"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH!
...selamat membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Hari yang sudah direncanakan akhirnya terlaksana.
Pernikahan terjadi di sebuah gereja, lalu resepsinya dilaksanakan di outdoor—sesuai permintaan Asyara dengan dekorasi bunga-bunga asli bernuansa merah muda. Untungnya hari itu cuaca seolah mendukung. Langit tampak cerah, tidak pula begitu panas namun juga tidak mendung.
Asyara berdiri di samping Aksa, di atas pelaminan. Mengenakan gaun putih dengan mahkota kecil di atas kepalanya. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sedikit tataan ke samping. Terlihat begitu cantik dan anggun, jauh dari kesan Asyara yang biasanya bar-bar.
Dari semua hal yang tidak terjadi, hal yang paling mengejutkan adalah kedatangan Rayna bersama Abian, dosen pembimbing Rayna dan Celine.
Di kursinya, Asyara di apit oleh Celine dan Rayna. Sementara Aksa melipir sebentar untuk menyapa rekan bisnis dan rekan dosennya termasuk Abian yang bergabung dengan mereka di sana.
“Ini maksudnya apa ya ray?! Lo ngapain sama Pak Abian?!” tanya Celine berbisik namun dengan nada yang begitu heboh.
Rayna merengut, “Ini terpaksa tau! Demi kelancaran skripsi gue! Ternyata dia itu rekannya papa gue!”
“Wah, sebuah plot twist yang nggak kepikiran sama sekali!” Asyara menatap Abian lalu Rayna, “Lo yakin semuanya cuma bakal sampe sini?!”
Rayna mengangguk, tegas. “Ya jelas! Dia bilang, kalau gue nemenin dia ke nikahan lo, minggu depan dia bakal acc skripsi gue!”
Celine menatap Asyara, penuh ekspresi. Lalu mengangguk. “Tapi gue setuju sama Mama Asya–”
“Celine, stop call me mama! Gue nggak suka, geli banget dengernya lo manggil gue kaya gitu!” geram Asyara.
Celine menyengir. Ia memeluk Asyara dari samping. Lalu tangannya dengan santai terulur ke bagian perut Asyara dan mengelusnya lembut. “Sorry mama, masalahnya ini perintah dari bapak donatur. Kalau gue nggak nurut, uang jajan gue bakal terancam punah!.”
“Ck, serah lo deh!” Asyara mendengus, “Udah jangan di elus terus! Di liatin tamu, malu Cel.”
“Bodo amat, gue kan mau nyapa adek gue,” balas Celine.
“Celinee,” tekan Asyara dengan senyum mautnya.
Akhirnya Celine pun menarik tangannya menjauh. “Oke back to topic, Ray… jadi gimana? Lo seyakin itu dia bakal acc skripsi lo perkara ini doang?”
“Iyalah,” balas Rayna yakin, “Memangnya kaya lo, udah gue bantuin juga nggak kelar-kelar.”
Celine mendatarkan ekspresinya. Menatap Rayna antara gemas dan kesal. Bagaimana bisa gadis itu lupa? Jika dirinya sendirilah yang memang berniat membantu, tapi juga menggagalkan rencana mereka.
Beberapa menit kemudian, obrolan mereka terpaksa harus berhenti dikarenakan Aksa yang terlihat berjalan mendekati mereka. Pria itu melempar tatapan datar ke arah Rayna dan Celine seolah mengisyaratkan untuk mengusir mereka dari sana.
Alhasil, kedua gadis itu pun pergi meninggalkan Asyara yang kebingungan dan juga kesal.
“Kalian mau kemana? Hei?!”
“Biarkan mereka pergi Asyara,” kata Aksa yang sudah berada di samping Asyara.
Asyara melirik, lalu mendengus pelan. Seketika ia merasa canggung dengan Aksa.
Ya gimana dong?! Kemarin-kemarin Aksa itu cuma dosen di kelasnya, terus dosen pembimbingnya. Dan sekarang?! Pria itu juga berstatus sebagai suaminya dan sebentar lagi dia juga akan menyandang status sebagai ayah dari anak di kandungannya.
Tapi semua sudah terjadi, mau tak mau Asyara hanya bisa menerima dan menjalani semuanya.
“Kenapa cemberut begitu?”
“Ya siapa yang cemberut pak? Ini kita udah nikah lho. Sekarang saya jadi istri bapak, istri..bapak,” tekan Asyara di akhir kalimatnya, “Saya…saya tuh masih nggak percaya dan nggak terima sebenarnya.”
Melihat wajah Asyara yang berawal cemberut, lalu berubah kesal membuat Aksa tertawa kecil. Ia menarik pinggang Asyara, membuat tubuh mahasiswi yang berstatus sebagai istrinya itu merapat ke dadanya.
“Terima atau tidak, sekarang saya adalah suami kamu dan kamu istri saya, nyonya Aksa,” bisik Aksa dengan suara rendah yang membuat bahu Asyara meremang, “Jadi, mulai sekarang, biasakan dirimu sebagai istri saya, ya sayang?”
Pipi Asyara mendadak hangat. Sudah dipastikan, pipinya yang terdapat blush on itu semakin merah padam mendengar panggilan dari Aksa. “A-apaan sih?! Siapa yang bapak panggil sayang?!” galak Asyara menatap Aksa dengan mata melototnya.
“Benar, kamu membuat saya teringat satu hal lagi,” kata Aksa. Senyumannya mengembang sempurna. Namun ntah mengapa, senyuman itu justru terlihat begitu menyebalkan di mata Asyara, “Berhenti memanggil saya bapak, dan mulailah memanggil saya dengan sebutan yang lebih enak di dengar.”
Asyara membelalak. “A-apa?! Nggak bisa!”
“Bisa, sayang,” balas Aksa menahan senyum melihat kepanikan Asyara.
“Nggak! Saya udah biasa manggil pakai sebutan ‘bapak’!” bantah Asyara, “Saya terbiasa dengan itu.”
Dengan jahilnya, Aksa semakin merapatkan tubuhnya mereka. Membuat sorakan dari para tamu semakin heboh.
“Pak, lepasin!” bisik Asyara geram. “Malu tau!”
“Tidak akan, sebelum kamu merubah panggilannya,” balas Aksa santai. Ia bahkan dengan sengaja mengecup pelipis Asyara di depan para tamu.
“Pak!”
Namun Aksa seolah tuli. Ia memilih mengeratkan pelukannya, membuat kepala Asyara bersandar di dadanya.
Asyara semakin panik, antara malu dan kesal. Sialnya Aksa benar-benar melakukannya. Pria itu tidak mau melepaskannya dan malah mempererat pelukannya. Ia pun menarik nafas panjang, mengumpulkan keberaniannya dan menepis rasa malunya.
“M-mas Aksa lepasin aku!” pinta Asyara cepat.
“Apa? Coba ulang sayang, saya tidak dengar lho. Suara kamu pelan sekali.”
Asyara melotot. ia mengigit pelan bibirnya menahan emosi. “Mas Aksa, lepasin aku atau–”
“Pintar sekali istri saya ini,” balas Aksa dengan mengecup pelipis Asyara sekali lagi. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Asyara. “Saya menyukai panggilan itu. Jadi mulai sekarang, biasakan dirimu nyonya Aksa~”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...