Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ego dan kesombongannya langsung memberontak menolak kenyataan tersebut.
"Kau gila Rizki! Kau bilang pria udik yang kurobek surat perjodohannya itu adalah dewa medis?!" jerit Hana tidak terima.
"Ini pasti cuma kebetulan! Mungkin gembel itu cuma kacung suruhan dari Dokter Dewa yang asli!"
Rizki memegang kedua bahu istrinya dengan kuat untuk menyadarkannya.
"Tidak peduli dia kacungnya atau Dokter Dewa itu sendiri, dia adalah satu-satunya kunci untuk menyelamatkan ayahmu!" tegas Rizki.
"Kita harus membawanya kembali ke sini, bagaimanapun caranya."
"Kalau dia menolak, kita pakai cara kekerasan!" ancam Rizki dengan kilat mata licik.
Hana menggigit bibir bawahnya hingga sedikit berdarah karena kesal.
Membayangkan dirinya harus berhadapan lagi dengan pemuda kampung itu membuatnya sangat muak.
"Aku akan menyuruh puluhan pengawal elit Grup Mahakarya untuk menangkapnya besok pagi," putus Rizki penuh keyakinan.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Liem yang tenang.
Arif baru saja pulang dan berjalan masuk melalui pintu belakang yang terhubung ke dapur.
Di tangannya terdapat bungkusan plastik hitam berisi herbal yang dia beli dari Glodok.
Saat dia masuk ke dapur, dia melihat pelayan sedang sibuk membersihkan sisa makanan siang.
"Minggir sebentar, aku mau meminjam kompor," ucap Arif pada kepala pelayan.
Kepala pelayan itu langsung menyingkir dan membungkuk hormat.
"Silakan Tuan Arif, apakah Anda ingin dimasakan sesuatu?" tanya pelayan itu ramah.
"Tidak perlu, aku cuma mau merebus daun-daun ini," jawab Arif mengeluarkan panci kecil dari lemari.
Arif memasukkan air secukupnya dan memasukkan daun mint gunung, akar teratai, dan serbuk cula badak.
Dia menyalakan kompor dengan api sedang dan mulai mengaduk ramuan itu perlahan.
Bluk! Bluk! Bluk!
Air di dalam panci mulai mendidih dan berubah warna menjadi hijau kehitaman.
Seketika, aroma yang sangat aneh menguar dari panci tersebut dan memenuhi seluruh ruangan dapur.
Baunya seperti campuran antara rumput basah, tanah gosong, dan sedikit bau amis.
Para pelayan di dapur langsung menutup hidung mereka karena tidak tahan dengan bau menyengat itu.
"T-Tuan Arif, maaf, ini bau apa ya?" tanya salah satu pelayan sambil menahan nafas.
"Ini obat penekan panas, baunya memang sedikit menantang," jawab Arif santai terus mengaduk.
Asap hijau tipis perlahan menyebar keluar dari dapur menuju ruang keluarga.
Shinta yang kebetulan baru turun dari kamarnya langsung menghentikan langkah di anak tangga terakhir.
Gadis itu mengendus udara dan wajahnya langsung berkerut jijik.
"Bau apa ini?! Seperti bau kaus kaki basah yang direbus dengan bangkai tikus!" teriak Shinta menutup hidungnya.
Shinta berlari menuju sumber bau dan menemukan Arif sedang berdiri santai di depan kompor.
Melihat wajah pemuda menyebalkan itu, amarah Shinta yang tadi sudah sedikit reda kini meledak lagi.
"Hei udik! Apa yang kau masak di dapurku hah?!" bentak Shinta sambil memencet hidungnya.
Arif menoleh dan tersenyum tipis melihat wajah menderita calon tunangannya itu.
"Ini obat herbal khusus untukku, kau mau coba sedikit?" tawar Arif menyodorkan sendok sayur berisi cairan hijau pekat.
"Huek! Jauhkan benda menjijikkan itu dariku!" jerit Shinta melompat mundur.
"Kau sengaja ya memasak benda bau ini untuk balas dendam karena aku marah padamu tadi pagi?!" tuduh Shinta marah.
"Pikiranmu terlalu sempit Nona cerewet, aku membuat ini untuk berjaga-jaga kalau Racun Apiku kumat," jelas Arif menuangkan cairan itu ke dalam mangkuk keramik.
Mendengar kata Racun Api, Shinta sedikit menurunkan tangannya dari hidung.
Dia ingat kejadian kemarin saat tubuh Arif tiba-tiba menjadi sangat panas seperti besi membara.
"Racun Api? Memangnya kau punya penyakit aneh seperti itu?" tanya Shinta mulai penasaran.
"Ya, racun bawaan lahir yang selalu membuat tubuhku kepanasan jika aku menggunakan terlalu banyak tenaga," jawab Arif meniup mangkuknya.
"Dan sialnya, penawar alami racun ini hanya ada pada orang yang memiliki energi Yin murni."
Arif menatap lekat-lekat ke arah Shinta dengan senyum penuh arti.
"Seperti dirimu."
Wajah Shinta langsung bersemu merah teringat kejadian pelukan paksa di sofa tadi pagi.
"J-jadi kau memelukku tadi pagi cuma untuk obat?!" pekik Shinta merasa harga dirinya tersinggung.
"Tentu saja, memangnya untuk apa lagi? Kau pikir aku memelukmu karena tergoda dengan tubuh teposmu itu?" ejek Arif meminum obatnya dengan tenang.
Glug.
Shinta membelalakkan matanya tidak percaya mendengar hinaan telak barusan.
Dia langsung melihat ke arah dadanya sendiri lalu menatap Arif dengan amarah yang memuncak.
"Dasar cowok buta! Siapa yang kau bilang tepos hah?!" teriak Shinta mengamuk dan berniat memukul Arif.
Tepat saat Shinta berlari maju, Nana masuk ke dapur dengan tergesa-gesa.
"Shinta hentikan! Jangan mengganggu Tuan Arif!" tegur Nana menarik lengan adiknya.
"Tapi Kak! Dia mengejek fisikku!" adu Shinta merengek kesal.
Nana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekanak-kanakan adiknya.
Lalu Nana menatap Arif dengan raut wajah yang cukup serius.
"Tuan Arif, saya baru saja mendapat informasi dari orang dalam di rumah sakit," lapor Nana mengabaikan rengekan Shinta.
"Dokter Satria gagal menyembuhkan Baskoro, dan sekarang Keluarga Baskoro sedang mengerahkan ratusan preman elit mereka."
Arif meletakkan mangkuk kosongnya ke atas meja dan mengelap bibirnya dengan tisu.
"Biarkan saja mereka mengerahkan seluruh preman di Jakarta, itu tidak akan mengubah nasib si tua Baskoro," jawab Arif datar.
"Tapi Tuan, target mereka sekarang bukan mencari Dokter Dewa secara acak lagi."
Nana menelan ludahnya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kecurigaan mereka sudah mengarah langsung kepada Anda."
Arif menaikkan sebelah alisnya mendengar laporan tersebut.
"Oh? Rupanya si Rizki lumayan pintar juga bisa menebaknya secepat ini," puji Arif dengan nada sarkas.
"Mereka berencana datang kemari besok pagi untuk menjemput Anda, kemungkinan besar dengan paksaan," lanjut Nana khawatir.
Shinta yang tadinya marah kini ikut terdiam mendengar hal itu.
"Keluarga Baskoro mau menyerang rumah kita? Berani sekali mereka mencari masalah dengan Keluarga Liem!" seru Shinta tidak terima.
"Tenang saja, mereka tidak akan berani menyentuh sehelai rumput pun di rumah ini," potong Arif dengan suara berat dan berwibawa.
Arif berjalan melewati kedua kakak beradik itu menuju pintu keluar dapur.
"Biarkan anjing-anjing itu datang besok pagi," ucap Arif menyeringai dingin tanpa menoleh.
"Aku akan mengajari mereka bagaimana caranya meminta tolong dengan benar."
Melihat punggung Arif yang menjauh, jantung Shinta entah kenapa berdetak sedikit lebih cepat.
Gadis tsundere itu tidak mau mengakuinya, tapi sikap Arif barusan terlihat sangat keren dan bisa diandalkan.