Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketua Kelas Yang Pasang Badan

Keesokan harinya, Auren melangkah koridor sekolah dengan perasaan campur aduk. Sepanjang jalan dari gerbang depan menuju kelas 7-B, ia sengaja berjalan menunduk, menatap ujung sepatu putih-birunya sendiri. Bayangan kejadian memalukan kemarin siang—saat Evan keceplosan memanggilnya "Aurenku" di depan Bu Linda dan seisi kelas—masih sukses membuat mukanya terasa panas.

Auren menghela napas panjang, menguatkan mentalnya sebelum memutar kenop pintu kelas.

Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke dalam kelas 7-B, matanya langsung membelalak sempurna. Kelas sudah ramai, dan hampir semua anak sedang berkumpul di depan papan tulis putih sambil tertawa-tawa. Di atas papan tulis itu, terdapat sebuah coretan besar menggunakan spidol hitam dan merah yang tidak bisa dihapus:

"STRUKTUR ORGANISASI KELAS 7-B: EVAN (KETUA KELAS) ❤️ AURENKU (SEKRETARIS)."

Di sekeliling tulisan itu, terdapat gambar hati berukuran besar yang dicoret-coret dengan sangat berisik oleh Doni dan komplotannya.

"Wah, Ibu Sekretaris kita sudah datang!" seru Doni begitu menyadari kehadiran Auren di ambang pintu. "Gimana tidur semalam, Ren? Nyenyak nggak dipikirin sama Pak Ketua?"

Seketika, seluruh pasokan oksigen di dada Auren rasanya lenyap. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke leher. Ia menggenggam erat tali tas ranselnya, bersiap untuk berbalik badan dan lari ke kamar mandi karena saking malunya.

Namun, belum sempat Auren melangkah mundur, sebuah bayangan tubuh yang lebih tinggi tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi pandangan anak-anak kelas dari wajah Auren yang sudah matang seperti kepiting rebus.

Itu Evan. Cowok itu baru saja datang dari arah belakang Auren dengan tas yang masih tersampir di satu bahunya. Tanpa banyak bicara, Evan melangkah maju, melewati Auren, lalu berjalan lurus menuju depan papan tulis dengan langkah yang tegas.

Tok! Tok!

Evan mengetuk papan tulis putih itu dengan keras sebanyak dua kali menggunakan jari telunjuknya. Bunyi nyaring itu seketika membuat sorak-sorai anak-anak kelas 7-B langsung terhenti. Suasana kelas mendadak hening.

"Doni, ke depan sini," perintah Evan. Suaranya terdengar datar, tegas, dan penuh wibawa sebagai ketua kelas yang tidak bisa dibantah.

Doni yang semula tertawa puas langsung mati kutu. Ia maju beberapa langkah dengan ragu-ragu. "Kenapa, Van? Kan cuma bercanda..."

"Bercanda boleh, tapi jangan merusak fasilitas kelas pakai spidol permanen. Hari ini jadwal piket kamu, kan?" Evan menyodorkan sebuah penghapus papan tulis dan sebotol minyak kayu putih dari meja guru ke tangan Doni. "Hapus sampai bersih sebelum bel masuk berbunyi. Kalau sampai guru jam pertama lihat dan kelas kita kena tegor lagi, aku sendiri yang bakal laporkan kamu ke ruang BK."

Mendengar ancaman tegas dari sang ketua kelas, Doni tidak berani membantah lagi. Dengan wajah ciut, ia langsung sibuk menggosok papan tulis itu dibantu beberapa anak cowok lainnya.

Evan tidak memperedulikan mereka lagi. Ia berbalik, berjalan menyusuri deretan meja menuju bangku paling belakang tempat Auren sudah duduk diam dengan kepala menunduk dalam-dalam di atas meja.

Evan menarik kursinya, lalu duduk di sebelah Auren. Jarak mereka yang dekat membuat Auren bisa merasakan sisa energi ketegasan Evan yang perlahan-lahan melunak saat berada di dekatnya.

Perlahan, jari telunjuk Evan terulur ke arah meja kayu milik Auren, tepat di depan wajah gadis itu yang tersembunyi di balik lipatan tangan.

Tok! Tok!

Evan mengetuk meja Auren sebanyak dua kali dengan sangat lembut.

"Papan tulisnya sudah bersih. Jangan menunduk terus, nanti leher kamu sakit," bisik Evan pelan, suaranya terdengar sangat hangat dan berbeda seratus delapan puluh derajat dari suaranya saat memarahi Doni tadi.

Auren perlahan mengangkat kepalanya, menatap Evan dengan mata bulatnya yang masih terlihat canggung. "Makasih ya, Van... tadi aku beneran takut mereka bakal terus-terusan ledek sampai jam pelajaran dimulai."

Evan tersenyum tipis, sebuah senyuman manis khas anak kelas 7 yang membuat jantung Auren kembali berdegup pusing dua kali lebih cepat. Jari telunjuk Evan kembali bergerak. Kali ini, ia mengetuk puncak kepala Auren sebanyak dua kali dengan gerakan jahil yang menggemaskan.

Tok! Tok!

"Kan aku sudah bilang kemarin, aku ini ketua kelas 7-B. Tugasku itu menjaga ketertiban kelas, termasuk menjaga sekretarisku sendiri dari anak-anak usil kayak Doni," kata Evan santai sambil menopang dagunya dengan tangan kiri, menatap lekat ke arah Auren. "Jadi, mulai sekarang kamu tenang saja. Kalau ada yang berani meledek kamu lagi, biar aku yang pasang badan di depan."

Mendengar pembelaan yang begitu berani dan tulus dari Evan, rasa malu di hati Auren perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dalam dadasnya. Di sudut paling belakang kelas 7-B yang mulai kembali bising oleh obrolan anak-anak lain, Auren tahu bahwa posisi duduk di bangku belakang ini bukan lagi sekadar tempat persembunyian mereka, melainkan tempat di mana perasaan manis di masa putih-biru mereka tumbuh menjadi lebih kuat dan nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!