Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikin Rindu

Malam minggu itu, pendar lampu kamar menyinari keheningan yang menenangkan. Suara klakson kendaraan yang berlalu-lalang di luar rumah samar-samar terdengar, dikalahkan oleh gelak tawa kecil di dalam kamarku. Naura, sahabat lamaku berkunjung ke rumah. Wajah cantiknya tampak cerah malam itu saat ia menduduki tepi kasurku.

"Ser, keluar yuk? Cari angin atau jalan-jalan sebentar gitu ke alun-alun," bujuk Naura seraya memiringkan kepalanya, menatapku dengan binar penuh harapan. "Mumpung malam minggu nih, bosen tahu di kamar terus."

Aku tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. Rasa lelah emosional selama sebulan terakhir masih menyisakan keinginan untuk tetap berada di ruang yang aman. "Gue lagi males keluar, Ra... Pengin di rumah aja. Di kamar aja lah yuk?"

Naura menghela napas pasrah, namun senyum pengertian terpancar di wajahnya. "Ya udah deh, kalau Tuan Putri maunya di kamar, gue manut aja."

Akhirnya, kami menghabiskan waktu semalaman di dalam kamar. Di atas kasur empuk dengan beberapa camilan yang kupindahkan dari dapur, kami mulai bertukar cerita.

Obrolan yang tadinya hanya seputar hal-hal ringan perlahan bergulir menjadi lebih dalam. Aku memberanikan diri menceritakan semuanya, tentang Adrian, masa-masa penuh ketidakpastian selama satu tahun, hingga kehancuran malam itu saat notifikasi "Sayang 2" muncul di layar ponselnya.

Naura mendengarkan dengan saksama, sesekali mengutuk pelan kebohongan Adrian dan memeluk bahuku untuk memberikan kekuatan. Setelah cerita soal Adrian tuntas, giliran Naura yang membagikan kisahnya.

"Eh, Sera... Lo tahu enggak?" celetuk Naura seraya memiringkan posisi duduknya. "Si Ray itu... sampai sekarang masih suka nanyain kabar lo ke gue loh."

Mendengar nama Ray, sosok yang pernah mengisi relung hatiku di masa lalu, aku hanya tersenyum tipis. Tidak ada desiran aneh, tidak ada detak jantung yang berdebar kencang, dan tidak ada lagi rasa penasaran. Di detik itu, aku benar-benar sadar bahwa perasaanku pada Ray sudah sepenuhnya usai, raib tanpa sisa.

"Beneran, Sera! Dia tuh kayak masih syang gitu sama lo," lanjut Naura terkekeh.

"Udah enggak apa-apa, Ra. Gue udah enggak ada rasa apa-apa lagi kok sama Ray," sahutku tenang seraya menyandarkan punggung di bantal.

Di tengah keasyikan kami mengobrol, ponselku yang tergeletak di samping bantal mendadak bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di atas layar. Aku meraih ponsel itu dan membuka kuncinya.

Pesan singkat dari Kania.

" miss you..."

Aku terpaku sejenak memandangi tiga kata di layar tersebut. Alisku bertaut pelan. Kania? Salah kirim atau dia lagi iseng aja ya? pikirku dalam hati. Mengingat Kania terkadang suka bersikap kekanak-kanakan atau tak sengaja salah menekan nama kontak, aku memilih untuk mengabaikannya. Kutaruh kembali ponsel itu di atas nakas tanpa membalas.

Malam semakin larut. Kami memutuskan untuk memutar film horor di laptop milikku. Suara jeritan dari film dan kejahilan Naura yang penakut membuat suasana kamar menjadi ramai. Karena terlalu asyik menonton dan mengobrol hingga melupakan waktu, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Naura yang kelopak matanya mulai berat akhirnya memutuskan untuk menginap di rumahku.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai. Aku terbangun lebih awal, sementara Naura masih tertidur lelap di sampingku dengan posisi meringkuk memeluk guling.

Aku melangkah keluar kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan sahabatku. Begitu melangkah menuju ruang tamu, kulihat Ayah sudah rapi mengenakan pakaian bepergian. Beberapa tas pakaian besar tergeletak di dekat pintu depan. Di samping Ayah, Ibu sedang membantu merapikan kemeja dan barang-barang yang akan dibawa.

Ayah sudah bersiap-siap untuk kembali ke Bandung pagi ini.

Tin... Tin...

Suara klakson mobil travel langganan Ayah terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Satu bulan terasa begitu singkat. Rasanya baru kemarin Ayah datang dan menghabiskan malam bermain catur bersama Adrian di teras, dan kini beliau harus kembali ke kota perantauannya.

"Ayah jalan dulu ya, Bu, Sera..." pamit Ayah hangat. Beliau memelukku erat, mendaratkan kecupan penuh kasih di puncak kepalaku.

"Hati-hati di jalan, Yah," bisikku pelan seraya mencium punggung tangan Ayah.

Ibu mengangguk pelan, menyalami Ayah dengan sikapnya yang tetap tenang namun anggun.

Setelah bertukar salam, Ayah melangkah keluar membawa tasnya dan memasuki mobil travel yang segera melaju membelah jalanan pagi.

Sepeninggal Ayah, suasana rumah terasa mendadak lengang. Ibu melangkah gontai menuju ruang tamu, lalu menduduki sofa empuk seraya menghembuskan napas pelan. Aku berjalan menghampiri Ibu, menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu menduduki sofa di samping beliau.

Ini saatnya.

"Ibu..." panggilku pelan, memecah keheningan di antara kami.

Ibu menoleh, menatapku dengan mata yang tenang. "Iya, Sera?"

"Sera mau ngomong sesuatu sama Ibu..." Aku menelan ludah gatal di tenggorokan, menatap manik mata Ibu dengan kesungguhan utuh. "Setelah lulus SMA nanti... Sera mau kuliah di ITB, Bu. Sera mau tinggal bareng Ayah di Bandung."

Ibu sempat tertegun sejenak. Sorot matanya berubah agak redup, lalu beliau menggelengkan kepala secara halus.

"Sera..." tutur Ibu dengan suara yang teramat lembut namun dingin. "Kan dari dulu Ibu sudah bilang... Ibu ingin kamu jadi bidan saja di sini. Ambil kuliah kebidanan, dekat sama Ibu, dan punya masa depan yang jelas. Jangan jauh-jauh ke Bandung."

Aku memegang jemari Ibu yang terasa dingin, menggeleng pelan seraya memberikan pengertian. "Sera menghargai banget keinginan Ibu... tapi kebidanan itu bukan minat Sera, Bu. Sera enggak punya ketertarikan di sana. Sera pengin mengejar impian Sera sendiri di bidang teknik, dan ITB itu cita-cita Sera dari dulu."

Ibu menatap wajahku lekat-lekat, mencari kebohongan atau keraguan di sana. Namun yang beliau temukan hanyalah tekad yang sudah bulat dari putrinya. Hening membungkus kami selama beberapa saat, hingga akhirnya pertahanan dingin Ibu mengendur. Beliau menghembuskan napas pasrah, mengusap punggung tanganku pelan.

"Ya sudah..." bisik Ibu mengalah. "Kalau memang itu yang kamu mau dan itu cita-cita kamu, Ibu izinkan. Kamu boleh kejar mimpi kamu kuliah di Bandung."

Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dalam dadaku. Senyum lebar mengembang di bibirku.

Aku melangkah kembali ke dalam kamar dengan perasaan yang jauh lebih lapang. Hari Minggu ini aku sama sekali tidak memiliki agenda kegiatan di luar. Begitu pintu kamar tertutup rapat, pandanganku tertuju pada Naura yang masih bergelung nyaman di bawah selimut tebal, mengeluarkan dengkur halus.

Aku terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. "Dasar kebo..." gumamku lirih seraya melangkah mendekati meja belajar.

Aku menduduki kursi, lalu merogoh ponselku yang tergeletak di atas meja. Kumasukkan kata sandi dan membukanya. Layar ponsel menampilkan daftar percakapan yang sepi, namun satu baris pesan dari Kania yang masuk tadi malam masih bertengger di sana.

"I miss you..."

Aku memandangi tiga kata sederhana itu untuk beberapa saat. Entah mengapa, di tengah kesunyian kamar pagi ini, membaca kembali pesan singkat dari Kania tidak lagi terasa seperti sebuah ketidaksengajaan atau keisengan belaka.

1
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!