Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyesal meninggalkanmu

Azarin palingkan wajah cepat, menyeka kasar tangan kekar yang menggenggam bahunya.

"Pergilah. Ini bukan seperti dirimu yang mengurusi hal tak penting."

Fajar tatap nanar Azarin yang menjauh darinya, "Bahkan sekarang kau tak lagi memanggilku mas."

Langkah Azarin terhenti, tak mampu menahan tawa sinisnya.

"Mas?" tangan wanita itu mengepal di samping tubuh, rahangnya mengetat, "Memanggil mas untuk suami orang?"

Iris mata Fajar menajam, luruh bersama dengan penyesalan yang memuncak.

Ia tatap kembali punggung ringkih yang semakin menjauh, rahangnya mengetat.

Tidak.

Sudah sejauh ini.

Fajar tak akan membiarkan Azarin pergi lebih jauh lagi.

Pria itu tarik tangan Azarin cepat, "Setidaknya izinkan aku melihat putriku. Sudah tiga tahun, Azarin. Aku merindukan—"

PLAKK!!

Tatapan Fajar berubah kosong. Menatap lekat pemilik manik mata yang menghunuskan kebencian di depannya.

"Putrimu?!" sentak Azarin, "Anak kecil yang mau kau jebloskan di panti asuhan tidak pantas kau sebut putrimu lagi, Fajar!"

Tubuh pria itu menegang. Darahnya seperti ditarik ke bawah, lemas hingga nyaris saja ia limbung.

"Azarin aku—" untuk sesaat ia mengingat kembali malam itu.

Malam dimana ia berbicara dengan ibunya akan memasukkan Mia ke panti asuhan, dan menyebut anaknya sendiri aib.

Tangan Fajar gemetar di samping tubuh, "Aku—" bibirnya seperti kelu untuk mengeluarkan suara.

"Dia bukan putrimu lagi, Fajar. Putrimu sudah mati!"

Tubuh Fajar ambruk seketika, bersimpuh di depan Azarin penuh rasa putus asa.

Air mata pria itu luruh kecil.

Sementara Azarin, jangan di tanya seberapa gemetar tubuhnya sekarang.

Hampir saja benih-benih cinta tumbuh lagi setelah melihat wajah itu.

Wajah yang selama ini ia rindukan diam-diam.

Cinta pertama, yang tak pernah lagi terlintas di pikiran nya. Kini kembali menemukan jalannya.

Tidak.

Fajar sudah menikah dengan wanita lain.

Membayangkan cinta pertamanya juga menyentuh wanita lain, nyaris membuat Azarin mual.

Muak.

Sangat muak hingga rasanya ia ingin membunuh mereka berdua sekarang juga.

Azarin berbalik lemah, "Pergilah, dan urus rumah tanggamu sendiri."

Fajar mendongak cepat. Wajahnya benar-benar kacau sekarang.

Kantong mata menghitam, bibir pucat, wajah sama pucatnya, seperti mayat hidup yang mengharapkan kebangkitan.

"Aku mohon, Azarin. Berikan aku kesempatan."

Bola mata Azarin melebar.

Untuk sesaat ia lupa rasanya bernafas.

Sesak.

Benar-benar sesak.

Azarin gigit bibir bawahnya kuat, meremat dadanya yang berdesir ngilu.

"Aku bilang pergi pergi Fajar!" teriak Azarin melengking.

Tubuhnya nyaris ambruk, gemetar bersama dengan rasa sakit yang kembali tergali.

Tidak.

"Kumohon berhenti menyakitiku lebih dari ini."

"Kau tidak tau seberapa kuat aku keluar dari keputus asaan ini, hiks."

Tubuh Azarin limbung. Namun sebuah tangan kekar meraih pinggangnya.

Samar-samar Azarin melihat tangan kekar yang melingkar di perutnya.

Bola mata Azarin membola.

Bukan lengan Fajar.

Sensasi ini berbeda, dan Fajar tidak mengenakan blazer abu.

Siapa pemilik lengan ini?

Azarin tak lagi mengingatnya. Dirinya pingsan sepenuhnya setelah itu. Dan bangun-bangun ia sudah berada di rumah sakit.

"Azarin kamu sudah bangun?!" Naya berlari menghampiri brangkar sahabatnya.

Gurat cemas dan khawatir tercetak jelas di garis wajah lelah itu.

"Mama!"

"Tante!" seru Mia dan Azril bersamaan.

Dua bocah kecil itu langsung merangkak naik ke atas dengan bantuan Naya.

Mia menangis histeris di pelukan ibu, sementara Azril duduk bersimpuh di samping tantenya, terisak kecil.

Azarin buka matanya perlahan. Ia menoleh lemah ke arah Naya, yang juga menatap ke arahnya.

"Naya, aku dimana...." ia hendak bangkit.

Namun tiba-tiba bahunya di tahan.

Bukan Naya, tapi pria yang 10 hari ini bolak balik ke warung makannya.

DEAN

"Tidurlah, tubuhmu masih belum pulih."

Azarin menoleh lemah, samar-samar ia bisa melihat wajah pria yang berdiri di sisi kiri brangkar.

"Kamu—"

Azarin paksakan bahunya bangkit. Namun tiba-tiba kedua bahunya di tahan oleh Dean.

Untuk sesaat Azarin tertegun, Dean menatap lekat dirinya dari atas.

Bola matanya gemetar, nyaris berkaca-kaca. Bibir bawahnya sedikit lecet dan berdarah. Seperti sengaja di gigit.

"Berhenti membangkang, Aza. Kau masih lemah." bisik pria itu, kembali menarik selimut setinggi dada.

Naya tatap haru Dean yang begitu perhatian pada Azarin.

Jika bukan karena Dean, mungkin Azarin sudah dibawa kabur oleh Fajar.

"Makasih, Tuan. Anda sangat baik sekali." lirih Naya tersenyum haru.

Dean tatap Naya tanpa ekspresi, berlaih menatap Azarin yang masih membuka mata dengan lemah.

"Aku hanya kebetulan lewat."

Dalam hati Naya menahan tawa.

Kebetulan apanya. Jelas-jelas ia dengar dari Fitri dan Rina kalau pria ini diam-diam mengikuti Azarin dari belakang.

"Naya, apa ini di kamar? Kenapa baunya menyengat sekali." rancau Azarin lagi.

Dean tatap Azarin pias, pria itu palingkan wajah cepat menuju pintu.

"Suster."

Tak berselang lama suster datang. Perawat itu segera mengecek kondisi Azarin.

Sang perawat lepas stetoskop dari telinga, melingkarkan nya pada leher.

"Keadaan Mba Azarin sudah jauh membaik. Hanya perlu istirahat intensif."

Semua orang disana menarik nafas lega.

Bagitu juga dengan seseorang yang berdiri di luar, hanya melihat sekilas dari kaca pintu, sudah sedikit menghapus rasa khawatir di hatinya.

Dada Fajar kembali sesak.

Ia teringat perkataan pria yang bersama dengan Azarin.

"Berhenti mengganggu tunanganku."

"Kau sudah membuatnya mengingat trauma yang mati-matian dia lupakan."

Fajar merunduk lemah, tangannya mengepal di samping tubuh.

Ia tersenyum getir, menatap lantai kosong, bersamaan dengan air mata yang luruh perlahan.

"Tunangan apanya."

"Kau membiarkannya kacau seperti itu."

Fajar usap air mata di sudut mata cepat, kembali menatap ke dalam dimana Azarin mulai duduk.

Sudut bibirnya tertarik tipis, "Maafkan aku, kumohon."

Dada Fajar kembali ngilu.

Ia merunduk cepat, dadanya begitu sesak menahan suara. Tangisnya semakin deras mengalir.

"Aku jahat banget sama kamu, Azarin."

"Aku—!"

Fajar gigit lengannya kuat. Gemetar hebat.

Ia tatap sosok perempuan kecil di samping Azarin.

Tangisnya semakin deras, dadanya begitu sesak.

Tangannya gemetar, ingin sekali menyentuh putrinya, menggendongnya, memeluknya erat.

Namun semua hanya angan belaka. Azarin tidak akan membiarkan Mia menemuinya.

Setidaknya Fajar lega, Mia tumbuh dengan baik.

Pipinya yang putih bersih, pakaiannya yang cantik dan rapi.

Fajar yakin Azarin membesarkannya dengan sepenuh hati.

"Kau pasti sangat mencintai putri kita."

Fajar merunduk dalam.

Menyesal?

Pasti.

Ia bahkan tidak tau harus membenarkan dari sisi mana. Saking banyaknya kerusakan yang ia perbuat.

Fajar tatap nanar Azarin yang mulai menunjukkan senyumnya.

Senyum yang begitu ia rindukan.

Senyum yang selama ini ia abaikan, kini sudah terbagi dengan pria lain.

Tangan Fajar mengepal, rahangnya mengetat kuat.

Ia tatap lekat sosok pria yang seperti tidak asing itu.

"Kenapa, aku seperti pernah mengenalinya?"

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!