Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

⚠️Hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas.⚠️

...****************...

Api di perapian batu raksasa menari-nari pelan, meletupkan percikan kecil yang menebarkan pendar keemasan ke seluruh dinding kayu aula Villa Mistral.

Di luar, lolongan angin laut dan rintik hujan yang menghantam jendela tebal seolah menjadi benteng alami, mengisolasi dua jiwa dari dunia luar yang penuh pertumpahan darah.

Dominic tidak melepaskan pelukannya dari pinggang Evangeline.

Sentuhan pria itu di leher Eva terasa makin hangat, sebuah tekanan yang tidak lagi dipenuhi oleh kecurigaan taktis, melainkan oleh kepasrahan murni dari seorang penguasa yang lelah terus-menerus bertindak sebagai tameng.

Eva merasakan napas teratur Dominic menyapu kulit di balik kerah kemeja serba hitamnya. Setiap embusan napas itu mengirimkan getaran halus yang membakar pertahanan batinnya.

Refleks seorang agen Ghost Rose menuntutnya untuk memanfaatkan kelengahan ini, mengambil belati tersembunyi, menancapkannya di titik lemah, dan menyelesaikan misi yang telah direncanakan sejak empat belas tahun lalu.

Namun, jemari Eva yang menyentuh bahu kokoh Dominic justru perlahan melunak.

"Dominic..." bisik Eva pelan, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh deru angin di luar.

Dominic mendongak perlahan. Iris kelamnya yang biasanya kaku bagaikan es kini memancarkan pendar kerinduan yang sangat pekat, berkilat di bawah pendar keemasan api perapian.

Pria itu menatap bibir Eva, lalu mengunci sepasang kelereng hazel yang selalu berhasil mengacaukan perhitungan logisnya.

"Jangan katakan apa-apa, Evie," gumam Dominic, suaranya rendah dan dalam. "Malam ini... jangan sebut nama konsorsium, jangan sebut nama The Five Thorns, atau pengkhianat di manor."

Dominic mengangkat tangan kanannya, menyusuri garis rahang Eva dengan kelembutan yang menyengat saraf. Tangannya terus merayap naik, menyusup ke balik sanggul rambut cokelat Eva, melepaskan jepit penahannya satu per satu hingga helaian rambut halus itu jatuh terurai menutupi bahunya.

Eva menahan napasnya ketika jemari Dominic membelai rambutnya yang terurai. Ketegangan yang telah menumpuk di antara mereka sejak malam pernikahan buatan itu mendadak mengristal menjadi energi magnetis yang tak terelakkan.

Jarak kaku yang dibangun di atas pondasi kebohongan dan dendam masa lalu seolah meleleh di bawah kehangatan perapian ini.

"Kau sangat indah, Evie," bisik Dominic di depan bibir Eva.

Sebelum Eva sempat merangkai alibi atau benteng pertahanan verbalnya, Dominic menundukkan kepala dan menutup jarak di antara mereka.

Bibir Dominic mendarat di atas bibir Eva dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan dipenuhi oleh kelaparan yang ditahan sekian lama. Ciuman itu bukan lagi benturan taktis atau klaim kepemilikan yang dingin seperti di ruang perlindungan, melainkan sebuah penyerahan diri yang intens. Dominic menyesap bibir atas dan bawah Eva dengan ritme yang memabukkan, menuntut balasan tanpa memaksa.

Eva menyentak pelan di dalam batinnya. Namun, rasa hangat yang mengalir dari sentuhan pria itu mengikis sisa-sisa penolakannya. Eva memejamkan matanya rapat-rapat, menyerahkan dirinya pada pusaran sensasi asing ini.

Tangan kirinya merayap naik, melingkari tengkuk Dominic, sementara jemari kanannya mencengkeram kemeja hitam di dada pria itu, membalas ciuman tersebut dengan desakan emosi yang sama kuatnya.

Erangan halus lolos dari tenggorokan Dominic saat ia merasakan balasan aktif dari Eva. Pelukannya di pinggang Eva kian mengetat, menarik tubuh wanita itu rapat hingga tak ada selapis udara pun yang membentang di antara dada mereka.

Dominic melepaskan bibirnya secara perlahan, menyusuri garis leher Eva dengan ciuman-ciuman kecil yang hangat dan basah. Ujung jarinya bergerak cekatan membuka kancing-kancing kemeja hitam milik Eva satu per satu.

Kain kemeja itu terbuka perlahan, memperlihatkan kulit mulus berwarna gading milik Eva yang terpapar pendar jingga api perapian.

Dominic memundurkan tubuhnya sedikit, menatap mahakarya di hadapannya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum.

Ibu jarinya mengusap lembut bekas goresan luka kecil di bahu Eva,uka dari serangan di manor tadi, seolah ingin menyerap seluruh rasa sakit yang pernah dialami wanita itu.

"Aku membiarkanmu terluka malam tadi..." desis Dominic pelan, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang dalam. "Itu tidak akan pernah terjadi lagi."

Eva menatap wajah tampan Dominic yang membingkai ketegasan dan kerentanan secara bersamaan. "Ini bukan salahmu, Dominic..."

"Ini salahku karena membiarkanmu berdiri sendirian," potong Dominic tegas.

Pria itu menyambar mantel panjang kelabu miliknya yang tergeletak di samping, meletakkannya di atas karpet Persia tebal di depan perapian untuk melapisi lantai batu yang dingin.

Dominic lalu melepaskan jas berlapis ketatnya sendiri, memperlihatkan tubuh atasnya yang atletis, terukir oleh garis-garis otot yang kokoh serta beberapa bekas luka tembak dan sabetan pedang tua, bukti dari sejarah panjang pertumpahan darah yang dikelolanya.

Dominic meraih tangan Eva, membawanya melangkah turun ke atas karpet tebal di depan perapian.

Dengan kehati-hatian yang membingungkan bagi seorang pemimpin syndicate pembunuh, Dominic menuntun Eva untuk berbaring di atas karpet.

Pria itu menyusul di atasnya, menumpu berat tubuhnya dengan kedua sikunya agar tidak menindih Eva, sementara matanya tak pernah lepas dari kelereng hazel wanita di bawahnya.

"Apakah kau yakin dengan ini, Evie?" tanya Dominic rendah. Dalam segala dominasi dan kekuasaannya, pria itu tetap memberikan ruang kendali mutlak di tangan Eva.

Eva menatap lurus ke dalam iris Dominic. Di dalam hatinya, sebuah suara memperingatkan bahwa langkah ini adalah titik tanpa jalan kembali.

Sekali ia menyerahkan fisiknya pada Dominic, batas antara Ghost Rose sang pembunuh bayaran dan Evangeline Blackwood sang istri sah akan kabur selamanya.

Namun, melihat ketulusan dan kerentanan yang terpancar dari mata pria yang dipikirkannya sebagai musuh abadi ini, benteng pertahanan Eva akhirnya runtuh sepenuhnya untuk malam ini.

"Jangan buat aku menunggu, Dominic," bisik Eva pelan seraya menarik tengkuk Dominic mendekat kembali.

Dominic menutup kata-kata Eva dengan ciuman yang kian intens dan membara.

Jemari Dominic bergerak dengan keahlian yang memabukkan, menanggalkan sisa kain yang menutupi tubuh mereka satu per satu.

Di bawah pendar api perapian yang hangat dan gemuruh badai yang membentengi villa terisolasi tersebut, dua manusia yang dipisahkan oleh takdir berdarah itu menyatu dalam kehangatan yang intim.

Setiap sentuhan Dominic adalah perpaduan antara gairah yang membakar dan kelembutan yang sangat protektif. Sentuhan jarinya di sepanjang pinggul Eva, usapan hangatnya di punggung wanita itu, serta bisikan-bisikan rendah yang memuji keindahan Eva di sela-sela napas mereka yang terengah, perlahan menghapuskan hawa dingin kegelapan dunia bawah dari dalam pikiran Eva.

Eva merintih halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dominic saat gelombang kenikmatan dan intensitas asing menyapu seluruh jaringan sarafnya.

Ia mencengkeram bahu kokoh Dominic rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran gairah yang mengikis seluruh batas ketakutan dan kebohongan di antara mereka.

Di atas karpet beludru di depan api perapian, Dominic menyatukan raganya dengan Evangeline, sebuah penyatuan yang tidak lagi didasari oleh alibi pernikahan politik, melainkan oleh rasa kepemilikan dan cinta yang tumbuh liar di tengah medan perang.

Dua jam kemudian.

Api di perapian telah mengecil, menyisakan bara merah yang memancarkan kehangatan lembut dan samar-samar. Deru hujan di luar telah berubah menjadi rintik gerimis yang menenangkan.

Eva berbaring menyamping di atas karpet tebal, terselimuti oleh mantel wol abu-abu dan selimut tebal yang diambil Dominic dari kamar atas. Rambut cokelatnya terurai bebas di atas bantal improvisasi.

Dominic berbaring di sampingnya, melingkarkan lengan kirinya di pinggang Eva dan menarik wanita itu rapat ke dalam dadanya. Tangan kanan Dominic tak berhenti mengusap punggung polos Eva dengan irama yang sangat pelan dan teratur, seolah memastikan bahwa semua ini bukan sekadar mimpi singkat di tengah badai.

Eva menyandarkan kepalanya di dada bidang Dominic, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdetak tenang dan stabil.

Keheningan di antara mereka merasa sangat berbeda dari keheningan kaku yang biasa menyelimuti kamar utama manor. Keheningan kali ini dipenuhi oleh kedekatan emosional yang pekat, sebuah ikatan yang tak terucapkan namun terasa begitu nyata.

"Kau belum tidur?" suara Dominic bergaung rendah di atas kepala Eva, ibu jarinya membelai lembut bahu wanita itu.

"Belum," sahut Eva pelan, menyapu jemarinya di atas garis otot dada Dominic. "Pikiranku masih terlalu ramai."

Dominic terkekeh halus, mencium puncak kepala Eva dengan Ciuman yang dalam. "Apa yang sedang dipikirkan oleh istriku ini?"

Eva membisu selama beberapa detik, menatap pendar bara api yang meredup di perapian.

"Aku memikirkan... apa yang akan terjadi jika kita tidak pernah berada di dalam dunia ini, Dominic," bisik Eva, menyuarakan perandaian yang jujur untuk pertama kalinya. "Bagaimana jika kau bukan penguasa Blackwood Syndicate, dan aku bukan wanita dari distrik luar? Apakah kita akan tetap bertemu?"

Dominic menghentikan usapan tangannya di punggung Eva sejenak. Pria itu menghela napas panjang, pandangan matanya menerawang menatap ke atas langit-langit aula batu yang tinggi.

"Jika aku bukan seorang Blackwood..." kata Dominic pelan, suaranya dipenuhi oleh nada perandaian yang jarang sekali terdengar, "...aku mungkin hanya seorang pria yang menghabiskan waktunya mengurusi kebun mawar di pinggiran kota. Dan jika aku melihatmu berjalan melintasi galeri seni itu... aku tetap akan melakukan segala cara untuk membuatmu menoleh padaku."

Eva menyunggingkan senyum tipis yang pahit di balik kegelapan. Jawaban yang sangat indah untuk sebuah kebohongan besar.

Dominic memiringkan tubuhnya sedikit, mengapit dagu Eva dengan ibu jari dan jari telunjuknya, memandu wajah cantik itu untuk menatapnya kembali.

"Evie," kata Dominic seraya menatap lurus ke dalam mata hazel wanita di pelukannya. "Setiap orang di konsorsium ini memiliki masa lalu yang berdarah. Nenekku, Don Sergio, bahkan almarhum ibuku. Tapi di ruangan ini... malam ini... aku tidak peduli pada bayang-bayang masa lalu itu lagi. Apa pun yang tersembunyi di dalam kotak kayu di meja itu... kita akan menghadapinya bersama."

Kata-kata Dominic mendarat tepat di pusat kesadaran Eva.

Pria ini secara terbuka telah menyerahkan benteng pertahanan terakhirnya. Dominic siap menghadapi seluruh konspirasi The Five Thorns dan dokumen manifes St. Jude 2012 bersama Eva tanpa menyadari bahwa di dalam kotak tersebut, terdapat bukti yang bisa menghancurkan silsilah keluarga Blackwood dan memicu perang saudara di antara mereka berdua.

Eva menyandarkan pipinya di telapak tangan Dominic yang hangat, memejamkan matanya seraya menikmati sentuhan pria itu.

"Terima kasih, Dominic," bisik Eva pelan.

...****************...

Keesokan harinya, pukul 07.30 pagi.

Cahaya fajar yang abu-abu menerobos masuk menembus jendela kaca aula Villa Mistral, membiaskan pendar keperakan di atas lantai batu dan sisa-sisa kayu bakar di perapian.

Dominic sudah terbangun lebih awal. Pria itu telah mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Ia berdiri di dekat meja kayu, menatap kotak kayu berukir mawar milik Lady Vivienne dengan pandangan mata yang sangat fokus.

Eva terbangun perlahan, menarik selimut tebal menutupi dadanya saat ia duduk di atas karpet Persia. Rambut cokelatnya yang sedikit kusut terurai menutupi bahunya.

Dominic menoleh saat mendengar pergerakan Eva, senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya, sebuah senyum yang sama sekali tidak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di dunia luar.

"Selamat pagi, Nyonya Blackwood," sapa Dominic pelan, melangkah mendekati Eva dan memberikan ciuman hangat di kening wanita itu.

"Selamat pagi," sahut Eva dengan suara khas orang baru bangun tidur.

Dominic menyodorkan secangkir teh herbal panas yang baru dibuatnya dari dapur villa ke tangan Eva. "Minumlah ini untuk menghangatkan tubuhmu. Hawa di tebing ini cukup menusuk."

Eva menerima cangkir tersebut, menyesap cairan hangatnya seraya matanya melirik pada kotak kayu di atas meja.

"Kau mencoba membuka gemboknya lagi?" tanya Eva.

"Belum," jawab Dominic seraya mendudukkan tubuhnya di samping Eva di atas karpet. "Aku mengingat kata-katamu semalam tentang mencari petunjuk di rumah ini. Ruang kerja pribadi Ibu di lantai dua... aku sudah menyuruh pengawal membuka kuncinya. Kita bisa memeriksanya bersama setelah kau selesai minum."

Eva mengangguk pelan. Ruang kerja Lady Vivienne.

Tempat itu bisa jadi menyimpan kunci utama tambahan atau buku harian rahasia yang menjelaskan keterikatan antara almarhumah ibu Dominic dan Clara Cross.

Tiba-tiba, suara dering panggilan telepon satelit berenkripsi milik Dominic yang terletak di atas meja berbunyi nyaring!

Kreek... Kreek...

Dominic berdiri seketika, meraih telepon satelit hitam tersebut dan menekan tombol penerima.

"Dominic di sini," kata Dominic tegas.

Suara Viktor terdengar dari seberang saluran, terdistorsi oleh gangguan frekuensi angin badai laut, namun nada suaranya sangat panik dan tergesa-gesa.

"Tuan Dominic!" teriak Viktor dari seberang satelit.

"Laporan darurat dari distrik perbatasan St. Jude! Markas utama kelompok perlawanan The Crow's Veil baru saja digerebek dan dibakar oleh pasukan tidak dikenal!"

Eva membeku seketika di atas karpet! Cangkir teh herbal di tangannya bergetar hebat hingga sedikit cairannya menetes ke selimut!

Markas The Crow's Veil digerebek dan dibakar?tempat Silas dan rekan-rekannya berada?

Dominic memicingkan matanya keras, suaranya jatuh ke titik paling dingin. "Siapa yang memimpin penggerebekan itu, Viktor?"

"Dokumen dari lapangan menunjukkan bahwa tim penyerang menggunakan senjata berstandar Faksi Rossi!" sahut Viktor dari saluran telepon.

"Dan mereka menemukan sebuah daftar nama agen penyamar yang dikirim oleh The Crow's Veil ke dalam distrik pusat... termasuk sebuah berkas data dengan kode nama Ghost Rose!"

Dunia di sekitar Evangeline seolah runtuh seketika. Pernyataan Viktor bergaung keras di dalam ruang aula Villa Mistral yang sunyi.

Dominic perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah Eva yang duduk kaku di atas karpet. Iris kelam sang penguasa mafia yang tadinya dipenuhi oleh kehangatan dan cinta dari malam romantis mereka mendadak membeku, berubah menjadi es batu yang sangat dingin dan mematikan.

Dominic menurunkan telepon satelitnya perlahan, matanya mengunci pandangan mata hazel Eva.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!