Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kabut fajar di pelataran gerbang utama Sekte Pedang Langit perlahan tersibak oleh cahaya keemasan matahari pagi.
Sebuah kereta naga raksasa bertingkat dua terparkir megah di depan anak tangga marmer.
Dinding kereta itu dibuat dari kayu cendana ungu yang menebarkan aroma wangi penenang jiwa, dihiasi ukiran giok penangkal guncangan di setiap sudut roda besinya. Empat ekor Kuda Naga Sisik Perak bertubuh kekar mendengus pelan di barisan penarik, kaki-kaki mereka memercikkan bara api spiritual tipis ke atas lantai batu.
Di kabin lantai dua kereta yang berdinding tirai sutra tembus pandang, Gu Ran berbaring santai di atas kasur bulu angsa salju setebal dua jengkal.
Jubah sutra putihnya terbuka santai di bagian dada, memperlihatkan kulit lehernya yang kini telah sembuh mulus tanpa bekas luka. Di samping ranjangnya, Xiao Zhu duduk bersila sambil mengupas kulit buah anggur es ungu di dalam mangkuk perak.
“Tuan Muda Gu, anggurnya manis sekali,” bisik Xiao Zhu seraya menyodorkan sebutir buah anggur dingin ke tangan Gu Ran.
Gu Ran menelan buah anggur tersebut, lalu memejamkan matanya menikmati hembusan semilir angin pagi yang masuk melalui celah jendela sutra.
“Bantalan bulu angsa ini cukup empuk,” gumam Gu Ran pelan. “Tidak sia-sia kita menyewa kereta termahal di paviliun dagang.”
Di bagian depan luar kereta, suasana sama sekali tidak terasa santai.
Song Ming duduk tegak di kursi kusir kayu, mengenakan jubah sutra abu-abu dengan mahkota giok yang terpasang rapi di rambutnya.
Kedua tangan sang Tuan Muda menggenggam tali kekang kulit naga dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya melotot tajam ke arah permukaan jalan setapak, mengamati setiap celah batu dan kerikil tajam di depan kuku-kuku kuda penarik.
“Awas kerikil di sebelah kiri,” bisik Song Ming pada dirinya sendiri dengan suara bergetar tegang. “Jangan sampai rodanya berguncang… kalau Tuan Muda Gu tersedak biji anggur, kakek buyut akan memenggal kepalaku!”
CRAAAK!
Song Ming mengibaskan cambuk kulit naga dengan gerakan hati-hati ke udara, memberi aba-aba pelan agar keempat kuda naga mulai melangkah maju.
Kereta naga bertingkat dua itu bergerak meluncur mulus meninggalkan gerbang gunung, diikuti oleh seratus murid pedang elit bersenjata lengkap yang berbaris rapi membentuk formasi dinding pelindung di sisi kiri dan kanan jalan.
Jauh di atas lapisan awan tipis di langit, bayangan abu-abu Leluhur Song Pojun melayang dalam mode senyap, mengawasi pergerakan kereta dengan kesadaran spiritual yang terus terkunci ke rongga dada Gu Ran.
Rombongan megah itu menuruni lereng pegunungan dan mulai memasuki Jalan Raya Karavan Selatan yang ramai oleh lalu lintas antar-wilayah.
Jalan raya berbatu lebar tersebut dipenuhi oleh puluhan kelompok pedagang mineral giok, karavan binatang buas, dan ratusan kultivator pengembara dari berbagai sekte kecil.
Saat kereta naga bertingkat dua berlogo pedang langit itu melintas, para pengembara di pinggir jalan serentak menepi untuk memberi jalan.
Namun ketika pandangan mereka tertuju pada sosok pria muda tampan yang duduk memegang tali kekang di kursi kusir, keheningan total melanda sepanjang jalan raya.
“T-Tunggu dulu…” bisik seorang pendekar pedang pengembara sambil menggosok matanya berulang kali. “Apakah pria di kursi kusir itu bukan Tuan Muda Song Ming, putra tunggal Patriark Sekte Pedang Langit?!”
“Mustahil!” sahut seorang pedagang giok di sampingnya dengan mulut menganga lebar. “Song Ming adalah pendekar jenius muda paling angkuh di Pegunungan Pedang Tunggal! Mengapa dia memegang cambuk kusir seperti pelayan rendahan?!”
Bisik-bisik keterkejutan menyebar bagai api membakar rumput kering di sepanjang barisan karavan.
Ratusan pasang mata menatap ke arah balkon lantai dua kereta, tempat sesosok pemuda kurus berambut putih sedang meregangkan tangannya sambil menguap lebar di atas kasur sutra.
Song Ming mendengar bisik-bisik di sekitarnya, namun alih-alih merasa malu, wajah sang Tuan Muda justru terangkat bangga.
Ia menegakkan punggungnya, menarik tali kekang kuda naga dengan gaya anggun, lalu melirik tajam ke arah para pengembara di tepi jalan dengan nada ketus:
“Minggir semuanya! Jangan biarkan debu jalanan kalian mengotori jendela kereta Tuan Muda Gu!”
Para pengembara di pinggir jalan membeku seperti patung batu, benar-benar kehilangan logika kultivasi mereka saat menyaksikan Tuan Muda teragung sekte pedang bertransformasi menjadi pengawal paling galak bagi seorang mantan budak penempa.