Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI UJUNG KEBERANIAN DAN BUNGA ES

Udara di lorong lantai dua itu mendadak mengental dan memanas.

Bisikan yang baru saja keluar dari bibirku seolah menghentikan seluruh pergerakan waktu di dalam mansion megah ini.

"Bagaimana kalau... aku memang sengaja ingin melihatnya, Raymond?"

Kata-kata itu tergantung di udara, berani, liar, dan penuh provokasi.

Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri bergemuruh hebat di dalam dada, namun aku memutus aliran rasa takutku.

Aku menatap lurus ke dalam manik mata hazel milik Raymond pria 35 tahun yang kini resmi menjadi ayah tiriku, sekaligus kunci dari rencana pembalasan dendamku.

Raymond tidak bergerak mundur sedikit pun.

Pria itu berdiri bagai patung perunggu yang kokoh dan tak tergoyahkan.

Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa.

Tatapan mata hazel-nya yang semula tenang perlahan menyempit, menyapu seluruh inci wajahku dari mataku yang berbinar penuh tantangan, memintas hidungku yang mancung, hingga berhenti tepat di bibir merah alamiku yang sedikit terbuka.

Tangan kanan Raymond yang berurat dan kokoh perlahan terangkat.

Aku menahan napas, mengira pria dingin itu akan tersulut emosi, atau mungkin mendorong tubuhku menjauh.

Namun, jarinya yang dingin hanya terulur melewati bahuku, lalu dengan gerakan yang sangat terukur dan perlahan, ia menyentuh daun pintu kayu di belakangku.

CEKLEK.

Ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar, lalu melangkah satu sentimeter lebih dekat hingga jarak di antara tubuh kami hampir tak tersisa.

Aroma parfum woody bercampur kesegaran air kolam dari tubuh berotnya semakin pekat menusuk indra penciumanku.

"Kamu bermain-main dengan api yang salah, Clarissa," suara bass Raymond terdengar begitu rendah dan parau, bergema persis di samping telingaku.

Hembusan napas hangatnya yang beraroma tembakau tipis menyapu leher jenjangku, membuat getaran halus merayap dari tengkuk hingga ke tulang belakangku.

"Aku tidak sedang bermain-main," balasku lirih, memberanikan diri mendongak menatap rahang tegasnya.

Aku menatap kemeja putihnya yang masih tak terkancing sempurna, memperlihatkan pahatan otot dadanya yang tegap.

"Aku hanya menyuarakan apa yang kulihat.

Dan apa yang kulihat... sangat sulit untuk diabaikan."

Sudut bibir tipis Raymond terangkat sangat tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan dominasi mutlak.

Ia tidak terlihat panik, terpesona, ataupun tergoda.

Pria ini telah berada di puncak rantai makanan dunia bisnis selama belasan tahun; ia terlalu terbiasa menghadapi berbagai bentuk rayuan dan jebakan.

"Gadis seusiamu seharusnya sibuk memikirkan tugas kuliah atau berkumpul dengan teman-teman mudamu," ujar Raymond datar, suaranya kembali berubah menjadi sedingin es, mengikis kehangatan sesaat yang baru saja tercipta.

"Bukan berkeliaran di depan kamar pria dewasa yang berstatus sebagai suami ibumu."

Kata 'suami ibumu' diucapkan Raymond dengan penekanan yang sangat halus, tetapi efeknya bagaikan sembilu yang menyayat kesadaranku.

Rasa benci pada Ibu yang sempat tertutup oleh intrik godaan ini mendadak mencuat kembali ke permukaan.

"Ibu tidak ada di sini, Raymond," bisikku penuh penekanan, mataku menyipit tajam.

"Ibu sedang bersenang-senang di luar sana membelanjakan uangmu, seperti biasa.

Dia bahkan tidak pernah peduli padamu."

Raymond menatapku tanpa ekspresi, tidak membantah ataupun membenarkan pernyataanku.

Jemari tangannya yang panjang tiba-tiba bergerak merapikan kerah gaun merah ketatku yang sengaja kubuka kancing teratasnya.

Sentuhan ujung jarinya yang dingin menyengat kulit leherku secara tidak sengaja, mengirimkan sengatan listrik yang membuat dadaku naik turun menahan debar.

Dengan perlahan, Raymond mengancingkan kembali kancing gaunku yang terbuka hingga tertutup rapi.

"Kembalilah ke kamarmu," perintah Raymond halus, namun mengandung kekuasaan yang tak bisa dibantah.

"Malam ini aku ada pertemuan via video call dengan relasi dari Zurich.

Jangan ganggu aku lagi."

Tanpa menunggu reaksiku, Raymond berbalik memunggungi diriku, melangkah santai menuju meja kerjanya yang dipenuhi dokumen.

Ia duduk di kursi kulitnya, menyalakan komputer, dan memfokuskan pandangannya pada layar—seolah-olah keberadaanku di ruangan itu telah terhapus sepenuhnya.

Aku berdiri membeku di ambang pintu selama beberapa detik.

Bibirku terkatup rapat, jemariku mengepal di samping tubuh.

Pria ini benar-benar sebuah benteng es yang tak bertuan.

Ia tidak menolakku dengan makian, tetapi ia mengabaikanku seolah aku hanyalah seekor kerikil kecil di jalannya.

Rasa frustrasi dan rasa penasaran yang liar membakar dadaku bersamaan.

Aku memutar tubuhku dan melangkah meninggalkan ruang kerja itu dengan dada bergemuruh.

Malam kian larut ketika aku berdiri di depan cermin kamar mandiku.

Air hangat dari shower membilas tubuhku, tetapi pikiranku masih tertambat pada tatapan mata hazel Raymond.

Aku menyentuh leherku—tempat di mana jemari dingin Raymond sempat singgah beberapa jam lalu.

Ponselku yang tergeletak di atas wastafel berdering nyaring, menampilkan nama Karin di layarnya.

Aku mematikan kran air, melilitkan handuk mandi di tubuhku yang berlekuk bagai gitar Spanyol, lalu mengangkat panggilan video itu.

"Bagaimana, Ris?!

Rencana pertama lu berhasil?!" sembur Karin tanpa basi-basi begitu wajahku muncul di layar.

Gadis itu tampak sedang duduk di atas kasurnya dengan mi instan di tangan.

Aku mendesah panjang, merapikan rambut basahku ke belakang.

"Dia bagaikan batu karang, Rin.

Sangat dingin.

Dia bahkan mengancingkan kembali gaunku yang sengaja kubuka."

Karin hampir tersedak mi instannya.

"Anjrit!

Beneran?!

Dia nggak tergiur sama sekali lihat cewek secantik dan seseksi lu dalam jarak selangkah?!"

"Tidak sama sekali," jawabku dengan nada getir.

"Dia sangat mengontrol dirinya.

Pria itu berumur 35 tahun dan menguasai tambang emas dunia, Rin.

Dia bukan cowok kampus seperti Aris yang gampang kebiasan bayangan paha mulus."

"Justru itu yang bikin makin menantang, Ris!" sahut Karin dengan mata berbinar-binar gila.

"Pria dingin kayak Raymond Perkasa itu kalau sekali bentengnya runtuh, dia bakal sangat terobsesi dan liar.

Lu jangan menyerah di langkah pertama!"

"Aku tidak akan pernah menyerah," batasku cepat, mataku menatap tajam pada pantulan diriku di cermin.

"Aku sudah melangkah sejauh ini.

Aku tidak akan berhenti sampai Ibu kehilangan pria itu dan menangis darah."

"Good!" Karin menepuk tangannya girang.

"Nah, kalau strategi buka-bukaan langsung gak mempan karena dia terlalu berdedikasi menjaga image 'suami dingin', pakai strategi kedua: psikologis dan keterbiasaan.

Bikin dia terbiasa dengan kehadiran lu secara intens, bikin dia merasa cuma lu yang mengerti kesibukannya, sementara ibu lu sibuk menghamburkan uangnya."

Aku mencerna ucapan Karin.

"Maksudmu?"

"Pria sesibuk dan sedingin dia pasti kesepian di puncak kekayaannya," bisik Karin perlahan dari seberang telepon.

"Ibu lu cuma cinta sama uangnya, bukan sama sosok Raymond.

Manfaatkan celah itu.

Sentuh sisi emosionalnya dulu, baru hancurkan pertahanan fisiknya."

Aku menatap layar ponselku, lalu mengangguk pelan.

Ide Karin kali ini masuk akal.

Raymond Perkasa mungkin membentengi fisiknya dari godaan dangkal, tetapi tidak ada manusia yang kebal dari godaan emosional yang terencana rapi.

Di luar kamar, suara deru mobil kemewahan Ibu baru saja terdengar memasuki pelataran mansion.

Ibu baru saja pulang dari pesta sosialitanya, tidak tahu bahwa di balik dinding-dinding dingin rumah ini, sebuah permainan berbahaya untuk menghancurkan hidupnya telah resmi dimulai.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!