecil berisi bahan masakan seperti biasa. "Tenang aja Har, biar Ibu yang jagain Nenek. Kamu fokus aja ujiannya, jangan kepikiran yang lain," ucapnya, tersenyum menenangkan.

"Makasih banyak, Bu," Haruna tersenyum lega, lalu bergegas mengambil sekantong plastik berisi bungkusan peyek yang sudah ia siapkan sejak semalam. Pesanan salah satu guru yang ada di sekolahnya, Bu Wati.

Sesampainya di sekolah, Haruna langsung menuju ruang guru untuk menyerahkan pesanan itu. Bu Wati, guru bahasa Indonesia yang cukup dekat dengannya, menyambutnya dengan senyum hangat.

"Wah, makasih ya Haruna. Peyek buatan kamu ini emang paling enak, langganan tetap deh mulai sekarang," puji Bu Wati sambil menerima bungkusan itu, lalu menyerahkan sejumlah uang sebagai pembayaran.

"Sama-sama, Bu," jawab Haruna sopan, bersiap untuk kembali ke kelasnya.

Namun sebelum sempat melangkah pergi, Bu Wati kembali memanggilnya. "Haruna, sebentar. Ibu denger dari Pak Broto, katanya kamu mutusin buat nggak lanjut kuliah? Itu bener?"

Haruna berhenti melangkah, menghela napas pelan sebelum berbalik menghadap gurunya. "Iya, Bu. Haruna udah putusin buat fokus rawat Nenek dulu."

Bu Wati menatapnya dengan tatapan iba bercampur kagum. "Ibu turut prihatin sama kondisi kamu, Nak. Tapi Ibu juga salut sama ketulusan kamu. Nggak semua anak seusia kamu sanggup buat pengorbanan sebesar itu."

"Terima kasih Bu," ucap Haruna, tersenyum tipis sebelum akhirnya berpamitan menuju kelasnya untuk mengikuti ujian try out yang akan segera dimulai.

---

Sementara itu, jauh di gubuk sederhana mereka, Bu Inah duduk menemani Nek Lasmi yang terbaring diam di ranjang. Sesekali mengajaknya bicara meski hanya mendapat balasan gumaman tak jelas. Namun tak lama kemudian, perutnya tiba-tiba terasa mulas.

"Nek, aku ke belakang sebentar, ya. Perutku mulas banget," pamit Bu Inah, bergegas menuju kamar mandi di rumahnya sendiri yang letaknya tak terlalu jauh. Berpikir hanya akan meninggalkan Nek Lasmi sebentar saja karena toh wanita tua itu tak bisa bergerak ke mana-mana.

Begitu suara langkah Bu Inah menghilang di kejauhan, keheningan menyelimuti gubuk itu sepenuhnya. Nek Lasmi menatap langit-langit bambu di atasnya, pikirannya kembali dipenuhi percakapan yang tak sengaja ia dengar... tentang Haruna yang rela melepaskan beasiswa kuliahnya, tentang cita-cita besar yang harus terkubur hanya karena dirinya yang kini tak berdaya.

Dengan tekad yang membara di dalam dada rapuhnya, Nek Lasmi mulai mencoba menggerakkan jari-jari tangannya yang selama ini terasa kebas dan tak bertenaga. Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia melakukan ini. Diam-diam setiap kali sendirian, ia selalu mencoba memaksakan diri, berlatih sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Haruna. Takut jika cucunya tahu, ia akan dilarang dan dianggap membahayakan diri sendiri.

Perlahan namun pasti, jari-jari tangan kanannya mulai bisa ia gerakkan lebih leluasa dari hari-hari sebelumnya. Bibirnya yang kaku tersenyum tipis, matanya berbinar penuh harap. Ia terus mencoba, kali ini berusaha menggerakkan lengannya, menekuk siku yang sudah lama kaku tak berfungsi.

"Bisa... aku bisa," gumamnya lirih, suaranya masih terdengar berat namun jauh lebih jelas dari hari-hari sebelumnya.

Dengan semangat yang semakin membara, Nek Lasmi mulai mencoba bangkit, menggeser tubuhnya perlahan ke tepi ranjang. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih.

Namun ia terus memaksakan diri, mengingat wajah Haruna yang selama ini terus berkorban demi dirinya.

Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil duduk tegak di tepi ranjang, napasnya memburu. Namun senyum kemenangan terpatri jelas di wajahnya yang tak lagi sepenuhnya simetris. "Alhamdulillah..." bisiknya, air mata haru menggenang di sudut matanya.

Namun keinginannya tak berhenti sampai di situ. Tekad yang membara membuatnya semakin nekat mencoba hal yang lebih besar lagi.

Ia ingin berdiri.

Ia ingin berjalan.

Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, dan pada Tuhan yang selama ini ia mintai pertolongan. Bahwa ia bisa sembuh, bahwa ia tak akan lagi menjadi beban yang menghalangi masa depan cucu kesayangannya.

Dengan kedua tangan gemetar mencengkeram tepi ranjang, Nek Lasmi perlahan mencoba menegakkan tubuhnya, kakinya yang lemah bergetar hebat menahan berat badannya sendiri. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke ujung kakinya. Namun ia menggigit bibir kuat-kuat, menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya.

Perlahan, ia berhasil berdiri. Tubuhnya oleng, namun ia tetap bertahan, berpegangan erat pada dinding bambu di sampingnya. Air mata bahagia mulai mengalir deras di pipinya yang keriput. "Aku berdiri... aku bisa berdiri lagi," isaknya penuh syukur, membayangkan betapa bahagianya Haruna nanti jika melihat neneknya sudah bisa berjalan kembali, dan tak perlu lagi mengorbankan masa depannya.

Dengan penuh keyakinan, Nek Lasmi mencoba melangkahkan kakinya yang gemetar. Satu langkah berhasil ia ayunkan, meski tubuhnya terhuyung hebat.

Ia tersenyum lebar, kegirangan yang meluap membuatnya lupa akan rasa sakit yang menggerogoti sekujur tubuhnya.

"Satu langkah lagi," gumamnya penuh semangat, mencoba mengayunkan kaki keduanya.

Namun baru saja kaki itu terangkat, keseimbangannya yang masih begitu rapuh gagal menopang tubuhnya lebih lama. Tubuh Nek Lasmi oleng hebat, dan dalam sekejap, ia terjatuh keras ke lantai kayu, menimbulkan suara debuman nyaring yang menggema memenuhi seisi gubuk.

Tepat pada saat itu, Bu Inah baru saja kembali dari rumahnya, tergesa membuka pintu gubuk setelah mendengar suara benturan keras yang begitu mengagetkan.

"Nek Lasmi!" jeritnya panik begitu mendapati Nek Lasmi tergeletak tak sadarkan diri di lantai, posisi tubuhnya yang jatuh begitu mengenaskan, darah segar mulai merembes tipis dari luka di kepalanya yang membentur sudut ranjang kayu.

Dengan tangan gemetar, Bu Inah segera berlari mendekat, mengguncang tubuh Nek Lasmi yang tak memberikan respons sama sekali. "Nek! Nek, bangun! Ya Allah, tolong... tolong!" teriaknya sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan siang itu, memanggil bantuan dari tetangga sekitar yang mungkin masih bisa mendengar jeritannya.

Sementara di dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa semoga belum terlambat untuk menyelamatkan wanita tua yang begitu ia hormati itu.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!