Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Teduh dan Keraguan

Aroma gurih kentang goreng yang baru disajikan hangat-hangat menguar pelan, tetapi perutku serasa enggan menerima makanan apa pun. Aku mengaduk es cokelat dengan sedotan, memperhatikan butiran es batu yang melumer perlahan di dasar gelas.

"Sera! Sorry ya agak nunggu," suara Naura memecah lamunanku.

Ia melempar tas sekolahnya di kursi kosong di hadapanku, lalu duduk seraya mengibaskan kerah seragamnya. Naura menatapku tenang, mengamati raut wajahku yang muram sebelum akhirnya menyandarkan punggung di kursi kayu kedai.

"Kenapa, Ra? Kelihatannya berat banget," tanya Naura lembut, siap mendengarkan.

Aku menghela napas panjang, meremas sedotan di tanganku. "Soal kakaknya Kania, Ra... Mas Adrian."

"Kenapa sama dia?"

"Kemarin sore dia datang ke rumah gue. Dia ngutarain perasaannya, bilang kalau dia sayang sama gue. Tapi pas di rumah Kania... gue baru tahu kalau dia udah punya pacar. Namanya Sabrina, baru pulang dari Lombok," bisikku dengan suara bergetar, menahan rasa panas di sudut mata. "Gue sampai cek Facebook ceweknya, dan emang ada foto-foto mereka berdua."

Naura mendengarkan setiap kataku tanpa memotong. Ia mengambil sepotong kentang goreng, mengunyahnya pelan, lalu menatapku dengan mata yang teduh.

"Tapi, Sera..." ucapan Naura mengalir tenang. "Kenapa lo harus semarah ini? Lagian Mas Adrian kan enggak pernah menuntut lo buat jadi pacarnya. Dia juga bukan pacar lo, kan?"

Aku tertegun, menatap Naura dengan dada yang masih terasa sesak. "Tapi gue enggak terima dibohongi, Ra! Dia pernah bilang sendiri kalau dia enggak punya pacar. Kenapa harus bohong?"

Naura tersenyum tipis, menggenggam jemariku yang dingin di atas meja. "Rasa sayang itu kan luas, Sera. Enggak cuma sebatas ikatan pacaran. Bisa ke sahabat, adik, atau saudara... Siapa tahu rasa sayang yang Mas Adrian maksud ke lo itu bentuknya kayak gitu. Jangan buru-buru menyimpulkan sebelum lo dengar penjelasan langsung dari dia."

Kata-kata Naura menembus dinding prasangka yang kubangun sejak pagi. Tenang, rasional, dan tak menyulut emosi. Aku menundukkan kepala, memikirkan kembali setiap kata yang terucap dari bibir Adrian kemarin sore di dapurku.

"Oiya, Nau," celetukku pelan mencoba mengalihkan fikiran sejenak. "Tadi sebelum lo dateng, gue liat Indah dibonceng cowok lain dari sekolah lain. Mereka beneran udah putus?"

Naura mengangguk santai. "Iya, mereka emang udah putus beberapa minggu lalu. Indah udah ada yang baru. Tapi udah lah, biarin itu jadi urusan mereka."

Baru saja aku hendak menyedot es cokelatku lagi, ponselku di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala terang menampilkan nama pemanggil yang membuat jantungku seketika berdesir hebat:

Mas Adrian Calling...

Aku menatap layar itu dengan ragu. Naura memberi anggukan pelan padaku. "Angkat aja, Ser."

Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel di telingaku. "Halo, Mas?"

"Sera? Kamu ada di mana?" suara berat Adrian terdengar agak terengah di seberang telepon. "Mas lagi di depan rumah kamu nih, tapi kok sepi banget ya? Enggak ada siapa-siapa."

Duniaku serasa berputar sejenak. Dia ada di rumahku?

"Mas di rumah Sera?" tanyaku memastikan.

"Iya, Mas sengaja ke sini mau ketemu kamu. Kamu lagi di mana, Ser?" tanyanya penuh perhatian.

"Sera... Sera lagi di luar sama temen, Mas. Bentar lagi Sera pulang," jawabku terbata.

"Ya udah, Mas tunggu di teras rumah kamu ya."

Panggilan terputus. Aku langsung merapikan tas dan beranjak berdiri dari kursi. Rasa cemas, penasaran, dan deburan dada yang tak karuan mendadak menyatu.

"Ra, gue harus pulang sekarang. Mas Adrian udah di rumah gue," ucapku terburu-buru.

Naura tersenyum menenangkan seraya menepuk bahuku. "Iya, pergi sana. Bicarain baik-baik ya, Ser. Selesaikan tanpa emosi."

"Makasih ya, Ra. Gue pamit!"

Aku bergegas menuju motor Scoopy merahku, menyalakan mesin, dan langsung melaju cepat membelah jalanan kota sore itu, menuju rumah untuk menemui Adrian yang sudah menunggu disana.

Suara deru mesin Scoopy merahku menyapa halaman rumah yang lengang. Begitu memutar stang motor memasuki pagar, mataku langsung menangkap sosok Adrian yang sedang duduk menungguku di bangku kayu teras depan.

Melihat kedatanganku, Adrian segera berdiri. Ia menyunggingkan senyum tipis, senyum yang selalu sanggup membuat hatiku terenyak, meski kini ada serpihan keraguan yang diam-diam menyela di antara kami.

Aku mematikan mesin motor, lalu melangkah menghampirinya. "Mas Adrian udah lama nunggu?" tanyaku mencoba mencairkan kekakuan.

"Enggak kok, baru sebentar," sahut Adrian lembut. Matanya menatapku dengan binar lega. "Maaf ya, Mas mendadak ke sini enggak bilang-bilang dulu."

"Enggak apa-apa, Mas. Masuk dulu yuk," ajakku seraya membuka kunci pintu depan. "Sera ganti baju sebentar ya."

Adrian mengangguk pasrah seraya melangkah masuk dan duduk santai di sofa ruang tamu. Aku bergegas menuju kamar, melepaskan seragam sekolah, lalu berganti pakaian santai. Di depan cermin kamar, aku sempat menatap pantulan diriku sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dada. Tenang, Sera, bisikku pada diri sendiri.

Begitu keluar dari kamar, aku mendapati Adrian sedang duduk menungguku. Aku menyuguhkan segelas air dingin untuknya lalu duduk di sofa yang berseberangan.

"Makasih ya, Ser," ucap Adrian menyambut gelas itu, lalu meminumnya sedikit. Ia menyandarkan punggungnya, menatapku dengan raut wajah yang tampak lelah namun menenangkan.

Tanpa kuminta, Adrian mulai bercerita. Ia menjelaskan alasan kenapa kemarin seharian ia begitu sibuk dan sulit dihubungi. Ternyata seharian kemarin Adrian menghabiskan waktunya untuk membantu salah satu temannya melakukan pindahan kost. Dari mengangkut barang-barang berat, merapikan kamar baru, hingga mengurus kendaraan untuk angkut barang yang menyita waktunya dari pagi sampai malam.

Aku mendengarkan setiap tutur katanya dengan saksama. Suaranya mengalir tenang, mengisi keheningan ruang tamu kami. Namun di balik penjelasannya tentang teman kostnya itu, ada satu nama yang terus menggantung di benakku, tetapi tak pernah terucap dari bibirnya.

Sabrina.

Aku memilih untuk bungkam. Aku tidak menanyakan tentang keberadaan wanita itu, tentang kedatangannya ke rumahnya, atau tentang foto-foto mesra mereka di Facebook. Begitu pula Adrian; ia tak sekalipun menyebut nama Sabrina atau membahas hal yang berkaitan dengannya.

Ada sekat tipis tak kasat mata yang mendadak terbentang di antara cerita yang ia sampaikan dan rasa ingin tahuku yang kupendam rapat-rapat. Kami duduk berhadapan dalam kehangatan obrolan sore itu, namun jauh di dalam lubuk hatiku, ada rahasia yang sengaja kubiarkan tetap membisu.

Adrian menghembuskan napas pelan, menatapku lurus dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Suasana ruang tamu mendadak menghening sejenak sebelum ia kembali membuka suara.

"Mas bingung ngeliat Sera tadi pagi," ucapnya lirih. "Kenapa Sera acuh banget sama Mas di depan gerbang? Sampe dibilang enggak kenal segala."

Jantungku sempat berdesir pelan mendengarnya. Aku menundukkan kepala sebentar, memainkan jemari di atas pangkuanku, mencari alasan yang paling aman agar tak menelanjangi kegelisahan hatiku yang sebenarnya tentang Sabrina.

"Itu... Sera cuma canggung aja, Mas," sahutku pelan, lalu mendongak menatapnya. "Soalnya tadi pagi di kelas, temen-temen Sera pada heboh. Celine nemu video pas kita perform bareng di kafenya Bang Bram, terus ditunjukin ke Dea, Dini, Irma, sama Kania."

Adrian menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut namun senyum tipis perlahan terukir kembali di bibirnya. "Oh ya? Mereka nonton video kita?"

"Iya," jawabku mengangguk. "Mereka pada kaget dan nanya-nanya kok Sera bisa main gitar bareng kakaknya Kania. Makanya pas Mas tiba-tiba manggil di depan gerbang sekolah, Sera bingung harus gimana. Sera cuma enggak mau temen-temen makin heboh atau mikir yang enggak-enggak."

Adrian terkekeh pelan. Ketegangan di raut wajahnya yang sempat terlihat bingung perlahan luntur, digantikan oleh binar jenaka yang biasanya.

"Alah, dibilang enggak kenal itu yang bikin Mas kaget," godanya halus seraya menyandarkan kembali punggungnya ke sofa. "Mas kira Mas ada bikin salah apa sampe didiemin gitu dari pagi."

Aku hanya melempar senyum tipis yang tak sepenuhnya sampai ke mata. Penjelasan tentang video perform itu berhasil menjadi tameng yang sempurna untuk menyembunyikan rasa penasaran dan kecewa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dadaku. Adrian tampak percaya sepenuhnya, tanpa tahu bahwa alasan terbesarku menjauh bukanlah godaan teman-teman di sekolah, melainkan bayang-bayang nama Sabrina yang kini meretas raguku.

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!