Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Mendengar nama Elara yang disebut oleh Faresta seketika membuat Leonard dan Lionel saling pandang. Kejadian aneh yang mereka lihat siang tadi kembali terlintas begitu saja dalam pikiran keduanya. Akar-akar pohon yang tiba-tiba keluar dari tanah, melilit tubuh para preman itu, lalu kembali menghilang tanpa meninggalkan sedikit pun jejak.
Dan semuanya terjadi ketika Elara berada di sana.
Lionel langsung menoleh cepat. “Dia ada di sana.”
“Dan semua itu terjadi saat Elara datang,” sambung Leonard dengan rahang mengeras. “Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya… tapi akar-akar itu seolah berada pada kendali Elara.”
Lucas mengernyit semakin dalam, berusaha mencari penjelasan logis dari semua ini. Namun berbeda dengan Faresta. Tatapan Pria itu justru perlahan berubah tajam.
Pikirannya kembali mengingat semua ucapan Elara sejak gadis itu datang ke rumah mereka.
Tentang pengkhianat di perusahaan. Tentang orang terdekatnya. Dan sekarang … kejadian aneh yang dialami Leonard dan Lionel.
“Lucas, apa kamu sudah menyelidiki tentang Dokter Tirta yang di sekap itu?”
Tubuh Lucas menegang, matanya melebar sempurna, saat baru mengingat hal yang sejak tadi siang terus mengganggu pikirannya.
“Iya, sudah. Dan semua itu ternyata benar, Kak. Ucapan Elara waktu itu benar-benar terjadi. Dokter Tirta sengaja di sekap di gudang dekat ruangan direktur, dan pelakunya ternyata anak direktur itu sendiri.”
“Alasannya?” tanya Danendra.
Lucas dengan nada kesal menghela nafasnya dan melipat kedua tangannya di dada. “Itu karena dia sakit hati karena aku menolak pernyataan cintanya waktu itu.”
“Ini bukan kebetulan. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan anak gadis Papa itu,” gumam Faresta.
Lionel mengangguk setuju. “Benar. Dan apa kalian tau. Bahkan iris mata Elara tadi sempat berubah. Lebih hijau dan terang banget.”
Suasana ruang keluarga itu kembali hening.
“Tapi Elara tidak mungkin mencelakai kalian,” ujar Livia membela.
“Aku tidak bilang dia mau mencelakai kami, Ma,” balas Faresta.
Livia terdiam membenarkan apa yang baru saja diucapkan Faresta. Jika gadis itu memang berniat mencelakai mereka, sudah pasti sejak awal Elara tidak mungkin menyelamatkannya.
“Sebenarnya… mama juga mengalami sesuatu yang aneh hari ini.”
Tatapan keempat pemuda tampan itu langsung beralih pada Livia.
Livia terdiam sejenak, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapannya mneyapu wajah-wajah putranya yang terlihat menyimpan rasa penasaran.
“Saat mengobrol dengan Elara di ayunan dekat kolam tadi siang, tiba-tiba wajahnya berubah panik. Dia bilang kalau Leonard dan Lionel dalam bahaya lalu dia langsung lari masuk kedalam rumah,” jelas Livia pelan.
Leonard dan Lionel langsung saling menatap.
“Mama terkejut dan panik, lalu mengejarnya karena takut terjadi sesuatu. Tapi waktu sampai di ruang tamu… Elara tiba-tiba menghilang.”
“Hilang?” Lionel mengernyit.
Livia mengangguk pelan.
Ruang keluarga itu kembali dipenuhi keheningan. Lucas mulai terlihat berpikir keras. Sedangkan Faresta kini justru semakin penasaran.
Semua tentang Elara terasa mustahil. Tapi anehnya… gadis itu selalu datang untuk membantu mereka.
“Papa, menurutku kita memang perlu mencari tahu siapa sebenarnya Elara.”
Danendra mengangguk setuju.
Leonard menghela nafas pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Tapi entah kenapa… aku mulai merasa dia bukan orang jahat.”
“Iya,” gumam Lionel pelan. “Menyeramkan sih, tapi dia tetap menolong kita.”
Sedangkan di lantai dua…
Elara berdiri di pembatas tangga dengan tenang seolah tak terlihat. Iris mata hijaunya menatap kosong ke arah ruang keluarga.
Ia mendengar semuanya. Tentang rasa curiga. Tentang ketakutan mereka. Dan tentang keinginan mereka mencari tahu siapa dirinya sebenarnya.
Namun anehnya, Elara sama sekali tidak merasa panik.
Gadis itu justru berjalan pelan kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di dekat jendela kamarnya sambil menatap langit malam yang gelap.
Angin perlahan menerbangkan helaian rambut panjangnya.
“Mereka mulai mencari tahu tentang ku,” gumamnya pelan. “Manusia memang tidak pernah bisa diam saat rasa penasaran mengusik mereka.”
Sudut bibir Elara terangkat tipis. Tatapannya beralih ke telapak tangannya sendiri.
Akar-akar kecil perlahan tumbuh dari sela jemarinya sebelum kembali menghilang beberapa detik kemudian.
“Aku juga tidak berniat menyembunyikannya. Biarkan mereka tau dengan sendirinya, karena jika dijelaskan pun akan terdengar mustahil bagi mereka.”
—
Malam semakin larut di kediaman Halvar. Lampu-lampu rumah mulai padam satu persatu, menyisakan suasana tenang yang terasa asing setelah kejadian hari ini.
Namun ketenangan itu rupanya tidak berlaku bagi faresta.
Pria itu masih duduk di ruang kerjanya dengan layar laptop yang menyala di tengah gelapnya ruangan. Jas hitamnya bahkan masih melekat di tubuhnya, sementara dasi yang biasa rapi kini sudah longgar dan sedikit berantakan.
Jarinya bergerak lincah di atas keyboard mencari informasi tentang desa tempat mereka menemukan Elara.
Awalnya Faresta berpikir ia akan menemukan catatan desa terpencil biasa. Namun semakin lama mencari, rahangnya justru perlahan mengeras.
“Tidak ada?” gumamnya pelan.
Pria itu membuka peta digital lainnya, hasilnya juga tidak ada. Faresta mulai mengetik lebih detail tentang wilayah hutan tempat mobil orang tuanya jatuh. Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada catatan pemukiman, tidak ada nama desa, bahkan tidak ada catatan penduduk. Seolah tempat itu memang tidak pernah ada.
Saat tengah kalut dengan pikirannya, pintu ruang kerjanya diketuk pelan.
“Masuk.”
Lucas muncul sambil membawa dua gelas kopi hangat. Tatapannya langsung tertuju pada layar laptop Faresta yang penuh halaman pencarian.
“Kenapa belum tidur? Apa masalah perusahaan masih belum selesai?”
Faresta menghela nafas pelan lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Belum, aku masih bingung mengatasi masalah itu. Tapi… saat ini aku mencoba mencari tau tempat dimana kita menemukan Elara.”
“Terus hasilnya?”
“Tidak ada.”
Lucas mengernyit. “Maksudnya?”
“Tidak ada data apapun tentang desa itu. Seolah desa itu tidak pernah ada.” Faresta menggeser laptopnya ke arah Lucas.
Lucas menatap layar itu dengan diam. Entah kenapa bulu kuduknya perlahan mulai meremang mengingat kejadian siang tadi saat ia memeriksa Elara di rumah sakit.
“Kak…” Lucas ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Menurutmu… apa Elara benar-benar manusia biasa?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi. Faresta tidak langsung menjawab, tatapannya justru kembali tertuju pada layar laptop.
“Tidak tahu. Tapi… semakin lama semua tentang dia semakin aneh.”
Lucas perlahan duduk di sofa dekat meja kerja.
“Aku juga merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.”
“Apa maksudmu?”
Lucas terlihat berpikir keras. “Waktu melakukan pemeriksaan di rumah sakit tadi siang, suhu tubuh Elara sangat dingin. Bukan dingin karena ruangan ber-AC. Tapi benar-benar dingin. Denyut nadinya juga tidak normal.”
“Mungkin itu cuma perasaanmu saja.”
Lucas menggeleng pelan. “Sebagai dokter aku cukup peka soal kondisi tubuh seseorang.”
Tatapannya perlahan berubah rumit. “Dan… tubuh Elara itu... tidak normal.”
Hening lagi-lagi memenuhi ruangan itu. Dua putra Halvar itu kini sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Semakin mereka mencoba mencari penjelasan, semakin banyak hal yang justru tidak masuk akal.
Faresta menatap kosong ke arah meja di hadapannya.
Ada sesuatu yang salah dengan Elara. Sesuatu yang selama ini tidak mereka sadari. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya Faresta merasa bahwa kedatangan gadis itu ke dalam keluarga Halvar bukanlah sebuah kebetulan.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.