Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan
Empat bulan berlalu, Anne duduk dengan wajah tertunduk di depan tempat ayahnya terbaring, satu kenyataan buruk datang dan menghantam nya kembali ketika ayahnya di nyatakan koma sejak kecelakaan itu.
Dia belum juga bangun hingga saat ini, entah hingga kapan, namun Anne lelah.
Dia menggenggam lembut telapak tangan yang mulai berkerut itu, tidak ada tenaga yang dia rasakan dari tangan ayahnya namun ia bisa merasakan denyut nadinya masih berdetak.
"'Ayah, bangunlah! Anne kesepian, maafkan aku ayah, maafkan semua yang sudah Anne lakukan terhadap ayah." Gumamnya.
Pagi sekali dia datang ke rumah sakit, setelah semalam dia melihat berita bahwa Selina telah bertunangan dengan Davin.
Ia benar-benar syok, tidak habis fikir jika ternyata Selina melakukan semua ini karena ingin merebut Davin darinya.
Meski ia sudah tidak lagi memiliki perasaan kepada Davin, namun ia tetap tidak menyangka bahwa dia akan berpaling secepat itu apalagi kepada adik sepupunya sendiri.
Mungkin ikhlas adalah jalan terakhir yang paling baik, dan meneruskan kehidupan yang tersisa untuk mengisi kekosongan nya.
Dia kecewa namun tidak bisa melawan orang-orang kaya seperti mereka yang bisa menjatuhkan siapapun dan melukainya bahkan tanpa menyentuhnya.
Ya, dengan uang dan kekuasaan mereka bisa membeli semuanya.
Sedangkan kini ia sudah tidak punya apa-apa, orang yang biasa ia jadikan kekuatan sedang tidak berdaya.
Keluarga Davin sudah berpaling pada Selina mungkin karena kini ayah Selina telah berkuasa setelah mengambil alih perusahaan milik ayah Anne yang sudah runtuh.
Anne perlu banyak biaya untuk pengobatan ayahnya selama ini, sedangkan dia tidak memiliki bekal apapun sehingga ia menjual beberapa aset yang tersisa kepada
lan dan bibinya.
Kini tidak ada yang tersisa lagi dari keluarganya semuanya telah hangus,
dia hanya berharap kesembuhan sang ayah dan hidupnya yang tetap baik-baik saja.
"Anne pulanglah, kamu sudah menjaga ayah mu sejak tadi." seseorang baru saja masuk dan mengagetkan Anne.
Dia menoleh dan melihat Max, pria yang selama ayahnya sakit ini telah menemaninya.
"Max, makasih ya sudah membantuku selama ini, membantu proses pengobatan ayah ku juga membantuku sampai aku tetap memilih hidup hingga saat ini." dia tertunduk mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
Max menatap fokus kesana dan tersenyum simpul, dia berjalan mendekat lalu mengusap puncak kepala Anne dengan lembut, "tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh lagi, biarkan semua berjalan dengan semestinya. Aku akan tetap ada untuk mu, percayalah."
Annee tidak bisa menahan rasa haru ini, dia memeluk sebelah lengan sahabat kecilnya yang tidak pernah membencinya itu meski kini nama baiknya sudah hancur.
"Makasih."
Dari luar tiba-tiba bibi Nora berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan Anne, gadis itu segera melepas pelukannya dan melihat bibi Nora dengan tatapan cemas.
Keningnya berkerut dalam seolah bertanya ada apa? Keringat bibi Nora terlihat membentuk butir seperti jagung di keningnya.
"Nona, ayo kita segera pergi. Ada nona Evelyn dan suaminya datang ingin memastikan kabar kehamilan nona." ujar bibi Nora.
"Siapa yang memberi tahu tentang kabar
ini bi? Padahal aku sudah menyembunyikannya diam-diam." kini Anne begitu ketakutan, membayangkan wajah mereka sudah memberi trauma yang dalam.
"Mungkin ada yang melihat nona masuk
ke ruang poli kandungan." Anne menjadi gugup, jika mereka tahu tentang kehamilannya, mungkin mereka akan menyuruhnya untuk menggugurkan bayi itu yang sudah di anggap mempermalukan keluarganya.
Atau bahkan yang lebih mengerikan mereka akan membunuhnya, itu sungguh menakutkan.
"Anne, pergilah. Kamu bisa keluar kota saja saat ini, biar aku yang mengurus ayahmu disini." ucap Max.
Gadis itu menatap Max dengan perasaan
kacau, dia gugup untuk menentukan pilihan nya.
Hatinya ragu tak ingin meninggalkan ayahnya sendirian disini.
"Anne percayalah, ayahmu akan baik-baik saja, aku janji akan menjaganya menemani nya hingga sembuh."
"Tapi,"
Di tengah ketegangan itu, suara bibi Evelyn menggelegar di dalam benaknya, "Anne Avantie! Matilah kau!" Dia menggelengkan kepala mencoba menepis bayangan itu.
"Ayo nona kita pergi, kita ke kampung bibi saja." sahut bibi Nora yang tidak tenang.
Anne makin gugup, dia pun berbicara pada Max.
"Max, aku titip ayahku padamu. Tolong aku sekali ini lagi, jaga dia, kabari aku jika dia sudah sadar."
"Ya. Anne. Pergilah, ini demi kebaikan
kita bersama."
Anne menatap wajah ayahnya dengan berat hati untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi dari kota itu.
Tidak lama memudian dia menggandeng tangan bibi Nora dan pergi dari ruangan itu, dia pergi secara diam-diam sebelum mereka datang.
"Jangan lupa kabari aku jika sudah tiba!" Max berteriak ketika Anne tiba di ambang pintu.
Empat tahun kemudian,
Semua telah berlalu, hari yang buruk itu
telah berganti, kehidupan lama yang di lalui oleh Anne kini telah berubah menjadi kehidupan baru yang lebih berwarna dan menyenangkan.
Selama ini tidak banyak yang tahu tentang kehidupan Anne, dia telah melahirkan anak, Kembar tiga sekaligus dan menjadi orang tua tunggal yang membesarkan mereka juga menjadi tulang punggung keluarga, dia benar-benar tak menyangka akan melewati proses seperti ini meski sesungguhnya kini ia terlihat lebih bahagia karena ada tiga body guard kecil yang akan selalu menemaninya kapan pun.
Dahulu ia sempat berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya beserta ketiga anaknya karena dengan melahirkan mereka selamanya ia akan mengenang masa kelam itu dengan pria yang tak jelas asal-usulnya.
Namun, keajaiban datang dari sekitar Max terus menguatkannya, bibi Nora terus menemaninya, dan kesadaran ayahnya adalah sebuah harapan yang selalu dia nantikan, hingga akhirnya ia tetap bertahan dan kini dunia terbalik ... ia bahagia melihat anaknya tumbuh sehat, cantik dan tampan.
Hari ini adalah hari pertama nya bekerja, sudah satu minggu ini dia kembali ke kotanya setelah mendapat tawaran kerja dari Max di sebuah perusahaan besar tempatnya bekerja, sementara itu belum ada yang tahu kepulangannya selain Max, dia juga sengaja kembali secara diam-diam, agar kehadirannya tidak di ketahui oleh keluarganya terutama sang mantan kekasih yang sudah ia kubur dalam-dalam kisahnya.
Pagi ini setelah Anne mengantar ketiga
anaknya sekolah ia menghentikan sebuah taksi, untuk mempersingkat waktu menuju kantor baru tempatnya bekerja.
la masuk dalam taksi yang telah berhenti di depannya dan memberinya alamat tujuan, dia pun mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sebuah pesan pada Max.
"Aku sudah di perjalanan, tunggu aku."
"Iya, aku akan menunggumu di depan lobby. Sampai bertemu, aku sudah sangat merindukanmu."
Hanya beberapa detik setelah nya Anne sudah mendapatkan balasan dari Max.
Ia tersenyum melihatnya lalu membalasnya kembali, "sampai bertemu juga, aku juga merindukanmu." jika pertemuan ini terjadi, maka akan menjadi pertemuan pertamanya setelah empat tahun dia pergi.
***
Mobil yang di kendarai Anne berhenti di
depan sebuah gedung tinggi pencakar langit, dia menuruni taksi lalu mengeluarkan uang pas dan memperhatikan detil gedung megah itu untuk beberapa saat.
Dulu, ketika ayahnya masih menjadi direktur di perusahaan nya sendiri maka ia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, bolak balik masuk ke dalam kantor.
Namun kini melihat hal seperti ini, ia seperti baru pertama kali dan mengagumi segala kemewahan yang ada.
Dia sudah mencari tahu tentang perusahaan Montesano Corporation ke halaman pencarian, dan mendapatkan banyak artikel bahwa Montesano Corporation adalah perusahaan terbesar di kota ini bahkan di negara dan seluruh benua terutama eropa.
Perusahaan ini bergerak di bidang teknologi manufaktur serta beberapa cabang perusahaan juga bergerak di bidang riset teknologi yang lebih modern.
Namun dari pencarian nya itu ia tak satupun mendapatkan informasi tentang pemimpin perusahaan itu, ia bahkan mendapat kabar dari beberapa artikel jika sang pemimpin tidak ingin nama dan kehidupannya di kulik begitu dalam, hingga dia selalu menunjukkan kesan misterius, namun beberapa paparazi membeberkan kesan bahwa sang presiden direktur perusahaan itu adalah keturunan dari generasi sebelumnya yang begitu di segani, dia sangat tegas, dan berwibawa.
Namun desas-desusnya dia juga memiliki sifat arogan dan kejam.
la sedikit merinding, dan takut akan membuat kesalahan yang berakhir
kemarahan darinya.
Ia berimajinasi membayangkan pria itu sudah tua memiliki kepala botak yang beruban dan memarahinya habis-habisan.
Ia membayangkan itu sambil terus berjalan, dan tidak menyadari sudah tiba di depan lobby.
Pandangannya lalu tertuju pada sosok tampan dengan setelan rapi berdiri di
pinggir pintu.
Seketika itu juga ia menggelengkan kepalanya membuyarkan segala lamunan
jeleknya.
"Max!" teriaknya pada pria tampan itu.
"Hei, Anne!" Max langsung merengkuh belakang kepala wanita itu menariknya di
dalam pelukan.
Anne pun mendekap pria jangkung yang tidak berubah itu.
Keduanya sama-sama melepas rindu tidak peduli satpam kantor dan semua pegawai melihat nya dengan heran.
Namun tatapan mereka ikut berbinar seolah keduanya adalah saudara terpisah yang baru saja bertemu.
"Aku merindukan mu." ucap Anne.
"Aku juga Anne."
Pelukan itu pun terlepas, sejenak Max
menatap tubuh gadis di depannya dan melihat perubahan signifikan darinya, kecantikan Anne makin bertambah, tubuhnya terlihat lebih berisi juga aura dewasa terpancar, dia masih berusia dua puluh empat tahun.
Namun ia masih cocok di lihat seperti gadis berusia dua puluh tahun, orang yang tidak mengetahuinya akan mengira ia gadis, namun sesungguhnya ia adalah mami dari tiga anak.
"Kapan kamu akan memperkenalkan ku
pada si kembar?" tanya Max lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Aku bilang pada anak-anak jika nanti sore aku akan memperkenalkan mu pada mereka." balas Anne.
Selama ia hidup dalam pelariannya dia sering kali menceritakan sosok Max pada ketiganya bahwa dia adalah superhero dalam dunia nyata yang pernah dia kenal.
Max pun tersenyum begitu senang, "baiklah! Sore nanti kita pulang bersama."
"Oh iya apa aku boleh minta tolong padamu aku ingin pergi menjenguk ayah."
Anne begitu merindukan ayahnya, selama dia hidup tanpa pria itu ia merasa telah kehilangan arah, dan kini ia begitu ingin memeluknya.
Meskipun hingga kini ayahnya tak bisa berbuat apa-apa ketika belum juga tersadar.
"Ya, aku juga akan mengantarmu menemui tuan Jack."
Saat mereka tiba di depan pintu lift, semua orang di depannya juga belakangnya buru-buru membungkukan tubuh memberi hormat, "selamat pagi Presdir Viktor!" sapa mereka.
Ketika itu Max pun tersadar dan buru-buru menarik tubuh Anne saat hampir tertabrak oleh rombongan mereka, Anne buru-buru menunduk hormat setelah sempat menghalangi jalan mereka.
Ketika itu juga semua orang pun memperhatikannya, saat masih menunduk Anne merutuki dirinya dalam hati bahwa ia hampir saja membuat masalah di hari pertamanya masuk kerja.
Demi menghilangkan seluruh kecanggungan itu Anne pun melengkungkan senyum yang begitu manis.
Pandangannya lalu tertuju pada rombongan yang memasuki lift khusus.
Beberapa pengawal berpakaian hitam mengawal di belakang seorang pria bertubuh tinggi tegap dan terlihat menawan.
Seketika saja hayalannya tentang bosnya
yang tua dan botak itu terhempas oleh fakta di depannya.
Meski ia belum melihat wajahnya dengan jelas tapi ia yakin pria itu masih muda.
Tiba-tiba saja sepintas bayangan kelam
malam itu muncul di benaknya.
Tentang pria yang sudah merenggut kesucian di malam panas itu dia memiliki punggung yang tegap sepertinya.
Ketika Anne masih melamun pintu lift
tertutup, ia kehilangan kesempatan melihat jelas wajah pria itu namun dia sempat melihat sepasang mata tajam menatapnya.
Bola mata itu begitu khas, sama seperti
sepasang mata yang malam itu menerangi kegelapan lalu menerkamnya dengan penuh hasrat.
Anne lalu menggeleng melupakan malam biadab bersama pria sewaan yang di rencanakan Selina itu.
Didalam lift itu Viktor termenung menatap pantulan dirinya, dibelakangnya ada lima pengawal yang mengiringi dan satu asistennya Vin.
"Wanita yang menghalangi jalan tadi adalah karyawan baru rekomendasi dari Max, namanya Anne Avantie Anderson." ungkap Vin pada Viktor yang tetap diam, namun dia menyimak.