Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Master Liu terdiam sesaat, dahinya berkerut mencoba mencari jawaban dari puluhan tahun pengalamannya.
"Itu tidak mungkin dilakukan secara langsung. Kau harus menunggu lapisan hitamnya benar-benar kering selama berminggu-minggu sebelum menaburkan emasnya," jawab Master Liu yakin.
Jiang Ming tertawa pelan, tawa yang penuh dengan penghinaan mutlak.
"Salah besar. Guruku menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam saat cat hitamnya masih sangat basah."
"Teknik itu disebut Sapuan Awan Berlapis, di mana kuas tidak menekan kanvas, melainkan memanipulasi ketegangan permukaan cat minyak itu sendiri."
Jiang Ming mulai mengeluarkan rentetan teori dan istilah teknis melukis tingkat tinggi yang ditanamkan oleh sistem ke dalam otaknya.
Dia menjelaskan sudut kemiringan kuas, tekanan pergelangan tangan, hingga suhu ruangan yang dibutuhkan dengan sangat presisi.
Setiap kata yang keluar dari mulut Jiang Ming bagaikan tamparan keras di wajah Master Liu Tua.
Mata pria tua itu perlahan melebar, dan kemarahannya menguap digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa.
"Itu... itu adalah teknik legendaris yang hanya tercatat di buku sejarah Dinasti Tang yang sudah lama hilang," gumam Master Liu dengan bibir bergetar.
"Bagaimana mungkin kau, seorang pemuda yang masih bau kencur, mengetahui teori serumit ini dengan sangat detail?"
"Karena aku adalah murid langsung yang menyiapkan kuas dan cat untuk Tuan Wu Ming setiap hari," kebohongan Jiang Ming mengalir tanpa cela.
"Jika kau ingin melaporkan karya guruku sebagai barang curian, silakan saja."
"Tapi aku pastikan Asosiasi Seni Nasional akan menjadi bahan tertawaan seluruh dunia karena gagal mengenali teknik mahaguru yang sesungguhnya."
Ruangan VIP itu mendadak hening seketika.
Su Qingxue menatap Jiang Ming dari samping dengan sorot mata yang penuh teka-teki.
Kecerdasan, ketenangan, dan aura intimidasi yang dipancarkan Jiang Ming barusan sama sekali bukan milik seorang kurir rendahan.
"Maafkan kelancanganku tadi, Tuan Jiang," ucap Master Liu akhirnya menundukkan kepalanya, mengalah sepenuhnya pada logika.
"Penjelasanmu barusan sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Tuan Wu Ming memang seorang maestro sejati yang hidup di era modern ini."
Jiang Ming kembali bersandar ke kursinya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Kuharap ini menjadi kali terakhir asosiasimu mengganggu ketenangan guruku dengan tuduhan konyol."
"Tentu saja, kami tidak akan pernah mengganggu lagi. Namun jika Tuan Wu Ming berniat menerima murid di asosiasi, pintu kami selalu terbuka lebar."
Master Liu bangkit dari kursinya dengan perasaan campur aduk antara malu dan kagum, lalu pamit undur diri dari ruangan itu.
Kriet.
Pintu tertutup rapat, hanya menyisakan Jiang Ming dan Su Qingxue di dalam sana.
"Sandiwara yang sangat luar biasa, Jiang Ming," puji Su Qingxue sambil memutar-mutar cangkir tehnya.
"Aku tidak sedang bersandiwara, Nona Su. Aku hanya mengajari pria tua itu sedikit tentang dunia seni," balas Jiang Ming santai.
"Kau tahu, cara bicaramu saat menjelaskan teknik lukisan tadi tidak terlihat seperti seorang murid."
Mata indah Su Qingxue menyipit, mencoba menembus pertahanan mental Jiang Ming.
"Kau terlihat seperti pencipta asli dari teknik itu sendiri."
Jiang Ming tersenyum simpul di dalam hatinya, wanita ini memang memiliki insting yang sangat berbahaya.
"Jika aku memang pencipta aslinya, aku tidak akan memakai kemeja murahan ini dan datang ke galerimu menggunakan taksi sewaan," kilah Jiang Ming dengan sangat masuk akal.
"Lagi pula, mana ada seniman mahaguru legendaris yang usianya baru dua puluh dua tahun?"
Su Qingxue terdiam mendengar argumen logis tersebut.
Memang tidak masuk akal jika pemuda miskin tanpa latar belakang pendidikan seni seperti Jiang Ming bisa melukis mahakarya suci.
"Baiklah, aku akan memegang kata-katamu untuk saat ini," ucap Su Qingxue menyerah pada kecurigaannya sendiri.
"Oh ya, jangan lupa acara peletakan batu pertama Grup Tianyu minggu depan. Ketua Zhao secara khusus meminta kehadiranmu di sana."
"Tentu, aku pasti akan datang dengan pakaian terbaikku," jawab Jiang Ming sambil tersenyum misterius.
Jiang Ming pamit dari galeri itu dan melangkah keluar menuju jalan raya yang ramai.
Udara sore kota Jinhai terasa sedikit panas dan pengap.
Dia menatap layar ponselnya yang menyala menampilkan sebuah berita lokal terkini.
Judul beritanya ditulis dengan huruf kapital besar berwarna merah menyala.
Insiden Runtuhnya Perancah Baja di Proyek Perumahan Grup Tianyu, Tiga Pekerja Luka Berat.
Jiang Ming membaca berita itu dengan tatapan mata yang sangat dingin tak berperasaan.
"Karma dari naga hitam itu ternyata bekerja jauh lebih cepat dari yang kuperkirakan," gumam Jiang Ming.
Zhao Tianhua mengira dia telah membeli dewa pelindung dengan harga sepuluh juta yuan.
Padahal dia baru saja menanam bom waktu gaib yang perlahan mulai memakan nyawa dan harta benda di dalam proyeknya.
Semakin cepat Grup Tianyu hancur lebur, semakin mudah bagi Jiang Ming untuk mengambil alih puing-puing kekuasaan mereka di wilayah selatan.
Dia menyimpan ponselnya ke dalam saku dan berjalan membaur ke dalam keramaian kota.
Perusahaan Alam Hijau menunggunya untuk segera diresmikan besok pagi.
Dan Jiang Ming tidak punya waktu untuk mengasihani musuh yang sudah menggali kuburannya sendiri.