Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Roda Avanza di Jalan Berbatu dan Bekunya Hati Sang Bidadari
l
Satu bulan.
Bagi orang biasa, satu bulan adalah waktu yang singkat untuk menyelesaikan satu siklus gaji. Namun bagi Arga Danendra, satu bulan terakhir adalah simulasi neraka jahanam di atas muka bumi.
Di sebuah jalanan desa yang sempit, berbatu, dan diapit oleh hamparan sawah hijau di pinggiran sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah, sebuah mobil Avanza sewaan berwarna silver melaju dengan kecepatan pelan dan tersendat-sendat.
Di kursi kemudi, Raka Narendra—asisten eksekutif yang biasanya mengenakan setelan Armani dan mengemudikan Maybach miliaran rupiah—kini mengenakan kaus oblong hitam yang sudah basah oleh keringat, kacamata hitam yang miring, dan wajah yang ditekuk masam.
Jedug!
Roda mobil sewaan itu kembali masuk ke dalam lubang jalanan yang cukup dalam, membuat guncangan keras di dalam kabin.
"Aduh, Mak! Tulang ekorku rasanya mau pindah ke ubun-ubun!" keluh Raka histeris, mengusap punggung bawahnya sambil meringis. Ia menoleh ke kursi penumpang di sebelahnya dengan tatapan memelas.
"Bos, aku mohon dengan sangat... kenapa kita harus menyewa mobil sejuta umat ini?! Bokong mahalku tidak didesain untuk suspensi mobil seperti ini! Kenapa kita tidak pakai Range Rover lapis baja kita saja sih?!"
Di kursi penumpang, Arga Danendra duduk mematung. Pria yang biasanya tampil klimis dan tanpa cela itu, kini tampak sangat kacau. Rambutnya memanjang dan sedikit berantakan. Rahangnya ditumbuhi bayangan cambang halus karena ia lupa bercukur selama berminggu-minggu. Matanya yang selalu tajam kini dipenuhi urat merah dan kantung mata yang menghitam.
Arga sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet di pangkuannya yang menampilkan titik koordinat GPS.
"Jika kita membawa Range Rover atau mobil mewah ke desa kecil ini, Senja akan langsung menyadari kehadiranku dari jarak satu kilometer dan dia akan lari lagi," jawab Arga dengan suara serak yang sangat datar. "Belok kiri di pertigaan depan, Raka. Kita sudah dekat."
Raka menghela napas panjang, meratapi nasibnya.
"Bos, sungguh, kau harus memberiku kenaikan gaji seribu persen setelah ini," omel Raka sambil memutar kemudi menghindari seekor ayam kampung yang tiba-tiba menyeberang jalan. "Kau tahu? Minggu lalu, Natasha si Angsa Hitam itu mencoba menerobos masuk ke kantormu dengan berpura-pura pingsan di lobi. Dan apa yang kau lakukan? Kau menyuruh pihak keamanan melemparnya ke tempat sampah depan gedung! Mantan istrimu itu sampai masuk berita gosip!"
Mendengar nama Natasha, Arga mendengus sinis. "Seharusnya aku menyuruh mereka melemparnya ke laut. Wanita ular itu berani menampakkan wajahnya saat aku sedang setengah mati mencari Senja."
Raka menggelengkan kepalanya tak percaya melihat tingkat kebucinan bosnya ini. Demi melacak keberadaan Senja yang kabur menggunakan truk sayur, Arga mengerahkan seluruh tim cyber Danendra Group untuk meretas ribuan CCTV jalan tol di seluruh pulau Jawa. Butuh waktu satu bulan penuh, puluhan miliar rupiah, dan ratusan agen yang menyisir desa-desa hingga akhirnya mereka menemukan jejak bidadari itu.
"Tiga ratus meter lagi, Bos. Ada sebuah kedai roti tradisional di dekat alun-alun kecamatan," ucap Raka sambil melirik GPS.
Jantung Arga yang selama sebulan ini terasa mati, mendadak berdetak brutal. Napasnya tercekat. Tangan besarnya yang memegang tablet bergetar hebat.
Aku menemukanmu, Senja. Tolong... tolong jangan usir aku kali ini.
Di sebuah ruko sederhana berlantai satu dengan papan kayu bertuliskan "KEDAI ROTI & KUE MBAH UTI", aroma mentega, pandan, dan gula karamel menguar hangat ke udara.
Di balik etalase kaca yang menampilkan deretan roti sobek dan bolu kukus, Senja Kirana berdiri mengenakan celemek kain berwarna cokelat muda. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi. Ia sedang sibuk memasukkan beberapa roti ke dalam kantong plastik untuk seorang pelanggan ibu-ibu.
"Ini kembaliannya ya, Bu. Terima kasih, semoga rotinya suka," ucap Senja dengan senyum manis yang sangat tulus.
Satu bulan tinggal di kota kecil ini telah mengembalikan sedikit rona di wajah Senja. Setelah turun dari truk sayur tempo hari, Senja diselamatkan oleh kebaikan Mbah Uti, seorang nenek pemilik kedai roti tradisional yang hidup sendirian karena anak-anaknya merantau. Mbah Uti memberi Senja pekerjaan dan tempat tinggal gratis di kamar belakang kedai.
Di sini, tidak ada sosialita arogan. Tidak ada pria berjas hitam. Dan yang paling penting, tidak ada bayang-bayang sang tiran yang mengerikan.
Senja merasa aman. Namun... di saat malam tiba dan ia sendirian di kamarnya, rasa hampa yang membekukan itu selalu kembali. Ia merindukan pelukan hangat itu. Ia merindukan obrolan sederhana di atas lantai semen bersamanya. Rindu yang ia kubur dalam-dalam di bawah kebencian dan rasa kecewanya.
Kring!
Lonceng kecil yang digantung di atas pintu kedai berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk.
"Selamat datang di Kedai Mbah Uti, silakan mau pesan rot—"
Ucapan riang Senja terputus seketika. Kata-katanya tertelan kembali ke tenggorokannya, digantikan oleh bongkahan es tak kasat mata yang membekukan seluruh aliran darahnya.
Di ambang pintu kedai yang sederhana itu, berdiri sesosok pria raksasa yang posturnya menutupi cahaya matahari dari luar. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung asal, celana jeans gelap, dan wajah yang terlihat sangat kacau namun tidak bisa menyembunyikan ketampanannya yang mematikan.
Itu adalah Arga Danendra.
Di belakangnya, seorang pria yang mengenakan kaus oblong mengintip dengan canggung sambil melambaikan tangan kecil. Itu Raka.
Mata elang Arga langsung mengunci sosok Senja di balik etalase. Pria yang tak kenal takut pada kematian itu kini menatap Senja dengan pandangan yang begitu rapuh, memohon, dan penuh dengan genangan air mata kerinduan.
"Senja..." panggil Arga parau. Suaranya bergetar hebat saat menyebut nama itu. Pria itu melangkah maju dengan tergesa-gesa mendekati etalase kaca.
Seketika, insting bertahan hidup Senja mengambil alih. Traumatik akan sangkar emas dan kekejaman dunia Arga membuat gadis itu memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak rak roti di belakangnya.
Wajah Senja yang tadi secerah mentari, kini berubah pucat pasi, dan sedetik kemudian... membeku menjadi balok es. Ia membangun tembok pertahanan tertingginya.
Gadis itu menarik napas panjang, menekan rasa gemetar di tangannya, lalu melangkah kembali mendekati meja etalase. Ia menatap Arga lurus ke dalam matanya, bukan dengan tatapan kebencian, melainkan dengan tatapan hampa yang sama sekali tidak memiliki emosi.
"Selamat datang di Kedai Roti Mbah Uti, Tuan," ucap Senja dengan nada suara yang sangat formal, dingin, dan berjarak. "Ada yang bisa saya bantu? Kami memiliki roti sobek cokelat dan bolu pandan yang baru matang."
Mendengar nada suara yang sangat asing dan formal itu, dada Arga seolah dihantam palu godam ribuan ton.
"Senja... kumohon, jangan seperti ini," rintih Arga, menyentuhkan telapak tangannya di atas permukaan kaca etalase, berharap bisa menyentuh gadis itu. "Aku mencarimu ke mana-mana. Aku hampir mati rasanya sebulan ini. Maafkan aku... tolong dengarkan penjelasanku."
"Maaf, Tuan," potong Senja cepat, wajahnya tanpa ekspresi. "Jika Tuan tidak berniat membeli roti, saya mohon Tuan segera keluar. Tuan menghalangi jalan masuk untuk pelanggan yang lain."
Rasa sakit yang terpancar di mata Arga sungguh menyayat hati, namun Senja menolak untuk goyah. Ia tidak akan membiarkan pria ini masuk kembali ke dalam hidupnya dan merusak kedamaian yang baru saja ia bangun.
"Aku tidak akan memaksamu pulang ke Jakarta!" Arga berbicara dengan nada memohon yang sangat putus asa, sama sekali membuang harga dirinya sebagai seorang CEO di depan gadis pembuat roti ini. "Aku bersumpah, aku tidak akan mengurungmu lagi. Aku sudah memecat semua pengawal yang mengawasimu secara diam-diam. Aku hanya ingin melihatmu, Senja. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja dan memohon pengampunanmu."
"Saya sangat baik-baik saja sebelum Tuan datang dan mengotori lantai kedai ini," jawab Senja tajam, matanya menatap tajam bagaikan belati.
Kalimat itu menohok Arga begitu dalam. Pria itu terdiam, bibirnya bergetar namun tak ada suara yang keluar. Ia tampak seperti seorang raksasa yang baru saja dikalahkan oleh satu kalimat sederhana.
Melihat bosnya yang super alpha itu mendadak menjadi seperti agar-agar yang kehilangan bentuknya karena ditolak mentah-mentah, Raka yang sedari tadi diam di belakang akhirnya tidak tahan lagi. Insting 'kesengklekan' asisten setia itu langsung mengambil alih panggung.
Dengan gaya sok jagoan, Raka melangkah maju ke sebelah Arga, menepuk meja etalase dengan gaya angkuh yang sengaja dibuat-buat.
"Ehem! Permisi, Nona Manis yang galak!" seru Raka dengan suara keras, menarik perhatian seorang nenek-nenek pelanggan yang sedang duduk di sudut kedai.
Senja menatap Raka dengan dahi berkerut kesal. "Apa yang Anda inginkan?"
"Bosku ini dari tadi ditanya mau beli apa nggak jawab-jawab karena dia sedang amnesia mendadak! Jadi, biar asistennya yang super tampan ini yang mewakili!" Raka mengeluarkan sebuah dompet tebal dari saku celananya, lalu menarik selembar kartu hitam tanpa batas (black card).
Dengan gaya dramatis ala aktor India, Raka menampar black card itu ke atas meja kaca etalase.
"Nona! Kami beli semuanya! Ya, semuanya! Roti sobek, bolu pandan, kue sus, remah-remah roti yang jatuh di lantai, debu di sudut ruangan, sekalian sama rak dan oven di belakang sana! Tolong total semuanya sekarang juga! Masukkan tagihannya ke kartu ini!" teriak Raka dengan congkaknya.
Senja melotot menatap kelakuan asisten gila di depannya ini.
"Kau gila?!" desis Senja, marah besar.
Raka mencondongkan tubuhnya, berbisik pada Senja dengan wajah memelas yang bertolak belakang dengan gaya sombongnya barusan.
"Nyonya Besar, tolonglah... jual saja semuanya pada kami agar Bosku punya alasan untuk berdiri di kedai ini sampai tutup. Kalau Anda mengusirnya, Bosku bisa benar-benar berubah jadi fosil di depan pintu. Lagipula... kasihanilah punggungku, Nyonya, aku menyetir mobil kaleng dari Jakarta ke mari demi mencarimu," rengek Raka nyaris menangis.
Senja mengertakkan rahangnya. Uang, uang, dan uang. Orang-orang kaya ini selalu berpikir mereka bisa membeli segalanya, termasuk waktu dan toleransinya.
Senja mengambil black card mewah itu dari atas kaca, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa ampun, ia melemparkan kartu elit itu tepat ke wajah Raka.
Tuk. Kartu miliaran rupiah itu memantul di jidat Raka dan jatuh ke lantai.
"Aduh!" keluh Raka memegangi jidatnya.
"Kedai ini tidak menerima kartu kredit iblis kalian," desis Senja dengan aura dingin yang bahkan membuat Raka seketika merinding dan mundur selangkah berlindung di balik punggung Arga. "Dan kami tidak melayani orang-orang dari dunia Tuan Danendra. Silakan keluar."
Melihat kebencian dan penolakan yang begitu absolut dari Senja, hati Arga hancur berkeping-keping. Pria itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan genangan air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.
"Senja..." bisik Arga, suaranya sangat lirih, "Apakah tidak ada sedikit pun ruang di hatimu untuk mendengarkanku? Sedikit saja. Tentang alasan sebenarnya kenapa aku ketakutan malam itu. Tentang Natasha yang kini mencoba kembali dan aku menolaknya mentah-mentah demi dirimu. Apakah semuanya sudah benar-benar mati untukku?"
Senja menelan ludah. Hatinya bergetar hebat saat mendengar nama 'Natasha'. Siapa Natasha? Wanita masa lalu yang membuat Arga trauma?
Namun, Senja memaksa dirinya untuk menutup rapat rasa penasarannya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mau masuk kembali ke dalam pusaran racun dunia atas.
"Urusan Tuan dengan wanita masa lalu Tuan bukanlah urusan saya," jawab Senja sedingin es batu, memalingkan wajahnya agar Arga tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Gadis itu melepaskan celemek cokelatnya dan meletakkannya di atas meja dengan kasar.
"Mbah Uti!" panggil Senja setengah berteriak ke arah dapur belakang. "Ada dua orang preman yang mengganggu di depan! Senja mau masuk ke kamar belakang! Kalau mereka berani membuat keributan, tolong panggilkan hansip desa!"
Setelah meneriakkan kalimat itu, Senja berbalik tanpa melirik Arga sedetik pun, melangkah cepat menuju ruang belakang, dan menutup pintu kayu dengan bantingan yang cukup keras.
BRAK!
Gema pintu yang ditutup itu terasa seperti lonceng kematian bagi harapan Arga.
Pria raksasa itu berdiri mematung di depan etalase kaca yang kini kosong. Tangannya yang menempel di kaca perlahan merosot turun. Sang penguasa dunia bisnis yang tak pernah kalah, kini harus menelan kekalahan paling memalukan di sebuah kedai roti kecil di ujung Jawa.
Raka yang masih memegangi jidatnya, perlahan memungut black card-nya dari lantai. Ia menepuk debu dari kartunya, lalu mengelus pundak Arga dengan penuh simpati.
"Bos... kurasa jurus 'aku kaya dan akan membeli semuanya' sudah tidak mempan lagi untuk spesies wanita langka seperti Nyonya Besar," bisik Raka prihatin. "Dia benar-benar menutup pintu hatinya. Bagaimana sekarang? Mau kugendong kau ke mobil, atau kau mau menangis guling-guling dulu di lantai kedai ini?"
Arga tidak menjawab lelucon asistennya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu tertutup tempat Senja menghilang.
Ketakutan dan keputusasaannya kini perlahan berubah menjadi sebuah tekad baru yang jauh lebih kuat, namun bukan lagi tekad posesif yang merusak.
"Aku tidak akan kembali ke Jakarta, Raka," ucap Arga dengan suara yang sangat rendah dan mutlak.
Raka membelalakkan matanya ngeri. "A-Apa?! Bos, kau gila?! Lusa ada rapat dewan direksi untuk akuisisi perusahaan properti! Dan Natasha ular berbisa itu sedang mencari celah untuk menemuimu!"
"Batalkan rapatnya! Atau kau yang urus semuanya dari sini!" perintah Arga tanpa menoleh. "Biarkan Natasha bermain dengan halusinasinya di Jakarta. Aku tidak peduli pada perusahaan atau dunia saat ini."
Arga membalikkan badannya, melangkah dengan pasti keluar dari kedai roti tersebut, lalu menunjuk sebuah penginapan melati yang terlihat reyot di seberang alun-alun kecamatan.
"Sewa penginapan kumuh itu selama setahun penuh. Beli baju biasa dari pasar malam. Mulai hari ini, Arga Danendra si CEO telah mati." Arga menatap Raka dengan mata yang menyala oleh sisa-sisa harapan yang berdarah. "Jika dia menginginkan 'Kak Arga' si pria miskin... maka aku akan benar-benar membuang seluruh hartaku dan mengemis di depan pintu kedainya setiap hari, sampai es di hatinya mencair."
Raka menepuk jidatnya dengan putus asa, menatap langit Jawa Tengah yang terik sambil meratapi nasib punggungnya yang harus tidur di kasur tipis penginapan melati.
[Pesan Author:]
(Ada pepatah kuno yang mengatakan: "Kau tidak bisa menyembuhkan luka dengan menggunakan senjata yang sama yang kau gunakan untuk melukainya."
Arga akhirnya menyadari bahwa semua kekuasaan, uang, dan sifat otoriter yang ia miliki justru menjadi senjata yang terus melukai harga diri Senja. Senja tidak butuh pelindung yang arogan; ia butuh pria yang setara. Penolakan Senja yang sangat dingin hari ini bukanlah tanda bahwa cintanya telah mati, melainkan sebuah ujian terakhir untuk melihat apakah Arga berani melepaskan mahkotanya demi menjadi manusia biasa.
Dan dengan kelucuan Raka yang selalu gagal menggunakan uang sebagai solusi, kita melihat kontras yang nyata antara dunia materialistis yang kosong, dengan cinta sejati yang hanya bisa diraih melalui kerendahan hati. Sang Tiran akhirnya rela turun dari takhtanya secara sukarela, bersiap merangkak dari titik nol, demi memenangkan kembali satu-satunya bidadari yang berani melempar black card miliaran rupiah ke wajah asistennya.)
Di dalam kamar sempit di belakang kedai, Senja bersandar pada pintu kayu yang baru saja ia banting.
Tubuhnya merosot perlahan hingga ia terduduk di lantai dingin. Gadis itu memeluk kedua lututnya dan menggigit punggung tangannya sendiri untuk meredam suara isak tangisnya agar tidak terdengar ke luar.
Hatinya hancur berkeping-keping. Memasang wajah dingin dan mengusir pria yang paling ia cintai adalah hal paling menyakitkan yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Kumohon, Kak Arga... pergilah. Kembalilah ke duniamu. Jangan membuatku semakin sulit untuk melupakanmu, batin Senja menangis, merutuki takdir yang selalu mempertemukan mereka kembali.
Namun Senja tidak tahu, bahwa di seberang jalan sana, sang Iblis Korporat baru saja mengambil keputusan tergila dalam hidupnya. Pria itu tidak akan pergi ke mana-mana. Badai pertempuran yang sesungguhnya untuk merebut kembali hati Senja Kirana, kali ini tanpa harta dan kekuasaan, baru saja dimulai.