Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMBOK BESI YANG TAK TERGOYAHKAN
Ziva bukan tipe orang yang bisa tidur nyenyak dengan rasa penasaran yang mengganjal di dada.
Kalimat papanya semalam tentang betapa "berbahaya" dan "kaku"-nya Gibran terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Pagi itu, alih-alih pergi ke kelas Hukum Internasional yang membosankan, Ziva memilih membolos.
Ia menyeret Keyla ke sebuah kafe tersembunyi yang remang di sudut Jakarta Selatan, tak jauh dari kompleks Markas Besar.
"Ziv, kita bisa kena drop out kalau lo bolos terus cuma demi mata-matain sang Jenderal," keluh Keyla sambil membuka laptopnya, menyatukan alisnya yang cemas.
"Lo tahu kan dosen Hukum Internasional kita killer-nya minta ampun?"
"Key, lo itu jenius IT.
Hacker andalan kampus kita," Ziva menyela cepat, menopang dagunya dengan mata berbinar penuh obsesi.
"Sekarang, gue butuh lo buat cari tahu apa yang Papa dan Om Gibran sembunyiin di masa lalu.
Apa pun itu.
Mantan pacar, skandal militer, atau... apa pun yang bikin Om Gibran jadi patung es kayak sekarang."
Keyla menghela napas pasrah, jemarinya yang lincah mulai menari di atas papan ketik, menembus beberapa jaringan arsip terbuka dan repositori berita lama.
"Gue nggak janji ya, Ziv.
Data militer tingkat tinggi itu dilindungi enkripsi berlapis baja."
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang amat menegangkan.
Hanya terdengar denting cangkir dan ketukan jari Keyla.
Ziva menyesap kopi pahitnya tanpa gula, matanya tak lepas dari pergerakan layar monitor di hadapannya.
"Ketemu," bisik Keyla tiba-tiba.
Wajahnya mendadak berubah pucat pasi.
Ziva menegakkan punggungnya.
"Apaan, Key?"
"Ada satu nama yang selalu muncul di arsip laporan operasi sepuluh tahun lalu," Keyla memutar posisi laptopnya ke arah Ziva.
"Dokter Elena.
Dia dokter militer angkatan darat.
Kabarnya dia gugur dalam tugas di zona konflik perbatasan saat tim medisnya diserang penyusup."
Ziva terpaku.
Matanya membaca baris demi baris teks berita usang tersebut.
"Terus... apa hubungannya sama Om Gibran?"
"Data detailnya terkunci rapat di server internal Mabes, Ziv.
Tapi satu hal yang pasti: Kapten Gibran Mahendra pangkatnya saat itu adalah komandan lapangan yang memimpin operasi pengawalan tersebut.
Dan setelah tragedi itu, Gibran yang dulu dikenal cerdas dan ramah berubah total menjadi pria dingin yang kita kenal sekarang," Keyla menelan ludah.
"Bokap lo?
Saat itu dia menjabat sebagai pejabat diplomatik yang mengurus pasokan logistik dan batas wilayah misi tersebut.
Itu alasan mereka berdua sangat dekat... tapi ada beban berat di antara mereka."
Ziva menyandarkan punggungnya di kursi.
Hatinya mencelos, membeku seketika.
Ternyata rintangan yang ia hadapi bukan sekadar perbedaan usia, pangkat, atau penolakan biasa.
Di balik seragam kebesaran dan keangkuhan Letnan Jenderal Gibran Mahendra, ada hantu masa lalu bernama Elena yang terkunci rapat di dalam kenangan paling berdarah.
Sore harinya, langit Jakarta tumpah ruah.
Hujan deras mengguyur kota, seolah ikut merasakan gejolak amarah dan gairah yang membakar dada Ziva.
Tanpa memedulikan badai dan petir yang menyambar, Ziva mengendarai mobil sport merahnya menuju kediaman pribadi Gibran.
Ia tidak peduli lagi jika ia terlihat seperti wanita gila.
Ia harus menuntut jawaban.
Di depan gerbang besi berukir kediaman sang Jenderal, ia melihat mobil dinas berpelat bintang tiga milik Gibran baru saja melaju masuk.
Ziva membanting pintu mobilnya, melangkah keluar tanpa membawa payung, membiarkan gaun tipis dan tubuhnya basah kuyup dalam hitungan detik.
"GIBRAN!" teriak Ziva sekuat tenaga, menembus deru hujan yang memekakkan telinga.
"KELUAR KAMU, GIBRAN MAHENDRA!"
Gibran, yang baru saja turun dari mobil dengan payung hitam yang dipegang sigap oleh ajudannya, berhenti mematung di pelataran rumah.
Ia berbalik perlahan, menatap Ziva yang berdiri gemetar di balik gerbang yang terbuka half-way.
Rambut panjang gadis itu lepek menutupi wajahnya yang basah oleh air hujan dan emosi.
Gibran memberi isyarat dingin agar ajudannya masuk ke dalam rumah.
Pria itu mengambil alih payung hitamnya, lalu melangkah tenang mendekati Ziva.
Ia berhenti dua langkah di depan gadis itu, membiarkan payungnya menaungi tubuhnya sendiri secara sempurna, sementara Ziva dibiarkan berdiri kedinginan dihantam hujan.
Tidak ada pelukan, tidak ada tatapan iba, apalagi belas kasihan.
"Apa lagi yang kamu lakukan di sini, Ziva?" suara Gibran tetap dingin, kaku, dan setajam silet yang membelah udara basah.
"Pulanglah.
Kamu hanya sedang mempermalukan dirimu dan ayahmu."
"Kenapa Om selalu menutup diri?" suara Ziva bergetar hebat, bersahutan dengan dentum petir.
"Karena Elena?!
Om pikir dengan jadi es dan membunuh perasaan Om sendiri begini, Om bisa menebus masa lalu itu?!"
Mendengar nama itu terucap dari bibir Ziva, rahang tegas Gibran mengeras seketika.
Otot pipinya bertaut rapat.
Matanya yang biasanya tenang dan berwibawa kini berkilat dipenuhi amarah yang amat pekat dan mematikan.
Ia melangkah satu tahap lebih dekat, memangkas jarak, namun aura intimidasi yang ia pancarkan justru membuat Ziva merinding ketakutan.
"Jangan pernah berani menyebut nama itu dari mulutmu yang lancang, Ziva," bisik Gibran, suaranya sangat rendah namun menggelegar penuh ancaman yang sanggup meremukkan mental.
"Kamu hanya gadis kecil manja yang tidak tahu tatakrama.
Kamu pikir cinta dan kehidupan ini cuma soal kejaran murahan dan godaan anak muda?
Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehilangan.
Kamu tidak tahu apa-apa tentang darah dan tanggung jawab!"
"Aku tahu aku sayang sama Om!
Aku peduli sama Om!
Kenapa perasaan aku ini nggak pernah cukup buat Om?!" Ziva berteriak frustrasi.
Air mata kini benar-benar tumpah dari matanya, menyatu dengan curahan air hujan yang membasahi pipinya.
Gibran tertawa sinis sebuah tawa kering tanpa emosi yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Sayang?
Itu bukan cinta, Ziva.
Itu hanya obsesi seorang bocah egois yang ngambek karena tidak mendapatkan mainan yang ia inginkan.
Saya adalah pria yang sudah mati rasa sejak sepuluh tahun lalu.
Dan melihatmu..."
Gibran menatap Ziva dari atas ke bawah dengan tatapan penuh cemooh.
"...hanya mengingatkan saya pada semua hal yang paling saya benci dari dunia luar yang berisik ini."
Gibran berbalik dengan gerakan tegas, membelakangi Ziva tanpa niat untuk berpaling lagi.
"OM GIBRAN!
AKU NGGAK BAKAL PERNAH MENYERAH!" teriak Ziva histeris ke arah punggung tegap pria itu.
"AKU BAKAL BIKIN OM INGAT LAGI CARANYA MENCINTAI!"
Gibran menghentikan langkahnya sejenak, berdiri kaku di bawah guyuran hujan tanpa menoleh sedikit pun.
"Jangan buang waktumu yang tidak berharga itu.
Sampai kapan pun, kamu hanya akan melihat punggung saya, Ziva.
Pulanglah sebelum saya benar-benar membencimu dan keluargamu."
*KEBOHONGAN DI DEPAN PAPA*
Ziva kembali ke rumahnya dengan tubuh menggigil hebat dan baju yang basah kuyup.
Di ruang tengah yang hangat, Bramantyo sedang duduk santai membaca dokumen di bawah lampu temaram.
Ia mendongak dan terkejut melihat putri tunggalnya pulang dalam keadaan mengenaskan.
"Ziva?
Astaga, ada apa denganmu, Nak?" Bramantyo berdiri panik, menyambar handuk tebal dari lemari dekat tangga dan langsung menyelimuti tubuh putrinya yang gemetar.
Ziva menatap wajah ayahnya dengan mata yang sembap dan merah.
Di balik selimut handuk itu, hatinya bergejolak hebat.
Ia ingin bertanya, ia ingin membongkar semua hal yang ia tahu tentang Elena dan misi perbatasan sepuluh tahun lalu dari Keyla.
Namun, melihat raut wajah ayahnya yang tampak begitu teduh dan sama sekali tidak tahu bahwa putrinya baru saja nekat menggali luka paling berdarah di hati sahabat karibnya Ziva mengurungkan niatnya.
Bramantyo memang melarang Ziva mendekati Gibran, namun itu semata-mata karena ia menganggap Gibran adalah perwira yang terlalu kaku dan serius, tidak cocok untuk Ziva yang penuh kebebasan.
Ayahnya sama sekali tidak tahu bahaya emosional yang sedang dipertaruhkan putrinya.
"Nggak apa-apa, Pa," bohong Ziva dengan suara parau, menahan isak tangannya.
"Ziva cuma... habis lari-larian sama teman kampus terus kejebak hujan deras."
Bramantyo menghela napas panjang, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.
"Papa sudah bilang berulang kali, jangan terlalu sering bertindak impulsif.
Apalagi kalau kamu cuma mau mengejar dan mengusik Gibran.
Dia bukan pria yang tepat untukmu, Nak.
Gibran punya dunianya sendiri yang terlalu berat untuk kamu masuki."
Ziva terdiam kaku.
Malam itu, di dalam kamarnya yang hangat dan harum aroma vanila, Ziva meringkuk di balik selimut tebalnya.
Tubuhnya demam, namun hatinya jauh lebih dingin daripada air hujan yang menghantamnya tadi sore.
Penolakan tajam dari Gibran malam ini terasa seribu kali lebih menyakitkan daripada seribu penolakan yang pernah ada.
Tembok yang dibangun Letnan Jenderal itu bukan cuma tinggi, tapi terbuat dari baja, darah, dan kenangan mati yang tak tersentuh.
Namun, di balik kepedihan dan air mata yang membasahi bantalnya, gejolak obsesi Ziva tidak padam begitu saja.
Jika Gibran Mahendra menganggapnya hanya sebagai bocah kecil yang berisik, maka Ziva akan membuktikan bahwa bocah inilah yang kelak akan meruntuhkan ketenangannya, mencabut hantu masa lalunya, dan menarik sang Letnan Jenderal keluar dari kegelapan abadi.