Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah terdengar suara mobil dari luar, bibi Nova yang sejak tadi menahan Chia untuk tidak keluar dari kamar akhirnya membuka pintu. Dan gadis kecil dengan kuncir dua di kepalanya itu berlari ke arah Diana.
"Ibu..."
Diana yang mendengar suara anaknya segera menyeka air matanya. Dia tidak mau membiarkan anaknya melihat apa yang terjadi padanya. Betapa hancurnya dia saat ini.
Grepp
Chia kecil itu memeluk Diana yang masih berlutut di lantai.
"Ibu, ibu kenapa?" tanya Chia melihat mata ibunya merah, dan menyentuhnya perlahan.
"Ini, ibu kelilipan. Tidak apa-apa, Chia sudah lama bangun?" tanya Diana tersenyum pada putrinya.
Gadis kecil itu mengangguk,
"Hem, nenek telepon. Katanya mau jemput, nenek punya kelinci baru di rumahnya!"
Diana terdiam, wanita itu menghela nafas panjang. Ibu mertuanya, kenapa tiba-tiba saja mau jemput putrinya. Biasanya, jarang sekali mau direpotkan untuk menjaga Chia. Pikirannya makin macam-macam, Diana mulai merasa, kalau jangan-jangan ibu mertuanya sudah tahu tentang apa yang dikatakan oleh Geo.
Sandra itu orang kaya, dia bosnya Geo dan anak dari salah satu orang terkenal, terpandang di kota ini. Tangan Diana langsung gemetar memikirkan kalau dia akan benar-benar disingkirkan.
Brukk
"Nyonya... nyonya kenapa? nyonya?" bibi Nova tampak panik.
Tapi, wanita paruh baya itu juga cepat mendengar pertengkaran antara tuan dan nyonya nya. Dia pikir menghubungi Geo mungkin bukan ide yang bagus. Maka bibi Nova pun memilih menghubungi Kinan. Sahabat baik nyonya nya.
"Bibi, ibu kenapa?" Chia sudah terlihat mau menangis.
"Nyonya sakit, non. Kan kemarin beli obat, mungkin belum di minum!" bibi Nova sungguh menjelaskan seadanya saja, karena dia memang bukan orang yang berpendidikan tinggi yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih baik dari penjelasan nya itu.
Bibi Nova mengangkat perlahan Diana ke sofa. Tak lama kemudian Kinan datang, melihat kondisi Diana. Kinan sampai memanggil dokter.
Dokter datang dan memeriksa Diana.
"Bagaimana teman saya, dok?" tanya Kinan.
"Lambungnya bermasalah, sepertinya sering terlambat makan ya. Juga terlalu banyak pikiran mungkin, memperburuk kondisi lambungnya! ini saya resepkan obat. Makannya juga harus yang lembut dan mudah dicerna, mungkin sampai tiga atau empat hari!"
Kinan mengantar dokter itu pergi. Setelah kembali dia bertanya pada bibi Nova tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Semalam Diana sudah beli obat, kenapa dia sampai seperti ini, Bi?" tanya Kinan.
"Itu non, semalam tuan dan nyonya bertengkar. Setelah suara bantingan pintu, tidak ada suara lagi sampai pagi. Tapi kemudian mereka bertengkar lagi, tuan membanting pintu lagi dan pergi meninggalkan nyonya berlutut di dekat pintu! setelah itu nyonya pingsan!" jelas bibi Nova.
"Ada apa ini? ya sudah tolong buatkan bubur ya, Bi!"
"Baik non Kinan!"
Hingga beberapa saat kemudian, Diana pun sadar. Kinan segera memberi sahabatnya itu minum.
"Diana, makan dulu. Nanti minum obat. Aku sudah suruh sekertaris ku beli obatnya!"
Grepp
Tapi alih-alih melakukan apa yang dikatakan Kinan. Diana malah memeluk sahabatnya itu dan menangis terisak.
"Mas Geo, Kinan. Dia mau menceraikan aku!"
Alis Kinan baik tinggi, dia masih mencoba mencerna ucapan Diana dengan baik.
"Kamu bilang apa?"
"Mas Geo mau cerai, dia bilang aku harus pergi meninggalkan dia, rumah ini dan Chia..." tangis Diana terdengar semakin pilu.
Rasanya mustahil kalau Diana tidak serius, dengan isak tangis yang begitu memilukan seperti itu.
"Diana, bagaimana bisa...?"
Diana pun menceritakan segalanya kepada Kinan. Kinan yang hanya mendengar, tidak melihat sendiri saja sudah sangat emosi. Tangannya terkepal kuat, bahkan garis rahangnya terlihat kaku sekali.
"Benar-benar si Geo. Dia bilang bosan? kalau memang dia mau kamu berdandan, dia harusnya katakan pada ibunya itu, ibunya yang melarang kamu merias wajah. Ibunya melihat kamu pakai gaun tanpa lengan saja sudah teriak-teriak, melihat kamu pergi ke salon menemani aku saja sudah bilang boros, buang-buang waktu! ngabisin uang. Sekarang dia bilang kamu membosankan. Kalau kamu bicara tentang modernisasi, pemrograman dan teknologi yang ada dia akan terlihat bodohh di depan kamu. Dia lupa apa, kamu lulusan terbaik Tekno College. Hah... aku kesal sekali! semua itu hanya alasan Diana, intinya dia menggatall! sudah itu saja alasannya!" air mata Kinan sampai menetes tanpa dia sadari sangking emosinya dia mendengar cerita Diana.
Diana masih menangis.
"Aku tidak mau kehilangan Chia, mas Geo bilang aku disuruh pergi tanpa Chia!" lirih Diana.
Sungguh hanya putri semata wayangnya itu yang dia beratkan. Selain hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
"Aku akan bantu kamu, Diana. Pamanku punya kenalan pengacara!"
Diana masih menggenggam tangan Kinan. Kalau tidak ada Kinan, dia benar-benar akan merasa sangat hancur.
"Hais, memang benar kata Sandra. Wanita yang tidak punya karir, dan hanya mengurus rumah itu bisanya ya cuma nangis! kamu ngadu sapa sama temen kamu ini?"
Dewi, ibunya Geo datang di ikuti supirnya di belakangnya.
Kinan yang mendengar itu segera berbalik dan menatap tajam wanita yang selama 3 tahun terkena stroke dan diurus oleh Diana tanpa pamrih. Diana harus berhenti bekerja untuk merawat Dewi. Bahkan ketika Diana dan Geo belum menikah.
"Bibi sudah tahu? bibi biarkan saja gitu! anak bibi itu menggatall?" tanya Kinan emosi.
Diana berusaha menahan diri, meski rasanya dia juga ingin bertanya pada ibu mertuanya itu. Kenapa ibu mertuanya itu tidak memberitahunya, kalau sudah tahu Geo berhubungan dengan Sandra.
"Kalau aku tahu kenapa? Sandra itu jelas-jelas lebih segala-galanya dari Diana! kenapa aku harus merusak rencana anakku?"
Diana tidak tahan lagi, dia berdiri dan mendekati ibu mertuanya.
"Aku salah apa, Bu? kenapa kalian tega sekali..."
"Kamu itu harusnya tahu diri Diana! kamu itu wanita rumahan yang gak bisa apa-apa. Gak ada bedanya sama pelayan, sedangkan Sandra. Dia anak tuan Hartawan. Geo akan menjadi orang penting kalau sama dia! lagipula Geo bilang sudah bosan sama kamu, kamu sudah gak berguna. Jadi jangan gak tahu diri. Cepat kemasi barang kamu, pergi dari sini!" pekik Dewi.
"Bibi benar-benar orang yang gak tahu diri!" pekik Kinan.
"Berani kamu berteriak padaku ya! satpam! usir mereka berdua dari rumah ini. Bibi Nova, kemasi semua pakaian butut wanita gak berguna ini. Cepat!"
Tiba-tiba dua orang satpam masuk ke dalam rumah. Mereka satpam rumah Dewi. Sepertinya Dewi memang sudah punya niat sejak awal mengusir Diana.
"Bu..."
"Pergi!"
"Dasar nenek lampir! Diana ini orang yang merawat kamu..."
"Anakku juga sudah kasih dia makan, baju dan tempat tinggal gratis selama 7 tahun. Jangan bicara hutang budi padaku!" pekik Dewi dengan angkuhnya.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣