Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengintaian diam diam
Piku, yang masih menyimpan dendam mendalam terhadap kekalahannya di Good Resto beberapa waktu lalu, memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih terukur kali ini, tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan gegabah menyerang tanpa persiapan yang matang. Setelah mendapat sedikit keleluasaan dari Bos Tiger yang untuk sementara waktu meminta seluruh anak buahnya lebih berhati-hati, Piku mulai melakukan pengintaian diam-diam terhadap restoran keluarga Lidar tersebut, mengamati pola kegiatan sehari-hari mereka dari kejauhan.
Dari balik sebuah warung kopi kecil di seberang jalan, Piku duduk berjam-jam sambil berpura-pura menikmati kopi, memperhatikan setiap orang yang keluar masuk Good Resto tersebut, mencatat dalam pikirannya mengenai jam-jam sibuk restoran, siapa saja yang biasa berkunjung, serta yang paling penting, seberapa sering pemuda tentara yang telah mengalahkannya tersebut kembali mengunjungi restoran itu.
"Ternyata tentara itu emang sering banget mampir ke sini," gumam Piku pelan pada dirinya sendiri, menyaksikan Dawin yang kebetulan sedang berjalan masuk ke restoran tersebut siang itu, tampak begitu akrab dengan keluarga pemilik restoran tersebut.
Kecurigaan Piku semakin bertambah ketika dia menyaksikan interaksi hangat antara Dawin dengan Kwila melalui jendela kaca restoran tersebut, sebuah kedekatan yang terlihat begitu jelas meski dari jarak yang cukup jauh. Sebuah ide licik mulai terbentuk dalam pikirannya, menyadari bahwa mungkin dia bisa memanfaatkan kelemahan emosional tersebut untuk membalas dendam yang selama ini dia simpan.
"Kalau saya nggak bisa ngalahin dia secara langsung, mungkin saya bisa manfaatin orang yang dia sayangi buat nekan dia," pikir Piku, mulai menyusun rencana jahat yang melibatkan Kwila sebagai sasaran utama untuk membalas kekalahannya tersebut.
Setelah beberapa hari melakukan pengintaian tersebut, Piku memutuskan untuk melaporkan hasil pengamatannya kepada Rangga, berharap bisa mendapatkan dukungan tambahan untuk melaksanakan rencana balas dendamnya tersebut, mengingat posisinya yang masih lemah setelah kekalahan memalukan tersebut. "Rangga, saya punya ide buat balas dendam ke tentara yang ngalahin saya waktu itu."
Rangga, yang sejak awal telah berusaha menjatuhkan posisi Piku, mendengarkan rencana tersebut dengan penuh perhitungan, mempertimbangkan apakah rencana tersebut bisa dia manfaatkan untuk kepentingannya sendiri. "Rencana apaan? Tapi inget, kalau sampe gagal lagi, reputasi lo bakal makin hancur di mata Bos."
"Tentara itu deket banget sama anak perempuan pemilik resto, namanya Kwila. Kalau kita bisa culik dia, tentara itu pasti bakal muncul buat nyelamatin, dan di situ kita bisa jebak dia," jelas Piku, mengungkapkan rencana liciknya yang melibatkan penculikan sebagai umpan untuk menjebak Dawin tersebut.
Mendengar rencana tersebut, Rangga terdiam sejenak, mempertimbangkan berbagai risiko yang mungkin timbul dari tindakan sebesar itu. "Rencana itu terlalu berisiko, Piku. Kalau sampai ketahuan Bos, bisa-bisa kita berdua yang kena masalah, apalagi kalau sampai melibatkan penculikan warga sipil tanpa persetujuan langsung dari Bos Tiger."
"Makanya, kita harus lakuin ini diam-diam, tanpa sepengetahuan Bos dulu. Kalau berhasil, baru kita laporin sebagai prestasi kita," jawab Piku dengan penuh keyakinan, mencoba meyakinkan Rangga untuk bergabung dalam rencana berbahaya tersebut.
Rangga mempertimbangkan tawaran tersebut dengan seksama, menyadari bahwa jika rencana tersebut berhasil, dia bisa mendapatkan pengakuan besar dari Bos Tiger, sebuah kesempatan yang mungkin bisa mengangkat posisinya jauh lebih tinggi dalam struktur organisasi tersebut. "Baiklah, saya ikut. Tapi kita harus rencanain ini dengan sangat hati-hati, jangan sampai ada kesalahan lagi."
Kedua pria tersebut kemudian mulai menyusun rencana lebih detail, mempertimbangkan berbagai faktor seperti waktu yang tepat untuk melancarkan aksi tersebut, rute pelarian yang aman, serta lokasi persembunyian yang tidak mudah dilacak oleh pihak berwenang, sebuah rencana jahat yang akan segera mengancam keselamatan Kwila tanpa gadis tersebut sadari sama sekali.
Sementara itu, tanpa mengetahui rencana jahat yang mulai disusun terhadap dirinya tersebut, Kwila menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan, semakin dekat dengan Dawin yang terus menunjukkan perhatian dan kepeduliannya terhadap keluarganya. Hubungan mereka berdua, meski belum secara resmi dinyatakan sebagai hubungan yang lebih serius, telah berkembang menjadi kedekatan yang begitu hangat dan penuh makna bagi keduanya.
Suatu sore, ketika Kwila baru saja pulang dari rumah sakit, dia menerima pesan dari Dawin yang mengajaknya untuk sekadar jalan-jalan santai di taman kota, sebuah kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama di luar suasana yang selalu dipenuhi kekhawatiran mengenai berbagai ancaman yang mengintai keluarganya tersebut. "Kwila, kalau besok lagi libur, mau nggak jalan-jalan bareng saya? Sekadar refreshing aja," tulis Dawin melalui pesan tersebut.
"Mau banget, Mas," balas Kwila dengan penuh antusiasme, merasakan kebahagiaan sederhana yang begitu berarti di tengah berbagai kekhawatiran yang selama ini membebani pikirannya, tidak menyadari bahwa rencana kencan sederhana tersebut akan segera menjadi sasaran empuk bagi rencana jahat yang telah disusun Piku dan Rangga untuk menculik dirinya tersebut.
Malam itu, di markas BlackSystem, Piku dan Rangga menyelesaikan detail terakhir dari rencana penculikan mereka, memutuskan untuk melancarkan aksi tersebut ketika Kwila sedang tidak berada dalam pengawasan ketat keluarganya, sebuah momen yang mereka yakini akan segera tiba mengingat kebiasaan gadis tersebut yang mulai sering menghabiskan waktu berdua dengan Dawin di luar rumah.
"Kita tunggu waktu yang tepat, Piku. Jangan gegabah kayak kemarin," ujar Rangga dengan nada penuh perhitungan, mengingatkan rekannya tersebut untuk tetap berhati-hati mengingat betapa berbahayanya lawan yang akan mereka hadapi jika rencana tersebut sampai gagal dan terungkap sebelum waktunya.
Piku mengangguk, menyeringai penuh kepuasan membayangkan momen ketika dia akhirnya bisa membalas dendam terhadap Dawin yang telah mempermalukannya tersebut, tidak menyadari bahwa rencana jahat yang sedang mereka susun tersebut akan segera memicu rangkaian kejadian besar yang akan mengubah seluruh arah cerita menjadi konflik yang jauh lebih berbahaya dan menegangkan, melibatkan tidak hanya keselamatan Kwila semata, namun juga seluruh jaringan penyelidikan yang telah dibangun Dawin dan timnya untuk membongkar kejahatan besar organisasi BlackSystem tersebut.
"Piku, satu hal lagi. Kita harus pastiin nggak ada saksi mata yang bisa ngenalin kita waktu eksekusi rencana ini nanti," tambah Rangga, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam setiap detail operasi yang akan mereka jalankan tersebut.
"Tenang aja, saya udah siapin beberapa anak buah yang bisa dipercaya buat bantu eksekusi. Mereka nggak akan buka mulut soal ini," jawab Piku dengan penuh keyakinan, meski di balik keyakinan tersebut, tersimpan sedikit kekhawatiran mengenai kemungkinan rencana tersebut gagal seperti yang sudah-sudah, mengingat betapa tangguhnya lawan yang pernah dia hadapi sebelumnya tersebut.
Mereka berdua kemudian berpisah malam itu, masing-masing kembali ke tempat persembunyian mereka sendiri, membawa rencana jahat yang akan segera mereka eksekusi dalam waktu dekat, sebuah rencana yang tanpa mereka sadari, akan segera menghadapkan mereka dengan kemampuan dan insting seorang anggota pasukan khusus elite yang telah teruji dalam berbagai medan pertempuran paling berbahaya sekalipun.