Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Senasib?
Pagi-pagi sekali, saat mentari bahkan belum sepenuhnya menyingsing di Ujung Timur, Sam sudah melompat bangun dari sofa. Rasa canggung akibat "investasi hati" yang dibocorkan Hendra semalam masih membuat mukanya terasa panas. Sebelum Tia membuka pintu kamar, Sam bergegas menyambar ranselnya, merapikan kaus oblongnya, lalu menyelinap keluar kontrakan dengan langkah seribu, berdalih harus masuk piket subuh di kebun binatang.
Saat Tia keluar dari kamar pukul enam pagi, ia hanya menemukan secangkir teh manis hangat yang masih berasap di atas meja, lengkap dengan sepiring tempe goreng yang ditutupi tudung saji.
Tia menyentuh cangkir hangat itu, mengulum senyum tipis. Hatinya melumer seketika. Mengingat janji tulus Sam semalam, yang siap pasang badan tanpa memedulikan uang cicilan lima ratus ribu rupiah, membuat dadanya dipenuhi desiran hangat yang asing. Tia memegangi dadanya yang berdebar liar.
"Fix... kamu beneran jatuh cinta sama pawang buaya itu, Tia," bisiknya pada diri sendiri, lalu tertawa pelan seraya menggelengkan kepala.
Baru saja Tia hendak menyesap tehnya, ponsel murahnya berdering nyaring. Nama "Nia Adikku" tertera di layar.
"Halo, Nia?" sapa Tia mencoba bersikap biasa.
"Mbak Tia!" suara Nia terdengar melengking dan penuh percaya diri dari ujung telepon. "Mbak ada waktu tidak siang ini? Antarkan aku ke boutique baju pengantin dong! Mas Aris lagi sibuk banget urus proyek kantor barunya, jadi tidak bisa mendampingi."
Tia sempat ragu, mengingat statusnya yang masih pengangguran dan sedang gencar menyebar riwayat hidup. Namun membayangkan ibunya yang pasti senang jika melihat kerukunan mereka, Tia mengalah. "Bisa, Nia. Nanti jam satu siang Mbak temani."
Pukul satu siang, Tia dan Nia sudah berada di dalam salon pengantin langganan keluarga. Nia sibuk memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar, memamerkan gaun pengantin putih yang dipenuhi payet berkilau.
"Bagus kan, Mbak?" puji Nia percaya diri. "Mas Aris bilang, budget gaun ini bebas. Soalnya minggu lalu Mas Aris resmi dapat promosi jabatan jadi Senior Branch Manager! Gajinya naik hampir dua kali lipat!"
Tia tersenyum tipis, merapikan lipatan gaun Nia. "Wah, selamat ya buat Mas Aris. Rezeki mau nikah."
"Bukan cuma Mas Aris, Mbak!" celetuk Nia seraya menepuk dadanya bangga. "Aku juga baru saja dapat email pengumuman! Aku diterima kerja di Norman Corp! Anak perusahaan properti raksasa itu lho, Mbak! Gaji staf di sana tinggi banget, fasilitasnya lengkap!"
Seketika dada Tia terasa seperti terhimpit batu besar. Rasa iri yang manusiawi mendadak menyeruak di relung hatinya. Adik sepupunya yang masih muda itu mendapat segalanya: calon suami yang naik jabatan, gaun pengantin mewah, dan pekerjaan baru di perusahaan impian seluruh pencari kerja. Sementara dirinya? Di usia 35 tahun, Tia baru saja di-PHK, terjerat utang pinjol lima juta, dan harus menanggung rasa malu.
Namun, sebagai seorang kakak, Tia menekan dalam-dalam rasa sesak di dadanya. Ia mengusap bahu Nia dan tersenyum tulus. "Selamat ya, Nia... Mbak ikut senang banget dengarnya. Kamu hebat."
Usai menemani Nia, perasaan hampa dan lesu kembali melingkupi pikiran Tia. Berjalan lunglai di trotoar jalan, tiba-tiba bayangan wajah Samsudin melintas di benaknya. Tia merindukan ketenangan dan senyuman polos suami kreditnya itu.
Tia memutuskan untuk memberikan kejutan. Dengan menggunakan sisa uang di dompetnya, ia naik angkot menuju Kebun Binatang Kota. Pikirnya, melihat Sam menyikat punggung Si Bejo mungkin bisa mengobati rasa pusingnya.
Setibanya di area kebun binatang, Tia melangkah mantap menuju kandang reptil. Namun, di dalam kolam keruh itu, ia tidak melihat sosok tegap Samsudin. Yang ada hanyalah dua orang pria muda berseragam baru yang sedang sibuk melempar potongan daging.
Tia mengerutkan dahi, menghampiri Mamat, pawang ular yang sedang duduk santai di dekat pembatas kayu.
"Mas Mamat!" panggil Tia ramah.
Mamat menoleh, matanya membelalak kaget. "Eh, Mbak Tia! Calon istrinya... eh, istrinya si Udin!"
"Mas Mamat, Mas Sam-nya ada di mana ya? Kok tidak kelihatan di kolam Si Bejo?" tanya Tia celingukan.
Raut wajah Mamat seketika berubah heran. "Lho? Mbak Tia belum tahu?"
"Tahu apa, Mas?"
"Si Udin kan sudah resign alias keluar dari kebun binatang sejak seminggu lalu, Mbak!" terang Mamat gamblang seraya menunjuk dua pawang baru di kolam. "Tuh, lihat. Posisi si Udin sudah digantikan sama dua anak magang baru."
Brak!
Dunia Tia rasanya seperti berhenti berputar seketika. "S-Sam... sudah keluar? Resign?!"
"Iya, Mbak! Parah sih Udin, dia nggak kasih tahu Mbak Tia?" jawab Mamat menggaruk kepalanya.
Tia berdiri membatu di depan kandang reptil. Otaknya yang biasa cepat menghitung kini memproses informasi itu dengan liarnya.
'Mas Sam keluar kerja? Seminggu lalu?!' batin Tia menjerit kaget.
Seketika itu juga, puzzle di kepala Tia mendadak terangkai secara dramatis, namun sayangnya, terangkai ke arah yang sepenuhnya salah!
Tia menepuk jidatnya sendiri. Seluruh potongan teka-teki perilaku Sam selama seminggu terakhir mendadak masuk akal di mata Tia:
Kenapa Sam selalu cepat-cepat pergi pagi-pagi dengan alibi piket subuh.
Kenapa Sam selalu pulang dengan raut wajah sangat lelah.
Dan yang paling menghantam dada Tia, kenapa Sam semalam begitu tulus bilang tidak peduli dengan uang cicilan lima ratus ribu rupiah dan menolak mengakhiri pernikahan!
"Ya Allah..." bisik Tia, air matanya mendadak tergenang di sudut mata. "Mas Sam... kamu ternyata di-PHK juga?!"
Di dalam pikiran polos Tia, Samsudin pasti dipecat atau mengundurkan diri gara-gara stres, dan pria itu sengaja merahasiakannya karena malu! Sam menolak bayaran lima ratus ribu dan menolak bercerai bukan cuma karena sayang, tapi karena Sam merasa senasib dengan Tia! Sama-sama pengangguran yang tidak punya masa depan!
Rasa haru yang luar biasa hebat bercampur rasa bersalah mendadak membakar dada Tia. Ia salah menilai suami kreditnya. Pria itu ternyata sedang menanggung beban hidup yang sama beratnya, tetapi tetap memasang dada tegap untuk melindunginya dan pura-pura tegar.
Tia menyapu air matanya dengan tegas. "Mas Sam... Harusnya kemarin dia mengaku saja padaku. Apakah ini pertanda kalau aku dan Mas Sam harus lanjut bekerjasama? Tapi kali ini terkait dengan pekerjaan? Ya, aku rasa begitu!"
Dengan tekad bulat yang menyala-nyala, Tia berbalik arah dan berlari cepat meninggalkan kebun binatang. Wanita 35 tahun itu berjanji dalam hati, dia akan bekerja keras apa saja demi menopang hidup mereka berdua, bersama sang suami "sesama pengangguran" itu.
..._____...
*Guys, novel ini nggak lolos retensi juga. Aku nggak tahu kenapa susah banget sekarang buat lolos retensi di Noveltoon. Kalau begini, mungkin novelnya akan aku tamatkan dalam waktu dekat 🥲
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄