Indonesia
NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DI BALIK ARSIP KERAJAAN

Pintu arsip lama kerajaan akhirnya terbuka setelah bertahun-tahun terkunci.

Udara berdebu menyambut kedatangan Yuán Zhēn dan para pengawalnya. Ruangan itu dipenuhi rak-rak kayu tinggi, sementara gulungan dokumen tersusun di dalam kotak yang sebagian telah lapuk dimakan waktu.

Cahaya lentera menyapu dinding yang dipenuhi bekas hangus.

Yuán Zhēn berhenti di ambang pintu.

“Tempat ini pernah terbakar,” katanya.

Lù Shān yang berdiri di belakangnya mengangguk.

“Benar, Yang Mulia. Namun, kebakaran itu hanya merusak bagian tengah arsip. Sebagian dokumen yang disimpan di ruang paling dalam seharusnya masih ada.”

“Seharusnya?”

“Jika tidak ada yang mengambilnya.”

Yuán Zhēn menoleh kepada pengawal di belakangnya.

“Periksa setiap pintu keluar. Tidak seorang pun boleh masuk atau keluar tanpa izinku.”

“Baik, Yang Mulia!”

Setelah itu, ia memasuki ruangan bersama Lù Shān.

Tujuan mereka bukan mencari seluruh dokumen kerajaan.

Mereka hanya membutuhkan satu hal: catatan tentang seorang anak perempuan yang identitasnya dihapus pada masa lalu.

---

Di kediamannya, Liān Huā duduk di dekat jendela sambil menggenggam liontin giok.

Sejak pria tua itu memanggilnya putri, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Ia mencoba mengingat masa kecilnya, tetapi yang muncul hanyalah potongan-potongan kenangan yang tidak utuh.

Sebuah halaman luas.

Suara seorang perempuan yang memanggilnya dengan lembut.

Dan sepasang tangan yang memasangkan liontin itu di lehernya.

Namun, setiap kali ia mencoba mengingat wajah perempuan tersebut, bayangan itu seolah menghilang.

“Nona, tehnya sudah dingin.”

Suara Xiǎo Yàn membuat Liān Huā tersadar.

Liān Huā memandang cangkir di hadapannya.

“Xiǎo Yàn, apakah kau pernah merasa bahwa seluruh hidupmu dibangun di atas sesuatu yang tidak kauketahui?”

Xiǎo Yàn terdiam sebelum menjawab.

“Pernah. Tetapi tidak mengetahui segalanya bukan berarti semua yang kita jalani selama ini palsu.”

Liān Huā menatapnya.

“Maksudmu?”

“Kebaikan yang Nona berikan kepada orang lain tetap nyata. Kenangan yang Nona miliki tetap milik Nona. Apa pun nama Nona sebenarnya, semua itu tidak akan berubah.”

Liān Huā tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Seorang pengawal datang membawa surat yang tidak memiliki nama pengirim.

“Surat ini ditemukan di depan kediaman Nona.”

Xiǎo Yàn segera mengambilnya dan memeriksa bagian luarnya.

Tidak ada cap keluarga Zhāng.

Tidak ada lambang Paviliun Yún.

Hanya satu karakter kecil yang ditulis di sudut kertas.

Huā.

Liān Huā membuka surat itu.

Isinya singkat.

Jika Yang Mulia menemukan catatan kelahiran, jangan percaya pada nama yang tertulis di halaman pertama. Kebenaran disimpan di halaman terakhir.

Liān Huā membaca kalimat itu dua kali.

“Siapa yang mengirim surat ini?”

Pengawal itu menggeleng.

“Kami tidak menemukan siapa pun, Nona.”

Liān Huā melipat surat tersebut.

Seseorang mengetahui apa yang sedang dicari Yuán Zhēn.

Dan seseorang itu seolah ingin membantunya, tetapi tidak berani menunjukkan wajahnya.

---

Di dalam arsip kerajaan, Yuán Zhēn akhirnya menemukan sebuah lemari kecil di balik rak yang hangus.

Lemari itu tidak memiliki tanda pengenal, hanya sebuah kunci tua yang masih tergantung pada pintunya.

“Buka,” perintahnya.

Seorang pengawal menggunakan kunci yang ditemukan di ruang penyimpanan. Pintu lemari terbuka perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa gulungan dokumen yang dibungkus kain kuning.

Yuán Zhēn mengambil gulungan paling atas.

Tulisan di bagian depannya membuat ekspresinya berubah.

Catatan kelahiran keluarga kerajaan — tahun ke-17 pemerintahan Kaisar sebelumnya.

Lù Shān menahan napas.

“Yang Mulia, tahun itu adalah tahun kebakaran besar di arsip.”

“Dan tahun ketika seorang anak perempuan dibawa keluar dari ibu kota,” sambung Yuán Zhēn.

Ia membuka gulungan itu.

Sebagian tulisan telah memudar, tetapi beberapa nama masih bisa dibaca. Nama para pangeran, putri, serta anggota keluarga kerajaan tercatat dengan rapi.

Yuán Zhēn membaca satu demi satu.

Lalu ia berhenti.

Pada salah satu baris, terdapat bekas tinta tebal yang menutupi sebuah nama. Di sebelahnya tertulis catatan pendek:

Catatan identitas dipindahkan atas perintah Dewan Istana. Salinan utama disimpan terpisah.

“Salinan utama,” gumam Yuán Zhēn.

Lù Shān segera memeriksa kotak-kotak di dalam lemari.

Namun, yang mereka temukan hanyalah sebuah amplop kosong.

Di bagian dalam amplop terdapat tulisan kecil.

Jika dokumen ini ditemukan, berarti orang yang menghapus nama tersebut telah gagal menjaga rahasianya.

Yuán Zhēn mengangkat pandangannya.

“Siapa yang menulis ini?”

Lù Shān memeriksa tulisan itu dengan saksama.

“Saya tidak tahu. Tetapi ini bukan tulisan pejabat arsip biasa.”

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruangan sebelah.

Para pengawal langsung mencabut pedang mereka.

“Lindungi Yang Mulia!”

Yuán Zhēn memberi isyarat agar mereka tidak bergerak sembarangan.

Ia berjalan menuju ruangan sebelah, diikuti dua pengawal. Di sana, sebuah rak kecil bergeser dari tempatnya. Di lantai tergeletak selembar kertas yang tampaknya baru saja dijatuhkan.

Jendela di ujung ruangan terbuka.

Seseorang telah berada di sana.

Yuán Zhēn mengambil kertas itu.

Hanya ada satu kalimat.

“Jangan biarkan Paman Agung Zhāng menemukan halaman terakhir.”

---

Pada saat yang sama, Paman Agung Zhāng menerima laporan dari seorang mata-mata.

“Yang Mulia telah memasuki arsip lama,” kata orang itu.

Wajah Paman Agung Zhāng mengeras.

“Apakah mereka menemukan dokumen kelahiran?”

“Ya, Tuanku.”

“Bagaimana dengan salinan utama?”

“Kami belum mengetahuinya.”

Paman Agung Zhāng bangkit dari kursinya.

Selama bertahun-tahun, ia mengira semua bukti telah musnah. Ia bahkan percaya tidak ada seorang pun yang masih mengingat kejadian pada malam itu.

Namun, sekarang Yuán Zhēn mulai membuka kembali pintu yang seharusnya tetap tertutup.

“Temukan halaman terakhir itu sebelum Kaisar menemukannya.”

“Baik, Tuanku.”

“Dan satu hal lagi.”

Mata-mata itu berhenti.

“Jangan menyentuh Liān Huā.”

Pria tersebut tampak terkejut.

Paman Agung Zhāng menatapnya tajam.

“Jika dia benar-benar orang yang kita duga, keberadaannya jauh lebih berharga daripada yang kalian pahami. Selama identitasnya belum terungkap, kita masih memiliki kesempatan.”

“Lalu jika Yang Mulia mengetahui semuanya?”

Paman Agung Zhāng terdiam cukup lama.

“Kalau itu terjadi, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin siapa yang akan tetap berkuasa di istana ini.”

---

Malam semakin larut ketika Yuán Zhēn kembali ke kediaman Liān Huā.

Ia mendapati perempuan itu sedang berdiri di halaman, memandangi langit yang tertutup awan.

Liān Huā segera menghampirinya.

“Apakah Yang Mulia menemukan sesuatu?”

Yuán Zhēn menyerahkan salinan catatan yang sempat ia simpan.

“Catatan kelahiran keluarga kerajaan. Ada sebuah nama yang sengaja ditutupi.”

Liān Huā menatap dokumen itu.

“Apakah nama itu milikku?”

“Aku belum bisa memastikannya.”

“Lalu halaman terakhir?”

Yuán Zhēn menggeleng.

“Sudah hilang sebelum kami tiba.”

Liān Huā menggenggam dokumen tersebut.

“Berarti seseorang masih berusaha menyembunyikan masa laluku.”

“Ya. Dan orang itu mengetahui lebih banyak daripada yang kita kira.”

Yuán Zhēn memandang liontin di lehernya.

“Liān Huā, aku ingin kau menjawab satu pertanyaan dengan jujur.”

“Tanyakanlah.”

“Sejak kecil, pernahkah seseorang memanggilmu dengan nama lain?”

Liān Huā mencoba mengingat.

Awalnya tidak ada apa-apa.

Kemudian, sebuah suara samar muncul di benaknya.

Suara seorang perempuan yang terdengar penuh kesedihan.

Suara itu memanggilnya dengan nama yang berbeda.

Liān Huā terhuyung kecil.

Yuán Zhēn segera menopang lengannya agar ia tidak kehilangan keseimbangan.

“Ada apa?”

Liān Huā mengangkat wajahnya. Matanya dipenuhi keterkejutan.

“Aku... aku pernah mendengarnya.”

“Mendengar apa?”

“Nama itu.”

“Nama siapa?”

Liān Huā memejamkan mata, berusaha mengingat bunyi yang hampir lenyap dari pikirannya.

Namun, sebelum ia berhasil mengucapkannya, sebuah suara terdengar dari balik pintu.

“Yang Mulia!”

Seorang pengawal berlutut dengan napas terengah-engah.

“Kami menemukan seorang perempuan di gerbang belakang. Ia mengaku berasal dari Paviliun Yún dan membawa dokumen yang ditujukan khusus kepada Liān Huā.”

Yuán Zhēn dan Liān Huā saling berpandangan.

“Bawa dia kemari,” perintah Kaisar.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan berjubah gelap memasuki halaman. Wajahnya tertutup kerudung tipis. Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu kecil dengan lambang awan yang sama seperti liontin Liān Huā.

Perempuan itu berlutut.

“Akhirnya, saya menemukan Anda.”

Liān Huā menatapnya dengan jantung berdebar.

“Siapa kau?”

Perempuan itu mengangkat wajahnya.

“Saya adalah orang terakhir yang menyaksikan malam ketika identitas Anda dihapus.”

Ia meletakkan kotak kayu di hadapan Liān Huā.

“Dan di dalam kotak ini terdapat kebenaran yang selama ini dicari semua orang.”

Namun, sebelum ia sempat membuka kotak tersebut, pandangannya beralih kepada Yuán Zhēn.

“Yang Mulia, sebelum Anda mengetahui siapa Liān Huā sebenarnya, ada satu hal yang harus Anda pahami.”

“Apa itu?”

Perempuan tersebut menundukkan kepala.

“Orang yang memerintahkan penghapusan identitasnya... bukan Paman Agung Zhāng.”

Keheningan menyelimuti halaman.

Liān Huā memandang kotak kayu itu.

Yuán Zhēn perlahan menyipitkan mata.

“Kalau bukan dia, siapa?”

Perempuan berjubah gelap itu menarik napas panjang.

“Orang yang memerintahkannya adalah seseorang yang sampai hari ini masih memiliki kedudukan tertinggi di dalam keluarga kerajaan.”

Dan untuk pertama kalinya, Yuán Zhēn menyadari bahwa musuh yang mereka cari mungkin bukan orang yang berdiri di luar istana.

Melainkan seseorang yang selama ini hidup di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!