Indonesia
NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Sumur

Angin hutan di Gunung Muller berdesir. Bau daun basah dan juga kemenyan bercampur menjadi satu di dalam ruang gubuk milik Atok Guro.

Arkan duduk bersila di depan Atok Guro. Kaki kanannya masih berdarah karena cakaran Dayang Sari. Botol kaca berisi minyak merah itu digenggamnya dengan sangat erat-erat, seperti ia sedang menggenggam nyawa, dan sangat takut jika terlepas.

“Pertama,” kata Atok Guro pelan. Suaranya serak tapi menggetarkan. “Kau harus paham. Induk Jarum itu bukan hantu biasa. Dia sudah tiga turunan mengikat perjanjian. Jika kau mencoba melawan dia, berarti kau juga melawan iblis di hulu sungai yang terletak di Gunung Muller.”

Arkan mengangguk. Tenggorokannya terasa kering. Sedangkan nafasnya masih sedikit tersengal.

“Terus... kenapa Dayang, Tok? Dia kan cicit paling bungsu.”

Atok Guro tak menjawab langung. Tetapi ia mengetuk mandau tuanya ke lantai kayu.

Tok! Tok!

“Karena darah Damang Jaya paling kuat. Ia adalah kepala desa. Garis pemimpin. Kalau dia berhasil jadi Kuyang sempurna, maka satu kampung ini bisa dia hisap dalam semalam.”

Di ujung hutan, jeritan Dayang Sari masih terdengar, meski samar. Tetapi cukup panjang dan menyayat hati.

Arkan memejamkan kedua matanya. Dadanya terasa sesak.

“Buka mata,” perintah Atok Guro. “Rasa takutmu itu yang membuat ia semakin terasa kuat.” ucap Atok Guro.

Arkan langsung tersentak dan membuka matanya.

Atok Guro melempar tujuh lembar daun kelor tepat ke depan Arkan.

“Remas. Sampai keluar airnya.”titahnya.

Arkan menurut. Tangannya mengambil tujuh lembar daun kelor dengan gemetar. Daun kelor mengeluarkan cairan berwarna hijau.

“Campur dengan garam dan air dari tujuh sumur berbeda. Nanti malam kita keliling kampung. Tiap pintu rumah, tiap jendela, kau percikkan cairan tersebut. Itu untuk pagar. Kuyang tidak akan bisa masuk kalau ada niat baik dari penghuninya.”

“Terus kalau Dayang gimana? Dia kan...”

“Dia beda,” potong Atok Guro. “Dia masih punya raga, alias badan. Pagar ini hanya untuk menahan Induk Jarum masuk ke tubuh orang lain. Dayang harus kita selamatkan dengan cara lain.” Atok Guro menjelaskan.

Arkan menganggukkan kepalanya dengan pelan.

Di luar gubuk, bulan separuh tertutup awan hitam.

“Berangkat,” kata Atok Guro. Ia menyerahkan kendi tanah liat ke Arkan. “Isi kendi ini dari tujuh sumur. Airnya harus diambil sebelum ayam jantan berkokok pertama. Kalau kamu telat sedetik, airnya akan berubah menjadi petaka.”

Arkan mengangguk. Di pinggangnya terselip mandau, di saku pakaiannya terdapat garam kasar, sedangkan di tangan ada daun kelor yang sudah diremas.

“Aku berangkat, Tok.”

Atok Guro menyahut dengan hanya berdehem.

Arkan berjalan menembus kegelapan. Jantungnya berdegup kencang. Kedatangannya ke kampung ini bertujuan meliput berita tentang kematian bocah secara misterius, kini justru harus terlibat di dalamnya.

Ia mengingat jika ada sebuah sumur tua yang berada di bawah pohon ulin, dan digunakan oleh warga yang berkebun.

Ia mempercepat langkahnya. Setibanya di sumur, ia langsung menurunkan timba.

Kreeeek...

Begitu air menyentuh kendi, air sumur mendadak bergejolak. Dari dalamnya muncul gelembung seperti air mendidih, tetapi berbau anyir, dan itu berubah menjadi darah.

“IKAM BERANI MENGAMBIL AIR KEHIDUPAN?!”

Suara berat dan serak keluar dari sumur. Saat Arkan melongok ke dalam, terlihat kepala anak kecil mengapung. Matanya putih semua. Itu adalah anak Pak Juhri.

Arkan menahan muntah. “Maafkan ulun...”

Tetapi kepala itu melesat naik dan menyerangnya.

Wuuussh!

Arkan yang masih memegang timba langsung ia ayunkan untuk menangkis serangan.

Taaak!"

Timba berhasil mengenai kepala terbang tersebut.

"Aaarrgh! Sakit tau!" omel kepala tersebut, dan kembali menyerang Arkan.

Arkan membeliakkan kedua matanya. Ia

membaca ayat kursi cepat-cepat. Kemudian melempar garam ke arah kepala yang terbang menyerangnya.

Seeerrr!

Garam menempel di kepala tersebut. "Aaarrgh! Main kasar kau ya!" pekik kepala tersebut, lalu kembali masuk ke dalam sumur.

Syuuut!

Kepala itu tenggelam, dan air kembali jernih. Arkan mengisi kendi dengan tangan gemetar.

"Alhamdulillah, akhirnya dapat satu." ucapnya dengan lega, sembari memegang dadanya.

Arkan kembali melanjutkan perjalanannya, menembus kegelapan malam. Ia harus berpacu dengan waktu.

Ia mempercepat langkahnya, menuju sumur kedua yang suasananya sangat gelap. Sekitarnya dikelilingi pohon jelutung yang getahnya baru saja siap di panen.

(Pohon jelutung merupakan pohon komersil bernilai tinggi. Salah satunya bahan baku permen karet, isolator kabel bawa laut, campuran ban premium, dan sebagainya.)

Baru saja Arkan hendak menurunkan timba, tiba-tiba saja, tali timba ditarik dari bawah dengan cukup kuat.

Arkan langsung terjerat, dan hampir saja terjatuh ke dalam sumur.

"Aaarrrggh!" pekiknya kesakitan. Kedua matanya terbeliak, ia sangat terkejut.

Dari dalam sumur keluar asap hitam membentuk tangan. Tangan itu mencoba mencekik leher Arkan.

“Minyaknya... serahkan...” bisik suara Induk Jarum. Ia sudah mengincar Arkan sejak tadi.

Arkan mencabut mandau. Dengan gerakan cepat, ia menggores tali.

Craaaash!

Tali langsung terputus!

Ia melempar daun kelor ke dalam sumur. Bau anyir langsung menghilang.

Dengan cepat ia menimba airnya.

Dua air sumur akhirnya di dapat.

Sesaat ia mengingat pesan Atok Guro, jika air yang sudah di dapatnya, maka tidak boleh tumpah setetes pun.

Arkan berhati-hati membawanya, dan ia tidak ingin gagal malam ini. "Dayang, kamu harus selamat," gumamnya dengan wajah penuh harap.

Sedangkan di tempat lain, Dayang mengerang kesakitan, sebab desakan ingin mencari tumbal begitu kuat. Tetapi minyak merah yang berguna untuk melepaskan leher dari tubuhnya sudah di curi oleh Arkan. Membuat ia sangat tersiksa.

"Arkan... Kembalikan minyak itu," erangnya, sembari memegangi lehernya yang terasa seperti tersayat silet.

Sedangkan Arkan sendiri, masih terus berjalan menyusuri kegelapan malam, dan sedang menuju ke rumah Pak Thamrin, untuk mengambil air yang ketiga.

Ia tiba di rumah Pak Thamrin di bagian bepakang. Rumah panggung iru tampak sunyi. Sepertinya pemilik rumah sudah tertidur pulas.

Arkan mengendap-endap dengan langkah yang sangat hati-hati.

Sumur ini sudah sepuluh tahun ditutup dengan papan. Sumur itu di gunakan jika sungai Mahakam mengalami kemarau panjang dan kekeringan, sehingga menjadi cadangan sumber air.

Begitu papan dibuka, bau bangkai langsung menyambar.

"Eeerrrggh," Arkan menahan ingin muntah. Perutnya terasa seperti diaduk. Rasa mual langsung menyergapnya.

Arkan mundur selangkah. Ia menghirup udara segar sejenak, dan mengatur nafasnya yang tersengal.

Sedangkan di permukaan sumur, ada tiga mayat bayi mengambang. Perutnya kosong. Ubun-ubunnya berlubang.

“Astaghfirullah...” gumam Arkan dengan pelan. Ia tidak ingin ada yang mengetahui tentang aksinya saat ini.

Tiba-tiba air sumur naik sendiri, dan mendadak mau meluap. Luapan air itu seolah hendak menenggelamkan Arkan.

Air itu langsung meluber, dan mengejar Arkan seperti air bah yang datang dengan tiba-tiba.

Arkan terbeliak. Air sudah menghantamnya.

Byuur!

Arkan mendadak tenggelam. Ia seperti di tarik dari dalam air.

Arkan merasakan nafasnya terasa sesak. Ia hampir kehabisan oksigen. Tak hanya itu, dimana air tersebut berubah menjadi darah busuk.

Dengan cepat Arkan mengingat pesan Atok Guro. Ia mengambil garam di sakunya, melemparkannya ke dalam air.

BRAK!

Air mendadak surut lagi. Kemudian menjadi tenang.

Arkan merasakan nafasnya tersengal. Lalu dengan cepat mengambil air dan mengisi kendinya.

Ia berhasil mengambil air ketiga.

1
tati st🌼🌼
next
tati st🌼🌼
ikut ngos2an jadinya😅
Siti Yatmi
aduh..pas tegang..eh udahan....
neni nuraeni
semoga Arkan tidak ketauan dan segera mndptkn 2 minyak,,, 💪💪 Arkan 💪💪💪pula buat kak thornya biar upnya dbnykin🤭,lnjutt
FiaNasa
semangat Arkan kau pasti bisa
tati st🌼🌼
ayo semangat arka kamu pasti berhasil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
semoga Arkan berhasil,semangat Arkan,, semngt juga buat kak thor nya
Siti Yatmi
ayo arkan semangat kamu pasti bisa..💪 author cantik juga yg semangat yah up nya...😍
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
lnjuttt
neni nuraeni: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
FiaNasa
baguslah sudah ada titik terang untuk bisa melepaskan kutukan itu
tati st🌼🌼
🧡🧡🧡🧡🧡
tati st🌼🌼
katanya dlm sebulan gak bakal.minta tumbal dulu,dasar iblis janji palsu
neni nuraeni
iiihhh sllu deh bikin aku pnsrn Bae kak thor mah🤭🤭,, lnjuttt lahhh
FiaNasa
klau cuma ngomong aja mau cari jalan kluar tanpa bertindak mana bisa Arkan,,dr awal cuma ngomong terus tp gak ada tindakan
FiaNasa: udah tak siapin gayung ni thor buat getok si arkan😅😅😅
total 2 replies
neni nuraeni
kuyang oh kuyang kau meresahkan sekali,,, pengen tak bakar kau kasian dayang
neni nuraeni: betul itu kak 😂😂tapi jijay juga kali kak😁😁
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Damang Jaya meninggal?

Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..

Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
neni nuraeni
ih tatut.. semoga mereka bisa menemukn cara agar dayang terlepas dr kutukan itu
Anggita.🤗
Syng sekali, gadis ko jd kuyang😫, mungkin kh ilmu hitam itu diturunkan dri kakek buyutnya ya.
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Anggita.🤗
Saya dulu juga pernah diganggu kuyang thor, saat ber 2 sm ank ku yg waktu itu msh balita drumah.
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.

Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Anggita.🤗: betul bngt.
total 2 replies
Anggita.🤗
Wahh ada bahasa daerah nya, atau bahasa Banjar🤭thor, kalimantan selatan merupakan suku Banjar.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺
Anggita.🤗: oh gitu🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!