Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 9
Kora yang sudah berjam-jam lebih mengacak-acak gudang belakang namun tak menemukan kotak itu, apa ada orang yang memindahkan nya tapi siapa, apa itu suaminya Hendra.
Kora hanya menghembuskan nafasnya dengan kecewa, padahal baru tadi ia merasakan perasaan yang menggebu-gebu seolah akan menemukan titik terang dari bayangan masa lalu nya.
Saat ia hendak meninggalkan gudang kakinya Tampa sengaja menginjak sepucuk kertas yang entah dari mana, mungkin saat ia mengacak tempat ini tadi surat itu tak sengaja ikut terlempar disana.
Ia membungkuk mencoba memunguti kertas itu, kertas itu sudah tampak usang karan mungkin sudah tersimpan begitu lama disana.
ia membaca isi surat itu dengan saksama, namun itu hanya sebuah tulisan yang di tunjukan pada seseorang yang bukan dirinya, apakah ini punya Hendra tapi disana hanya tertera nama Dimas Argantara.
Dan itu tampak nya seperti surat perjanjian anak anak yang dimana diusia tertentu anak anak akan selalu mengucap janji janji yang ingin mereka wujudkan saat sudah dewasa, kora lalu meletakan kembali surat itu dalam dus sembarang mungkin itu hanya surat dari kenangan masa lalu suaminya.
Kora memilih kembali ke rumah untuk segera menyiapkan sarapan karna sebentar lagi sudah akan pagi, ia terlalu lama di dalam gudang hingga waktu tak terasa sudah akan pagi saja.
...----------------...
Tiara menyetir mobilnya menuju tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, matanya menatap tajam kearah depan ia sebenarnya muak kembali ketempat yang ia sebut neraka itu. Tapi siapa sangka ia mau tak mau harus kembali ke tempat itu untuk mencari tau lebih dalam tentang apa yang terjadi.
Ia tidak ingin orang orang itu merusak apa yang selama ini sudah ia bangun dengan susah payah, mulai dari kemunculan orang yang pernah membuatnya memiliki trauma masa lalu yang secara tiba-tiba muncul lagi dalam hidupnya setelah ia mencoba memulai hidup baru dan melupakan segalanya.
Dan kini Dimas, kenapa lelaki itu juga muncul bukan kah selama ini Dimas menghilang tanpa kabar dan jejak namun kenapa ia bisa kembali. Bahkan ini bukan hanya sekedar ancaman baginya tapi juga ujung pisau yang akan menusuk nya secara perlahan.
" haaaaahhh"
Tiara berteriak frustasi sambil mengacak rambutnya, ia kini harus berhadapan dengan masa lalu itu lagi. Dan ia paling membenci itu semua, kenapa disaat ia ingin hidup dengan tenang dan mendapatkan kebahagiaan semesta seolah tak memberinya ruang untuk sekedar mendapati seporsi kebahagiaan itu.
Tiara menangis dalam mobilnya, sekuat kuatnya dirinya selama ini namun ia juga manusia biasa. Yang dimana ia juga bisa merasakan lelah, takut dan bingung. Selama puluhan tahun hidupnya ia telah banyak menelan kepahitan.
Keluarga nya hancur ia di jual sebagai budak dan dilecehkan di perlakukan seperti binatang, ia menangis ia mengusap air matanya ia berusaha menguatkan hatinya bahwa semua ini baik baik saja. Namun sekuat apapun ia menenangkan dirinya sendiri rasa takut itu tetap ada dan menghantuinya.
Bohong jika bilang ia tidak merasa bersalah dan menyesal, selayaknya manusia dan perempuan pada umumnya ia juga rapuh namun ia sudah terbiasa menjadi kuat. Ia tak punya siapa-siapa untuk bertumpu atau hanya sekedar bersandar.
" saat semua orang bersandar pada ku, lalu aku akan bersandar pada siapa jika bukan diri ku sendiri!"
ia lalu mengusap air mata nya, ia akan menghadapi ini semua ia tak akan pernah rela ini hancur begitu saja.
...----------------...
Denting ngan piring dan suara sendok yang beradu menjadi saksi bisu meja makan keluarga jokso. Nisa tak berani hanya sekadar untuk bersuara pada tempat itu, hingga suara lembut milik ibunya terdengar.
" Dimana tiara?"
Rani melihat anak sulung nya yang tampak seperti orang linglung hari ini, Nisa tak menjawab pertanyaan itu ia segera berdiri dari tempat duduk nya dan memilih meninggalkan, saat kakinya hendak melangkah pergi suara bariton milik ayahnya membuatnya terhenti seketika.
" tidak bisa kah kau menghargai kami sebagai orang tua mu?"
Nisa tersenyum miris kedua manusia ini begitu ingin di hargai namun lupa bagaimana Meraka tak pernah menganggap dirinya ada, Nisa lalu berbalik dan menatap ayahnya robin dengan tatapan tajam.
" apakah anda tidak bisa tenang jika sekali saja tidak mengangu hidup ku?"
' plak'
Sebuah tamparan keras berhasil membuat wajah Nisa tertoleh ke samping, pipinya memerah dan sedikit membengkak. Ia tertawa sumbang pada lelaki yang ia panggil ayah, sedari kecil ia sudah kenyang dengan perlakuan kasar dari sang ayah.
apakah pria ini begitu membencinya, Nisa tak pernah tau akan kesalahannya kenapa ia begitu di benci oleh lelaki yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk anak anak perempuan.
Nisa menepuk tangan nya sembari tertawa sumbang, air matanya mengalir namun ia selama ini sudah banyak diam namun kali ini rasa nya sudah tak ada ruang lagi untuk selalu mengalah dan menerima keadaan, biarlah jika ia harus di anggap anak durhaka ia hanya ingin mempertanyakan keadilan untuk nya.
" begini kah cara Robin jokso yang terhormat memperlakukan putri sulungnya, oh hampir lupa apa kah aku ini anak kandung atau anak pungut, luar biasa pak robin!." Nisa masih tertawa sumbang sembari menatap miris ayahnya yang hanya diam mematung
" Nisa!"
" apa? apa kurang selama ini kalian menyiksa ku? Sudah lama aku diam dan mengalah ketika di perlakukan seperti ini. Setiap kali Tiara yang melakukan kesalahan kalian malah melampiaskan nya pada ku, aku ini anak kalian apa bukan, kenapa kalian membenci ku? Apa selama ini aku pernah ingin untuk dilahirkan?"
Rani seketika terdiam dalam duduknya air mata nya tak dapat ia bendung lagi, Nisa yang selama ini selalu nurut dan diam seketika terlihat begitu menyedihkan, Robin diam mematung tangan nya yang tadi terangkat ia turunkan kembali. Hatinya berdenyut nyeri kala melihat putri sulungnya yang tampak begitu menyedihkan.
Namun jika mengingat kejadian saat itu membuat hatinya juga sakit, dadanya seketika terasa sesak nafasnya naik turun tak karuan tubuhnya terhuyung kebelakang hingga ia hanya bertumpu pada kursi di belakang nya.
" papa!"
Rani segera membantu suaminya untuk duduk Nisa segera meninggalkan tempat itu, rasanya saat ini ia merasa lebih tenang setelah melepaskan unek uneknya selama ini. Saat putrinya perlahan meninggalkan nya robin hanya menatap punggung Nisa pandangan nya Mulai berembun karna air mata yang berusaha ia tahan agar tak tumpah begitu saja.
Dalam hatinya ia masih mempertanyakan tentang kenapa ia begitu membenci wajah itu, kenapa harus ada pada putrinya, ia sudah bertahun-tahun mencoba melupakan rasa sakit itu tapi ketika wajah itu muncul lagi ia tak bisa melupakan nya yang ada hanya emosi yang terus memuncak apalagi kala gadis itu menurut dan memilih diam.
" maafkan papa!"