Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lereng Pegunungan Angin Utara dan Badai Salju Pertama
Jalur pendakian menuju Pegunungan Angin Utara semakin lama semakin terjal dan melelahkan. Semenjak meninggalkan gerbang utara Kota Angin Lembayung tiga hari lalu, lanskap hijau berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh tebing-tebing batu cadas yang diselimuti kabut putih tebal serta deretan pohon pinus purba yang batangnya membeku oleh es abadi. Suhu udara turun drastis hingga titik di mana setiap helaan napas berubah menjadi gumpalan uap putih yang mengepul di udara.
Gu Yan-Zhi berjalan di barisan paling depan, memegang kendali penuh atas arah perjalanan berdasarkan peta kulit domba kuno yang diberikan oleh Kakek Gui. Di belakangnya, Gu Chen dengan susah payah menarik tali kekang kuda beban yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan menghadapi medan menanjak yang licin oleh lapisan salju tipis. Sementara itu, Gu Ruoxi mengenakan jubah berbulu tebal pemberian kakaknya, melangkah dengan hati-hati di atas jalur berbatu yang sempit.
Di atas bahu kanan Gu Yan-Zhi, Hu Yijie tampak sangat menikmati cuaca dingin tersebut. Bulu putih lebat makhluk mitos itu berkilau diterpa pantulan cahaya es, dan ia sama sekali tidak terpengaruh oleh suhu ekstrem yang membekukan tulang.
"Tuan muda... kuda beban kita sepertinya tidak akan mampu bertahan jika kita harus mendaki lebih tinggi lagi ke arah celah tebing es itu," ucap Gu Chen dengan napas tersengal-sengal, menyeka keringat dingin di dahinya meskipun udara di sekitar mereka sangat membeku. Kaki hewan beban itu tampak bergetar hebat setiap kali menapak di atas batu berlapis es.
Gu Yan-Zhi berhenti melangkah. Ia berbalik dan mengamati kondisi kuda beban serta fisik Gu Chen dan Gu Ruoxi yang mulai kelelahan. Perjalanan slow burn ini memang menuntut ketahanan fisik dan mental yang matang, tetapi ia juga tidak ingin memaksakan batas kemampuan orang-orang yang ia lindungi hingga berujung pada cedera.
"Kau benar, Gu Chen," jawab Gu Yan-Zhi tenang. Ia mengangguk pelan lalu menunjuk ke arah sebuah formasi tebing batu besar yang menjorok ke depan tidak jauh dari posisi mereka. "Di sana ada sebuah gua perlindungan alami yang cukup luas dari peta. Kita akan beristirahat di sana malam ini, melepaskan beban kuda, dan membiarkan tubuh beradaptasi dengan ketinggian."
Mendengar kata istirahat, rasa lelah yang menggelayut di tubuh Gu Chen dan Gu Ruoxi seolah sedikit berkurang. Mereka segera mempercepat langkah, menyusul Gu Yan-Zhi menuju mulut gua batu yang terlindung dari terpaan angin badai pegunungan yang mulai menderu kencang.
Di dalam gua batu yang cukup dalam dan kering itu, suasana terasa jauh lebih hangat setelah Gu Chen berhasil menyalakan api unggun kecil menggunakan ranting-ranting pinus kering yang mereka kumpulkan di sepanjang perjalanan. Nyala api kemerahan memantulkan bayangan menari-nari di dinding batu gua yang kasar, mengusir kegelapan malam yang mulai merayap turun menyelimuti pegunungan.
Gu Ruoxi duduk bersila dekat sumber api, mendekatkan kedua tangannya yang kedinginan ke nyala api untuk menghangatkannya. Ia menatap ke luar mulut gua, di mana badai salju kecil mulai turun membawa serpihan-serpihan es putih yang berterbangan ditiup angin kencang.
"Kakak... apakah tempat tujuan kita, Sekretariat Lembah Salju, masih jauh dari sini?" tanya Gu Ruoxi lembut, memecah keheningan malam sambil menoleh ke arah Gu Yan-Zhi yang sedang duduk bersila di sudut gua, membaca gulungan manuskrip Kitab Pembalik Langit di bawah temaram cahaya api.
Gu Yan-Zhi mengalihkan pandangannya dari gulungan manuskrip kuno tersebut. Ia menatap saudarinya dengan senyuman tipis menenangkan. "Dari titik peta ini, kita hanya butuh waktu dua hari perjalanan mendaki lagi untuk mencapai lembah tersembunyi itu. Tempat tersebut adalah reruntuhan tempat pelatihan pertapa masa lalu. Di sana terdapat konsentrasi energi spiritual alam yang jauh lebih pekat daripada di kota perdagangan, tempat yang sangat sempurna bagi kita untuk menaikkan tingkat kultivasi."
Gu Chen yang sedang menyiapkan makanan kering di dekat api ikut tersenyum tipis mendengarnya. "Jika kultivasi kita bisa naik ke tingkat berikutnya, kita tidak perlu lagi khawatir jika sewaktu-waktu harus berhadapan langsung dengan para tetua Klan Bai atau pembunuh bayaran dari faksi manapun."
Gu Yan-Zhi mengangguk setuju, namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa dunia kultivasi tidak pernah semudah itu. Semakin tinggi tingkat kekuatan yang dicapai seseorang, semakin besar pula pusaran konflik dan musuh kuat yang akan menariknya ke dalam lingkaran pertempuran. Perjalanan slow burn ini bukan sekadar tentang kecepatan melatih tenaga dalam, melainkan tentang membangun fondasi mental, strategi, dan kebijaksanaan yang kokoh sebelum badai yang sebenarnya menghantam.
Tiba-tiba, telinga runcing Hu Yijie di bahu Gu Yan-Zhi berkedut tajam. Anak singa putih itu melompat turun ke atas tanah batu, mendesis pelan dengan bulu di tengkuknya yang sedikit meremang. Sepasang mata ambernya menatap tajam ke arah mulut gua yang gelap di luar sana.
Tuan... ada sesuatu yang mendekat dari arah lereng bawah. Bukan binatang buas biasa, melainkan fluktuasi energi kultivator manusia yang bergerak cepat menembus badai salju.
Mendengar peringatan telepati dari Hu Yijie, ekspresi wajah Gu Yan-Zhi langsung berubah serius. Ia bangkit berdiri secara perlahan, memberi isyarat tangan kepada Gu Chen dan Gu Ruoxi untuk tetap diam di sudut gua yang terlindung di balik batu besar.
"Seseorang datang," bisik Gu Yan-Zhi dingin.
Di luar mulut gua, derap langkah kaki berderak menginjak lapisan es terdengar semakin jelas di tengah suara desiran angin badai malam itu. Beberapa detik kemudian, tiga sosok berjubah putih tebal dengan tudung tertutup rapat muncul di ambang pintu gua. Atribut pakaian mereka dihiasi dengan sulaman benang perak berbentuk lambang bilah pedang es—tanda pengenal mutlak dari Sekte Pedang Salju, salah satu sekte besar yang menguasai wilayah pegunungan utara.
Pemimpin rombongan tersebut menurunkan tudung jubahnya, menampilkan wajah pucat berbibir kebiruan dengan sorot mata yang tajam bagaikan es batu. Ia adalah seorang pendekar pedang tingkat lanjut di tahap Pemusatan Qi Tingkat Enam, seorang murid inti dari sekte tersebut yang sedang menjalankan misi patroli perbatasan.
Pendekar itu mengedarkan pandangannya ke dalam gua, menatap api unggun yang menyala, lalu mendaratkan matanya tepat pada sosok Gu Yan-Zhi yang berdiri tegak dengan jubah hitam di hadapannya.
"Siapa kalian? Beraninya mendirikan tempat peristirahatan di dalam wilayah terlarang milik Sekte Pedang Salju tanpa izin?!" bentak pendekar berwajah pucat itu dengan suara dingin yang menggetarkan udara gua.
Gu Yan-Zhi menyipitkan matanya, menatap kelompok kultivator sekte besar itu dengan ketenangan mutlak, siap menghadapi babak baru ujian yang menanti di tengah dinginnya badai salju Benua Dewa.