Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Mahkota Ke-5
Inti itu menolak Eliya xan Rayn saat keduanya mendekat dan mengulurkan tangan untuk meraihnya. Rayn mengeluarkan sihir murni elemen api berharap akan berhasil mendapatkannya. Akan tetapi, ia justru dipukul mundur oleh api yang menjadi pelindung inti sihir itu.
"Bahkan, sekelas Rayn yang pada dasarnya adalah penyihir api murni, ditolak inti itu mentah-mentah. Apalagi aku yang terlahir tidak memiliki bakat sama sekali," gumam Eliya sembari memandangi kedua tangannya.
Tanda mahkota di pergelangan tangannya berdenyut lemah, tapi ia tidak boleh menyerah. Eliya menatap kembali ke hadapan, pada bola api yang melayang dan terus menerus menyalurkan energi sihir yang sangat dominan.
Gelombang hawa panas yang tiba-tiba dimuntahkan dari jantung magma terasa seperti dinding padat yang mendorong Eliya dan Rayn mundur.
Udara di dalam kawah gunung Drakhor itu semakin menipis, digantikan oleh gas belerang yang mencekik. Cahaya merah menyala dari kristal inti di tengah samudra magma berdenyut liar, memancarkan gelombang kejut yang meretakkan pilar-pilar batu di sekitar mereka.
"Jika ini terus berlanjut, seluruh pegunungan Terravon dan pegunungan Stonheart akan runtuh dan menimbun peradaban di bawahnya. Lima desa di bawah sana akan hilang." Hati Eliya menjerit, tapi otak kecilnya sedang berpikir.
"Kekosongan!" Suara Zharvion menggema di kepala Eliya.
Eliya mengernyitkan dahi.
"Biarkan wadahmu kosong, dan jangan melawan. Biarkan panasnya membakar pembuluh darahmu!"
Naga penjaga bintang sihir itu kembali berkata, memberi petunjuk seperti biasanya. Suaranya bergema begitu keras hingga membuat kesadaran Eliya nyaris tersentak.
Gadis itu tahu apa yang dia maksud, tapi melakukannya adalah taruhan nyawa. Membiarkan kekosongan di dalam diri, menekan semua elemen yang ada. Artinya dia hanya manusia biasa.
"Pahamilah, Nak! Api butuh bahan bakar. Tapi juga butuh ruang untuk membakar. Selama ini, para penyihir mencoba menaklukkan Inti Api dengan memamerkan kekuatan batin yang meluap-luap, mencoba mendominasi elemen itu dengan ego mereka. Rayn melakukan hal yang sama. Dia mengerahkan seluruh energi sihir murninya hingga urat-urat di dahinya menegang. Tapi Inti Api tidak bisa dijinakkan dengan tekanan. Ia hanya akan meledak jika dipaksa."
Zharvion kembali bersuara memberi pengetahuan baru untuk Eliya. Ia mengangguk mengerti, dan mempersiapkan diri untuk menjadi wadah dari inti api itu.
Eliya berhenti melawan api. Menurunkan sihir elemennya dan meredamnya. Membiarkan wadahnya menjadi kosong untuk tempat melebur inti sihir itu. Ia akan merangkul panas api tersebut, dan menyatukan dengan gejolak darahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Rayn bertanya cemas, pasalnya tak ada elemen sihir yang kini melindungi tubuh Eliya.
Namun, gadis itu tak menjawab, menutup rapat bibirnya dan memejamkan mata.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara panas yang membakar tenggorokannya. Gadis itu benar-benar melepaskan semua pertahanan sihirnya.
Tak hanya itu, Eliya juga membuang ambisi, rasa takut, bahkan keinginan untuk menang. Ia membuka "wadah" di dalam dirinya. Kosong. Lapang. Menjadikan jiwanya seumpama ruang hampa yang tak berujung, sebuah tempat bernaung yang damai bagi sang amukan merah.
"Datanglah." Ia berbisik lirih.
Rayn yang berdiri tak jauh darinya menatap cemas Eliya. "Eliya, kau gila! Tanpa perlindungan sihir, kau akan hangus terbakar," teriaknya mencoba menyadarkan Eliya. Ia mengenggam inti sihir yang terus mengamuk dengan sihir apinya sembari melirik Eliya.
Namun, gadis itu bergeming, tetap diam dengan mata terpejam dan kedua tangan terjulur ke depan.
Inti itu ragu ... lalu, perlahan meronta hendak masuk ke dalam wadah yang disiapkan Eliya.
Rayn yang hendak mendekat untuk melindungi Eliya, urung. Ia tertegun di tempatnya, memperhatikan pergerakan inti sihir di tangannya yang berputar pada sang wadah.
Arus energi masif yang luar biasa murni tiba-tiba berbelok arah. Menolak cengkeraman sihir Rayn, bola api raksasa itu melesat lurus ke arah dada Eliya.
DING
[MAHKOTA API: LIMA PER TUJUH TERISI]
Merah emas menyala di pergelangan tangan Eliya. Tato menyerupai sulur api yang rumit terukir secara ajaib, melingkari kulitnya dengan pendaran cahaya yang menyilaukan mata.
Rayn tertegun tak percaya di tempatnya terpaku.
Panas api itu tidak membakar Eliya. Karena jiwanya adalah wadah. Alih-alih rasa sakit, sebuah kehangatan yang menenangkan mengalir ke setiap pembuluh darahnya, menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Ia bisa merasakan setiap percikan energi di gunung ini kini berada di bawah kendalinya.
"I-ini ... rasanya mustahil!" gumam Rayn tak berkedip menatap penyatuan itu.
Seketika itu juga, gemuruh dahsyat yang sedari tadi memekakkan telinga mereda. Gunung berhenti bergetar. Abu berhenti jatuh. Magma yang mendidih di sekeliling mereka mendadak surut dan membeku menjadi batuan obsidian hitam yang tenang. Keheningan yang magis menyelimuti kawah gunung Drakhor tersebut.
"Sepertinya kali ini benar-benar berhasil," gumam Eliya perlahan menurunkan tangannya.
"Kau berhasil, Nak. Inti api sudah berada di dalam genggamanmu," bisik Zharvion dengan nada bangga.
Eliya mengembuskan napas, seiring dengan sisa-sisa asap tipis yang keluar dari sela bibirnya. Ia tersenyum, menatap tanda mahkota elemen kelima yang kini telah terpasang sempurna di pergelangan tangannya.
Suara gemuruh dari luar kawah tepatnya di kaki gunung mulai terdengar, bukan lagi sebagai ancaman bencana, melainkan getaran dari ribuan suara manusia.
Gema itu merambat melalui celah-celah batu. Di luar, para penduduk dari lima desa di kaki gunung bersorak-sorai.
"PENJINAK BENCANA! PENJINAK BENCANA!"
Mereka yang tadinya bersiap menghadapi kematian kini merayakan keselamatan yang baru saja diberikan alam.
"Dia berhasil. Dia benar-benar menaklukan inti api itu," gumam Kael semakin bertambah rasa kagumnya pada Eliya.
Sungguh, seumur hidupnya dia baru menyaksikan inti-inti sihir yang ditaklukan oleh manusia yang terlahir tanpa bakat itu.
"Merugilah kalian yang sudah membuang jenius langka seribu tahun ini. Dia nenek moyang yang turun dari langit untuk menjaga keseimbangan alam." Kael bergumam lirih, membayangkan sosok Eliya yang bertambah kuat pastinya.
Di dalam kawah, Eliya menoleh ke samping. Rayn masih terduduk di tanah, napasnya terengah-engah dengan sisa-sisa sihir yang memudar dari tangannya. Dia menatap tanda merah emas di pergelangan tangan gadis itu dengan mata terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Rayn menatap Eliya tajam, matanya memancarkan kekaguman yang sedikit ditekan. Untuk pertama kali, tatapannya tidak main-main. Tidak ada lagi senyum sinis atau kesombongan yang biasa dia pamerkan sebagai penyihir jenius kerajaan.
"Kau ... monster," bisiknya, suaranya sedikit bergetar antara rasa takjub dan ngeri.
Eliya memandangi pergelangan tangannya sekali lagi, merasakan kekuatan tak terbatas yang kini tertidur dengan patuh di dalam dirinya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kelelahan luar biasa di balik matanya.
"Terima kasih," jawabnya santai, lalu melesat keluar dari kawah yang kini berbentuk bebatuan hitam.
Rayn tersenyum penuh kekaguman.
"Lord Ignis pasti bergetar saat tahu anak yang dibuangnya telah menjelma menjadi monster," gumamnya sembari menatap sosok Eliya sebelum akhirnya menyusu
l keluar.