Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Pamit dari Sudut Desa

KILAS BALIK......

Malam terakhir sebelum roda bus biru lusuh itu membawanya pergi, Desa Sukamaju terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Angin pegunungan berembus membawa aroma tanah basah dan daun pisang yang bergesek pelan.

Intan Saputri berdiri di sudut teras belakang rumahnya, menatap kebun kecil milik ibunya.

Di sana, di antara tanaman cabai dan bunga kertas yang tumbuh subur, Intan pernah menghabiskan bertahun-tahun usianya dengan bersembunyi.

Kebun itu adalah benteng perlindungannya—tempat di mana ia tak perlu bertemu mata dengan warga desa, tempat di mana ia tak perlu mendengar bisik-bisik menyakitkan tentang dirinya yang tak kunjung dipinang pria.

Namun malam ini, sudut desa yang paling ia kenali itu tak lagi mampu memberinya rasa aman.

Di dalam kamar yang remang, sebuah tas ransel tua berwarna gelap sudah terisi rapi. Tidak banyak yang ia bawa, sebab sebagian besar ingatan tentang gadis penakut bernama Intan sengaja ia tinggalkan di atas kasur tipisnya.

Klek.

Suara engsel pintu dapur terdengar berdecit. Ibunya melangkah pelan mendekat, membawa sebuah mangkuk kecil berisi kolak pisang hangat.

Uap tipis membumbung dari permukaan mangkuk, membawa wangi gula jawa yang familiar.

"Minum dulu, Nak."

"Mumpung masih hangat."

Ujar Ibu pelan. Wanita paruh baya itu duduk di bangku kayu panjang yang terpaku di dinding teras, meletakkan mangkuk di sampingnya.

Intan menoleh. Ia berjalan mendekat dan duduk di sisi ibunya, membiarkan jarak di antara mereka diisi oleh keheningan yang sarat akan rasa berat.

"Ibu tidak bisa tidur?"

Tanya Intan. Suaranya datar, namun ada getaran halus yang sengaja ia tahan di dasar tenggorokannya.

"Bagaimana Ibu bisa tidur tenang kalau anak gadis Ibu satu-satunya besok mau pergi jauh?"

Balas Ibu dengan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya yang mulai berkerut menatap wajah Intan lekat-lekat bawah pendar lampu teras yang kekuningan.

"Kota itu besar, Intan."

"Luas sekali.

"Ibu bahkan tidak bayangkan seperti apa ramainya di sana."

"Intan bisa jaga diri, Bu."

"Ibu tidak usah cemas."

Sahut Intan lugas.

Ibunya menghela napas panjang. Tangan wanita tua yang kasar akibat puluhan tahun mengaduk adonan dan mencuci pakaian itu merengkuh jemari Intan.

Genggaman itu hangat, persis seperti genggaman yang selalu menenangkannya saat Intan kecil takut mendengar suara petir.

"Ibu tahu, selama ini kamu memendam banyak hal."

Bisik Ibu, matanya mulai berkaca-kaca.

"Ibu tahu kamu sering dengar omongan orang-orang desa."

"Mbak Sri, Pak RT, atau ibu-ibu di posyandu..."

"Mereka bilang kamu perawan tua yang penakut, bilang kamu seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa."

Intan terdiam. Jemarinya di dalam genggaman ibunya sedikit membeku.

"Ibu diam bukan karena Ibu setuju sama mereka, Nak."

Lanjut Ibu dengan suara bergetar.

"Ibu diam karena Ibu pikir, selama kamu di rumah, kamu aman dari jahatnya orang luar."

"Tapi... kalau tinggal di rumah ini justru bikin hatimu seperti terkurung di penjara, Ibu dosa kalau terus-terusan menahanmu di sini."

Setetes air mata jatuh membasahi pipi ibunya yang keriput.

Melihat air mata itu, ada sesuatu yang bergetar hebat di dalam dada Intan. Selama ini, ia mengira ibunya tidak peduli pada cemoohan warga.

Ia mengira hanya dirinya yang menanggung beban malu akibat usianya yang menginjak 23 tahun tanpa ada pria yang datang menyunting.

Ternyata, ibunya menanggung luka yang sama—hanya saja disembunyikan di balik senyuman dan olahan kue di dapur.

Rasa bersalah sempat menyenggol hatinya. Namun, mengingat uang simpanannya yang raib serta penipuan kejam yang dilakukan Rian, tekad Intan justru makin mengeras bagaikan baja.

Ia tidak boleh menyerah. Jika ia tetap tinggal dan mengurung diri di rumah ini, ia tidak hanya membiarkan Rian menang, tetapi juga membiarkan ibunya terus-menerus menanggung malu akibat keputusasaan anak gadisnya.

"Intan tidak pergi karena benci desa ini, Bu."

Kata Intan, menatap lurus mata ibunya tanpa berkedip.

"Intan pergi karena Intan harus membuktikan sesuatu."

"Intan bukan gadis lemah yang bisa diremehkan orang lain."

"Tapi, Tan... apa tidak ada cara lain selain pergi sendiri?"

"Tidak ada, Bu."

"Ini jalan yang harus Intan tempuh."

Ibunya menyapu air matanya dengan ujung daster, lalu mengangguk pelan. Ia tahu betul, ada sesuatu yang telah berubah drastis dari anak gadisnya dalam beberapa hari terakhir.

Sorot mata Intan tak lagi seperti embun pagi yang rapuh, melainkan seperti karang di lautan yang tak tergoyahkan oleh ombak.

"Kalau begitu... pegang nasihat Ibu ini baik-baik."

Ujar sang ibu dengan nada bersungguh-sungguh.

"Di kota nanti, kalau kamu bertemu kesulitan, jangan pernah lupa jalan pulang."

"Tapi... kalau kamu bertemu pria di sana, jangan pernah serahkan hatimu seutuhnya sebelum kamu benar-benar tahu siapa dia sebenarnya."

"Hati manusia di luar sana tidak sebersih udara desa kita."

Nasihat itu menghantam dada Intan dengan telak. Hati manusia di luar sana tidak sebersih udara desa."

"Kalimat itu menjadi penjelas paling sempurna atas muslihat Rian yang telah meremukkan kepolosannya.

"Intan mengerti, Bu."

"Tidak akan ada pria yang bisa membodohi Intan lagi."

Janji Intan dingin.

Malam itu berakhir dengan keheningan yang panjang. Intan menghabiskan kolak pisang buatan ibunya hingga suapan terakhir, menikmati setiap detik kehangatan rumah yang mungkin tak akan ia rasakan lagi dalam waktu yang lama.

Saat fajar menyingsing di ufuk timur, Intan sudah berdiri di depan pintu depan. Tas ransel tua menempel erat di punggungnya.

Ibunya berdiri di ambang pintu, menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan yang agak lusuh ke dalam saku kemeja Intan—uang pegangan terakhir yang dipaksakan sang ibu.

"Hati-hati di jalan, Nak."

Bisik Ibu, memeluk tubuh mungil Intan erat-erat.

Intan tidak menangis. Air matanya sudah habis di hari saat Rian memblokir seluruh komunikasinya. Ia membalas pelukan ibunya sejenak, lalu melepaskannya.

Ia berbalik dan mulai melangkah menelusuri jalan setapak desa yang masih tertutup kabut tipis.

Setiap langkah kaki yang ia jejakkan di atas tanah basah Lao-Lao terasa bagaikan sebuah garis pemisah yang tegas.

Di sudut desa itulah, gadis bernama Intan Saputri—si anak introvert yang takut tidak menikah, si gadis lugu yang mudah tertipu janji manis di layar kaca—resmi pamit dan ditinggalkan.

Dan ketika tubuhnya melangkah naik ke atas bus biru yang menderu keras, sosok yang melangkah menuju kota besar bukan lagi korban yang meratap, melainkan seorang pemburu yang siap menagih setiap tumpah air mata dan hutang rasa sakit hatinya.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😉

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!